----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Di siaran berita SCTV kemarin sore, Dimyati Hartono seorang pengurus PDIP dengan gaya 
diktator
melarang masyarakat mendiskusikan masalah federalisme. Kami konsisten, bukan kaku, 
katanya. Pokoknya
tidak boleh ada diskusi tentang federalisme. Titik! Begitu kata Dimyati Hartono yang 
ahli Hukum
Kelautan (bukan ahli tata negara)

Saya heran bagaimana mungkin PDIP yang menamakan dirinya Partai Demokrasi ini benar2 
memaksakan
kehendak, bahkan melarang2 orang lain meski cuma mendiskusikan berbagai masalah, 
misalnya
federalisme. Kok bisa ya namanya Partai Demokrasi?

Sesungguhnya di Amerika Serikat, Jerman, maupun Malaysia, federasi bukan masalah. 
Mereka bahkan
lebih maju dari kita, dan boleh dikata tidak ada satu negara bagianpun atau propinsi 
yang ingin
memisahkan diri.  Tidak seperti Indonesia, di mana Aceh, Irian Jaya, Ambon ingin 
memisahkan diri.
Timor Timur bahkan sudah merdeka.Amerika pendapatan per kapitanya sekitar 20 ribu 
dolar per tahun,
Jerman 22 ribu dolar, Malaysia 2.500 dolar, sementara Indonesia cuma sekitar 400 dolar 
saja per
tahun.
Tidak seperti Indonesia, di mana Aceh, Irian Jaya, Ambon ingin memisahkan diri. Timor 
Timur bahkan
sudah merdeka.

Sesungguhnya, dengan konsep Kesatuan yang ada sekarang ini, Pemerintah Pusat benar2 
menyedot habis
kekayaan daerah2 di seluruh Indonesia. Riau misalnya, dari 59 trilyun pendapatan Riau, 
cuma 1,4
trilyun rupiah yang diberikan ke Riau, sisanya lebih dari 57 trilyun rupiah dinikmati 
pejabat2 Pusat
yang korup bersama dengan konglomerat kroninya.

Lebih dari 90% dari uang yang ada beredar di Jakarta. Akibatnya di daerah tidak ada 
apa2nya. Orang
susah bekerja di daerah, karena hampir tidak ada perusahaan yang beroperasi, sementara 
kekayaan alam
seperti tanah dan air sudah dikapling oleh para konglomerat berupa hak HPH maupun 
areal penambangan
yang luasnya tidak terkira.

Teman saya yang tinggal di Kalimantan bercerita bagaimana dia diburu2 seperti anjing 
oleh petugas
Kehutanan yang bersenjata api, karena mencoba mencari kayu bakar dari dahan ranting 
yang berserakan
di hutan dekat rumahnya.

Jadi hidup sebagai pencari kayu bakar pun tidak bisa dilakukan oleh masyarakat di 
daerah.

Jika Riau cuma dapat kurang dari 2,5%, begitu pula Aceh. Meski Aceh banyak menyumbang 
devisa bagi
negara, tapi rakyat Aceh hidup dalam kemiskinan. Jika ada jalan yang dibangun, itu 
sekedar agar
segelintir orang yang kaya yang bekerja di perusahaan penambangan ataupun pejabat 
pemda sana bisa
berseliweran dgn mobilnya.

Jadi seluruh kekayaan daerah benar2 disedot. Bayangkan 90% lebih kekayaan daerah 
disedot oleh
Pemerintah Pusat, baik dari zaman Sukarno, Suharto, Habibie, bahkan hingga 
pemerintahan Gus Dur
sekarang.

Yang menikmati kekayaan tsb tak lebih dari segelintir pejabat pemerintah, beserta 
dengan para
konglomerat kroninya, macam Liem SIoe Liong, Prayogo Pangestu, Ciputra, Eka Cipta 
Wijaya, Bob Hasan,
Sofyan Wanandi, dll. Adapun rakyat2 di daerah tetap saja hidup miskin.

Akhirnya agar bisa dapat hidup senang, orang2 terpaksa mengungsi ke Jakarta, karena di 
daerah tidak
ada apa2nya. Saya sendiri heran ketika teman saya mengatakan anak adiknya yang di 
Sulawesi Selatan
akan ke Jakarta mencari kerja. Saya tanya kenapa? Bukankah di sana tanah lebih luas, 
jadi otomatis
lebih gampang bekerja. Dia menjawab di sana tidak ada apa2nya. Seluruh tanah sudah 
dikapling2 oleh
para pengusaha, sehingga selain perumahan rakyat yang sudah ada, hampir tak ada lagi 
lahan yang bisa
digarap.

Jangankan di luar Jawa. Di Jawa saja, saya melihat bagaimana orang mengecrek2 kaleng 
kepada
pengendara mobil yang lewat untuk pembangunan masjid, karena rakyat di sana sangat 
miskin.

Jadi sikap PDIP yang begitu ngotot mempertahankan negara kesatuan, sampai melarang2 
orang lain untuk
mendiskusikannya cuma hanya memikirkan kepentingan para pejabat pemerintah yang korup 
beserta
konglomerat kroninya. Sekarang saja, pemerintah sudah berusaha mendekati pengusaha2 
Cina dari
Singapura, Hong Kong, maupun Cina daratan. Sofyan Wanandi yang terlibat kasus kredit 
macetpun,
karena dekat dgn PDIP akhirnya diangkat jadi ketua DPUN.

Dengan cerdik PDIP membodohi rakyat bahwa dgn federasi, berarti daerah merdeka, dan 
Indonesia pecah.
Megawati sendiri mengira harus memakai paspor jika bepergian antar negara bagian, he 
he he...:)

Mereka tidak mengetahui kalau Amerika Serikat itu meski federasi, tetap saja negaranya 
satu. Bedanya
cuma pemerintah daerah punya kewenangan yang lebih luas untuk memajukan daerahnya. 
Daerah juga bisa
menikmati kue yang lebih banyak dari pendapatan daerahnya. Jika daerah maju, akhirnya 
pemerintah
tidak perlu memaksa rakyat untuk melakukan transmigrasi.

Nanti bukan cuma Jakarta saja yang maju dan jadi pusat bisnis, tapi juga kota2 lainnya 
di daerah,
seperti Ujung Pandang, Samarinda, Banda Aceh, dll. Hal ini persis seperti di Amerika. 
Di sana bukan
cuma Washington DC saja yang maju, tapi juga New York, Los Angeles, Boston, dll.

Nabi Muhammad sendiri dalam memerintah, tidak melakukan pungutan zakat gila2an hingga 
lebih dari
80%, sehingga memiskinkan daerah. Batas tertinggi zakat adalah 20%, jadi daerah masih 
bisa hidup dan
berkembang.

Apakah pemerintah pusat akan jadi jatuh miskin, jika pusat cuma dapat 20%? Tidak juga. 
Pusat
menerima 20% itukan dari 26 negara bagian, artinya total pusat akan mendapat 520%. Hal 
itu jelas 5
kali lipat lebih banyak dari seluruh daerah, dan masih bisa didistribusikan bagi 
daerah lain yang
membutuhkan.  Cuma dengan cara ini, jelas uang yang bisa dikorup oleh pemerintah 
pusat, maupun para
jenderal jadi jauh berkurang.

Tuduhan PDIP yang menyatakan Amien Rais harus dituntut karena mengajukan ide 
federalisme juga
dibuat2. Amin Arjoso dari PDIP dgn enaknya ingin memanggil Amien Rais karena 
menganggap gagasan
federalisme itu menimbulkan perpecahan.

Padahal perpecahan itu telah ada jauh sebelum ide federalisme diungkapkan oleh Amien 
Rais. Ide
federalisme baru diungkapkan setahun terakhir ini. Sedangkan gerakan separatisme 
seperti GAM
(Gerakan Aceh Merdeka), OPM (Organisasi Papua Merdeka), RMS (Republik Maluku Selatan), 
Fretilin
(Timtim) sudah ada jauh sebelumnya dari zaman Sukarno hingga Suharto.

Justru dgn federalisme itulah, maka bibit perpecahan karena terpusatnya kekuasaan di 
pusat sehingga
daerah jadi miskin itu bisa dihilangkan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 05:42:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke