---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 4 Desember 1999 Perang Baratayudha Oleh: Supama P Dikromo MENJELANG pecahnya Perang Baratayudha antara Keluarga Besar Pandawa dan Kurawa, terjadi perbedaan pendapat yang amat tajam antara Prabu Salyo dengan para penasihat Astina. Prabu Salyo adalah mertua Prabu Suyudono, Raja Astina dari keluarga Kurawa, keturunan Prabu Destarastra. Sedang penasihat Kurawa yang paling top adalah Begawan Durna dan Patih Sengkuni. Kedua tokoh Kurawa ini adalah elite politik Astina, yang tersohor karena sifatnya yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Jauh dari kepentingan bangsa Astina maupun Pandawa yang sebenarnya satu keluarga sedarah, yakni: darah Barata. Saat itu utusan Pandawa, yakni: Prabu Kresna dikabarkan akan datang ke Astina, menagih janji Suyudono yang akan mengembalikan Astina kepada keluarga Pandawa. Sebab, Kerajaan Astina sebenarnya milik keluarga Pandawa, sementara Raja Suyudono tak berhak. Astina bisa jatuh ke tangan Suyudono karena saat Pandawa masih bocah sudah ditinggal wafat oleh Raja Pandu, pemilik sah kerajaan. Suyudono adalah anak Destarasta, bukan anak Pandu. Silang sengketa antara Pandawa dan Astina tak berkunjung usai. Bagi Begawan Durna, untuk tidak mengecewakan keluarga Pandawa, maka Astina perlu dibagi-bagi menjadi negara bagian, atau negera federal. Dalam bahasa Durna, Astina harus dijum-jum, diprail-prail, dipisah- pisahkan sebagai negara-negara kecil. Selanjutnya, negara-negara bagian yang kaya sumber daya alam, seperti Nggajah Oya, Panggombakan tetap menjadi milik Astina. Sedangkan negara-negara bagian yang miskin sumber daya alam dan tidak subur, diserahkan kepada Pandawa. Atas ide ini, Suyudono belum bisa memutuskan. Maka ia pun minta nasihat kepada sang mertua, Prabu Salyo. Nasihat sang Prabu, ia tak sependapat dengan ide Begawan Durna. Baginya, Astina dan Pandawa harus tetap bersatu, utuh dan harus dikembalikan kepada keluarga Pandawa yang berhak atas kerajaan itu. Sebab, bila negara yang sudah bersatu itu dipisah-pisahkan menjadi negara-negara bagian, atau negara-negara federal yang kecil-kecil, maka negeri ini akan menjadi negeri yang ringkih, lemah, yang rakyat beserta seisinya gampang hancur-leburkan oleh lawan yang datang secara tiba-tiba. Sementara penasihat lain, yakni: Patih Sengkuni, berpendapat bahwa negara Astina tidak perlu dikembalikan kepada si empunya, yakni: Pendowo. Astina bisa kembali ke pangkuan Pendowo harus ditebus dengan pecahing dodo, tigasing jangga, mucrating ludiro dan pecating sukmo (pecahnya dada, terpenggalnya leher, muncratnya darah dan hilangnya nyawa). Artinya, harus ditebus dengan perang besar antara darah Kurawa dengan Pandawa. Tentu saja pendapat Sengkuni itu menjadikan Salyo marah dan ditentangya habis-habisan, karena sebagai elite politik dan penasihat, ternyata sang Patih Sengkuni telah membuat provokasi yang luar biasa kepada rakyatnya. Kemarahan Salyo bukan tanpa dasar. Menurutnya, dalam setiap langkah dia selalu mengikuti sepak terjang keluarga Pendowo maupun Astina. Sejak kecil Kurawa tak pernah menang dengan Pendowo dalam segala hal, mulai dari kepandaian, kepiawaian olah Yudha, kesaktian, kesetiaan, hingga berbagai hal dalam melakukan kebajikan. Karenanya, bila terjadi perang Baratayudha, walau Astina ngotot dengan mendatangkan sraya, bala bantuan dari negara-negara sahabatnya yang terkenal jahat-jahat itu, ia tak bakal menang melawan Pandawa. Karena itulah, dengan segala keteguhannya, Prabu Salyo minta agar Astina dikembalikan dan disatukan dengan Pendowo untuk menjadi keluarga besar bangsa Amarta, bersatu kembali dengan darah Barata. Sedikitpun Prabu Salyo tak rela bila negara harus pecah, hanya menuruti nasihat dan kehendak orang-orang yang punya pamrih pribadi seperti Begawan Dunra maupun Patih Sengkuni. Sayangya, Dasar Suyudono, raja yang keras kepala, sudah budeg, gelap hati dan pikirannya. Ia justru memilih nasihat Patih Sengkuni menempuh Perang Baratayudha. Alhasil, seluruuh keluarga Kurawa habis, tumpah-tapis, tak satupun tersisa. Demikian pula, keluarga Pandawa, anak-anaknya habis terbunuh, tak satu pun tersisa. Yang tersisa tinggal seorang cucu yang masih bayi, yakni: Parikesit, yang kelak menjadi raja Astina dimana antara kerajaan Kurawa dan Amarta disatukan kembali kepangkuannya, dibangun kembali untuk menjadi negara besar yang penuh kerukunan. Cerita di atas mencoba memberi gambaran betapa dahsyatnya suatu pendapat dari para elite politik, tak terkecuali di tubuh bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini. Disamping itu, betapa dahsyat bila perang antara saudara terjadi hanya perbedaan ide untuk membangun kehidupan suatu negara. Rakyat Aceh dengan tokoh-tokohnya, saat ini ngotot menuntut merdeka. Disusul Irian, Maluku, Riau dan entah propinsi mana lagi, membingungkan para pengemban negara ini. Berbagai gagasan, ide, nasihat bermunculan. Ada yang mempertahankan, tapi ada pula yang ngotot membentuk negara federal. Gagasan negara federal tak henti-hentinya dikumandangkan oleh sang cerdik pandai dan elite politik, tak terkecuali tokoh terkenal Amien Rais. Ide ini akhirnya menjadi perdebatan publik, yang melahirkan opini pro-kontra, hingga menambah semangat saudara-saudara kita sedarah di Aceh, Irian, Maluku, Riau untuk "pisah ranjang" dengan Indonesia. Terserah pendapat Anda, apakah Amien Rais itu menjadi Begawan Durna yang ngotot memberi solusi untuk Aceh maupun propinsi lainnya menjadi negara federal? Yang jelas, bila negara yang sudah bersatu ini dibagi-bagi, dijum- jum, diprail-prail, dipisah-pisah menjadi negara bagian yang kecil- kecil, maka negeri ini bisa jadi bakal hancur. Negara kita menghadapi bencana perang saudara, yang pada akhirnya tak ada yang menang. Kita yang bersaudara ini pada akhirnya rebut balung tanpa isi, merangi tangan landesan dengkul (rebutan tulang yang tak berisi, melukai tangan dengan bertatakan lutut) yang akan menghancurkan diri sendiri, Siapa yang bakal menang? Yang menang adalah setan. Sekarang mari kita bertanya kepada hati nurani kita, mau berpihak kepada setan atau berpihak kepada kebenaran? (Penulis adalah Alumnus Fisipol UGM) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 10 Dec 1999 jam 04:18:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
