----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://mymail.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 23 Nopember 1999

Amien Rais Diselamatkan Lapis Baja

Ketua MPR Amien Rais akhirnya batal meneken "Perjanjian Makassar"
yang berisi persetujuan terhadap pembentukan negara federasi di
Gedung DPRD Sulsel, kemarin.

Penyebanya, mahasiswa yang menghadiri pertemuan tersebut ternyata
belum satu kata. Malah, kemudian terjadi kericuhan, yang membuat
Amien terpaksa harus dievakuasi lewat pintu belakang.

Dialog yang diprakarsai Forum Mahasiswa Makassar Merdeka (FMMM) itu
berlangsung panas. Mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan
tinggi, saling berlomba bicara. Malah ada yang berteriak-teriak.
Ternyata, tak semua mahasiswa menyetujui opsi negara federal yang
ditawarkan FMMM. Ada yang minta otonom luas, ada yang minta merdeka.

Kericuhan, yang ditandai dengan menghamburnya mahasiswa ke depan
seolah ingin "menyerang" membuat Amien yang didampingi Wakil Ketua
MPR Nasri Adlani, terhenyak. Moderator tak mampu lagi mengendalikan
situasi. Proposal "Perjanjian Makassar" yang dibawa Iswari Alfarisi,
koordinator FMMM, hanya dibaca sebentar lalu dibawa pergi lewat
pintu belakang.

Melihat kondisi yang serba kacau, pihak keamanan tidak mau mengambil
risiko. Amien, Nasri serta Gubernur Sulsel ZB Palaguna dan Ketua
DPRD Amin Syam diselamatkan keluar dari kompleks DPRD dengan
menggunakan "rantis" (kendaraan taktis) milik Brimob Polda Sulsel.
Di atas kendaraan lapis baja tersebut, Amien dan para petinggi
Sulses selamat dari gangguan mahasiswa.

Semula mahasiswa yang menginginkan negara federasi berniat
"mengikat" Amien lewat perjanjian yang merupakan kontrak politik. Di
situ dinyatkan, Amien diberi waktu enam bulan untuk mewujudkan
negara federasi. Dia dinilai mahasiswa sebagai tokoh reformasi yang
bisa memperjuangkan aspirasi mereka, terutama untuk menggolkan
amandemen UUD 45, pasal 1 ayat 1 tentang bentuk negara.

"Selama ini kita tahu Pak Amien setuju negara federasi, tetapi kita
belum melihat tahapan-tahapan perjuangannya. Yang kami perlukan
sekarang ini bukan semata-semata political will, tetapi political
action. Dan, kami beri waktu enam bulan sejak ditandatanganinya
"Perjanjian Makassar", ujar Iswari.

Perjanjian itu sendiri mencakup empat hal, yakni pembebasan tuntutan
regional, kesetaraan wilayah, pemberdayaan kawasan serta kemandirian
lokal. Keempatnya mengarah kepada satu hal, yakni pembentukan negara
federasi melalui amandemen pasal 1 ayat 1 UUD 45.

Amien sendiri, dalam kapasitasnya sebagai Ketua MPR, sebenarnya
sudah menyatakan setuju meneken. Namun, akibat terjadinya kericuhan
di antara sesama mahasiswa, kontrak politik itu akhirnya batal
ditandatangani.

Suasana dialog yang disebut Amien sebagai "ramai seperti pasar" itu
memang memunculkan aspirasi lain, tak semata menyetujui pembentukan
negara federasi. Namun, adanya perbedaan itu, menurut Iswari, tak
seharusnya menciderai dialog tersebut.

Koordinator FMMM ini menduga, suasana kacau seperti itu sengaja
diciptakan. Sebab, di antara lembaga mahasiswa sebenarnya sudah ada
kesepakatan bersama. Kalaupun ada perbedaan pendapat, tetap akan
saling menghargai. "Ternyata ada kelompok lain yang tidak mewakili
lembaga resmi, dan membuat kacau pertemuan," katanya.

Amien sendiri menghargai aspirasi mahasiswa yang menyatakan tetap
mencintai Indonesia. Adnan dari FISIP Unhas misalnya, terang-
terangan menyatakan bahwa mahasiswa masih cinta Indonesia.

"Kami tidak ingin Aceh berpisah, Irian berpisah atau Makassar
berpisah dari Indonesia. Itu sebabnya kami minta federasi. Dan kami
siap mendukung Pak Amien, sampai titik darah penghabisan," kata
Adnan. Konsep merdeka, menurut dia tak berarti makar,tetapi lebih
bermakna federasi.

"Ada beberapa orang yang sangat marah kepada saya. Ada pula yang
menyebut saya gegabah. Tapi saya siap menerima semua itu, termasuk
dihujat sekalipun," kata Amien dalam dialog dengan mahasiswa
Makassar.

Bahwa ada orang yang marah dan menghujat Amien, itu tak lepas dari
wacana negara federasi yang sudah sejak dulu digelindingkannya.
Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan pemikiran
tersebut. "Tapi sekarang terbukti negara kesatuan justru menimbulkan
banyak risiko," ujarnya.

Ketua Umum DPP PAN ini sempat didaulat mahasiswa untuk menyatakan
kehadirannya di Makassar dalam kapasitasnya sebagai Ketua MPR. "Saya
bisa dua-duanya, sebagai Ketua MPR ataupun sebagai anak bangsa,"
katanya.

Dia menyatakan, kedatangannya ke Makassar sebagai Ketua MPR karena
diundang secara resmi oleh DPRD Sulsel. "Undangan itu dibawa anggota
DPRD Sulsel ke Jakarta," ujarnya. Kalau kedatangannya di Aceh hanya
sebagai anak bangsa, lanjutnya, karena memang saat itu dia tidak
diundang melainkan atas inisiatif sendiri.

Dalam dialog yang berakhir dengan kericuhan tersebut, Amien menyebut
tiga opsi, yakni negara kesatuan, federasi atau merdeka. Soal negara
federasi, dia menyatakan setuju-setuju saja. Sebab, bentuk negara
kesatuan terbukti banyak menimbulkan resiko, akibat terjadinya
sentralisasi kekuasaan di Jakarta serta eksploitasi luar Jawa oleh
Jawa.

Dua opsi lain, yakni negara kesatuan dan merdeka, mengandung banyak
kelemahan. Negara kesatuan misalnya menyebabkan timbulnya
sentralisasi, di mana daerah sangat tergantung pada Jakarta.

"Ada daerah yang kontribusinya terhadap APBN mencapai 14 persen,
tetapi yang diterima kembali tak sampai satu persen," paparnya.

Soal opsi merdeka, menurut dia, masih harus dikaji lagi secara
intensif. "Opsi ini sebaiknya kita tinggalkan," katanya.

Dengan mengutip kalimat dari filosof Perancis, Amien mengatakan
bahwa  bangsa yang satu bukan karena persamaan agama, suku atau
etnis, tetapi karena punya kemauan untuk ada dan hidup bersama.

(ASM/JPNN)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Nov 1999 jam 03:18:22 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke