---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: FEDERALISME TERLAMBAT SELAMATKAN INDONESIA DARI DISINTEGRASI Federalisme sudah terlambat sekali untuk menyelamatkan distegrasi "Unitary State" (Negara Kesatuan) Republik Indonesia karena: 1. Konsep Federalisme masih terapung apung di awang awang. Hanya Amien Rais, Nurcholis Majid (Ryaas Rasyid yang seangkatan jebolan University of Chicago te- tap bungkam seribu bahasa, mungkin karena sudah diangkat jadi Menteri). Presiden Gus Dur pernah ikut menyuarakan sekali kemudian bungkam. 2. Kekuatan yang menentang Federalisme masih paling besar di DPR/MPR, dalam masyarakat baik yang netral maupun para pendukung PDI, Golkar dan Poros Islam, kecuali Amien Rais sendiran. 3. Sementara itu situasi dan kondisi di Aceh, Irja, Ambon khususnya dan di pro- pinsi propinsi lainnya: Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau semakin marak menuntut Federalisme atau malah kemerdekaan. 4. Di satu pihak kekuatan konservatif/satuskuo Unitary State tetap utuh di lain pihak tuntutan untuk kemerdekaan dan federalisme semakin kuat pula. 5. Dus tidak ada pertemuan, tidak ada approach, tidak ada kompromi mungkin sampai selama lamanya? Mengapa Federalisme ditentang? Mengapa Federalisme ditentang keras? Selayang pandang sejarah kemerdekaan Indonesia berdasarkan ingatan adalah sbb: Karena selama 350 tahun kolonial Blanda mempertahankan Unitary State dengan kekuatan militer dan polisinya, kemudian kita berontak terhadap Jepang, kemudian terhadap Blanda yang comeback didukung Sekutu Inggeris-Amerika berdasarkan perjanjian Potsdam 1945. Tentara Gurkha mendarat di Jakarta dan Surabaya, ke- mudian membebaskan interniran Blanda dan mempersenjatainya kembali, menyu- sul tentang KL (Koninklijke Landmacht) dan pembentukan tentara Melayu KNIL (Knoninklijke Nederlands-Indische Landmacht). TNI memberikan perlawanan dengan Perang Gerilya selama lk 5 tahun, semen- tara Australia, kemudian Amerika, mendukung kemerdekaan Indonesia dan mem- berikan tekanan tekanan kepada Blanda supaya memberikan kemerdekaan. Akhirnya ditandatanganilah Perjanjian Renville dan Linggadjati untuk "penyerahan kedaulatan" di mana Blanda berulang kali mengkhianati kita dengan apa yang disebut "politionele actie" untuk membersihkan kantong kantong gerilya di Jawa Barat dan Tengah. Akhirnya Indonesia terpaksa menerima RIS - Negara Federal - padahal Blanda selama 350 tahun memaksakan bentuk Unitary State. Terjadilah perdebatan sengit dalam Parlemen antara yang pro dan yang anti Fe- deralisme dan ingin mengembalikan Unitary State (Negara Kesatuan) antara Mohammad Yamin dan Engers. Perdebatan dimenangkan oleh Engers namun Republikein yang dijagoi Yaminlah yang mencapai kemenangan akhir. Pemberontakan pemberontakan meledak di Aceh, Sulawesi, Kalimantan dan di Jawa Barat berperang gerilya untuk pembentukan Negara Islam bukan untuk Fe- deralisme atau kemerdekaan, kecuali Aceh yang menuntut merdeka. Jiwa per- juangan anti-kolonialisme Aceh tidak pernah padam, banyak yang merasa tidak pernah merdeka dalam RI. Semuanya kita tindas dengan kekerasan militer dan seperti kata pepatah "Jerat selalu melupakan pelanduk, pelanduk tidak pernah melupakan jerat". Dendam kesumat manusia ini ditambah buruk lagi oleh ulah kita yang serakah, arogan dan kejam terhadap orang propinsi sampai detik ini. Untuk pertama ka- linya kita melakukan approach politik dengan mengirim utusan ke Stockholm untuk menjajagi segala kemungkinan sementara TNI yang didukung golongan wakil rakyat golongan konservatif tetap cenderung untuk melanjutkan peninda- san militer. Konon Presiden Clinton telah mengutus Dubes PBB Richard Holbrooke yang berpengalaman di Bosnia dan Kosovo untuk mencegah perang saudara. Kebangkrutan ekonomi, disintegrasi Pembangunan kembali ekonomi kita yang sudah bangkrut tidak mungkin dilak- sanakan karena masalah tuntutan kemerdekaan dan Federalisme ini. Memang harus diselesaikan, tapi apakah approach militerisme merupakan satu satunya jalan? Apakah tidak cukup pertumpahan darah di Aceh berupa ribuan nyawa melayang dan konon ratusan ribu di Timtim karena mau mempertahankan Negara Kesatuan dengan kekuatan senjata? Para pemenang pemilu - khususnya PDI dan Golkar - harus menentukan sikap apakah mau menumpas Aceh, dll dengan kekuatan militer ataukah bersedia mencari modus vivendi yang diterima oleh semua pihak? Presiden seorang atau Amien Rais, Nurcholish Majid, tidak mungkin bisa menyelesaikannya. Kebangkrutan ekonomi kita sudah tidak bisa menunggu nunggu lagi. Karena kerusuhan kerusuhan di daerah daerah itu maka para investor yang lebih pin- tar daripada kita terpaksa "wait and see" sampai ada stabilitas politik kem- bali. Kita baru kembali ke Demokrasi dan Demokrasi menghendaki kompromi. New York, 2 Desember 1999. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Dec 1999 jam 04:38:20 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
