----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Serambi Kamis, 09 Desember 1999
3 Polisi, 1 Sipil Tewas
* Pos Lantas Cunda Dibom

Serambi-Lhokseumawe
Hanya sehari menjelang Ramadhan, situasi Kamtibmas di Aceh Utara kembali memanas. 
Serangkaian tindak
kekerasan bersenjata api terjadi sepanjang Rabu kemarin yang mengakibatkan tiga 
anggota Polri dan
seorang sipil tewas. Di antara suasana itu, malam tadi Pos Polisi Lalulintas Cunda, 
Lhokseumawe,
dibom. Dan suasana wilayah Kecamatan Gandapura, dilaporkan, mencekam.
Suasana panas di bumi Malikussaleh itu, kemarin mulai menjelma sekitar pukul 07.00 WIB 
ketika
seorang anggota Satlantas Polres Aceh Utara, Kopka Jailani (36), tewas ditembak empat 
pria tak
dikenal di depan rumahnya kawasan Panggoi, Kecamatan Muara Dua, 5 Km barat Kota 
Lhokseumawe.
Keadaan semakin tak menentu ketika menjelang Maghrib, di Geureugok, Kecamatan 
Gandapura, terdengar
suara tembakan selama hampir satu jam nyaris tanpa henti. Wartawan Serambi yang hendak 
pulang ke
rumah orang tuanya saat itu melaporkan terpaksa menempuh jalur jalan desa karena jalan 
raya
Medan-Banda Aceh diblokir aparat sehingga antrean kendaraan umum tak terelakkan selama 
beberapa jam.
Baik dari arah Medan maupun Banda Aceh.
Menurut Kapolres Aceh Utara, Letkol Pol Drs Syafei Aksal, yang dikonfirmasi tadi 
malam, peristiwa
Geureugok berawal dari perampasan senjata api jenis rager mini dari dua anggota Brimob 
yang
di-BKO-kan di Polsek tersebut oleh dua sipil bersenjata api.
Satu dari dua pucuk senjata api tersebut, kata kapolres, berhasil dirampas dari 
anggota Brimob yang
sedang minum kopi di satu warung di Geureugok. Satu lainnya berhasil dipertahankan 
yang kemudian
dipergunakan anggota Polri itu untuk melumpuhkan pelaku perampasan. "Karena mereka 
juga bersenjata,
daripada ditembak anggota mengambil inisiatif menembak duluan. Dan senjata yang sempat 
dirampas
berhasil dikuasai kembali," ungkap Kapolres.
Dari dua pelaku perampasan senjata anggota Brimob tersebut, jelas Kapolres, satu orang 
berhasil
kabur. Sementara yang berhasil dilumpuhkan anggota diidentifikasi bernama Sulaiman, 
penduduk Sawang,
Aceh Utara. "Kita masih terus melakukan penyisiran untuk menangkap tersangka pelaku 
perampasan
senjata yang kabur."
Pasca kejadian itu, dilaporkan, situasi di wilayah Gandapura tampak mencekam. 
Masyarakat yang
sedianya akan ke masjid untuk shalat tarawih perdana tadi malam banyak yang memilih 
shalat di rumah
masing-masing.
Belum reda situasi mencekam di Gandapura, menjelang Isya tadi malam, Lhokseumawe 
kembali diguncang
gelegar suara bom yang dilemparkan dua pengendara sepeda motor yang meluncur dari arah 
Lhokseumawe
ke Medan, ke arah Pos Lantas Cunda.
Kendati tidak ada korban jiwa, dentuman suara bom itu sempat membuat Lhokseumawe dan 
Cunda serta
sekitarnya panik. Apalagi, suaranya terdengar hingga ke Ujong Blang. "Bom itu jenis 
rakitan. Tidak
ada korban jiwa kecuali kaca Pos Lantas hancur," ungkap Kapolres.
Sementara itu, setelah melalui penyisiran selama dua hari, Kapolres Syafei menduga 
kuat, dua anggota
Shabara Polres Aceh Utara, Serda Jimmi Serda Saiful Baruna, yang diculik Senin petang 
di
Matanggeulumpang Dua telah tewas dibunuh penculiknya. Kedua anggota Polri itu diculik 
di sebuah
tempat tambal ban di ibukota Kecamatan, Peusangan, itu menjelang malam dua hari lalu.
Secara rinci, Kapolres menguraikan, peristiwa penembakan anggota Satlantas, terjadi 
sekitar pukul
07.00 WIB. Kala itu, Kopka Jailani yang mengenakan seragam dinas hendak berangkat ke 
kantor dengan
mengendarai sepeda motor.
Namun, ketika korban sedang melambai anak-anaknya untuk berangkat tiba-tiba empat pria 
bersenjata
api keluar dari semak-semak dekat rumah korban sekaligus memberondong korban yang 
sedang berada di
atas sepeda motor hingga tersungkur bersimbah darah.
Kapolres menyebutkan, korban yang putra Aceh itu ditembak dari jarak dekat. Namun, 
sementara ini ia
menolak menyebutkan jenis empat peluru yang bersarang di tubuh anggotanya itu. "Yang 
pasti pelakunya
berasal dari sekitar rumah korban. Namun, untuk kepastian kita masih terus melakukan 
penyelidikan,"
jelasnya.
Setelah beberapa jam disemayamkan di Mapolres, jenazah korban dimakamkan di Taman 
Makam Pahlawan
Lhokseumawe, siang kemarin.
Sementara itu, ia membenarkan berdasarkan informasi yang dikumpulkan anggotanya dua 
personil Polres
Aceh Utara yang diculik di Matang Geulumpang Dua, Senin petang, diduga telah tewas 
dibunuh.
Menurutnya, dua anggotanya yang putra Aceh itu, Serda Jimmi dan Serda Saiful Baruna, 
Senin sore
minta izin untuk berangkat ke Bireuen, 75 km barat Kota Lhokseumawe, guna mengantar 
uang meugang
bagi orang tuanya yang menetap di Kota Juang itu.
Namun nahas, setiba di Matang Geulumpang Dua, 50 km barat Kota Lhokseumawe, sepeda 
motor yang
dikendarai mereka kempes bannya. Dan ditambal di sebuah tempat penambalan ban. Tetapi, 
belum berapa
lama kedua anggota Polri itu berada di tempat tersebut tiba-tiba kedua anggota Polri 
tersebut
diserang beberapa orang tak dikenal. "Satu di antara anggota saya sempat melepaskan 
tembakan. Namun,
ia kalah tangkas dengan orang banyak yang menyerangnya. Senjata genggamnya dirampas 
dan kedua mereka
dibawa kabur," jelas Kapolres.
Menyusul dua peristiwa pembunuhan dan penculikan anggota polisi itu, aparat kepolisian 
sepanjang
Rabu kemarin melakukan penyisiran untuk mengejar tersangka pelaku penembakan dan 
penculikan
sekaligus mencari mayat dua anggotanya yang diduga telah tewas dibunuh penculiknya.
Namun, hingga tadi malam, baru senjata yang dirampas yang berhasil ditemukan. 
Sedangkan pemegang
senjata rampasan itu berhasil kabur.
Kapolres mengatakan, aksi pembunuhan dan penculikan tiga anggota Polres Aceh Utara 
dilakukan
kelompok GAM. "Ini sudah menjadi kebiasaan mereka. Setiap menjelang Ramadhan, bahkan 
pada bulan
puasa, intensitas aksi mereka meningkat. Kita masih punya catatan, mereka juga 
membunuh Mayor
Marinir Ediyanto pada bulan puasa lalu," ungkap kapolres.
Pengganggu keamanan ini, menurut Kapolres, sengaja hendak memanfaatkan kelengahan dan 
kekosongan
aparat yang beribadah di bulan puasa untuk menjalankan aksinya. "Kita sangat prihatin 
dan
menyesalkan aksi demi aksi itu. Sebab, selain menodai kesucian bulan Ramadhan, aksi 
tersebut juga
dapat berbias pada tidak tenteramnya masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah puasa 
dan shalat
malam. Ini benar-benar tidak dapat ditolerir. Kita akan bekerja maksimal untuk memburu 
para pelaku
yang ingin membuat kekacauan.
9 Ditangkap
Dari lokasi penyisiran pencarian dua anggota Polri dilaporkan, aparat keamanan dari 
kesatuan Brimob
menangkap sembilan warga desa, serta melakukan penganiayaan dan diduga menjarah milik 
masyarakat
setempat, Rabu (8/12).
Keterangan langsung yang didata Serambi di lapangan bersama Badan Eksekutif Mahasiswa 
(BEM) PT
Almuslim Peusangan, Rabu (8/12) menyebutkan, kesembilan warga desa itu, ditangkap 
selama operasi
penyisiran yang berlangsung dua hari. Satu di antaranya, M Yazir (28) warga Desa Pante 
Pisang,
ditangkap di desanya, Selasa (7/12). "Ia sekarang ada di Polres Aceh Utara," sebut 
seorang
keluarganya.
Sedangkan delapan warga lainnya masing-masing, Kamaruddin Muhammad (37), Husaini Husen 
(35),
Muntasir Muhammad (22) alias Nasir, ketiganya warga Desa Ruseb Dayah. Seterusnya, 
Ismail Daud (35)
warga Desa Bayu, Jalaluddin Ismail (19) warga Desa Pante Cut, Zulkarnen Sudirman (22) 
warga Desa
Jangka Alue Bie, Faisal Usman (18) warga Desa Jangka Alue, serta Jailani Usman (42) 
warga Desa Kuala
Ceurape yang KTP-nya dirobek aparat, karena masa lakunya sudah berakhir.
Kedelapan warga desa tersebut ditangkap aparat, Rabu (8/12) petang, dan belum 
diketahui kemana
mereka dibawa, yang tentu saja membuat keluarganya sangat resah.
Keterangan yang dihimpun Serambi, selain menangkap sembilan warga Peusangan itu, 
aparat keamanan
dalam penyisiran di Desa Jangka Alue Bie, telah menjarah pula 2 Kg udang windu di 
depot Ismudi (21),
serta merusak lampu sepeda motor RX King milik Amri. Di Desa Jangka Keutapang, aparat 
merusak pintu
kios milik Arafik dan menjarah minuman kaleng serta uang kontan Rp 20 ribu.
Begitu juga yang dialami Mursyid yang harus kehilangan sepatu, senter serta topi yang 
diambil aparat
di Desa Jangka Keutapang. Sementara sepeda motor milik Taleb Hasan, warga Desa Bayu 
dengan Nopol BL
6380 KI, juga dibawa aparat. "Kebetulan STNK tidak saya bawa. Karena mau cari rumput 
untuk lembu,"
ujar Taleb seraya menyebutkan, saat itu ia membawa serta arit (sadeup).
Bukan hanya itu, setidaknya tujuh warga desa dipukuli aparat keamanan yang melakukan 
penyisiran di
desa mereka. Ke tujuh warga yang mengadukan kepada BEM PT Almuslim dan wartawan Serambi
masing-masing Mawardi (25), Marzuki AR (33), Ramlan (23), ke tiganya warga Desa Jangka 
Mesjid, dan
Mursyad HA (39) warga Desa Jangka Alue yang seluruhnya dipukuli ketika sedang minum 
kopi di Keude
Jangka.
Sementara Maimun, Rasyidin, dan Muhammad Gustur Hamdani dipukuli aparat di Desa Jangka 
Alue Bie.
Seluruh korban mendapat perlakukan kasar, karena aparat tidak mendapatkan informasi 
menyangkut dua
anggota Polres yang diculik, Senin (5/12) siang. "Sekujur tubuh saya dipukuli, hanya 
karena
menanyakan kuburan dua anggota polisi. Saya sendiri tidak tahu apa-apa, namun mereka 
tidak peduli,"
papar Rasyidin yang berlepotan lumpur.
Saat dikunjungi Serambi di Desa Jangka Alue Bie, ibunda Zulkarnen menangis histeris 
seraya
menyatakan anaknya tidak bersalah. "Kenapa anak saya ditangkap. Ia tidak tahu apa-apa. 
Tolong
kembalikan anak saya," katanya dengan histeris sehingga harus ditenangkan aktifis 
mahasiswa dari
Gabungan Aksi Mahasiswa Almuslim untuk Rakyat (Gamaur) Peusangan.
Suasana haru juga tampak di Desa Pante Pisang, yang keluarga M Yazir tidak mampu 
menahan tangisnya
ketika didatangi Serambi, kemarin. Malah di desa tersebut, maupun Desa Ruseb Dayah, 
dan Bayu tampak
sangat mencekam, karena seluruh rumah tertutup rapat, dan nyaris tidak ada orang di 
luar. "Mareka
menanyakan tentang mayat ke dua temannya, dan dimana dikuburkan. Tentu, saja kami 
tidak tahu,
mengingat tidak melihat orang yang membawa mayat," ujar salah seorang warga desa Ruseb 
Dayah.
Ketua BEM PT Almuslim Muhibuddin Almans yang didampingi Rizannur menjawab Serambi, 
sangat
menyesalkan tindakan aparat yang bertindak semena-mena terhadap rakyat yang tidak 
bersalah.
Berdasarkan hasil investigasi dan laporan keluarga korban, aparat keamanan telah 
melakukan
penganiayaan, penjarahan dan tindakan tidak terpuji lainnya. "Rakyat sudah cukup 
trauma. Jadi,
jangan buat masyarakat semakin ketakutan. Cari mereka yang melakukan kesalahan, 
bukannya
mengorbankan rakyat yang tidak tahu apa-apa," kecam Muhibuddin seraya minta Kapolres 
Aceh Utara
untuk melepaskan mereka yang ditangkap aparat yang dinilai sangat arogan.(tim)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Dec 1999 jam 02:20:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke