----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Press Release :
BERITA PELANGGARAN HAM BARU DI ACEH
DILAPORKAN OLEH SENTRAL INFORMASI REFERENDUM ACEH (SIRA)

PRAKTEK BUDAYA PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA
BERLANJUT DI ACEH

Banda Aceh, (SIRA) 12/ 12/ 99
Meskipun Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan tidak ada kekerasan negara
yang mengandalkan otoritas militer di Aceh, pelanggaran Hak Asasi Manusia
(HAM) oleh militer dari berbagai kesatuan (TNI dan Kepolisian) berjalan
dengan bebas. Dalam dua hari ini saja, bahkan pelanggaran HAM dengan
menggunakan TNI dan Polisi mulai diarahkan untuk pembunuhan dan penculikan
para aktivis mahasiswa dan kelompok-kelompok pro demokrasi dan hak asasi
manusia. Insiden Peureulak Aceh Timur 6 Desember 1999 lalu, paling tidak
telah mengorbankan lebih 25 warga sipil termasuk para aktivis mahasiswa.
Sehingga 22 orang terpaksa dirawat di Rumah Sakit Umum Langsa akibat
penyiksaan dan penembakan yang sangat brutal. Bahkan beberapa orang aktivis
mahasiswa yang sedang dirawat harus dijaga ketat dari intaian aparat
keamanan yang terindikasi ingin melakukan penculikan.

Sedangkan di Aceh Utara situasi terus memanas sehubungan dengan aktivitas
dan keberadaan aparat keamanan yang tidak mau kompromi dan memberondong
siapa saja yang lewat di Jalan. Akibatnya dalam dua hari saja di kawasan
Kecamatan Peusangan terjadi pemberondongan-pemberondongan yang tidak jelas
sebabnya, namun yang jelas hanya pelakunya oleh aparat keamanan yang
berpakaian tentara dan brimob. Peristiwa pukul 20. 30 semalam (11/ 12)
sangat memilukan hati siapapun yang mengakui penegakan HAM dan demokrasi.
Sebab para aktivis mahasiswa Aceh asal Pidie yang sedang dalam perjalanan
pulang mengikuti Kongres Himpunan Mahasiswa Islam di Jambi menjadi sasaran
penembakan para tentara dan Brimob. Sehingga 3 orang aktivis Juanda, Rahmat
dan Said Mahfudh ditembak secara sengaja ketika sedang mengendarai mini bus
Kijang di kawasan Matang Geulumpang Dua Peusangan Aceh Utara. Ketiganya
hingga saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Umum Zainoel (RSU) Abidin Banda
Aceh, serta harus dioperasi.  Di tempat lain Manggeng Aceh Selatan pada
tanggal 12/ 12 sekitar pukul 05. 45, M. Johan ditembak oleh aparat keamanan
di rumahnya ketika sedang shalat subuh. Sehingga kepala, kedua tangan dan
kakinya sangat parah dan harus dioperasi di RSU Zainoel Abidin Banda Aceh.

Warga sipil dibakar dan disiksa
Adapun laporan dan insiden terbaru hari ini 12/ 12, terjadi di kawasan Batee
Iliek Aceh Utara. Inseiden tersebut terjadi pada sejak pukul 15. 00 WIB
hingga berita ini dilaporkan pada pukul 21. 30 WIB malam ini. Dalam insiden
tersebut tentara dan Brimob membakar lebih 15 rumah penduduk dan dalam waktu
bersamaan pula aparat membakar seorang warga sipil dengan melempar tubuh
warga setempat ke dalam api. Sedangkan 24 orang warga sipil lainnya dan 3
aktivis mahasiswa ditangkap serta disiksa. Bahkan hingga berita ini
dilaporkan aparat keamanan masih mengobrak-abrik rumah penduduk dan menyiksa
puluhan warga lainnya di sekitar Batee Iliek dan Meurah.

Perlu tekanan internasional
Karena itu Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) mengamati terus bahwa
kondisi yang sangat parah tersebut sengaja diciptakan pihak Pemerintah Pusat
dan otoritas militer untuk melegitimasi dan jutifikasi terhadap pemberlakuan
darurat militer yang utuh dan berkepanjangan. Jelas, situasi yang sangat
berbahaya terhadap keberadaan warga sipil dan aktivis pro demokrasi dan HAM
itu perlu segera ditanggapi oleh masyarakat dan lembaga-lembaga
internasional yang aktif dalam demokrasi, perdamaian, HAM, mediasi dan
keadilan. Kalau tidak, dikhawatirkan kontinuitas praktek budaya kekerasan
oleh militer akan membuat keadaan Aceh menjadi kacau dan mengorbankan banyak
warga sipil. Bahkan SIRA mendesak kepada semua pihak, khususnya pada tingkat
Internasional agar segera menekan Pemerintah Indonesia secara transparan
untuk menghentikan aktivitas pelanggaran HAM di Aceh, serta menekan untuk
pelaksanaan Referendum damai dan demokratis bagi penyelesaian kasus Aceh.

Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA)

Muhammad Nazar
Koordinator Pusat

Sekretariat : Jl. T. Panglima Polem No. 62 Banda Aceh 23122, Telp. 0651
24043, Fax. 23939, E mail : [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED] Home Page : www.siraaceh.org

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 05:42:21 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke