---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Tentang Bukit Janda Di Aceh: Keterangan Mayjen Zacky Dibantah BANDA ACEH (Waspada): Seorang warga Aceh dan aktivis Forum Peduli HAM membantah keterangan Mayjen Zacky Anwar Makarim tentang Bukit Janda yang diungkap dalam pertemuan antara para jenderal dengan Tim Pansus DPR mengenai Aceh di Jakarta, Senin malam. "Keterangan Mayjen Zacky yang mengatakan jumlah janda sembilan orang karena empat suaminya dibunuh oleh GPK dan lima dibunuh oleh TNI adalah pemutarbalikan fakta," kata warga Aceh yang minta namanya tidak disebutkan kepada pers di Banda Aceh, Selasa. Sumber yang mengaku mengenal nama-nama yang dibunuh itu --ia sebutkan satu persatu antara lain Yusuf, Ali, Munir, Rahadi, Baktiah dan Hanafiah adalah warga Desa Cot Keng yang dikenal dengan Bukit Janda, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie-- semuanya dilakukan oleh aparat. "Tidak benar jika disebutkan sembilan orang meninggal karena empat orang dibunuh oleh GPK dan lima oleh TNI. Saya tahu persis kondisi masyarakat di kampung tersebut, tidak ada orang yang dibunuh oleh GPK di desa itu," katanya. Oleh karena itu, ia menilai penjelasan Mayjen Zacky itu sudah memutarbalikkan fakta, sehingga bisa menambah sakit hati masyarakat Aceh. Ia mengatakan penduduk Desa Cot Keng tersebut hanya sekitar 25-30 KK, sehingga apabila enam orang dibunuh, secara persentase sudah cukup besar dan pantas disebut Bukit Janda. Senada dengan keterangan warga Aceh tersebut, Wakil Ketua Forum Peduli HAM Ir Abdul Gani Nurdin menyatakan sembilan suami di "bukit janda" itu dibunuh oleh ABRI dan tidak ada yang dibunuh GPK. Disebutkannya, pada saat operasi militer penduduk Bukit Janda hanya 21 kepala keluarga. Pada waktu itu, sembilan di antara suami itu dibunuh aparat, sedangkan empat orang lagi dinyatakan hilang karena hingga kini belum pulang ke desanya. Oleh karena keterangan yang menyangkut Bukit Janda saja faktanya sudah diputarbalikkan, apalagi menyangkut ribuan korban semasa operasi militer tampaknya sengaja untuk tidak diungkap, katanya. Karena itu, katanya, untuk mengungkap semua kasus pelanggaran HAM semasa operasi militer tahun 1989-1998 tersebut diperlukan pengadilan HAM, sehingga pimpinan yang berwenang semasa operasi itu tidak bisa "buang badan".(ant) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Dec 1999 jam 08:11:31 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
