----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
---------------------------
6 Desember 1999
Membangun Politik Luar Negeri
Yang Bebas dan Mandiri
<Tanggapan atas kunjungan LN Presiden Gus Dur>

Lika-liku Hubungan  Indonesia-Tiongkok:
Pada penghujung kunjungan Presiden Gus Dur ke Republik Rakyat Tiongkok
<4.12.99>telah dikeluarkan Komunike Bersama RI-RRT. Dengan kunjungan
Presiden Gus Dur ke RRT dan dicapainya kata sepakat seperti tercermin di
dalam Komunike Bersama itu, dimulailah suatu periode yang samasekali baru
dan penuh saling pengertian serta bersahabat antara kedua negeri.

Kunjungan Gus Dur ini telah memakukan berakhirnya  suatu periode gelap dalam
hubungan antara kedua negeri, yang berlangsung selama periode era Orba di
bawah mantan presiden Ssuharto. Jendral Suharto memikul tanggung jawab yang
paling besar atas memburuknya hubungan Indonesia-Tiongkok sejak akhir 1965.
Sejak saat  itulah hubungan bersahabat antara kedua negeri yang dengan
sungguh-sungguh dan susah payah dibina oleh mantan presiden Sukarno, mulai
dirusak dan dibekukan oleh Jendral Suharto dan kekuatan politik dan militer
yang mendukungnya.

Tiongkok  yang ketika itu baru saja  mulai dengan Revolusi Kebudayaan,
dibidang diplomasi menempuh politik yang Kiri radikal. Politik Tiongkok yang
demikian itu memberikan peluang yang lebih besar bagi kekuatan Kanan  yang
dipelopori oleh Jendral Suharto  untuk mem- perburuk  hubungan
Indonesia-Tiongkok sampai ke titik beku.

Namun, perlu ditandaskan bahwa adalah fihak Angkatan Darat RI  dengan
dukungan kaum demonstran dan perusuh yang digerakkan oleh tentara, yang
dengan sengaja memprovokasi fihak Tiongkok. Mereka  mengadakan demonstrasi
anti-Tionghoa dan anti-Tiongkok serta   terhadap kedutaan Tiongkok serta
melakukan penyerbuan dan merusak gedung kedutaan.  Sementara personil
kedutaan Tiongkok  di Jakarta luka-luka dan ada yang  tewas. di fihak
Golongan tentara yang dikepalai oleh jendral Suharto dengan dukungan
politisi-politisi tertentu yang anti-Tiongkok dan kaum demonstran, menuduh
Tiongkok  mendukung G30S, serta mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.
Padahal, hubungan kerjasama Indonesia-Tiongkok, khususnya hubungan kerjasama
militer Tiongkok dan ABRI  ketika periode pemerintah Presiden Sukarno,
adalah atas inisiatif  fihak Indonesia sendiri, yang saat itu memerlukan
bantuan perlengkapan dan persenjataan dari Tiongkok. Atas dasar  semangat
saling-bantu Tiongkok memberikan bantuan militer kepada Indonesia yang saat
itu sedang mengalami isolasi dan subversi dari fihak luar, khususnya Inggris
dan Amerika Serikat. Bantuan Tiongkok itu diberikan  tanpa mancampuri urusan
dalam negeri Indonesia.

Jendral Suharto kemudian melancarkan kampanye anti-etnis -Tionghoa dan
anti-Tiongkok yang paling besar skalanya dalam sejarah hubungan luar negeri
Indonesia. Jendral Suharto juga telah menggusur ribuan etnis Tionghoa di
Indonesia yang turun-temurun hidup secara damai dengan bangsa Indonesia.
Mereka diusir dari tempat kediamannya sehingga tak ada jalan lain kecuali
kembali ke Tiongkok. Dengan demikian dimulailah suatu periode yang amat
buruk dan memilukan dalam hubungan Indonesia - Tiongkok. Politik
anti-Tiongkok jendral Suharto tsb adalah sejalan dengan politik 'China
Contaiment' dari Amerika Serikat dalam rangka perang dinginnya melawan blok
Sovyet. Begitulah duduk perkaranya, jika sedikit menolek ke masa
pemerintahan Orde Baru.

Setelah beliau dilantik menjadi Presiden RI, Gus Dur mengambil inisiatif
secara resmi mengadakan kunjungan kenegaraannya yang pertama, ke Republik
Rakyat Tiongkok. Ini adalah suatu isyarat  simpatik yang  menunjukkan hasrat
persahabatan yang tulus.Sekaligus mencerminkan sikap tradisionil rakyat kita
yang dari abad ke abad bersikap terbuka terhadap dunia luar dan selalu
mengulurkan tangan pesahabatannya dengan  bangsa manapun di dunia ini,
termasuk bangsa Tionhoa.

Komunike Bersama menandaskan bahwa hubungan kedua negeri akan terus
dikembangkan dengan stabil dan dikonsolidasdi serta berjangka panjang, atas
dasar hidup bertetangga baik, saling percaya dan kerjsama yang menyeluruh.
Semuanya ini atas dasar hubungan persahabatan tradisionil yang sudah adak
atas dasar Lima Prinsip Koeksistensi Damai dan
Dasasila Konferensi Bandung. Juga ditandaskan bahwa kedua  negara mempunyai
pandangan yang sama bahwa ada perubahan-perubahan penting dan mendasar yang
sedang terjadi dalam situasi internasional, dan multipolarisasi merupakan
sebuah kecenderungan umum dalm hubungan internasional. Bahwa pandangan
Indonesia dan Tinongkok mengenai kecendrungan umum dalam situasi
internasional, adalah sama, punya arti penting sekali dan akan memainkan
peranan yang positif dalam usaha mentabilisasi kawasan yang mencakup kedua
negeri..

Dengan demikian , dimasa mendatang, saling hubungan kerjasama dan saling
kordinasi antara Indonesia dan Tiongkok,  adalah sesuatu yang imperatif  di
bidang diplomasi dan politik internasional. Ini akan menguntungkan kedua
belah fihak. Kesamaan pandangan antara kedua negeri itu,  bukan saja
didasarkan oleh kenyataan bahwa kedua negeri tergolong negeri-negeri yang
sedang berkembang, tetapi juga karena kedua negeri menghadapi tantangan yang
sama dari  negeri-negeri yang sudah maju sekali perkembangannya, seperti
yang sering dijuluki sebagai negeri-negeri "Utara", khususnya negeri-negeri
yang tergabung dalam kelompok  "G-7".  Negeri-negeri industri yang
perkembangan ekonominya telah mencapai taraf kemajuan demikian rupa, punya
sarana untuk  menentukan banyak hal dalam hubungan perdagangan dan politik
internasional. Sering-sering kebijaksanaan politik mereka itu banyak
merugikan negeri-negeri yang sedang berkembang. Konferensi WTO yang menemui
kegagalan di Seattle, Amerika Serikat,  baru-baru in, mencerminkan keadaan
tsb.

Gagasan Gus Dur di bidang hubungan LN Indonesia.
Sehubungan dengan kunjungan beliau ke beberapa negeri itu, Presiden Gus Dur
telah mencetuskan suatu ide, suatu gagasan  baru di bidang politik luar
negeri Indonesia. Gagasan itu adalah sbb:
Indonesia dan Tiongkok bisa saling kerjasama dengan bangsa-bangsa Asia,
yakni India, Singapura dan Jepang dalam upaya memperkuat posisi Asia di
dunia. Kerjasama kelima negara ini akan mengembangkan hubungan yang lebih
baik tanpa membahayakan atau merugikan fihal lain.

Gagasan untuk membangun suatu "usaha untuk adanya suatu kerjasama antara
lima negara Asia tsb dalam upaya memperkuat posisi Asia di dunia" ,  tampak
bagus dan indah kedengarannya. Bahkan merupakan suatu gagasan yang   cukup
simpatik. Didalami lebih lanjut, maka gagasan Gus Dur itu ternyata kurang
realis. Sejak dicetuskannya Konferensi Bandung dalam tahun 1955, Indonesia
selalu berusaha untuk memperkuat kerjasama negeri-negeri Asia danAfrika,
khususnyan negeri-negeri Asia untuk kepentingan bersama ketika itu, yaitu
memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan nasional  menghadapi bahaya
neo-kolonalisme yang berbentuk internvensi dan subversi politik, militer dan
ekonomi. Politik yang ditempuh Indonesia ini adalah realisasi dari  gagasan
politik luar negeri Indonesia sejak berdirinya RI, yaitu politik luar negeri
yang "bebas dan aktif". Dalam tulisan ini kita skip dulu masa berlangsungnya
politik 'Konfontrasi' serta 'Ganyang proyek neo-kolonial Malayasia' dari
mantan Presiden Sukarno. Sejak berdirinya Orba, Indonesia selain tetap
ambil bagian dalam kumpulan negara-negara "Non Alignment", mengarahkan
perhatiannya ke kerjasama ASEAN, yang terdiri dari negara-negara Indonesia,
Filipina, Malaysia, Singapore, Muangthai; kemudian diperluas dengan Kamboja,
Laos dan Birma. Kerjasama negara-negara ASEAN tsb sudah cukup lama dan
dianggap menguntungkan oleh anggota-anggotanya. Untuk perkembangan lebih
lanjut telah pula dibentuk Sekretariat Bersama ASEAN.

Lalu, dimana tempat proyek kerjsama ASEAN ini dalam konteks gagasan Gus Dur
yang baru itu. Meskipun ditandaskan bahwa negara-negara lain, disini mungkin
yang dimaksudkan a.l. partner-partner Indonesia di ASEAN,  tidak usah
khawatir dengan gagasan kerjasama Lima Negara Indonesia, India, RRT, Jepang
dan Singapore, tetapi tokh . . . . . . ada dampak yang  mengundang
tandatanya  dari fihak yang bersangkutan. Tandatanya demikian itu bisa
berkembang ke rasa curiga.

Kerjasama Lima Negara gagasan Gus Dur itu, sedikit banyak menambah lagi
'aliansi kerjsama' baru di kawasan itu. Tambahan lagi lima negeri yang
dimaksudkan itu  kekuatannya secara ekonomi, sumberdaya manusia dan militer
, jauh lebih besar dari aliansi lainnya. Dalam  hubungan internasional soal
yang begini ini adalah soal yang peka sekali. Tidak bisa diatasi dengan
jaminan dalam bentuk janji dan kata-kata belaka. Pokoknya masalah itu bukan
sederhana.

Masih ada problim  lainnya
Segi lainnya yang harus diteliti  jika hendak menggalang suatu bentuk
kerjasama yang efektif, adalah pengetahuan yang kongkrit mengenai  keadaan
hubungan antara negeri-negeri tsb. Kasus pertama: Terdapat masalah yang
cukup berat  dalam hubungan antara Tiongkok dan India. Ada dua masalah: 1)
Masalah Tibet dan 2) Masalah Perbatasan India-Tiongkok

Yang pertama, sikap Tiongkok mengenai masalah Tibet sangat jelas dan tidak
pernah bisa digoyahkan. Sejak ratusan tahun, Tibet adalah bagian dari
Tiongkok. Masalah Tibet adalah urusan  dalam negeri Tiongkok, setiap campur
tangan asing tidak bisa ditolerir oleh Tiongkok. Itulah sikap Tiongkok
mengenai Tibet. Dalam hubungan dengan masalah Tibet inilah, India punya
sikap dan pendirian yang bertolak belakang dengan Tiongkok. Masuknya Tentara
Pembebasan Rakyat Tiongkok (TPRT), ke Tibet, bagi Tiongkok peristiwa itu
adalah suatu aksi pembebasan Tibet secara damai.

Sejak itu tampak perbedaan India dengan Tiongkok.Di kalangan Partai Kongres
India dan pemerintahan India ada pendapat yang tidak membenarkan masuknya
Tentara Merah Tiongkok ke Tibet. Ada yang menganggap bahwa Tiongkok
menduduki dan 'menanschluss' Tibet. Namun begitu,  hal tsb dalam Konferensi
Bandung(1955),  tidak menjadi soal sengketa antara India dan Tiongkok.Tetapi
sesudah terjadinya pemberontakan diTibet dan Dalai Lama dan pengikutnya
menyingkir ke India, perbedaan Tiongkok dengan India menajam.
Masalah kedua, adalah masalah sengketa perbatasan antara Tiongkok dan India.
Soal itu telah menyebabkan pecahnya perang perbatasan di antara kedua negeri
pada permulaan tahun enampuluhan. Hingga dewasa ini masalah tsb belum t
erpecahkan secara hakiki.

Kasus kedua, adalah antaraTiongkok dengan Jepang. Tiongkok sangat memerlukan
Jepang untuk sebanyak mungkin memperoleh ilmu dan teknologi Jepang, selain
modal dan ilmu management. Sedangkan Jepang memerlukan Tiongkok sebagai
daerah pasar yang luas dan tempat investasi modalnya. Latar belakang
hubungan kedua negeri dibayangi oleh perang agresi dan kemudian pendudukan
sebagian wilayah Tiongkok oleh Jepang pada tahun-tahun sebelum sampai akhir
Perang Dunia II. Jepang meninggalkan luka yang masih terbuka dalam
hubungannya dengan Tiongkok, seperti tercermin dalam peristiwa "pembunuhan
Nanking" dimana puluhan ribu orang-orang Tionghoa dibantai oleh Balatentara
Dai Nippon. Mengenai peristiwa tsb bahkan mengenai agresi dan pendudukan
Jepang terhadap Tionngkok, oleh  kekuatan politik dan militer Kanan di
Jepang tidak diangap serius. Makanya di dalam buku pelajaran sejarah untuk
sekolah-sekolah di Jepang, situasi itu tidak digambarkan sebagai kesalahan
fihak Jepang.Ini berbeda dengan hubungan Jerman dengan negeri Eropah Barat
yang pernah diagresi dan diduduki oleh Jerman Hitler. Sekutu telah membuat
perhitungan yang tuntas dengan rezim Hiltler. Jerman yang lahir sesudah
Perang Dunia II, secara formal dan final menerima penyelesaian tsb.

Tapi lain halnya dengan Jepang. Jendral Mac Arthur sebagai panglima Tentara
Sekutu dan Tentara Amerika yang menandatanngani penyerahan Jepang kepada
Sekutu, tidak mengadakan penyelesaian yang tuntas dengan kekuatan politik
yang mendukung Kaisar Hirohito dan dengan Sang Kaisar sendiri. Sebagai
ilustrasi rumitnya soal ini, ialah kenyataan bahwa Yasukini Jinja (dianggap
tempat suci oleh agama Shinto), yaitu tempat dikuburnya pahlawan dan
orang-orang terkemuka Jepang sejak berabad-abad lamanya, disitu terdapat
beberapa kuburan  penjahat perang Jepang . Dan mereka itu dihormati
pula.Nah, itu adalah duri di mata Tiongkok.

Diatas segalanya,  Tiongkok masih tetap curiga dan amat khawatir  terhadap
kemungkinan bangkit kembalinya  militerisme dan kekuatan militer Jepang.
Sekarang memang konstitusi Jepang jelas tidak membolehkan Jepang melakukan
perang lagi. Tetapi,  Tiongkok berjaga-jaga terhadap kemungkinan,  bahwa
pada suatu ketika nanti kepentingan ekonomi Jepang sudah begitu besarnya,
ditambah dengan  membesarnya pengaruh faham  militerisme, sehingga tentara
bela diri Jepang yang sekarang ini, dengan ditopang oleh kekuatan ekonomi
dan kemajuan teknologi tinggi,  akan membengkak kekuatannya dan tampil
sebagai kekuatan militer yang paling ampuh dan paling canggih, di kawasan
Asia. Ini bahaya besar bagi Tiongkok, dan juga bagi negeri-negeri Asia
lainnya.

Dengan memproyeksikan gagasan Gus Dur pada  latar belakang sejarah dan
situasi aktuil seperti yang dibeberkan diatas, maka kiranya amat tidak mudah
untuk merealisasi gagasn Gur Dur itu. Belum lagi diperhitungkan reaksi dari
negara-negara Barat.

Politik LN yang bebas mandiri adalah yang paling cocok
Apakah kita mempertimbangkan suatu alternatif lain untuk politik luarnegeri
Indonesia. Sebetulnya masalahnya bukan mencari alternatif bagi politik
luarnegeri Indonesia. Prinsip-prinsipnya sudah diletakkan oleh founding
fathers dari Republik Indonesia, yaitu politik yang bebas dan aktif  yang
kemudian dikokohkan dengan Prinsip-prinsip Bandung.

Mungkin mantan presiden Sukanro dulu membuat perhitungan yang meleset
ketika beliau mencetuskan ide perlunya menggalang "The New Emerging Forces"
dalam skala internasional. Selain itu digariskannya  pula poros
Pyongyang-Peking-Pnompenh-Jakarta untuk menghadapi imperialisme dan
neokolonialisme.Tapi , hal itu kiranyanya lebih banyak merupakan sesuatu
yang beliau rasa harus dilakukannya,  dan bukan suatu kehendak subyektif,
atau karena didorong oleh romantisme revolusionernya . Karena fihak Barat,
khususnya Amerika Serikat tidak mengizinkan ada negara merdeka yang menempuh
jalannya sendiri. Seluruh dunia dituntutnya  mengabdi pada strategi dan
politik "Perang Dingin"-nya.

Satu hal jelas, erhadap politik luarnegeri Orba yang dalam kata-kata
berpendirain Non Blok, tapi dalam kenyataan ngeblok dengan dan
menggantungkan diri pada Barat, pasti harus dicampakkan jauh-jauh.

Perang Dingin sudah usai. Dunia sudah berubah terbanding periode masih
adanya  blok Barat dan blok Timur yang berhadap-hadapan dan siap-siap untuk
berperang.. Yang dikemukakan di dalam Komunike Bersama bahwa "ada
perubahan-perubahan penting dan mendasar yang sedang terjadi di dalam
situasi internasional, dan multipolarisasi merupakan kecenderungan umum
dalam hubungan internasional, adalah sesuai dengan kenyataan dunia yang kita
lihat sekarang ini.

Dalam situasi perkembangan dunia yang demikian itu, kiranya sikap politik
yang lebih tepat bagi  politik luarnegeri Indonesia,  adalah menjaga
kebebasan sendiri dan menciptakan peluang seluas mungkin dimana kita bisa
mengambil insiatif demi kepentingan bangsa, tanah air dan perdamaian dunia.
Bentuk-bentu kerjasama seperti yang diajukan dalam gagasan Gus Dur itu,
kurang cocok. Karena hal itu pada suatu saat kelak  akan merupakan kendala
bagi kebebasan dan kemandiran kita.

Yang lebih cocok adalah mengembangkan kerjasama saling menguntungkan   atas
dasar hubungan b i l a t e r a l    antara Indonesia dengan berbagai negeri.
Bahwa dalam kerangka pengembangan kerjasama bilateral itu terdapat titik
berat terntentu dengan secara inisiatif memilih sendiri negeri-negeri mana
saja yang perlu memperoleh titik berat itu, itu bisa saja  dan wajar. Malah
mungkin sewaktu-waktu betul  diperlukan.

Dengan sendirinya kerjasama dalam kerangka ASEAN bukan berarti boleh
dilalaikan. Po-koknya, banyak jalan dan cara yang bisa ditempuh untuk
merealisasi politik luar negeri yang bebas dan mandiri.

Akhirulkalam,  fikiran pokok yang mendasari politik luarnegeri dan diplomasi
Indonesia sejak berdirinya Republik Indonesia masih aktuil dan berlaku
hingga kini. Tentu, perlu mengadakan penyesuaian dengan mempertimbangkan
situasi kongkrit dewasa ini.

                                                   * * * *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Dec 1999 jam 02:08:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke