---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: JALAN BUNTU, JALAN PERANG SAUDARA! ACEH: POLARISASI, PENDEKATAN, KENYATAAN SESUDAH PEMILU Selama puluhan tahun ini masalah Aceh selalu dipolarisasi sebagai pemberontak yang harus ditindas demi "keutuhan bangsa". Pendekatan selalu dengan tindakan militer mulai jaman Daud Beureueh. Pemberontakan Daud Beureueh tidak membuat mata Indonesia melek, tetap buta tuli terhadap kelakuan buruk kita berupa pemaksaan pola pikiran pusat di Jakarta, termasuk sistem "plunder" (perampokan) harta alam Aceh dan semua propinsi kaya yang kalau sudah sampai di pusat jatuh kepada tangan para pencoleng yang berkedok penguasa yang sewenang wenang dan kebal hukum. Ini berlangsung selama 50 tahun belakangan ini secara menjadi jadi dari hari ke hari tanpa memperdulikan situasi dan kondisi rakyat yang dirampok keka- yaan alamnya. Tambang emas dan sumur minyak Irian adalah yang paling besar di seluruh Indonesia, tapi taraf hidup rakyatnya sangat menyedihkan. Aceh merupakan kasus khusus di seluruh Indonesia karena tradisi kepahlawa- nan rakyatnya melawan kolonialisme. Namun kita memilih menutup mata dan kuping selama puluhan tahun ini. Kesabaran manusia tidak ada lagi yang me- nyamai kesabaran Nabi Ayub (the patience of Job) yang telah menjadi pemeo itu. Pemerintah pusat menutup mati jalan komunikasi, barang siapa yang membuka mulut langsung dicap pemberontak, setiap suara yang menuntut perbaikan nasib dicap pemberontakan. Sikap pemerintah pusat yang mutlak mutlakan itu telah menghidupkan kembali semangat perjuangan kemerdekaan Aceh, tapi kita lebih senang menyamakan Aceh dengan Irian, dll. sehingga pemberontakan semakin mendarah mendaging. Akhirnya Hasan di Tiro memproklamirkan kemerdekaan Aceh. Kita memilih tindakan militer penumpasan tanpa memikirkan akibat perang gerilya yang tidak bisa ditumpas menurut doktrin militer sendiri. Kita sendiri dalam penindasan rejim Suharto yang menggunakan sistem "Machi- avelisme Jawa" yang dikombinasikannya dengan "sistem fasis militerisme a la Jepang". Baru sekaranglah kita bangkit dalam demokrasi yang masih tertatih tatih bela- jar berjalan menghadapi barisan TNI dan Polisi yang bersenjata lengkap, siap siaga setiap saat untuk menggunakan senjatanya terhadap rakyat yang tidak bersenjata, apalagi terhadap rakyat yang bersenjata seperti di Aceh, Timtim, Ambon, Lampung, Tanjung Priuk, Jakarta dan Semanggi khususnya. Sesudah melaksanakan pemilu yang bebas - yang masih saja dinodai pemi- lihan 238 wakil yang tidak bebas - para pemenang pertama dan kedua adalah PDI dan Golkar yang berwatak konservatif dalam sistem pemerintahan negara kesatuan. DPR dan MPR tidak akan menyetujui sistem federalisme apalagi kemerdekaan a la Timtim, sampai kiamat sekalipun. Presiden Gus Dur yang fleksibel sekalipun tidak akan bisa melawan main- stream ini. Ia dan DPR/MPR, TNI, boleh saja berunding dengan GAM tapi polarisasi tetap tak akan tergoyahkan karena kedua pihak sudah mutlak mut- lakan. GAM tidak mungkin mengalah barang selangkah, demikian pula rejim baru kita. Walhasil: jalan buntu, dus jalan perang saudara! New York, 2 Desember 1999. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Dec 1999 jam 04:38:08 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
