---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 28 Nopember 1999 Habibie Balas Dendam Oleh: Tjipta Lesmana KETIKA Mikhail Gorbachev pada Maret 1985 terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet (PKUS), jabatan tertinggi di dalam pemerintahan "negara beruang raksasa" itu, dunia internasional tidak kenal siapa Gorbachev. Sebelumnya, nama ini memang nyaris tidak pernah disebut di dalam perpolitikan Uni Soviet. Namun, dalam tempo kurang dari satu tahun, Gorbachev menjadi agenda setting penting di berbagai wacana dunia. Hal itu, terutama disebabkan oleh ide-idenya yang cemerlang yang dirangkum dalam dua kata sederhana: perestroika (pembaruan) dan glasnot (keterbukaan). Di bawah kepemimpinan Gorbachev, segala tatanan kekuasaan dan pemerintahan yang telah mengental selama hampir 70 tahun dijungkir-balikkan. Akibatnya, enam tahun kemudian, tepatnya 31 Desember 1991, emporium Uni Soviet ambruk total, digantikan oleh 16 negara berdaulat. Setelah Uni Soviet lenyap dari peta bumi, muncul spekulasi tentang siapa sesungguhnya Gorbachev. Apakah dia tidak lebih dari seorang agen CIA yang sudah lama dibina oleh Amerika? Atau Gorbachev sungguh makhluk ciptaan Allah yang diturunkan ke bumi untuk memporak- porandakan ajaran Marxisme-Leninisme? Aneh, dalam buku memoarnya, Gorbachev tidak pernah menyatakan sedih, apalagi menyesal melihat hasil kerjanya selama enam tahun memimpin Uni Soviet. Ia seakan bergabung dengan kaum intelektual manca negara sejak awal abad ke-20 yang percaya bahwa ajaran Karl Marx hanya sebuah utopia. DI AMBANG DISINTEGRASI TOTAL Negara kita kini di ambang disintegrasi total. Propinsi ke-27 Indonesia, Timor Timur, telah lepas dan sebentar lagi akan menjadi negara berdaulat. Presiden Abdurrahman Wahid sudah menyatakan persetujuannya kepada rakyat Aceh untuk mengadakan referendum. "Tujuh bulan lagi," kata Gus Dur. Jika referendum betul dilaksankan di Aceh, hampir dipastikan Aceh pun akan lepas dari negara kesatuan RI. Di Pekanbaru pada 27-28 Nopember ini akan berlangsung Kongres Rakyat Riau ke-2. Salah satu agenda pokok Kongres ialah menentukan masa depan propinsi Riau: mau terus bergabung di dalam RI atau minta otonomi khusus atau merdeka? Prof. DR. Tabrani Rabb, Ketua Lembaga Studi Sosial Budaya Riau, tanpa tedeng aling-aling berkata: "Riau pasti merdeka. Mangan ora, mangan merdeka!" Sedangkan dari Jayapura, para eksponen kemerdekaan Irian Jaya telah mengirim surat resmi kepada Sekjen PBB. Isinya: mendesak supaya Perjanjian New York 1962 tentang penentuan hak (politik) rakyat Irian Barat dibatalkan. Karena perjanjian itu, katanya dibuat di luar kehendak rakyat Irian Barat. Merdeka memberikan batas waktu akhir Januari 2000 kepada pemerintah pusat untuk mengabulkan aspirasi kemerdekaan rakyat Irian Barat yang disebutnya Papua Barat. Sementara itu, konflik etnis dan agama di Maluku masih terus berkobar, malah dengan intensitas yang semakin tinggi. Entah sudah banyak korban manusia yang tewas dalam konflik itu, disamping ribuan penduduk yang mengungsi. Aparat keamanan dikesankan tidak berdaya melerai, apalagi menghentikan pertikaian. DUA SKENARIO Sebuah pertanyaan menghadang kita untuk dijawab secara kritis, fenomena politik apa yang sesungguhnya sedang dihadapi bangsa Indonesia? Rasanya, tidak masuk akal jika rangkaian tuntutan kemerdekaan itu meletup secara spontan dan kebetulan bersamaan timingya. Adakah suatu grand schenario (skenario akbar) di balik semua itu, sama halnya dengan proses ambruknya emporium Uni Soviet? Tentu, sebagian dari Anda akan menuding bahwa pertanyaan semacam ini amat spekulatif sifatnya. Tapi, perkenakanlah saya untuk menyodorkan dua skenario hipotetikal. Keduanya mengasumsikan skenario akbar di balik fenomena di depan hidung kita sekarang. Yang satu mode-in lokal; satunya lagi made-in internasional. Skenario pertama mengatakan, proses disintegrasi bangsa yang kin menggelinding merupakakan tindak balas dendam dari kekuatan Orde Baru (Orba) yang tetap tidak rela karena digulingkan secara terhina pada Mei 1998. Termasuk dalam kelompok kekuatan ini adalah barisan Habibie dengan kaukus Iramasuka-nya. Bukankah tempo hari mereka telah menyebar luaskan propaganda bahwa jika Habibie tidak terpilih lagi, Indonesia (Timur) akan pecah? Memang, yang potensial memisahkan diri ternyata bukan wilayah Indonesia Timur saja, tapi juga wilah-wilayah Barat seperti Aceh dan Riau. Dan fenomena ini bisa dikatakan blessing in disguise dari pandangan kacamata, hitam. Biarlah kita hancur bersama, agar adil! Kira-kira begitu dalil mereka. Jika hipotesa ini kelak menjadi kenyataan, maka dalam sejarah Republik Indonesia akan ada catatan yang berbunyi: "Soeharto memerintah Indonesia sejak kelahiran Surat Perintah 11 Maret 1966 hingga 21 Mei 1998. Tidak lama setelah ia lengser, negera kesatuan Republik Indonesia pun pecah dan sebagai gantinya berdiri banyak negara berdaulat." Jasa Soeharto sebagai pemersatu bangsa, dengan demikian, dinyatakan lebih besar dari Soekarno, Presiden RI ke-1. Konsekuensi selanjutnya, gerakan reformasi menumbangkan rezim Soeharto pada medio 1998 bisa dinilai suatu aksi politik yang gegabah, menyesatkan dan berakibat fatal. Skenario kedua percaya bahwa ada kekuatan internasional yang solid untuk menghancurkan Indonesia. Pandangan dasar mereka sebetulnya mempunyai kemiripan dengan pandangan pendukung skenario pertama, yaitu: Soeharto, secara de facto, memang pemersatu bangsa. Mereka telah lama mencemaskan stabilitas politik di Indonesia, pasca- Soeharto. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, adakah jaminan bahwa Indonesia tidak bakal menjadi negara Islam yang radikal setelah Soeharto tidak bekuasa lagi? Kecenderungan radikalisme pada pemikiran dan perilakuu politik kelompok mayoritas dinilai sudah mengemuka selama Habibie berkuasa. Satu-satunya resep mujarab untuk menyembuhkan "stres berat" akibat terus-menerus dibayangi kengerian munculnya "hantu" baru di Republik Indonesia, ya hancurkan kesatuan negara Republik Indonesia, persis seperti ketika mereka menghancurkan negara Federasi Uni Soviet tempo hari. Indonesia yang ditinggalkan oleh propinsi-propinsi periferial yang kaya akan sumber daya alamnya, pasti akan lebih lemah, bahkan impoten di forum internasional, dibandingkan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. (Penulis adalah pengamat sosial-politik) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Dec 1999 jam 07:19:39 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
