----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://mymail.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 23 Nopember 1999

Mari Tingkatkan Ikatan Persatuan

SAAT ini rasanya tak ada hal yang paling kita dambakan selain
persatuan. Setelah hampir dua tahun dilanda huru-hara, ketegangan
politik dan kehancuran ekonomi, kita masih belum bisa bangun dari
mimpi buruk karena Aceh disulut persoalan yang ternyata seorangpun
memberikan solusi. Persatuan sangat dibutuhkan agar kita tak
mewujudkan teori kartu dominonya Einsenhower, rebahnya satu kartu
mendorong rebahnya kartu-kartu yang lain.

Kita ketakutan bakal menjadi Yugoslavia yang setelah masing-masing
etnis membentuk negara sendiri, mereka saling berkelahi satu sama
lain. Dibayang-bayangi Rusia yang setelah memasuki dunia liberal
malah memperoleh kehidupan yang amat kacau, inflasi membubung, gang-
gang penjahat bermunculan, sementara Chechnya makin mengobarkan api
pertempuran.

Kita butuh persatuan bukan persatuan slogan atau semata-semata
karena persatuan menurut pepatah klasik, bersatu kita teguh bercerai
kita runtuh. Melainkan seperti kita butuh air dan udra agar dada tak
sesak dan kepala tak sumpek terus. Agar kita selamat dari apa yang
dikatakan Gus Dur, rusaknya bingkai kehidupan bangsa yang terancam
dari semua segi.

Tapi saat ini persatuan justru terasa begitu rumit sehingga kita
mungkin perlu mengkaji lagi kenapa Belanda dulu bisa memecah-mecah
kekuatan di nusantara dan menguasainya selama puluhan generasi.
Dalam masa yang panjang ini, Imam Bonjol dikalahkan, Diponegoro tak
kuasa memenangkan sengketa karena kelompoknya berjuang sendirian.
Aceh, walaupun tak pernah takluk, tapi tak bisa tentram karena
perang yang tak berkesudahan.

Persatuan yang akhirnya terwujud di nusantara pastilah bukan semata-
mata karena pesona seorang bernama Soekarno lewat pidato-pidatonya
yang amat menyentuh dan bilang kita punya alasan untuk menjadi suatu
bangsa. Persatuan, yang kemudian melahirkan Proklamasi Kemerdekaan
telah terproses melalui penderitaan dan tertindasnya harga diri
semua etnis dan suku di nusantara, ratusan tahun dari generasi ke
generasi. Bila kini persatuan itu retak, bisakah kita menerimanya?

Sayangnya, kita tak punya waktu lagi menyalahkan siapa-siapa.
Menyalahkan Soeharto yang tidak paham bahwa suatu bangsa harus punya
harga diri dan perlu menjalin persaudaraan yang tulus dari masing-
masing etnis dan golongan, hanya akan membuat kita kehabisan tenaga.
Dan siapa pula yang menyalahkan rakyat Aceh kalau mereka sudah
berulang-ulang kecewa dan muak atas perlakuan yang tidak adil.
Mungkin kita sudah keliru memelihara persatuan dengan ikatan yang
amat ketat sehingga ada yang merasa napasnya sesak atau lecet-lecet.
Dan karena itu mungkin perlu mencari cara lain yang lebih longgar
tapi tidak lepas dari ikatan.

Pendeknya, hari ini kita butuh persatuan lebih dari yang sudah-
sudah. Agar mimpi buruk tidak berkelanjutan dan anak cucu tidak
menjadi manusia yang terlunta-lunta di antara dunia yang terus makin
maju dan makmur. Karena itu, kita harus menyelesaikan masalah Aceh,
Riau, Kalimantan, Sulsel, Irian dan dari manapun saat ini ikatan
persatuan terancam.

Tak seorangpun bilang soal Aceh tidak rumit dan memang tak mungkin
hanya bisa diwujudkan oleh teori-teori dan komentar pakar. Ia tak
bakal terwujud hanya oleh seorang menteri bernama Hasballah yang
berasal dari Aceh. Bahkan tak akan terwujud oleh seorang presiden
bernama Gus Dur yang intelektual sekaligus ulama. Itulah sebabnya
dia mengatakan, masalah Aceh harus diselesaikan oleh masyarakat Aceh
sendiri. Pemerintah hanya mendorong dan membantu.

Gus Dur benar karena persatuan harus menjadi kesadaran setiap orang
melalui nalar, pengetahuan dan pengalaman sejarah. Merdeka memang
indah dan patriotik, tapi cukupkah alasan untuk merasa terjajah jika
himpitan yang diterima juga ditanggung oleh saudara-saudara lain dan
saudara-saudara ituu bukanlah penjajah. Melepaskan diri mungkin
baik, tapi kalau prosesnya menyakitkan hasilnya mungkin juga tak
sebagaimana yang diharapkan. Kemerdekaan bangsa ini diperoleh
melalui persatuan yang terproses ratusan tahun dan penderitaan yang
panjang. Karena itu, marilah dengan kepala dingin kita berusaha
menjaganya agar negeri ini tak pecah berkeping-keping.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Nov 1999 jam 03:18:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke