----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Cari Titik Temu Soal Aceh
Semua Pihak Harus Bersedia Mundur

Serambi-Banda Aceh
Persoalan Aceh diyakini takkan tuntas bila pemerintah menanganinya secara represif. 
Karena itu,
jalan yang terbaik adalah menggelar dialog dengan berbagai pihak. Dalam dialog itu 
mestilah semua
pihak bersedia mundur selangkah agar dicapai titik temu yang terbaik.
Demikian rangkaian pendapat yang dikumpulkan Serambi, Senin (6/12). dari tiga 
intelektual Aceh.
Mereka adalah Prof Dr Syafwan Idris (Rektor IAIN Ar-Raniry), Prof Dr Dayan Dawood 
(Rektor Unsyiah),
dan Dr Dawood Yusuf SH (pakar hukum tatanegara).
Ketiganya sepakat menyatakan bahwa persoalan Aceh bukan hal yang sepele, sehingga 
sangat riskan bila
dibiarkan terus berlanjut. Untuk menyikapi tuntutan rakyat Aceh, pemerintah seyogianya 
mampu
menunjukkan iktikad baik, bukan dengan jalan pendekatan militer tetapi berdialog 
dengan berbagai
pihak, termasuk duduk satu meja dengan pihak GAM, dan disaksikan oleh pihak 
internasional.
Sejalan dengan itu, kata Safwan, untuk meredam letupan-letupan yang akan merugikan 
rakyat sendiri,
kiranya jalan terbaik semua pihak mau mundur sedikit untuk mencari titik temu. 
"Kiranya harus dicari
satu titik temu dimana nantinya orang itu bisa bertemu," kata Safwan Idris.
Persoalan penting menurutnya, pemerintah harus mampu memberikan kebebasan kepada 
setiap orang.
Kiranya permusuhan akan hilang setelah orang itu diberikan 
kebebasan-kebebasan."Sekarangkan terlihat
orang-orang dilarang untuk tidak boleh melalukan ini dan lakukan itu," katanya.
Mengenai sikap pusat akan melakukan upaya reperesif di Aceh, Safwan sangat menentang 
hal itu.
"Jangan ada lagi tindakan yang berbau militeristis. Bukan masanya dilakukan pendekatan 
keamanan
dalam meredam setiap gejolak, karena penggunaan senjata tidak akan menyelesaikan 
masalah. Saya pikir
harus ada dialog yang melibatkan kedua belah pihak, sehingga penyelesaian itu akhirnya 
bisa
menguntungkan semua pihak. Sebagai langkah pertama, wacana dialog yang dikembangkan 
adalah melalui
cara informal. Tentunya dengan mencari hubungan dengan tokoh-tokoh GAM dan tokoh 
pemerintahan," kata
orang nomor satu IAIN tersebut.
Prof Dr Dayan Dawood yang dijumpai di tempat terpisah kepada Serambi mengatakan, dalam 
menyikapi
persoalan Aceh cara satu- satunya yang harus dilakukan adalah lewat dialog. Meskipun 
tuntutan
referendum begitu menggema, namun harus dikembangkan dalam jalur dialog, karena lewat 
dialog itu
kiranya nanti akan mampu mengakomodir setiap persoalan-persoalan yang ada di Aceh.
"Tindakan represif itu tidak boleh terjadi, dan saya tidak setuju," kata Dayan.
Dia menyarankan pemerintah harus mampu mencermati persoalan Aceh saat ini. Jangan lagi 
lakukan
kekerasan-kekerasan yang membuat masyarakat jadi korban, tapi ciptakan kedamaian untuk 
kemaslahatan
masyarakat, katanya.
Dr Dawood Yusuf mengatakan, pernyataan Gus Dur yang mengatakan bahwa daerah Aceh masih 
berada dalam
wilayah Indonesia itu benar. Namun secara defacto dengan keberhasilan HUT GAM 
menunjukkan bahwa
mereka sudah mengusai wilayah-wilayah tertentu.
Meskipun demikian, pemerintah pusat harus mampu mencermati hal ini, dan jangan lagi 
bertindak
kekanak-kanakan. Kembangkan wacana dialog yang melibatkan GAM, pemerintah pusat dan 
pihak
internasional, katanya.
Hindari Perbuatan Dosa
Sementara itu, dalam menghadapi Ramadhan yang tiggal beberapa hari lagi, baik Safwan 
Idris, Dayan
Dawood, dan Daud Yusuf mengajak kedua belah pihak untuk mampu menahan diri. Jadikanlah 
bulan
Ramadhan itu sebagai bulan ibadah dan moment untuk introspeksi diri.
Sedangkan Dayan mengajak supaya prioritas kemaslahatan umat harus diperhatikan. 
"Jadikanlah bulan
ini sebagai bulan kedamaian. Berikanlah kedamaian untuk umat dalam melaksanakan 
ibadah," kata rektor
Unsyiah.(y)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Dec 1999 jam 02:11:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke