----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://mymail.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Rilis Serambi Selasa, 30 November 1999
Pengungsi Diracun

Serambi-Banda Aceh
Ribuan pengungsi di Masjid Seulimum Aceh Besar, tadi malam, panik luar biasa ketika 
seratusan di
antara mereka keracunan. Racun itu, dilaporkan sengaja ditabur seorang pemuda tak 
dikenal dalam lauk
pauk pengungsi.
Menjelang azan magrib, makan malam untuk sekitar 3.500 pengungsi sudah siap dimasak 
dan kepada ketua
kelompok diminta mengambil ke dapur umum. Ketika pembagian jatah makan baru saja 
berlangsung,
tiba-tiba terjadi kegaduhan.
Massa melihat seseorang memasukkan sesuatu ke dalam makanan pengungsi. Orang yang 
dicurigai itu
langsung kabur ke semak-semak arah belakang masjid (pinggir sungai Seulimen) dan 
menghilang dalam
remang-remang. Upaya pengejaran terus dilakukan massa sampai ke jalan Jantho Seulimen 
tidak
membuahkan hasil.
Beberapa saat kemudian puluhan warga yang sedang menyantap makanan serentak menderita 
muntah-muntah,
mual, dan lemas. Pengungsi tampaknya terlambat diberitahu makanan sudah diracun, 
sehingga ketika
massa mengejar orang yang meracun, pengungsi lain terus menyantap makanan, terutama 
anak-anak dan
kaum wanita.
Keracunan massal itu menimbulkan kepanikan luar biasa, apalagi listri sempat mati 
sesaat. Dua mobil
ambulance yang telah disiapkan tampak hilir mudik meraung- raung mengangkut warga yang 
ke racunan di
Puskesmas Perawan Seulimem yang jarakanya sekitar satu kilometer lebih.
Sejumlah angkutan umum dan mobil pribadi juga dikerahkan untuk mengepakuasi korban ke 
Puskesmas
terdekat. Sekwilda Aceh Besar Drs Baswedan Yunus memerintahkan Kadis Kesehatan Bakri 
Abdullah untuk
mengerahkan tega para medis dan obat obatan guna memberikan pertolongan ke pada 
korban. Puskesmas
Seulimen tampak dipenui para korban yang kebanyakan kaum wanita dan anak -anak 
termasuk juga orang
tua. Jumlah korban masih sedang didata diperkirakan yang mulai mengantap makan malan 
itu mencapai
ratusan orang, tapi yang baru memakan beberapa suap belum tampak reaksi.
Sekitar pukul 10.00 pagi Bupati Ketua DPRD dan Unsur muspida ( Dandin Aceh Besar 
bersama tokoh
masyarakat dan mahasiswa mengadakan pertemuan di Kantor Camat Seulimeun. Smenatr aitu 
para pengungsi
masih terus berdatangan dan penjagan masuk ke tempat menampungan diperketat. Dalam 
rapat tersebut
diambil bebrpa kebijkan dianatrnaya pihak keamanan menjamin tidak ada lagi penyisiran 
ke desa desa
dan warga pengungsi disarankan sebaiknya kembali ke rumah masing karena situasi telah 
aman.
Sekitar pukul 16-17.00 WIB, Bupati memimpin rapat pertemuan dengan tokoh pengungsi dan 
menyampaikan
hal tersebut. Dalam pertemuan itu pihak pengungsi mengatakan tak berani pulang dan 
tetap bertahan
sampai dengan tgl (4/12) untuk melihat perkembangan situasi kemanan selanjunya. 
Alasanya sebelum
bulan Desember saja mereka tela medapatkan perlakuan yang sangat menyedihkan apa lagi 
nanti.
Kesimpulannya para pengungsi tetap bertahan sampai Tgl (4/12) dan rapat bubar. Pada 
sore itu datang
lagi ratusan pengungsi dari dari Panca (penduduk asli dan warga eks trans Panca mereka 
membangun
tenda di pekarangan sekolah TK samping masjid karena pekarangan masjid telah penuh.
Selanjutnya menjelang magrib tiba lagi pengungsi dari desa Bayu dan Ayon kemukiman 
Lamkabeu dengan
menumpang dua Truk dan mobil pik up, mereka mau mengungsi ke masjid Raya Baiturrahman 
Banda Aceh ,
tetapi pihak posko mahasiswa meminta meraka tidak melanjutkan perjalan dan dilakukan 
negosiasi. Pada
waktu itu lakasi masjid telah penuh sesak dengn pengungsi dan warga yang baru datang 
masi belum
turun dari truk dan masi bernegosiasi.
Walaupun telah mendapat jaminan dari pihak keamanan tidak ada lagi penyisiran ole 
aparat dan 28
warga yang ditangkap tela dikembalikan, namun ribuan warga Kecamatan Seulimeum yang 
telah mengungsi
di Masjid ibukota Kecamatan Seulimeum sampai Senin (29/11) terus bertambah membanjiri 
tempat
penampungan.
Sementara Bupati Aceh Besar Drs H Sayuthi Is MM, Sekwilda Baswedan Yunus, Ketua DPRD 
Aceh Besar Tgk
H M Amin Hasan dan Dandim O101/ Aceh Besar Letkol Inf Ferdinan Setiawan dan toko 
masayrakat dan
mahasiswa bekerja keras melakukan pertemuan betempat di Kantor Camat Seulimeum dan 
membahas upaya
pendekatan untuk dan memberi rasa aman ke pada para pengungsi agar mereka dapat 
kembali ke rumah
masing-masing.
Arus pengungsian sekitar 3.000 warga dari sekitar 10 desa di Seulimeum yang terjadi 
Minggu malam
sampai Senin pagi merupakan ekses insiden berdarah penembakan di Desa Lamtamot yang 
menwaskan
Marzuki (40) warga Desa Lamkubu dan mencederai empat lainnya termasuk seorang anggota 
ABRI. Trageri
itu dilanjutkan dengan penangkapan 28 warga serta penyisiran oleh aparat keamanan ke 
desa-desa
Minggu pagi. "Jenazah Marzuki telah dikebumikan," kata Silahuddin saa seorang tokoh 
mahasiswa.
Akibat warga merasa ketakutan dan sejak Minggu malam sampai Senin pagi mengungsi. 
Mereka dengan
membawa bekal seadanya memempati tenda tenda darurat yang dibangun pihak mahasiswa 
dari HIMAB, Posko
Pemraka, Karma para relawan, dan masyarakat di dalam pekarangan masjid. Pihak Mahasisw 
juga telah
mendirikan Posko dibuah toko di depan masjid.
Menyikapi situasi tersebut Wakil Ketua DPRD Aceh Besar Bachtari Arahas kepada Serambi 
kemarin
megungkapkan rasa keprihatinan yang mendalam dan sangat menyesalkan insiden penembakan 
di Desa
Lamtamot yang menewaskan satu orang warga dan empat lainnya cedera termasuk seorang 
anggota TNI.
Dalam pernyataan sikapnya ia mengajak semua pihak untuk menyelesaikan masalah Aceh 
secara Arief dan
bijaksana demi kemaslahatan dan kejayaan Aceh di masa mendatang. Ia menilai tindakan 
tersebut tidak
perlu terjadi bila semua pihak dapat menahan diri."Kepada kelompok manapun mari kita 
hindari
tindakan yang dapat mengakibatkan korban dipihak masyarakat banyak," harapnya.
Kepada pemerintah pusat diminta jangan jadikan lagi Aceh sebagai panggung sandiwara 
politik. Karena
rakyat Aceh sudah muak dengan alur cerita dan adegan-adegan sadis serta kekerasan. 
"Selesaikan
masalah Aceh dengan cara ke Acehan," katanya.
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Aceh Besar (HIMAB) Silahuddin secara terpisah 
menyampaikan tiga butir
pernyataan sikap yaitu mengutuk tindakan aparat yang melakukan tindakan secara arogan 
terhadap
penduduk yang tidak bersalah. Mengharapkan kepada seluruh elemen masayrakat untuk 
membentuk posko
keamaan diwilayah kecamatan dan desa masing-masing dengan mengaktifkan Siskamling 
untuk menangkal
propokator yang telah merajalela di Aceh. Kepada masyarakat diharapkan agar tenang dan 
tidak mudah
terpropokasi dengan issu yang tidak bertanggung jawab.
Sementara itu Pengurus Daerah Pelajar Islam indonesia (PDPII) Aceh Besar dalam surat 
pernyatan sikap
NO.PII-AAII/SEK/001/1420/1999 yang disampaikan kepada Serambi menyebutkan kondisi 
kemana Ace besar
yang tidak kondusif dikarekaan adanya pihak pihak tertentu yang berupaya memeca bela 
setiap komponen
di ce besar, tujuan akir agar para militer memiliki alasan untuk meberlakukan 
militerisme. Peristiwa
Lamtamot yang memakan korban dri piak warga sipil suatu al yang diciptakan untuk 
menodai perjuangan
Referendum yang damai dan demokratir. PD PII Ace besar menyampaikan lima butir 
pernyatan sikap yaitu
meminta kepada DPRD dan Pemda Aceh besar untuk menolak segala bentuk pendekatan 
militer di Kawasan
Aceh Besar.
Selanjutnya tetap komit terhadap perjuangan Referendum dengan tidak bisa diinterpensi 
ole piak
manapun,menindak lanjuti oknum anggota dewan yang diduga terlibat a moral, memberantas 
segala
maksiat seperti judi, buntutganja dan lain lain. "Bila poin tersebut tidak ditanggapi, 
kami akan
bertindak dengan cara," kami tulis Ketua Umum Carbaini dan Sekretaris Umum Fitriah.
Sementara itu, ekses kejadian Lamtamot plus usaha meracuni para pengungsi, membuat 
ratusan KK
lainnya harus mengungsi. Dari Seulimuem, mereka berangkat ke Banda Aceh selepas magrib 
kemarin.
Setibanya di Banda Aceh, para pengungsi dengan menggunakan lima kenderaan, dua truk, 
dua pick up,
dan satu labi-labi (sudaco) singgah terlebih dahulu di halaman Masjid Raya Banda Aceh. 
Namun
beberapa saat kemudian, pengungsi beralih ke Masjid Kopelma Darussalam sekitar pukul 
21.45. Para
pengungsi yang beralih ke Daruissalam untuk diinapkan, merupakan inisiatif anggota PCC 
(People
Crisis Centre) yang di dalamnya terdapat sejumlah buffer mahasiswa. Diantaranya, SMUR, 
SPUR, Dan
Formakes. Pantauan Serambi tadi malam, para pengungsi yang umumnya berasal dari Desa 
Ayun, Kecamatan
Seulimuem, Aceh Besar, mulai mengambil posisi di ruangan lantai satu Masjid Kopelma. 
Menurut Kades
Ayun, Bukhari, jumlah warga desanya yang mengungsi, hingga tadi malam mencapai 70 KK 
atau sekitar
500 jiwa.
Mereka terdiri berbagai usia. Bahkan, kata Bukhari, puluhan KK dari desa tetangganya 
(Desa Bayu),
diperkirakan menyusul ke Darussalam. Namun, hingga pukul 22.00, warga Desa Bayu, belum 
tiba ke Banda
Aceh karena ketiadaan angkutan.
Koordinator PCC, Juanda yang terlibat langsung mengkoordinir para pengungsi 
mengatakan, pihaknya
siap melayani pengungsi di tempat penampungannya. Keadaan itu terlihat sejak pengungsi 
tiba secara
tergopoh-gopoh dan mulai menempati ruangan bawah Masjid Kopelma. Kondisi pengungsi 
sangat
memprihatinkan. Puluhan bayi, anak-anak usia sekolah, serta kaum ibu dengan pakaian 
lusuh, mengapit
barang- barang bawaan ke ruang yang ditentukan. Sementara kaum lelaki, sibuk 
mengangkut kebutuhan
pangan yang sempat di bawa dari tempat pengungsiaan terdahulu, yakni di Lamtamot 
Seulimeum.
Menurut keterangan salah seorang pengungsi, mereka terpaksa mandah ke Banda Aceh 
karena merasa
kuatir dan kurang aman berada di Lamtamot. Buktinya, puluhan warga mengalami keracunan 
makanan
akibat ulah orang-orang tertentu yang menebar racun ke dalam masakan. Bahkan, sore 
kemarin, lokasi
pengungsi sempat ditaburi sejenis racun berbentuk tepung. Tepung racun yang bertebaran 
tersebut,
terhirup pengungsi yang menyebabkan sebagian pengungsi mengalami batuk-batuk dan 
pening. Yang sangat
menyedihkan, harta benda seperti ternak dan sawah ladangnya, terpaksa dibiarkan begitu 
saja. "Dari
pada kami mati, kan lebih baik mengungsi," ujar seorang pengungsi. (gus/rs/n)
Insiden Layung, 30 Warga Dianiaya Aparat
* Tujuh Kendaraan Dibakar
* Rumah Diobrak-abrik

Serambi-Banda Aceh
Sebanyak 31 warga Kecamatan Samatiga, Aceh Barat dilaporkan dianiaya aparat keamanan 
yang melakukan
penyisiran di kawasan Layung setelah terjadi kontak senjata, Sabtu malam (27/11). 
Sembilan orang di
antara warga itu terpaksa dirawat di RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh.
Insiden penganiayaan yang terjadi bergelombang sejak Sabtu malam sampai Minggu (28/11) 
petang itu
mengkibatkan tujuh unit sepeda motor dan satu mobil Kijang milik penduduk dibakar 
aparat. Di samping
itu, sekitar 60-an unit rumah dan toko di Kuta Padang Layung diobrak-abrik aparat.
Menyusul terjadinya aksi kekerasan itu, ribuan warga Desa Kuta Padang Layung, Layung 
Gampong, dan
Alue Lhok mulai mengungsi ke tempat yang lebih aman yakni di komplek pesantren Nurul 
Islam, Menasah
Layung Gampong dan Masjid Alue Lhok.
Kontak senjata antara TNI dengan sipil bersenjata di Kuta Padang Layung, Sabtu malam 
(27/11) sekitar
22.00 WIB. Dalam insiden itu pihak AGAM mengklain empat prajurit TNI tewas sedangkan 
pihak mereka
semuanya selamat.
Namun, sumber di RSU Cut Nyak Dhein Meulaboh mengaku hanya satu jenazah prajurit TNI 
dibawa ke rumah
sakit tersebut. Setelah dimandikan, jenazah Pratu Yuwono Triwaluyo, anggota Kompi C 
112/DJ, Senin
(29/11) siang diberangkatkan dengan helikopter ke kampung halamannya Pekanbaru dengan 
upacara
militer.
Sekjen Koalisi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Aceh Barat (Kagempar), Hasnazaruddin dan 
Koordinator
Pemraka Wilayah Aceh Barat Khairul yang turun bersama delapan rekannya dan relawan PMI 
Cabang Aceh
Barat mengatakan, tindakan yang dilakukan aparat ketika melalukan penyisiran ke 
kawasan Kuta Padang
Layung Kecamatan Samatiga, sudah di luar batas.
Berdasarkan investigasi yang dilakukan Kagempar dan Pemraka ke lokasi sejak Minggu 
malam (28/11)
sampai Senin kemarin jumlah warga setempat yang dianiaya 30 orang lebih. Tapi yang 
cukup parah
sebanyak 14 orang. "Mereka dipukul dengan popor senjata. Akibatnya di antara mereka 
terpaksa harus
dirawat di RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh," kata Hasnazaruddin.
Korban penganiayaan aparat itu, baru berhasil dievakuasi oleh relawan PMI Aceh Barat 
Senin (29/11)
dinihari dalam dua gelombang. Jumlah warga yang harus mendapat perawatan intensif di 
RSU Cut Nyak
Dhien Meulaboh sampai tadi malam tercacat sembilan orang, yaitu Ramadhan, T Zulfahmi, 
Ahmad Dairi,
TR Sayang, Saiman, Samsul, Nazaruddin, semuanya warga Desa Kuta Padang.
Selanjutnya Abd Jalil dan Bustami, keduanya warga Desa Layung. "Rata-rata mereka luka 
lecet dan
memar di bagian muka," kata salah seorang anggota PMI Aceh Barat.
Masih menurut Sekjen Kagempar dan Koordinator Pemraka, dalam insiden di Layung itu 
aparat juga
membakar tujuh unit sepeda motor dan satu unit mobil kijang milik masyarakat. Di 
samping 67 unit
warung/toko dan rumah penduduk digeladah dan pemiliknya dipukul. "Yang sangat 
menyedihkan barang dan
peralatan rumah tangga diobrak-abrik," jelas Hasnazaruddin.
Untuk menenangkan masyarakat setempat yang masih trauma setelah melakukan penyisiran 
di Layung,
Kagempar dan Pemraka membuka posko di lokasi pengungsinya. "Jumlah masyarakat yang 
mengungsi sampai
kemarin petang terus bertahan," kata Khairul Koordinator Pemraka Aceh Barat.
Sekda Aceh Barat Nyak Ali Umar SH bersama tiga anggota DPRD setempat yakni H Amran Us, 
Sofyan Suri,
dan Drs Tgk Zainuddin kemarin siang turun ke lokasi.
Menurut H Amran Us, masyarakat sangat trauma dan terpaksa mengungsi karena merasa 
ketakutan. Hingga
sore kemarin jumlah warga yang mengungsi sudah mencapai ribuan orang. Mereka ditampung 
di komplek
pesantren Nurul Islam, Menasah Layung Gampong, dan Desa Alue Lhok.
Ketua Taliban Aceh Barat, Tgk Hasbi Amin LMC menyatakan prihatin terhadap aksi 
kekerasan yang
terjadi di Aceh Barat akhir-akhir. "Mayat manusia dibuang di sembarang tempat bagaikan 
bangkai
binatang. Mereka dibunuh tanpa alasan yang jelas dan tak satu pihak pun yang 
bertanggungjawab,"
jelasnya sambil mengimbau kepada semua pihak siapapun mereka segera menghentikan 
tindakan keji itu.
Sementara MP GAM Wilayah Aceh Barat Tgk Teuku Hanalud yang menelpon redaksi Serambi 
tadi malam
mengecam aksi kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap masyarakat Layung 
Kecamatan
Samatiga. "Tindakan itu tidak manusiawi, karena yang korban masyarakat tak bersalah 
dan tidak ada
kaitanya dengan insiden kontak senjata," tandasnya. (tim)
Dicatat, Pejabat yang Hengkang
Pak Syam: Bupati Dilarang Keluar

Serambi-Banda Aceh
Sekwilda Aceh, Poriaman SH, menegaskan, pihaknya akan mencatat para pejabat yang 
hengkang dari Aceh
tanpa alasan bila sampai pada 4 Desember mendatang mereka tidak berada di tempat.
Sementara itu dari Jakarta, Gubernur Syamsuddin Mahmud mengeluarkan instruksi agar 
seluruh bupati
dan pejabat daerah untuk tidak pergi meninggalkan daerah. Secara tegas ditekankan bahwa
bupati/walikota agar tidak diperkenankan meninggalkan daerah tanpa seizin gubernur.
Syamsuddin Mahmud mengatakan hal itu ketika menjawab pertanyaan anggota Pansus Aceh 
DPR RI T
Zulfikar Thaib Aly dalam acara dengar pendapat yang berlangsung di Jakarta, Senin. 
Gubernur hadir
bersama-sama dengan sejumlah alim ulama, cendikiawan, mahasiswa dan LSM untuk memberi 
penjelasan
mengenai situasi terakhir di Aceh.
Anggota Pansus Aceh T Zulfikar Thaib Aly mensinyalir bahwa akhir- akhir ini sebahagian 
besar pejabat
di Aceh sudah melakukan "eksodus" ke luar daerah Aceh untuk menghindari pecahnya 
perang bertepatan
dengan tanggal 4 Desember 1999 mendatang. Pejabat- pejabat Aceh tersebut banyak yang 
menuju Jakarta
dengan berbagai alasan.
Gubernur Syamsuddin Mahmud mengatakan bahwa sampai sejauh ini pihaknya belum ada 
menerima permohonan
izin dari pejabat-pejabat di lingkungan Pemda Aceh untuk keluar daerah.
Dicatat
Kepada Serambi, Senin kemarin, Poriaman mengaku telah memerintahkan Biro Kepegawaian 
Setwilda Aceh
untuk melakukan tugas pencatatan tersebut. "Semua pejabat yang keluar daerah akan kita 
inventarisir.
Nanti kita akan mengetahui, siapa-siapa yang keluar daerah karena betul-betul 
melaksanakan tugas,
dan siapa-siapa pula yang keluar daerah dengan mencari-cari alasan," ujar Poriaman.
Ditanya sanksi apa yang bakal diterapkan, Poriaman menegaskan bahwa hal itu nantinya 
terserah kepada
gubernur. "Yang penting kita catat, lalu kita serahkan ke gubernur. Namun, setidaknya, 
bagi yang
hengkang tersebut akan mempengaruhi DP3 (daftar penilaian) dan pengembangan karir 
mereka
selanjutnya," kata Poriaman.
Sekwilda menyatakan sangat menyesalkan sikap para pejabat yang memperlihatkan rasa 
takut berlebihan
sehingga meninggalkan Aceh pada 4 Desember mendatang. Seharusnya mereka tetap berada di
tengah-tengah masyarakat yang memang sedang dilanda keresahan.
"Pejabat-pejabat kita itu kan sebenarnya sudah senior-senior dan berpengalaman. Mereka 
sudah bisa
memilah-milah persoalan. Sehingga mereka bisa bertindak bijaksana dalam menghadapi 
persoalan seperti
ini. Kita heran kenapa justru mereka takut," tambah Poriaman.
Eksodusnya pejabat dengan mencari-cari alasan, menurut Poriaman, juga merupakan 
tindakan lari dari
tanggung jawab selaku pejabat pemerintahan. Seharusnya, mereka memperlihatkan 
loyalitas tinggi.
Sebagai pimpinan, sikap ketakutan yang mereka perlihatkan secara berlebihan, akan 
semakin menambah
persoalan di daerah. Karena sikap itu akan berpengaruh kepada para bawahan mereka dan 
masyarakat
luas.
Karena itu, ia berharap para pejabat daerah tetap berada di Aceh. "Kalau pun tidak ke 
kantor
misalnya, pada tanggal 4 Desember itu, kita akan bersama-sama masyarakat pergi ke 
masjid atau
meunasah- meunasah melakukan doa bersama. Mendoakan agar cita-cita rakyat Aceh bisa 
cepat dikabulkan
Allah, sehingga Aceh yang kita cintai ini segera pula keluar dari suasana keprihatinan 
seperti
sekarang ini," tutur Poriaman. (rul/kan/fik)
Tgk Abdullah Syafei: Militer GAM Dilatih di Lybia

Serambi-Jakarta
Tgk Abdullah Syafei, Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengakui keterlibatan 
Lybia dalam
pelatihan militer pasukan GAM, sedang senjata yang dipakai dibeli dari negara lain. 
Dengan
penegasannya itu, apa yang dikatakan wakil pemerintah Lybia bahwa negaranya tidak 
terlibat,
terbantahkan.
Pernyataan itu diungkap Abdullah Syafei dalam dialog Jakarta Pagi
Ini RRI Pro2FM Jakarta, Senin. Isu keterlibatan Libya dalam GAM telah muncul sejak 
gerakan itu
menguat akhir-akhir ini. Namun Libya menyatakan bantahannya atas isu itu.
Saat seminar bertajuk "Pemerintahan Merdeka, Referendum atau Otonomi Aceh" di 
Universitas
Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (27/11), mantan Mendagri Libya, Prof Dr Mehdi M Endres, 
dan anggota
Komite Gerakan Revolusi Libya Dr Omar Abu Jenah, membantah Libya mempersenjatai 
pasukan GAM.
Pernyataan itu bertolak belakang dengan pengakuan Abdullah
Syafei yang menyatakan adanya keterlibatan Libya dalam GAM melalui pelatihan militer. 
"Kami tidak
menerima senjata dari bangsa lain termasuk Libya. Tentang latihan di Libya memang ada. 
Itulah
kelihaian politik kami menyembunyikan perjuangan yang tidak segera jelas memberi 
didikan militer di
Libya," katanya.
Ia menegaskan, latihan militer di Libya itu pasti ada. Sedangkan persenjataan yang 
mereka miliki
dibeli dari pihak lain yang uangnya diperoleh dari sumbangan dan gotong royong. "Kami 
beli senjata
di negara lain dengan uang kami," katanya.
Saling membantah
Sementara itu, Sekjen GAM Teuku Don Zulfahri dalam acara yang sama menyatakan, 
meskipun Hasan Tiro
tetap diakui sebagai pimpinan GAM, tetapi karena kondisi fisiknya yang sudah memburuk, 
maka telah
disepakati pembentukan Majelis Pemerintahan (MP) yang terdiri atas 11 tokoh GAM.
Dengan pembentukan MP, posisi Hasan Tiro telah disepakati sebagai simbol dari 
perjuangan GAM. "MP
dibentuk atas dasar wali kurang sehat, wali tidak mampu lagi menjalankan tugas 
negara," katanya.
Menurut dia, anggota MP adalah para senior GAM seperti Dr Husaini, Teuku Daud Paneuh 
dan Teuku Idris
Mahmud. Ia menolak anggapan dibentuknya MP sebagai cara menyingkirkan Hasan Tiro 
secara halus karena
kedudukan Hasan Tiro tetap diakui.
Sekjen GAM ini secara terbuka mengemukakan bahwa kondisi fisik dan kondisi pikiran 
Hasan Tiro yang
sudah berusia 75 tahun memprihatinkan. "Ini kan sebenarnya nggak enak, kalau dibongkar 
ini memalukan
tetapi saya rasa ini sudah waktunya rakyat Aceh menyadari bahwa wali sudah tidak 
mampu," katanya.
Pernyataan Zulfahri itu dibantah keras oleh Teuku Abdullah Syafei. "MP itu gerakan 
untuk memecah GAM
yang dimotori TNI. Gerakan itu tidak sah," katanya.
Ia menegaskan, gerakan itu bukan dilakukan oleh anak-anak, tetapi orang-orang gila dan 
orang-orang
amnesia. "MP itu gerakan bohong dan gila," katanya.
Berbeda dengan pernyataan Zulfahri yang siap berunding dengan pemerintah, Abdullah 
Syafei
menegaskan, pihaknya tidak akan berunding dengan Pemerintah Indonesia. "Yang bersalah 
adalah
Belanda. Kalau mau berdamai dengan Belanda, sedangkan perundingan dilakukan dengan 
PBB," katanya.
Ia membantah, kondisi fisik Hasan Tiro sudah lemah dan tidak memiliki kamampuan untuk 
mengendalikan
perjuangan. "Itu propaganda, bohong. Saya baru bertelepon dengan wali negara (Hasan 
Tiro)," katanya.
Kondisi fisik dan ingatan Hasan Tiro, kata Abdullah Syafei, juga masih kuat dan 
tajam.(ant)
Pansus Aceh DPR Setuju Referendum
* HUDA: Masyarakat Diminta Tenang

Serambi-Jakarta
Pansus Aceh DPR RI setuju terhadap tuntutan referendum yang disuarakan olah rakyat 
Aceh. Pansus
bahkan mengusulkan kepada MPR untuk menjadikan referendum sebagai salah satu materi 
bahasan di dalam
sidang Panitia Ad Hoc Badan Pekerja (BP) sebagai salah satu langkah awal penyelesaian 
masalah Aceh.
Selain memuat tentang referendum, Pansus Aceh dalam kesimpulan sementara seusai acara 
dengar
pendapat dengan gubernur Aceh, alim ulama, thaliban, mahasiswa, LSM, dan tokoh-tokoh 
masyarakat Aceh
di Jakarta, Senin (29/11) menyatakan menolak rencana pemberlakuan darurat militer di 
Aceh.
Dengar pendapat itu berlangsung selama kurang lebih enam jam itu dipimpin oleh wakil 
ketua Pansus
Drs M Ali Yahya. Delegasi Aceh yang hadir terhitung lengkap. Rombongan dari Aceh 
terdiri dari
Gubernur Syamsuddin Mahmud, Kapolda Brigjen Bachrumsyah, Ketua DPRD sementara M Nasir 
Jamil. Ketua
DPRD terpilih Drs Muhammad Yus, Rektor Unsyiah Dayan Dawood, Rektor IAIN Shafwan 
Idris. Selain itu
masih ada Tgk H Nurzahri dari Huda, Tgk Bulqaini (Thaliban), Mukminan (BEM Unsyiah), 
Effendi Hasan
(BEM IAIN), Rahman Yacob, Azwar Nurdin (LSM dari Aceh). Masyarakat Aceh Jakarta 
diwakili oleh PP
Taman Iskandar Muda, serta sejumlah LSM seperti Shalahuddin Alfata (Fopkra), Kenira, 
IKA Unsyiah
serta sejumlah mahasiswa.
Seluruh delegasi Aceh dalam kesempatan itu secara serempak menuntut refrendum sebagai 
satu-satunya
jalan penyelesaian masalah Aceh yang kini dinilai bergulir begitu kompleks. berbagai 
argumen
dikedepankan untuk mendukung tuntutan referendum itu.
Tgk Nurzahri dari Huda (Himpunan Ulama Dayah Aceh) meminta kepada segenap kalangan 
Jakarta untuk
tidak perlu gusar dengan tuntutan referendum itu. Dengan santai ia bahkan 
mengilustrasikan bahwa
referendum itu hanya sebuah sarana. Ibarat membangun jembatan di sebuah desa, maka 
serahkan kepada
masyarakat desa setempat jembatan jenis apa yang mereka inginkan. Apakah terbuat dari 
baja atau apa.
"Jadi maksud refrendum, ya itu. Biarkan rakyat Aceh yang menentukan maunya apa," kata 
ulama dayah
yang secara sekilas mengisahkan kembali lahirnya himpunan ulama dayah. Karena itu, 
menurut ulama
yang dikenal dekat dengan masyarakat ini, tuntutan refrendum tidak bisa ditawar-tawar 
lagi.
Pendapat hampir senada disampaikan Shalahuddin Alfata. Pentolan Fopkra yang pekan lalu 
mengkoordinir
demo referendum di Gedung MPR secara tegas menyatakan, referendum adalah sarana paling 
damai dan
demokratis bagi rakyat Aceh apakah masih mau bergabung dengan RI atau pisah. Ia pun 
lalu menguraikan
latar belakang dari munculnya sikap rakyat tersebut.
Desakan referendum itu juga diutarakan DPRD I Aceh. Ketua DPRD terpilih Drs Muhammad 
Yus kemudian
membacakan sikap dan pernyataan DPRD I Aceh yang intinya menginginkan referendum. Ia 
mengatakan
bahwa keinginan referendum ini tidak bisa dihalangi-halangi.
Menyahuti derasnya tuntutan referendum tersebut, Pansus Aceh kemudian memasukkan dalam 
kesimpulan
sementara. Selain itu pansus juga sependapat dengan tuntutan masyarakat Aceh bahwa 
para pelanggar
HAM baik dari aparat pemerintah maupun masyarakat segera diadili sesuai hukum yang 
berlaku. Untuk
itu agar pihak TNI/Polri tidak mencari dalih apapun yang menyebabkan tidak diadilinya
aparat/petinggi TNI yang terlibat dalam pelanggaran HAM jika terbukti.
Menurut Pansus, referendum merupakan kehendak rakyat Aceh. Tentang opsi dari 
referendum perlu
dipikirkan yang terbaik bagi masyarakat Aceh itu sendiri sehingga tidak ada 
pertumpahan darah, di
samping perlu dipertimbangkan waktu pelaksanaan referendum tersebut. Untuk itu Pansus 
mendesak
kepada pemerintah untuk segera melakukan dialog dengan berbagai pihak di Aceh termasuk 
dengan tokoh
masyarakat GAM.
Menghadapi situasi Aceh sekarang ini maupun mengantisipasi tanggal 4 Desember, Pansus 
mendesak
kepada pemerintah tidak memberlakukan darurat militer di Aceh, termasuk juga untuk 
tidak melakukan
tindak kekerasan seperti yang selama ini terjadi dan diduga dilakukan oleh provokator.
Pansus lebih lanjut meminta kepada Pemda untuk tetap mengaktifkan tim pencari fakta 
dalam usaha
memberikan data yang akurat objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pansus mendesak pemerintah dan semua pihak untuk segera melakukan rekonsiliasi 
nasional dan segera
memberlakukan Aceh sebagai daerah darurat ekonomi.
Tahan diri
Saat melakukan dialog, Tgk Nurzahri menyerukan agar semua elemen masyarakat di daerah 
ini ikut
menciptakan suasana kondusif. "Bagi mereka yang tidak mengerti situasi Aceh saat ini, 
mereka lebih
baik diam, ketimbang membuat pernyataan yang membingungkan masyarakat," katanya.
Pada kesempatan itu, Tgk Nur Zahri menjelaskan bahwa HUDA merupakan tempat bernaungnya 
para ulama
dari seluruh pondok pesantren di Aceh sebagai salah satu bentuk kepedulian mereka 
dalam menenangkan
ummatnya. "Selama ini, masyarakat di daerah Serambi Mekah itu dilanda kegalauan atas 
lahirnya
berbagai istilah yang dinilai membingungkan, yakni referendum, otonomi khusus, dan 
merdeka,"
katanya.
"Nah, para ulama yang bernaung dalam wadah ini hadir untuk berusaha menciptakan 
ketenangan ummat,"
katanya menambahkan.
Cendekiawan muslim asal Aceh lainnya, Prof Dr H Abdullah Ali menyebutkan, aspirasi 
rakyat Aceh yang
gencar disuarakan selama ini adalah referendum dan tuntutan itu seakan-akan tidak 
mungkin
ditawar-tawar lagi. Tuntutan itu terjadi atas penderitaan rakyat Aceh yang berlangsung 
cukup lama,
seperti ketidakadilan ekonomi dan tindakan kekerasan, termasuk kasus sebelum dan pasca 
daerah
operasi militer (DOM) yang tidak pernah tersentuh hukum.
Sementara itu, seusai acara kepada wartawan, Kapolda Aceh Brigjen (Pol) Bachrumsyah 
mengatakan
situasi keamanan di Aceh saat ini benar-benar tidak menentu, terutama di wilayah Aceh 
Timur, Aceh
Utara, Pidie, Aceh Barat dan Aceh Selatan. "Situasinya benar-benar tidak menentu, dari 
situasi
tenang kadang-kadang secara tiba-tiba bergolak, sehingga masyarakat dihantui rasa 
takut yang
mencekam," katanya.
Situasi keamanan tidak menentu itu dirasakan terjadi menjelang peringatan HUT ke-23 
Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) pada 4 Desember 1999, sehingga puluhan ribu penduduk Aceh mengungsi ke 
luar provinsi
dalam sebulan terakhir ini. "Termasuk keluarga dari sebagian petugas keamanan 
(Polri/TNI), sudah
diungsikan ke luar Aceh," kata Bachrumsyah.
Dikatakannya, upaya untuk mengatasi berbagai kemungkinan yang terjadi pada peringatan 
HUT GAM telah
dilakukan, yakni melalui pendekatan dengan ulama, thaliban, mahasiswa dan LSM agar 
mereka ikut
membantu menciptakan situasi kondusif.
Antisipasi lain dilakukan dengan memungsikan semua anggota Polri yang ada, termasuk 
dua batalyon
bantuan Mabes Polri telah ditempatkan pada beberapa daerah tertentu yang dinilai rawan 
dari gangguan
kelompok sipil bersenjata. "Yang jelas, apapun yang terjadi aparat polisi akan siap 
menghadapinya,
termasuk tindak kekerasan untuk menekan kelompok sipil bersenjata yang mencoba 
mengusik ketenangan
rakyat Aceh," kata Bachrumsyah.
Bendera GAM
Bachrumsyah juga telah menginstruksikan kepada semua jajaran kepolisian di Aceh agar 
tidak melakukan
tindak kekerasan atau penangkapan terhadap masyarakat, jika di rumah penduduk 
ditemukan bendera
Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Masyarakat harus dilindungi, mungkin mereka menyimpan 
bendera GAM
karena terpaksa," katanya dan menambahkan agar masyarakat tidak terus dihantui 
kecemasan
berkepanjangan.
Yang jelas, katanya, jika aparat sipil bersenjata menyerang instalasi polisi 
bertepatan peringatan
HUT GAM, aparat tidak akan tinggal diam dan mereka akan melakukan pembalasan. "Bahkan, 
saya juga
siap dipecat oleh atasan jika tindakan kami itu dianggap salah ketika ingin 
mempertahan diri dari
kemungkinan terjadi aksi kekerasan kelompok sipil bersenjata terhadap aparat keamanan 
di Propinsi
Aceh," kata Bachrumsyah.
Dijelaskan, selama tujuh bulan terakhir (Mei-November 1999), anggota TNI yang menjadi 
korban
kelompok sipil bersenjata di Aceh terdiri atas 39 orang tawas, 51 orang luka-luka dan 
empat orang
diculik, yang hingga saat ini belum diketahui nasibnya. Sedangkan anggota Polri yang 
menjadi korban,
tercatat 33 orang tewas, 35 menderita luka-luka serta sepuluh orang diculik.(fik/ant)
Mahasiswa Aceh Demo Referendum di DPR
* Dialog dengan Akbar Ricuh

Serambi-Jakarta
Ratusan masyarakat Aceh dari berbagai organisasi mahasiswa dan kemasyarakatan di Pulau 
Jawa
mendatangi Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Senin, untuk melakukan aksi unjuk rasa menuntut 
referendum di
Aceh.
Dalam aksinya, mereka menggelar spanduk berukuran 6 X 3 meter yang bertuliskan "Hanya 
Satu Kata:
REFERENDUM" di atas Gedung "Bundar" Nusantara. Beberapa demonstran terlihat membawa 
kambing yang
akan disembelih untuk diserahkan kepada anggota atau pimpinan DPR.
Selain itu, mereka juga menggelar orasi menuntut referendum serta menaikkan bendera 
berwarna dasar
putih bertuliskan "Referendum adalah demokrasi untuk Aceh"
Organisasi mahasiswa dan masyarakat Aceh yang turut terlibat dalam aksi itu, antara 
lain Ikatan
Mahasiswa dan Pemuda Aceh (IMAPA) Jakarta, Solidaritas Mahasiswa untuk Kasus Aceh 
(SOMAKA),
Persatuan Mahasiswa Kekeluargaan Tanah Rencong (PMKTR) Surabaya, Ikatan Pemuda Pelajar 
Mahasiswa
Aceh (IPPMA) Malang, serta sejumlah organisasi masyarakat Aceh lain dari Semarang, 
Bogor,
Yogyakarta, dan Bandung.
Rencananya, sebagian dari mereka akan tetap berada di Gedung DPR guna mengikuti acara 
penjelasan
sejumlah petinggi dan mantan petinggi TNI di depan rapat Pansus Aceh DPR, yang 
berlangsung sekitar
pukul 19.30 WIB.
Juru bicara aksi tersebut, M Najib Ibrahim mengatakan, aksi mereka kali ini sebagai 
tindak lanjut
aksi masyarakat Aceh sebelumnya. "Kami ingin menegaskan kembali kepada para wakil 
rakyat di DPR agar
lebih aspiratif menanggapi aspirasi masyarakat Aceh yang menginginkan referendum," 
katanya.
Najib menuduh para wakil rakyat telah berlaku sebagai lembaga eksekutif dengan tidak 
menyetujui
diadakannya referendum di Aceh sebagaimana pemerintah. Aksi mereka lanjutkan di lantai 
dasar gedung
wakil rakyat karena hujan. Mereka secara tertib sambil mengumandangkan salawat badar 
menuju depan
Gedung Nusantara V untuk berorasi.
Mereka selanjutnya menuju kembali ke lantai dasar gedung Nusantara II untuk 
melanjutkan aksi serupa.
Mereka menyanyikan lagu daerah dan jel "Aceh bersatu tak bisa dikalahkan".
Ricuh
Sementara itu, dialog terbuka antara Ketua DPR Akbar Tandjung dengan sekitar 200 
pemuda Aceh di
lantai dasar Gedung Nusantara III DPR RI, Senin siang, ricuh karena ketidakpuasan 
massa atas jawaban
Akbar.
Dialog itu diawali dengan penyampaian tuntutan dari sejumlah pemuda kepada Akbar 
Tandjung, antara
lain menyangkut referendum, pelanggaran HAM, aksi-aksi militer, dan ketidakadilan 
ekonomi. Akbar
kemudian menjelaskan sikap dan langkah yang telah dan akan ditempuh DPR menyangkut 
penyelesaian
persoalan Aceh. Penjelasan secara rinci itu ternyata tidak memuaskan pengunjuk rasa.
Beberapa kali muncul interupsi. Bahkan beberapa di antara pengunjuk rasa yang mengaku 
terdiri atas
mahasiswa dan pemuda Aceh dari seluruh Indonesia itu, mencaci atau menuding DPR telah 
berbohong.
Suasana makin panas ketika jawaban Akbar dianggap tidak sesuai dengan yang diinginkan 
pengunjuk
rasa, seperti tetap berlakunya kemungkinan pemberian status otonomi luas kepada daerah 
"Serambi
Mekkah". Seorang pengunjuk rasa kemudian memaksakan interupsi dan menyatakan satu hal 
yang mereka
minta, yaitu ketegasan dari DPR untuk menyetujui penyelenggaraan referendum dengan dua 
opsi bagi
Aceh, yaitu tetap bagian RI atau merdeka. "Tanpa opsi merdeka, bukan referendum 
namanya," katanya.
Akbar yang tidak ingin terjebak dengan desakan agar menyetujui tuntutan tersebut, 
kemudian malah
menjelaskan langkah DPR untuk menyelesaikan persoalan Aceh, yakni dibentuknya panitia 
khusus terdiri
atas seluruh fraksi, untuk memikirkan jalan terbaik bagi penyelesaian masalah Aceh.
Jawaban Akbar itu tidak memuaskan pengunjuk rasa, sehingga suasana semakin panas dan 
beberapa di
antara mereka mulai melemparkan gelas plastik ke arah Akbar.
Akbar yang sejak awal mengenakan ikat kepala putih bertuliskan "Referendum" pemberian 
seorang
pengunjuk rasa, akhirnya meninggalkan arena dialog itu dengan kawalan beberapa Satpam.
Dialog bubar, dan lemparan gelas plastik itu agaknya telah memicu ketegangan di antara 
para
pengunjuk rasa sendiri, sementara puluhan pemuda kemudian mengejar Akbar hingga 
mendekati pintu
lift. Beberapa di antaranya terus melempari dengan gelas plastik, namun kemudian 
dihalangi oleh
rekan mereka sendiri.
Setelah Akbar memasuki lift, para pemuda itu kemudian melerai ketegangan yang terjadi 
di antara
rekan mereka sendiri, sambil meninggalkan lobi Gedung Nusantara III.(ant)
Pansus Aceh DPR Setuju Referendum
* Ratusan Mahasiswa Aceh Demo

Serambi-Jakarta
Pansus Aceh DPR RI setuju terhadap tuntutan referendum yang disuarakan rakyat Aceh. 
Pansus bahkan
mengusulkan kepada MPR untuk menjadikan referendum sebagai salah satu materi bahasan 
di dalam sidang
Panitia Ad Hoc Badan Pekerja (BP) sebagai salah satu langkah awal penyelesaian masalah 
Aceh.
Selain memuat tentang referendum, Pansus Aceh dalam kesimpulan sementara seusai acara 
dengar
pendapat dengan gubernur Aceh, alim ulama, thaliban, mahasiswa, LSM, dan tokoh-tokoh 
masyarakat Aceh
di Jakarta, Senin (29/11) menyatakan menolak rencana pemberlakuan darurat militer di 
Aceh.
Dengar pendapat itu berlangsung selama kurang lebih enam jam itu dipimpin oleh wakil 
ketua Pansus
Drs M Ali Yahya. Delegasi Aceh yang hadir terhitung lengkap. Rombongan dari Aceh 
terdiri dari
Gubernur Syamsuddin Mahmud, Kapolda Brigjen Bachrumsyah, Ketua DPRD sementara M Nasir 
Jamil. Ketua
DPRD terpilih Drs Muhammad Yus, Rektor Unsyiah Dayan Dawood, Rektor IAIN Shafwan 
Idris. Selain itu
masih ada Tgk H Nurzahri dari Huda, Tgk Bulqaini (Thaliban), Mukminan (BEM Unsyiah), 
Effendi Hasan
(BEM IAIN), Rahman Yacob, Azwar Nurdin (LSM dari Aceh). Masyarakat Aceh Jakarta 
diwakili oleh PP
Taman Iskandar Muda, serta sejumlah LSM seperti Shalahuddin Alfata (Fopkra), Kenira, 
IKA Unsyiah
serta sejumlah mahasiswa.
Seluruh delegasi Aceh dalam kesempatan itu secara serempak menuntut referendum sebagai 
satu-satunya
jalan penyelesaian masalah Aceh yang kini dinilai bergulir begitu kompleks. Berbagai 
argumen
dikedepankan untuk mendukung tuntutan referendum itu.
Tgk Nurzahri dari Huda (Himpunan Ulama Dayah Aceh) meminta kepada segenap kalangan 
Jakarta untuk
tidak perlu gusar dengan tuntutan referendum itu.
Dengan santai ia bahkan mengilustrasikan bahwa referendum itu hanya sebuah sarana. 
Ibarat membangun
jembatan di sebuah desa, maka serahkan kepada masyarakat desa setempat jembatan jenis 
apa yang
mereka inginkan. Apakah terbuat dari baja atau apa. "Jadi maksud refrendum, ya itu. 
Biarkan rakyat
Aceh yang menentukan maunya apa," kata ulama dayah itu. Karena itu, menurut ulama yang 
dikenal dekat
dengan masyarakat ini, tuntutan refrendum tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Desakan referendum itu juga diutarakan DPRD I Aceh. Ketua DPRD terpilih Drs Muhammad 
Yus kemudian
membacakan sikap dan pernyataan DPRD I Aceh yang intinya menginginkan referendum. Ia 
mengatakan
bahwa keinginan referendum ini tidak bisa dihalangi-halangi.
Menyahuti derasnya tuntutan referendum tersebut, Pansus Aceh kemudian memasukkan dalam 
kesimpulan
sementara. Selain itu pansus juga sependapat dengan tuntutan masyarakat Aceh bahwa 
para pelanggar
HAM baik dari aparat pemerintah maupun masyarakat segera diadili sesuai hukum yang 
berlaku. Untuk
itu agar TNI/Polri tidak mencari dalih apapun yang menyebabkan tidak diadilinya 
petinggi TNI yang
terlibat dalam pelanggaran HAM.
Menurut Pansus, referendum merupakan kehendak rakyat Aceh. Tentang opsi dari 
referendum perlu
dipikirkan yang terbaik bagi masyarakat Aceh itu sendiri sehingga tidak ada 
pertumpahan darah, di
samping perlu dipertimbangkan waktu pelaksanaan referendum tersebut. Untuk itu Pansus 
mendesak
kepada pemerintah untuk segera melakukan dialog dengan berbagai pihak di Aceh termasuk 
dengan tokoh
masyarakat GAM.
Menghadapi situasi Aceh sekarang ini maupun mengantisipasi tanggal 4 Desember, Pansus 
mendesak
kepada pemerintah tidak memberlakukan darurat militer di Aceh, termasuk juga untuk 
tidak melakukan
tindak kekerasan seperti yang selama ini terjadi dan diduga dilakukan oleh provokator.
Pansus lebih lanjut meminta kepada Pemda untuk tetap mengaktifkan tim pencari fakta 
dalam usaha
memberikan data yang akurat objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pansus mendesak pemerintah dan semua pihak untuk segera melakukan rekonsiliasi 
nasional dan segera
memberlakukan Aceh sebagai daerah darurat ekonomi.
Bendera GAM
Bachrumsyah juga telah menginstruksikan kepada semua jajaran kepolisian di Aceh agar 
tidak melakukan
tindak kekerasan atau penangkapan terhadap masyarakat, jika di rumah penduduk 
ditemukan bendera
Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Masyarakat harus dilindungi, mungkin mereka menyimpan 
bendera GAM
karena terpaksa," katanya dan menambahkan agar masyarakat tidak terus dihantui 
kecemasan
berkepanjangan.
Dijelaskan, selama tujuh bulan terakhir (Mei-November 1999), anggota TNI yang menjadi 
korban
kelompok sipil bersenjata di Aceh terdiri atas 39 orang tawas, 51 orang luka-luka dan 
empat orang
diculik, yang hingga saat ini belum diketahui nasibnya. Sedangkan anggota Polri yang 
menjadi korban,
tercatat 33 orang tewas, 35 menderita luka-luka serta sepuluh orang diculik.
Demo Referendum
Bersamaan dengan dengar pendapat di dalam gedung, ratusan masyarakat Aceh dari 
berbagai organisasi
mahasiswa dan kemasyarakatan di Pulau Jawa mendatangi Gedung DPR/MPR RI Jakarta, 
Senin, untuk
melakukan aksi unjuk rasa menuntut referendum di Aceh.
Dalam aksinya, mereka menggelar spanduk berukuran 6 X 3 meter yang bertuliskan "Hanya 
Satu Kata:
REFERENDUM" di atas Gedung "Bundar" Nusantara. Beberapa demonstran terlihat membawa 
kambing yang
akan disembelih untuk diserahkan kepada anggota atau pimpinan DPR.
Selain itu, mereka juga menggelar orasi menuntut referendum serta menaikkan bendera 
berwarna dasar
putih bertuliskan "Referendum adalah demokrasi untuk Aceh"
Organisasi mahasiswa dan masyarakat Aceh yang turut terlibat dalam aksi itu, antara 
lain Ikatan
Mahasiswa dan Pemuda Aceh (IMAPA) Jakarta, Solidaritas Mahasiswa untuk Kasus Aceh 
(SOMAKA),
Persatuan Mahasiswa Kekeluargaan Tanah Rencong (PMKTR) Surabaya, Ikatan Pemuda Pelajar 
Mahasiswa
Aceh (IPPMA) Malang, serta sejumlah organisasi masyarakat Aceh lain dari Semarang, 
Bogor,
Yogyakarta, dan Bandung.
Juru bicara aksi tersebut, M Najib Ibrahim mengatakan, aksi mereka kali ini sebagai 
tindak lanjut
aksi masyarakat Aceh sebelumnya. "Kami ingin menegaskan kembali kepada para wakil 
rakyat di DPR agar
lebih aspiratif menanggapi aspirasi masyarakat Aceh yang menginginkan referendum," 
katanya.
Najib menuduh para wakil rakyat telah berlaku sebagai lembaga eksekutif dengan tidak 
menyetujui
diadakannya referendum di Aceh sebagaimana pemerintah. Aksi mereka lanjutkan di lantai 
dasar gedung
wakil rakyat karena hujan. Mereka secara tertib sambil mengumandangkan salawat badar 
menuju depan
Gedung Nusantara V untuk berorasi.
Ricuh
Sementara itu, dialog terbuka antara Ketua DPR Akbar Tandjung dengan sekitar 200 
pemuda Aceh di
lantai dasar Gedung Nusantara III DPR RI, Senin siang, ricuh karena ketidakpuasan 
massa atas jawaban
Akbar.
Dialog itu diawali dengan penyampaian tuntutan dari sejumlah pemuda kepada Akbar 
Tandjung, antara
lain menyangkut referendum, pelanggaran HAM, aksi-aksi militer, dan ketidakadilan 
ekonomi. Akbar
kemudian menjelaskan sikap dan langkah yang telah dan akan ditempuh DPR menyangkut 
penyelesaian
persoalan Aceh. Penjelasan secara rinci itu ternyata tidak memuaskan pengunjuk rasa.
Beberapa kali muncul interupsi. Bahkan beberapa di antara pengunjuk rasa yang mengaku 
terdiri atas
mahasiswa dan pemuda Aceh dari seluruh Indonesia itu, menuding DPR berbohong.
Suasana makin panas ketika jawaban Akbar dianggap tidak sesuai dengan yang diinginkan 
pengunjuk
rasa, seperti tetap berlakunya kemungkinan pemberian status otonomi luas kepada daerah 
"Serambi
Mekkah". Seorang pengunjuk rasa kemudian memaksakan interupsi dan menyatakan satu hal 
yang mereka
minta, yaitu ketegasan dari DPR untuk menyetujui penyelenggaraan referendum dengan dua 
opsi bagi
Aceh, yaitu tetap bagian RI atau merdeka. "Tanpa opsi merdeka, bukan referendum 
namanya," katanya.
Akbar kemudian malah menjelaskan langkah DPR untuk menyelesaikan persoalan Aceh, yakni 
dibentuknya
panitia khusus terdiri atas seluruh fraksi, untuk memikirkan jalan terbaik bagi 
penyelesaian masalah
Aceh.
Jawaban Akbar itu tidak memuaskan pengunjuk rasa, sehingga suasana semakin panas dan 
beberapa di
antara mereka mulai melemparkan gelas plastik ke arah Akbar.
Akbar yang sejak awal mengenakan ikat kepala putih bertuliskan "Referendum" pemberian 
seorang
pengunjukrasa, akhirnya meninggalkan arena dialog itu dengan kawalan beberapa Satpam. 
Dan massa
pengunjukrasa pun kemudian membubarkan diri. (fik/ant)
Komplek PLN Dibakar

Serambi-Idi
Sedikitnya 17 unit rumah di kompleks perumahan pegawai gardu induk (GI) PLN di Alue 
Batee Kecamatan
Idi Rayeuk, Aceh Timur dibakar orang tak dikenal. Tiga di antaranya hangus total. 
Kawanan pembakar
yang bersenjata itu juga membawa lari sebuah mobil dan satu unit perangkat radio.
Menurut pegawai GI Alue Batee, M Hasan kepada Serambi, Senin (29/11), perumahan 
pegawai itu dibakar
Kamis (25/11) sekitar pukul 23.00 Wib. Karena kejadiannya tengah malam, masyarakat 
sekitarnya tak
sempat memberikan bantuan maksimal.
Saksi mata lainnya menyebutkan, pada malam itu, ada sejumlah orang tak dikenal 
menyandang senjata
laras panjang bergerak cepat dalam aksinya membakar komplek perumahan pegawai PLN itu. 
Sejumlah
petugas PLN yang piket pada malam itu tak berdaya dan hanya mampu melihat saja 
orang-orang
bersenjata itu beraksi.
Namun api yang disulut memusnahkan tiga unit rumah. Setelah api memusnahkan tiga unit 
rumah itu,
hujan turun dengan derasnya, sehingga rumah-rumah lainnya yang mulai dijilat api, 
diselamatkan oleh
hujan lebat itu.
Pemilik tiga unit rumah beserta isinya yang terbakar habis itu masing-masing, Idaman 
Anhar
(Koordinator GI), Mirsatul Fadli (pegawai) dan Darmansyah (pegawai). Ketiga korban ini 
juga tidak
ada di tempat saat kejadian.
Sedangkan petugas GI yang ada di kantor pada malam kejadian itu hanya terdiri dari dua 
petugas
Satpam, tiga petugas cleaning service dan dua petugas operator. Seluruh petugas PLN 
yang ada di
komplek itu tidak diganggu oleh orang-orang tak dikenal tersebut.
Namun sebelum kabur, kawanan bersenjata itu sempat membawa lari mobil dinas Mitshubisi 
L 300 dan
perangkat radio beserta sarana informasi berupa telepon khusus jalur jaringan udara 
tegangan tinggi
dari kompleks perumahan PLN itu. (tim)
Menhan Juwono: Hindarkan Kontak Senjata di Aceh

Serambi-Jakarta
Menteri Pertahanan Prof Dr Juwono Sudarsono mengimbau agar kontak senjata antara 
aparat dengan massa
yang menuntut merdeka di Aceh dapat dihindari. Imbauan yang sama juga disampaikan 
untuk wilayah
Irian Jaya.
"Kita usahakan supaya dengan kehadiran dan struktur (aparat) yang terbatas, tidak 
terjadi kontak
senjata," kata Juwono seusai memimpin serah terima jabatan Sekjen Departemen 
Pertahanan dari
Jenderal Fachrul Razi kepada Letjen Soegiono di Jakarta, Senin.
Mantan Mendikbud itu mengatakan pihaknya justru lebih berhati-hati atas kemungkinan 
adanya pihak
ketiga yang akan memancing kerusuhan di Aceh yang sengaja memicu pertentangan antara 
aparat dengan
GAM.
Sejumlah warga Irian Jaya akan mengibarkan bendera kelompok separatis Papua Barat pada 
1 Desember
1999 mendatang, sedangkan rakyat Aceh akan memperingati HUT Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 
pada 4
Desember 1999.
Diberitakan bahwa pada kedua hari tersebut, mereka akan menurunkan Bendera Merah Putih 
dan sebagi
gantinya akan dikibarkan bendera Papua Merdeka dan bendera GAM. Menanggapi hal 
tersebut, Menhan
mengatakan pihaknya selalu mengedepankan langkah persuasif supaya rakyat Irian maupun 
Aceh jangan
sampai menaikkan bendera yang menantang lambang-lambang kenegaraan RI.
"Kita bisa mengerti tuntutan mereka, tetapi jangan sampai bertindak terlalu menantang 
kedaulatan dan
hak negara dan pemerintah pusat untuk menegakkan kedaulatan negara, jangan sampai 
lambang negara itu
diinjak-injak karena kita juga punya batas kesabaran," tegasnya.
Ia mengatakan, saat ini TNI dan Polri sudah sangat sabar bahkan terlalu sabar sehingga 
gerakan
separatis semakin meningkat. "Diucapkan darurat saja apalagi darurat militer sudah 
ribut, padahal
itu hak dari pemerintah dan TNI untuk membela diri supaya pos-pos polisi tidak 
diserang dan pos-pos
TNI tidak dibakar," katanya.
Dikatakanya, pada dasarnya yang ingin dilaksanakan oleh pemerintah bersama rakyat 
adalah rujuk
nasional. Pemerintah pusat telah mengakui di masa lampau banyak melakukan kesalahan 
termasuk salah
bertindak di lapangan. "Kita perlu merebut kembali hati mereka dan kita mengakui 
kesalahan itu, dan
mari kita laksanakan suatu dialog untuk memberi kesempatan kepada pemerintah pusat 
memperbaiki dan
menebus kesalahan di masa lampau itu, dan teman-teman tidak perlu menantang pemerintah 
pusat dengan
lambang-lambang baru," katanya.
Ketika ditanya apakah pemerintah akan memberi sanksi kepada mereka yang menantang 
lambang-lambang
kedaulatan negara itu, Juwono mengatakan tidak akan ada sanksi, termasuk juga belum 
direncanakan
status darurat militer di dua daerah tersebut. "Kita jangan sampai menjatuhkan sanksi, 
karena itu
saya pribadi dan sebagai pejabat pemerintahan mengimbau kepada teman-teman di manapun 
kalau ada
keluhan dan gugatan marilah kita selesaikan dengan pendekatan politik, dialog, dan 
tidak dengan
mengumbar janji-janji," ujarnya.
Ia juga berjanji akan segera mengupayakan menggelar perangkat hukum maupun tindakan 
konkret untuk
menebus segala kesalahan yang dilakukan pemerintah di masa lampau. Juwono juga 
berharap pendekatan
rekonsiliasi yang diajukan Presiden Abdurrahman Wahid dapat diterima oleh 
daerah-daerah yang
menuntut merdeka. "Ini adalah langkah yang dikedepankan oleh kita pada saat ini, 
karena kita masih
percaya bahwa mereka memberi kesempatan untuk sama-sama memperbaiki terutama keadilan 
dalam hal
desentralisasi, otonomi, dan pengakuan terhadap ciri khas (daerah), kita sama-sama 
mempertebal modal
bangsa dan persatuan dengan syarat yang lebih adil," katanya.
Pemanggilan Soeharto
Ketika ditanya mengenai rencana Panitia Khusus Aceh DPR-RI memanggil beberapa 
purnawirawan perwira
tinggi TNI yang dianggap terlibat pelanggaran HAM di Aceh sementara mantan presiden 
Soeharto tidak
dipanggil, Juwono mengatakan tidak tahu kewenangan Pansus itu. "Saya kira harus 
diclearkan dulu
kewenangan Pansus untuk memanggil pejabat tertinggi negara pada waktu dulu, saya masih 
belum jelas
apakah ada kewenangan itu, meskipun hanya untuk meminta keterangan," ujarnya.
Kepada wartawan yang mengatakan bahwa Pansus kecewa atas keterangan para menteri 
bidang Polkam
mengenai kasus Aceh, Menhan mengatakan adalah hak mereka untuk kecewa dengan 
keterangan yang
diberikan.
Ketika didesak apakah kekecewaan tersebut ada hubungannya dengan seringnya Presiden 
bepergian ke
luar negeri, Juwono menegaskan, Gus Dur tidak akan melupakan masalah di dalam negeri 
meskipun ia
banyak bepergian ke luar negeri. "Tidak, saya kira Gus Dur punya strategi khusus yang 
upayanya tidak
langsung kelihatan, sebetulnya ke manapun perginya ke luar negeri perhatian ke dalam 
negeri tetap
ada, dan kontak tetap jalan," jawabnya.
Selain itu, tambah Juwono, ada juga pertimbangan Gus Dur untuk tidak serta merta 
menanggapi setiap
permintaan dari sebagian anggota masyarakat termasung anggota DPR. "Harus ada 
pertimbangan taktis
apakah tepat kalau datang segera, apakah hasilnya akan baik atau tidak, atau justru 
akan merugikan,
karena pengalaman saya dulu waktu di bawah presiden Habibie, kunjungan ke daerah 
termasuk daerah
yang bermusibah seringkali malah menjengkelkan atau malah memicu," kilahnya.
Bersamaan dengan sertijab Sekjen Dephan itu juga dilakukan serah terima jabatan Kasum 
TNI, Irjen dan
Staf Ahli Dephan.(ant)
Amien Rais: Seret, Siapapun Pelanggar HAM

Serambi-Jambi
Ketua MPR Amien Rais menegaskan siapapun yang melanggar hak azasi manusia (HAM) di 
Aceh selama ini,
baik oknum TNI, Polri maupun sipil, harus diseret ke pengadilan guna 
mempertanggungjawabkan
perbuatannya dan menuntaskan masalah Aceh segera mungkin.
"Siapapun yang terbukti melakukan pelanggaran HAM di Aceh selama ini harus diseret ke 
pengadilan,"
katanya, pada pembukaan Kongres HMI ke-22 di Balai Pasebanan Kodya Jambi, Senin.
Amien Rais mendesak pemerintah agar tidak lagi menunda-nunda untuk menyeret oknum 
pelanggar HAM di
Aceh. "Pemerintah harus tegas dan segera menyeret oknum-oknum pelanggar HAM di Aceh 
itu, siapapun
orangnya, guna menuntaskan persoalan Aceh yang cukup fundamental itu," katanya.
Menurut dia, tingginya tuntutan rakyat Aceh terhadap referendum, karena ketidakbecusan 
pemerintah
selama ini menangani masalah pelanggaran HAM atau kezaliman atau ketidakadilan di bumi 
Serambi Mekah
itu. "Kepercayaan rakyat terhadap pemerintah pusat kini semakin tipis, sehingga 
bermunculan berbagai
tuntutan referendum mulai dari Aceh, disusul kemudian Riau, Irian Jaya (Papua 
Merdeka), dan Sulawesi
Selatan, yang cukup mengancam disintegrasi bangsa," ucapnya.
Pemerintah kini cukup dilematis menyelesaikan persoalan bangsa ini dalam waktu relatif 
singkat,
katanya, karena krisis ekonomipun hingga kini tak kunjung selesai.
Pemersatu umat
Berkaitan dengan itu, Amien Rais menekankan kepada kader HMI selaku kader pemersatu 
umat Islam dan
pemersatu bangsa untuk terus meningkatkan kiprahnya dan mencari solusi terbaik bagi 
persoalan yang
dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini.
Kongres HMI ke-22 di Jambi yang diikuti sekitar 2.000 peserta dan penggembira dari 115 
cabang di
Indonesia itu dinilai cukup krusial, sehingga kadernya selain dituntut mempersiapkan 
mental,
meningkatkan daya berpikir, juga perlu mengarahkan program organisasi pada program 
multidimensional.
Kongres selain memilih kepengurusan baru dan program PB HMI periode 1999-2001, juga 
diisi dengan
kegiatan pameran, bazar, dan pertunjukan seni.
Pembukaan kongres itu sempat diwarnai unjuk rasa oleh sekitar 80 orang peserta dari 
Aceh. Mereka
menuntut referendum dilakukan di Aceh.
Dengan mengenakan ikat kepala bertuliskan "Aceh Referendum", mereka membentangkan 
berbagai poster
dan spanduk yang intinya agar masalah Aceh menjadi perhatian khusus dan dimuat dalam 
agenda Kongres
HMI ke22.
Teriakan referendum oleh puluhan peserta Aceh itu meriuhkan suasana pembukaan Kongres 
Nasional XXII
HMI, dan nyaris menimbulkan keributan dengan peserta lainnya yang merasa terganggu 
dengan suara
teriakan itu. (ant)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Nov 1999 jam 02:26:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke