---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Karena kelamaan nggak ditulis, detail perjalanan saya ke Inggris jadi mengabur,dalam otak setengah tua ini, ribuan image nostalgi yang mestinya mengendap fresh, seperti ditaburi jutaan confetti yang membingungkan, membuat urutan kronologi waktu dan tempat yang pernah kami nikmati dan kunjungi kacau balau.. Tapi satu yang saya ingat, saya tidak mandi selama 2 hari. Sebab, air panas di rumah Deane habis terpakai enersinya oleh radiator rumah, jadi setiap pagi paling cuma 2 orang pertama doang yang sempat menikmati air panas, sialnya saya selalu menjadi orang ketiga.... Barangkali itulah sebabnya orang di Inggris jarang mandi ? Atau ketek mereka kadang berbau seperti tauco Cianjur? Atau jangan-jangan di seluruh Eropa, semua rumah tua punya fasilitas buruk yang sama? Sebab saya ingat di Hamburg sana, dulu juga apartemen anak-anak Indonesia ngga ada pemanas dan air di keran susah mengucur dan susah panas.. Itulah sebabnya saya ngga begitu demen dengan castle, puri,rumah tua yang anggun dan antik.. Sebab rumah model beginian , cuma enak dilihat doang. Tapi untuk ditinggali, cuma dua kemungkinan kalau ngga heaternya macet, wc nya sedingin artic,tengah malam anda bakalan diganggu para kuntilanak, sundel bolong dan dedemit yang menakut nakuti dengan bahasanya medok ala Hugh Grant. PENGEN GAMPARIN HUGH GRANT DI NOTTING HILL Lantaran film sialan dan gombal " Notting Hill " bini saya memaksa untuk jalan-jalan ke sana. Well saya memang ngga keberatan. Tapi ya ampun , antara film dan real film kok beda jauh ? Kalau dalam film suasana nampak sepi, dan toko buku si Hugh Grant cuma dikunjungi sedikit orang, yang aslinya mah..manusia menjublek, berdesak desakan,ramai seperti pasar malem atau terminal Cicilitan dan Blok M menjelang lebaran. Deretan toko yang berjejeran itu kebanyakan toko antik yang jual benda-benda tua atau yang ditua-tuain, lalu ada juga yang jualan kaki lima dari celana, kaos kaki,sayuran, buah-buahan ( mister..do you carry pete or jengkol ? No ? Payah loe...!! ) sampai jaket merek Columbia made in Indonesia yang dijual seharga 50 pound bertampang seperti jaket yang dijual di Pasar Rumput. Tidak saya temukan Julia Robert di sana, tapi beberapa cewek berbadan asoy memang sempat membuat mata minang matriakat ini zooming beberapa kali mencari lembah dan celah di sela sela jeans ketat dan jaket tebal. Dingin dan sesak membuat wajah menjadi albino. Kesal lantaran ketepu pelem, membuat saya berniat mencari taman private tempat si Hugh dan Julia duduk di bangku beton yang kalau nggak salah betuliskan soal pemujaan terhadap cinta abadi obladi oblada.. Ingin benar saya coret bangku itu dengan grafitti " Hugh Grant is a loser, ngepet, ngga bisa acting, pala kegedean, listen man..you orang ngga bakalan menang Academy Awards ever..! " MENJADI DODOL DI PICCADDILY CIRCUS London sebenernya bagus, tapi rasanya kota ini dihuni dengan 200 juta manusia. Kemana-mana anda selalu bersenggolan dengan bahu , bertabrakan dengan manusia yang tergesa-gesa. Baik di subway, di market, di departement store, di musium, mencari tempat ciuman yang mojok di kota ini alangkah susahnya. Makanya saya ngga heran begitu liat kawasan Piccadilly memang seperti tempat sirkus. Manusia lalu lalang dalam siang malam, tourist trap di sana sini, mirip dengan Times Square dengan Broadwaynya di New York sana, Piccadlly juga banyak dihiasi neon raksasa dan lusinan theater. Cuma beberapa blok terletak China Town yang makanannya jauh dari nikmat, roast duck yang saya pesan begitu dalam mulut rasanya seperti mengunyah kaki meja, waiternya tidak polite, jarang yang bisa bahasa inggris, gelas kosong tidak diisi ( tradisi Inggris ) justru di ambil dan sengaja membuat kita haus bagai para sheik Arab yang pertama kali melihat goyang penari Jaipongan. Malas wiritan di sini, kami hijrah ke menuju Hyde Park tidak perduli dengan yang namanya Museum of Mankind dan Royal Academy art yang katanya wajib dikunjungi. HYDE PARK ( PASAR ORAL ) Kalau ada daerah yang cukup lapang dan neighbornya nampak aman, apik dan cukup punya kelas di London, salah satunya mungkin di sekitar taman Hyde ini. Lihat Park Line, jalan yang sejajar dengan ini taman terdapat hotel mewah , dealer Ferrari, Lambhorgini, wala wala, wili wili,pokone itali. Nongkrong di Speaker Corner, tempat manusia kurang kerjaan dan merasa pinter sendirian, Hmm cukup asik mendengarkan manusia berargumen mengenai apa saja, menghujat Yesus atau Yahudi, speaker Negro yang memaki orang putih atau Orang putih yang menganggap si item setengah manusia, atau yang pro Tuhan berduel mulut dengan penonton anti Tuhan. Unik memang, saya jadi bangga karena tempat ini mengingatkan saya pada milis diskusi Proletar yang pesertanya bisa saling umpat secara kreatif tanpa pernah ngajak berantem beneran dan saling ancam mengancam.. Berjalan lurus menuju Contitution Hill udara sore bertiup segar. Taman Buckingham terlihat sejuk dan lembab. 15 menit kami sampai di ini keratonan England. SIR, WHERES WC UMUM ? Nggak perlu nanya, ini istana Buckingham memang gede, pagernya aja tinggi dan keren. Polisi patroli di sana sini, Dan dua hansip yang pake topi oversize seperti palkon ( Pala Kon@#L) nya Muhammad Assegaf yang jaga dua gardu memang keran bleh..mereka ngga boleh bergerak mirip tiang meniru sohibnya para paswaspres di Indonesia yang petentengan di depan Istana Merdeka. Selesai foto foto di kuil bekas ratu Victoria ( tampang ratu ini mirip Ratmi B-29) yang dibangun sama arsitek bernama John Nash tahun 1825 yang jago desain tapi ngga ngerti bikin atap makanya dulu bocor melulu, saya males untuk masuk tour ke sebagian ini gedong yang tiket masuknya kalau nggak salah 8 pound perorang. Gimana ngga males ? si Betty II, ratu paling kokay sejagat yang sekarang tinggal di sini kan duitnya sudah sekapal, asset hartanya sepulau,koleksi seninya ( Rembrants, Raphaels, Rubens, Van Dycks) tidak ternilai, masa masih ngempang para turis dengan karcis masuk segala ? Betty...kumaha maneh ? Ini mungkin ciri khas manusia inggris..mirip Suharto kemana mana orang diperes untuk memperkaya monarki sekeluarga.. Comulus berarak di langit senja, angin suhu rendah perlahan melesak masuk kecelah celah celana, lalu menembus selang kangan ,menyerang buah zam-zam membuat saya ingin kencing tepat ketika saya sedang numpang bergaya di depan kamera yang dibidikan si Vicky dengan penjaga gerbang istana Buckingham. Dengan polos saya lalu menyapa " Mister di sini ada WC umum kagak ? " " No, elu mesti jalan 1 mile ke Trafalgar Square,di sana banyak restoran " Jawabnya gagah. 1 Mile ? Ampir 2 kilo ? Elu gila apa ? Ayo buka gerbang sana.. biarin gue permisi numpang kencing di dalem. Gue ngga perduli sama si Elizabeth 1, 2 atau Prince Edward, atau Charles yang tampangnya kaya onta, cepetan..bukaaa !! Seperti layaknya orang timur, saya mencaci maki cuma dalam hati, tapi di luar saya tersenyum mesem simpul sopan dan aduhai dan bilang thanks berkali-kali.. Lalu saya berjalan ke arah Trafalgar dengan terkaing kaing menahan kencing.. Hasan Basri December 5, 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Dec 1999 jam 07:51:41 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
