---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KOMENTAR TAKDIR ILAHI (TI) ATAS WAWANCARA YUSRA HABIB DENGAN RADIO NIKOYA: Tanggal 9 december 1999 03:05 HASAN TIRO BERSEDIA BERUNDING DENGAN GUSDUR YUSRA HABIB ABDUL GANI, Biro Penerangan Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) di Denmark. KOMENTAR TI: Supaya rakyat Aceh tidak menaruh curiga yang Biro Penerangan ASNLF ini bikinan TNI, maka sdr Yusra perlu membuktikan kesahihan Biro ini sbb: 1. Akreditasi tertulis daripada Wali Negara. 2. Setiap biro penerangan diluar negeri harus memiliki addres yang lengkap,seperti PO. Box, nomor fax dan telefon. 3. Kegiatan biro, termasuk press-release yang sudah pernah dikeluarkan a.n. biro tersebut. BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Kamis, 9/12). Pasca HUT Deklarasi Aceh Merdekake 23 (4/12), membuat suasana di Daerah Istimewa Aceh lambat laun semakin tenang, warga Aceh maupun non-Aceh yang eksodus karena khawatir akan terjadi perang pada HUT tersebut, kelihatan sudah mulai kembali lagi ke Serambi Mekkah...Sementara itu DPR telah mendesak Presiden Gusdur untuk segera melakukan dialog dengan seluruh elemen rakyat Aceh termasuk GAM... Sementara itu diperoleh khabar dari Yusra Habib Abdul Gani, Biro Penerangan Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) di Denmark, bahwa Hasan Tiro selalu bersedia untuk berunding dengan pemerintah Indonesia, jika perundingan itu disaksikan dan dilakukan dihadapan Badan Dunia (PBB) serta perundingan itu mesti harus melibatkan Amerika, Inggeris dan Utusan Parlemen Eropah. KOMENTAR TI: Selama ini Teungku Hasan di Tiro yang sempat dihubungi mass media di tempatnya, mendengar nama "dialog" saja langsung tenggen dan tak sadar diri. Apalagi berunding dengan orang2 Jawa yang menurutnya "stupid, barbaric, uncivilised...and they are all the same." Tidak cukup sampai disitu saja, malah kalau ada pihak2 lain seperti MP GAM, MB GAM dan LSM yang mengusulkan untuk menyelesaikan persoalan Aceh dengan dialog diluar negeri serta melibatkan pihak ketiga, dikecam habis-habisan dan dituduh sebagai"pengkhianat" yang mau "menerima" otonomi. Tetapi kenapa sekarang bisa terjungkirbalik sampai 360 derajat? Ini perlu dijelaskan kepada rakyat Aceh kalau GAM memang memperjuangkan untuk rakyat Aceh. Berikut petikan wawancara tersebut : RADIO NIKOYA-FM (NKY) : HUT Deklarasi Aceh Merdeka ke 23 telah diselenggarakan dengan damai dan aman, apa langkah ASNFL / GAM selanjutnya? Yusra Habib (YH) : Di sini sudah nampak jelas kemauan bangsa Acheh yang dinyatakan dalam peringatan itu. Sekarang tinggal satu langkah lagi menujumerdeka, yakni meraih Pengakuan Dunia Internasional. Untuk itu, Wali Negara, Tengku Hasan M. Di Tiro, akan segara berangkat ke New York untukmematangkan proses Pengakuan Dunia Internasional tersebut. KOMENTAR TI: Sekembali dari rapat IFA di Bangkok beberapa bulan lalu Sdr Yusra mengatakan kepada Harian Waspada bahwa "dalam waktu dekat ini" Wali akan ke New York, dan Biro Penerangan ASNLF Amerika sudah setahun lepas mengatakan bahwa "bulan depan" Wali Negara akan menjumpai Bil Clinton. Informasi yang kami terima dari Amerika dan Stockholm, sudah dua tahun Lebih Wali tidak pernah keluar negeri. Padahal sebelumnya, Tengku Hasan selalu bolak balik keu New York, Jeneva, den Haag dll. lagi. Untuk apa propaganda2 tolol ini, sedangkan rakyat Aceh tiap saat bersimbah dalam darahnya? NKY : Presiden Gus Dur dan DPR-RI tidak setuju Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kalau rakyat Aceh menuntut Merdeka, isunya pemerintah Indonesia akan menggunakan kekuatan militer untuk meredam tuntutan Merdeka itu, tanggapan ASNFL /GAM ? YH : Ini akan lebih baik. Sebab referendum bukan satu-satunya cara Untuk memerdekakan suatu bangsa. Kemerdekaan Acheh sama sekali tidak Tergantung dan ditentukan oleh rezim berkuasa Indonesia-Jawa. Bangsa Acheh Mempunyai hak untuk menyatakan aspirasi politiknya untuk menyelesaikan persoalan di Acheh secara damai melalui referendum. Jika rezim Jakarta menolak opsi merdeka dalam referendum maka tidak perlu ada lagi referendum itu. Jika rezim Gus Dur menggunakan kekuatan senjata untuk mempertahankan kepentingan rezim Indonesia-Jawa di Acheh, kita sudah siap menghadapinya. Perang akan kita lancarkan bukan saja di Acheh, akan tetapi di seluruh wilayah Indonesia-Jawa. Jika dahulu endatu kami mampu mengalahkan Belanda, yang ketika itu merupakan negara terkuat di dunia, mengapa generasi Acheh sekarang tidak? Kami akan layani berperang secara merathon sampai kiamat. KOMENTAR TI: 1. Kalau Indonesia menggunakan kekerasan, maka "itu lebih baik" kata Yusra. Saya mengerti hal itu , sabab sdr Yusra dibesarkan di Jakarta dan saudara maranya ada di Jakarta semua. Jadi kalaupun rakyatAceh dibunuh semua sudah barang tentu tidak ada masalah bagi Yusra, toh Achirnya ia bisa balik ke Jakarta. Sama halnya dengan bosnya Malik Mahmud di Singapura - tidak ada satupun sanak keluarganya di Aceh. Jadi, ini satu pernyataan yang dajjal namanya. 2. Endatu kita dulu sanggup mengalahkan Belanda karena mereka berjuang bukan untuk kerabat dan pangkat, tapi untuk rakyat. Lagi pula endatu kita dulu tidak pernah mencari suaka politik di Denmark untuk "berperang secara merathon sampai kiamat." Atau sampai tiga kali kiamatpun tidak akan berhasil kalau begitu caranya dan begitu dungunya, walaupun sudah setahun tinggal di Eropah. NKY : Setelah lawatannya ke Amerika, Eropah dan negara-negara OKI serta Asean, Presiden Gus Dur sepertinya memperoleh dukungan penuh dari negara-negara itu untuk tetap mempertahankan Aceh dalam NKRI, tanggapan Abu? YH : Apa yang dikatakan Gus Dur mengenai hasil lawatannya ke beberapa negara itu adalah penuh tipu belaka. Acheh tidak sendirian dan kesepian di ruang dunia ini. Untuk itu kita akan buktikan kebalikan dari pernyataan Gus Dur itu. KOMENTAR TI: Nah, itu bagus jawabannya bung Yusra. Mudah2 bisa Dibuktikan dengan cepat. NKY : Sejauh mana dukungan Amerika dan Negara-negara besar dunia lainnya terhadap Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF / GAM) dan Negara-negara mana saja? dukungan apa yang telah diberikan PBB kepada ASNLF ? YH : Dalam perkara politik luar negeri, ada perkara-perkara yang tidak bisa dipaparkan di sini; misalnya dengan negara mana, bagaimana serta sejauh mana sudah perkembangannya. Bahkan bagaimana sudah loby kita di PBB. Ini menyangkut kode etik ASNLF. KOMENTAR TI: 1. Disatu pihak saya setuju dengan sdr Yusra bahwa ada hal2 luar negeri yang tidak bisa dipaparkan, tapi itu satu prosen saja. Sedangkan yang 99% lagi daripada perkembangan GAM diluar negeri, itu sudah Seharusnya diceritakan kepada rakyat Aceh - tidak perlu disembunyi. 2. Sehubungan dengan lobby di PBB, Yusra mengatakan itu "menyangkut kode etik ASNLF." Menurut saya itu bukan kode etik ASNLF, itu kode etik let lumo lam uroeu tarek. Lobby di PBB pun ada kode etik? Bodoh tak habis-habis. Mengajar di SMA Muhammadiah, eh anggak taunya, mengaku "Professor" di Universitas Indonesia. he...he...he. Saya memang tahu yang sdr punya pendidikan tinggi - standard Batavia. Tetapi karena sudah "terpaksa" menjilat orang2 bodoh untuk mengharap sesuatu ;(pangkat?), maka, kasihan, sdr sendiri sudah tergolong kedalam golongan orang2 bodoh. Bayangkan, untuk dimuat satu artikel dalam Harian Waspada, sdr harus ada bantuan Radio Nikoya dan pakai sembah2 editornya segala: "Tolooooong bapak Pribudiii masukkan artikel saya ini kedalam Waspada!" NKY : Katanya Aceh akan Merdeka hanya tinggal sebatang rokok lagi, artinya tentu sudah dekat waktunya ! Bagaimana maksudnya ? Kenapa begitu yakin Aceh akan segera Merdeka ? apa dasarnya dan cara apa yang akan membuat Aceh itu cepat Merdeka ? YH : Benar sekali ! Acheh dalam waktu relatif singkat ini. Insya-Allah Akan Merdeka . Keyakinan ini atas dasar, pertama, Kemajuan politik di dalam negeri (di Aceh. red) sudah mencapai 99%, dalam arti kesadaran politik bangsa Acheh dan kekuatan militer Acheh Merdeka. Kita telah siap sedia segala-galanya. kedua, Politik luar negeri Acheh, dimana wakil-wakil Badan Dunia atau yang mewakili suatu negara-negara asing, telah membuat kontaklangsung langsung dengan Wali Neugara Tengku Hasan M Di Tiro. KOMENTAR TI: Kalau berkomentar nampaknya semua sama, mulai dari serdadu, 'diplomat' - seperti Yusra - dan sampai kepada petinggi2 lainnya. Saya rasa kucingpun akan berubah sikap dan pengamatannya kalau dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain - apalagi keluar negeri. Masakan manusia tidak berobah pengamatan dan cara berpikirnya walapun sudah menetap di negara yang maju dan beradab? NKY : Jika memang Aceh Sumatera akan segera Merdeka dalam waktu dekat ini, mengapa propinsi lainnya di Sumatera tidak ada yang beraksi kecuali Riau...bukan kah hal ini pertanda tak memperoleh dukungan dari masyarakat di Sumatera yang lain ? YH : Kita mesti pahami dahulu makna perkataan Acheh-Sumatera. Perkataan "Acheh-Sumatera" mempunyai arti yuridis dan historis yang mempunyai akibat-akibat hukum tertentu dalam konteks Hukum Internasional. Sebab kedudukan Aceh di Sumatera mempunyai makna tertentu semasa belum terjadi perang dengan Belanda. Sumatera dari segi politik dan pertahanan dilindungi oleh Sultan Acheh suatu masa dahulu. Kita akan selamatkan bangsa-bangsa Sumatera dari penjajahan Indonesia-Jawa. Kita tidak bisa melihat fakta dari satu sisi. Semua bangsa-bangsa Sumatera juga akan merdeka yang bermula dari Acheh. KOMENTAR TI: Sumatra itu tidak mempunyai arti yuridis terhadap Aceh. Sumatra itu nama geografi, sedangkan Aceh yang terletak di pulau Sumatra itu mempunya arti yuridis, politis dan historis. Sebab, Aceh pernah berdiri sebagai satu negara merdeka - bukan Sumatra. Tugas kita sekarang memerdekakan Kenawat dulu, nanti baru lampung dan Tanjung Karang, kalau memang rakyat wilayah tersebut menginginkannya. Kita gunakan nama Sumatra dulu disebabkan tidak ada orang luar yang masih dengan Aceh. Sekarang Aceh sudah lebih dikenal dan lebih populer dari Sumatra, dan sudah saatnya nama Sumatra ditanggalkan saja supaya tidak disalahpahami oleh bangsa2 Melayu lainnya. NKY : Kapan pastinya Aceh akan segera Merdeka ? Cara apa yang ditempuh ASNLF / GAM untuk segera Merdeka, apakah dengan perang besar-besar dengan Militer Indonesia ? apakah ASNLF / GAM mampu menghadapinya ? Bagaimana dengan rakyat sipil yang akan banyak menjadi korban ? YH : Pertanyaan ini terlalu taktis dan strategis. Sebagai orang yang beriman, kita wajib memakai perkataan Insya-Allah. Jadi, berangkat darikenyataan yang berlaku sekarang, maka saya sendiri yakin bahwa kamiakan pulang ke Acheh sebelum musim summer tahun depan. Insya-Allah. Cara yang kita ditempuh selalu memakai pendekatan politik legal, yang dengan cara itu tidak perlu terjadi korban atas harta dan bangsa Acheh. Upaya ini akan terus dimaksimalkan. Jika melalui pendekatan ini tidak juga menampakkan hasil. Maka bangsa Acheh wajib melancarkan perang Jihad Fisabilillah untuk mempertahankan Hak atas tanah pusaka dan menghancurkan rezim yang yang berbuat dhalim ke atas bangsa Acheh. Bangsa Acheh tidak perlu risau melawan militer Indonesia. Hal itu hanya model manusia yang mempunyai mentalitas budak yang takut kepada musuh. Oleh sebab itu jangan ada lagi bangsa Acheh sebagai penonton, sebab dalam rumus perjuangan suci: Penonton Dalam Revolusi Kemerdekaan Adalah Pengkhianat. KOMENTAR TI: 1. Lagi2 sdr Yusra akan ada di Aceh sebelum bulan panas tahun depan. kenapa tidak balik sekali dengan Wali sebelum tahun 2000? Bukankah beliau telah mengatakan langsung atau melalui mulut sdr Yusra tahun 2000 Aceh akan "merdeka"! 2.Menurut "perjuangan suci", penonton dalam revolusi kemerdekaan itu "pengkhianat". Itu mungkin rumus "datuberu bin hantublawu" yang diimport dari Jakarta. Selama satu tahun di Denmark, sdr Yusra jadi penonton apa? Kok enak saja mengeluarkan kata2 "pengkhianat", sedangkan saudara sendiri baru tiga tahun masuk Aceh Merdeka dan belajar basa Acehpun selama di Malaysia. Saya heran juga kenapa Malik Mahmud merekrut deplomat dari calon2 pemain tinju seperti kepala biro penerangan Denmark dan Amerika. NKY : Jika Aceh berhasil Merdeka, pemuda-pemuda Aceh yang sudah memilih gaya hidup demokrasi, sepertinya akan sangat sulit menerima format negara Aceh, dengan system Monarki (Kerajaan) atau Monarki Parlementer (seperti Inggris), karena Raja tidak bisa di kritik jika berbuat kesalahan dan takpernah bisa diganti dengan raja yang lain kecuali dari keturunannya, bukankah system itu tidak jauh berbeda dengan gaya pemerintahan Orde Baru yang cendrung seperti monarki ? YH : Sesudah Acheh Merdeka, Bangsa Acheh mempunyai hak untuk menentukan Bentuk dan sistem Pemerintahan negara Acheh sendiri. Kalau bisa saya umpamakan: Jika seseorang telah memiliki tapak tanah untuk membangun rumah. Model apapun yang akan dibina adalah merupakan hak si pemilik rumah dengan memperhatikan norma-norma umum. Termasuk konsep Hukum syara� yang berlaku di Acheh. Hal itu merupakan kuasa Ulama. Kita sudah mempunyai acuan yang telah menjadi model terbaik dan dicontohi oleh bangsa lain suatu masa dahulu; "Adat Bak Poteuemoreuhum, Hukum Bak Syi�ah Kuala. Kanun Bak Putro� Phang, Adat Bak Bintara". Rasanya masih terlalu awal kita mempersoalkan bentuk dan sistem pemeritahan di Acheh. KOMENTAR TI: Nah, ini jawaban yang bagus sekali. Tapi bagaimana dengan bos sdr nomor dua, dr Zaini dan Teungku Abdullah Syafii, nanti. Mereka kan harus Kerajaan dan dibawah Tiro?. Awas, ini bisa berantam nanti - salah2 keluar lagi surat pemecatan. NKY : Dapatkah Abu Yusra Habib menyebutkan siapa-siapa saja menteri dalam struktur Aceh Merdeka saat ini? Bagaimana struktur pemerintahannya ! YH : Susunan Kabinet Tengku Hasan M di Tiro masih dirahasiakan untuk sementara waktu. Namun Struktur Pemerintahan Negara Acheh sekarang dibagi kepada dua bagian, Pertama Struktur Pemerintahan Sipil dan Kedua Struktur Pemerintahan Militer. Untuk struktur Pemerintahan Sipil terdiri dari; Wali Neugara, Perdana Menteri, Susunan Kabinet, Gubernur, Kepala Dearah, Ulee Sago�', Mukim dan Geutjik. Sedangkan Struktur Pemerintahan Militer Terdiri dari; Panglima Prang Thjik, Wali Neugara, Meunteri Petahanan, Panglima Angkatan Darat, Panglima Angkatan Udara, Panglima Angkatan Laut, Panglima Angkatan Kepolisian, Panglima Perang Wilayah yang terdiri dari 19 Wilayah seluruh Acheh dan Panglima perang Ulee Sago�. KOMENTAR TI: Kapan 'rahasia' ini bisa dibuka? NKY : Mengapa Yang Mulia Teuku Hasan M Di Tiro jarang muncul di media TV asing ? bukankah media mereka sedang menaruh perhatian khusus pada Kasus Aceh saat ini ! apalagi rakyat Aceh saat ini ingin sekali melihat Sosoknya itu tampil di layar TV walau hanya sesaat, Apakah benar isu-isu tentang Teuku Hasan M di Tiro kini sudah tidak mampu lagi memimpin ASNLF karena sudah sangat tua, sehingga beliau hanya dijadikan simbol perjuangan saja ? YH : Dalam media asing, sering sekali terpampang wajah Wali Neugara Tengku Hasan M. di Tiro, seperti di TV Sweden, Norge, Denmark, Findland, Jerman, Perancis dan Inggris dan bahkan baru-baru ini bangsa Acheh di Acheh dan di Malaysia telah menyaksikan wajah Tengku dalam TV yang disiarkan oleh CNN. Sesudah itu datang bertubi-tubi telepon dari Acheh dan Malasia yang mengucapkan tahniah. Keadaan kesehatan Wali dalam keadaan baik sekali. Ketika wartawan Feer menjumpai Wali, wartawan itu telah menulis: Teuku Hasan M di Tiro dalam keadaan sehat yang mampu memimpin revolusi perjuangan Acheh Merdeka. Saya bisa mengusulkan kepada Wali supaya wartawan-wartawan di Acheh dapat berjumpa langsung dengan Tengku Hasan di Tiro nanti. KOMENTAR TI: 1. Hebat juga kalau semua wartawan Aceh bisa berjumpa langsung dengan Tengku atas usulan Yusra. Ngomong2, Sdr Yusra kan sudah berjanji kepada Prabudi Said untuk bertemu Tengku Hasan di Stockholm. Apa sudah jumpa! Menurut saya, wartawan2 dari Aceh tidak perlu datang ke Stockholm dan lebih baik tunggu di tempat saja. Menurut Tengku Abdullah Syafii dan Sahputra, Tengku ada dalam perjalanan menuju Aceh sekarang. 2. Wartawan Nikoya dan lain2 lagi kok bodoh sekali, tidak melihat Wali kita yang selalu "terpampang" dalam televisi negara2 Eropah dan Amerika. Ah, mungkin juga wartawan sibuk menulis dan tidak ada waktu untuk melihat CNN atau televisi Eropah. Saya sendiri tidak pernah melihat Tengku Hasan dalam video selama dua tahun ini, kecuali video pemecatan pemimpin2 Aceh Merdeka di Sweden (70 detik - satu menit lebih) dan wawancara dengan tv Swedia di rumah beliau (dua menit setengah). NKY :Saat ini muncul isu kontroversial jika ASNLF / GAM telah pecah dua faksi, yaitu faksi Musana dan faksi Husaini, dapatkah Abu Yusra Habib menjelaskan lebih lengkap tentang hal ini ? dengan pecah menjadi faksi-faksi, bukankah hal ini menunjukkan bahwa GAM tidak solid lagi ? YH : Tidak ada faksi-faksi dalam Acheh Merdeka. Yang ada ialah Pengkhianat yang mengkhianati Wali Negara Teuku Hasan M di Tiro. KOMENTAR TI: Dalam wawancara ini sdr Yusra telah mengchianati Wali Negara karena tidak menyokong Negara Kerajaan. Tapi tidak apa, asal jangan mengkhianati pencipta sendiri: Allah dan kedua orang tua yang melahirkan dan membesarkan saudara. Wali Negara itu seorang pemimpin dan seorang manusia yang memiliki sifat2 yang bahru: beliau bisa berubah, bisa berbuat salah dan silap, bisa marah, biasa berbuat tak adil, bisa sakit, bisa tua, bisa mati dan banyak bisa2 lain lagi. Dalam interfju ini, sdr Yusra mengaku seorang beriman. Orang beriman itu tidak mengkultuskan seorang pemimpin; orang beriman itu tidak bertaqlid buta; orang beriman itu tahu "tidak taat kepada manusia (pemimpin) yang meyuruh lawan Tuhan"; orang beriman itu tidak berdusta (harus mengatakan yang benar walaupun pahit untuk dikeluarkan); dan orang yang beriman itu "liyuhiqqal haq waubthilal baathil, walau karihal mujrimuun." NKY : Apa tanggapan ASNLF terhadap keinginan besar Presiden Gus Dur untuk dapat berdialog dengan Teuku Hasan M di Tiro, bukankah sebagai sesama muslim dialog itu perlu dan penting untuk mencari solusi terbaik di kedua belah pihak, walau akhirnya tak ditemui kesepakatan apapun dalam dialog tersebut ? YH : Jangan salah paham! Acheh Merdeka selalu bersedia berunding jika perkara itu disaksikan dihadapan Badan Dunia (PBB). Perundingan itu mesti harus melibatkan Amerika, Inggeris dan Utusan Parlemen Eropa. Sebab sejarah telah membuktikan peranan negara-negara ini ketika tercetus perang antara Belanda dengan Acheh. KOMENTAR TI: Itu betul, tetapi terlalu kekanak-kanakan. ASNLF mau berunding sekarang bukan atas pertimbangan politik yang matang, tetapi karena sudah terpaksa. Dua hari yang lalu Waspada dan Serambi memuat satu artikel dengan kepala karangannya: "Kalau tidak mau berdialog, rakyat Aceh akan meninggalkan GAM." Sekarang ASNLF pun mau berunding karena sudah ditarik sama kupingnya. Demikian juga dengan referendum. ASNLF mulai dari serdadu, biro penerangan sampai kepada Wali Negara tidak mau menyetujui referendum. Tapi setelah SIRA mengorganisir dua juta massa di Banda Aceh pada 8 November 1999, baru ASNLF (lebih2 biro pen Amerika) mengucap "selamat" karena terpaksa. Disinilah nampak "diplomat" ASNLF itu calon2 pemain tinju yang tidak memiliki visi dan persepsi, dan selalu mengandalkan kekuatan otot. Sedang MP dan MB GAM Eropah sudah dari mulai dulu dan sampai sekarang tidak putus2 mengeluarkan siaran yang meyokong referendum dan gerakan2 rakyat yang lain. Bukan itu saja, jauh sebelum mahasiswa/thaliban dan ulama memutuskan referendum untuk Aceh, saya sudah membaca beberapa artikel yang ditulis sdr Yusda dalam hompage Acehnet, dimana berulang kali mengatakan bahwa referendum jalan yang terbaik untuk meyelesaikan perkara Aceh. Mungkin karena itu sdr Yusda "dikeluarkan" dari Aceh merdeka. NKY : Sejauh mana kekuatan Angkatan Perang Gerakan Aceh Merdeka saat ini jika harus berhadapan dengan TNI secara besar-besaran? Sebab DPR dan TNI tidak setuju Referendum Aceh dengan masuknya opsi Merdeka dan tidak setuju Aceh lepas dari RI ! Komentar Abu ? YH : Ini sangat rahasia. Kita akan terus upayakan dengan pendekatan diplomatik untuk kemerdekaan Acheh. Tindakan militer oleh Angkatan Prang Acheh Merdeka adalah tindakan yang terakhir. KOMENTAR TI: Jawaban sdr Yusra kadang2 bagus juga, tapi kadang2 Berlawanan satu dengan lain - plinplan? NKY : Mengutip salah satu media asing, yang mewawancarai Hasan Tiro, isebutkan bahwa Indonesia dalam waktu dekat ini akan pecah menjadi 5 negara berdaulat, negara-negara apa saja ? sejauh mana persiapan mereka menuju ke arah merdeka ? YH : Yang sudah pasti adalah Tim-Tim dan yang akan segera menyusul adalah, Acheh, Papua, Maluku/RMS dan Sulawesi. KOMENTAR TI: Urus Aceh dulu, jangan nafsu besar tenaga kurang. NKY : Bagaimana pandangan Abu Yusra Habib terhadap wacana Negara Federasi yang di perjuangankan Amien Rais serta Nurchlois Majid untuk mengganti NKRI ? Apakah ASNLF dapat menerima kompromi Federasi dari pemerintahan GusDur? YH: Ini barang busuk dan bau busuk. Bagi bangsa Acheh: Merdeka Merupakan pilihan pertama dan terakhir. Ada yang masih menjadi batu sandung diAcheh sekarang. Yaitu: masih ada Gubernur, Bupati, Camat dan anggota DPR wakil Acheh di Pusat yang bertindak sebagai corong walking lies rezim Indonesia-Jawa. Mereka ini merupakan simbul dari pemerintahan rezim Indonesia-Jawa yang masih wujud di Acheh. Saran saya kepada rakyat Aceh, Bersatu kita teguh mempertahankan maruah dan tanah pusaka kita-Acheh yang suci. KOMENTAR TI: Tahukah sdr Yusra apa yang dimaksud oleh Franz Fanon dengan "walking lies" itu? Saya perhati dalam setiap tulisan sdr itu selalu ada "walking lies", seakan-akan kata2 itu telah melekat di gigi sdr tanpa mengetahui keberadaannya, dan tanpa menyadari sdr sendiri sudah menjadi "walking lie" yang paling jitu."Walking lie" bermakna orang yang telah dididik (brainwash) seperti robot dan ia akan berfungsi sebagai cerobong untuk menembus massa yang lebih banyak. "Walking lie" itu tidak bisa berbicara, tidak ada suara, tidak punya otak untuk berpikir, tetapi suara yang keluar dari mulutnya itu hanyalah sebuah gema - dalam basa Acehnya "taga" - bukan suaranya sendiri. Dikalangan Aceh Merdeka banyak juga terdapat "walking lies" ini. Contoh yang paling dekat yaitu saudara Yusra sendiri dan juga Musanna A. Wahab di Amerika. Kedua orang ini tidak belajar langsung kepada Tengku Hasan Tentang teori politik Aceh Merdeka, tetapi mungkin mereka membaca buku2 GAM seperti majalah AGAM khusus dalam basa Aceh. Mereka menghafal diluar kepala slogan yang mereka dapat dalam buku2 bacaan itu. Sebagai contoh: "Transmigrasi adalah alat untuk menjajah"; "semua yang bekerja di pemerintah adalah walking lies"; "Orang2 kaya Aceh di Jakarta adalah quisling"; "Indonesia itu tidak ada"; dan lain2. Mereka terus mendengung slogan2 tersebut yang kebanyakan tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang dan perjuangan masa kini. Ilmu yang telah diturunkan Tengku Hasan kepada pengikut2nya bergema terus, tanpa mendapat kajian dan penafsiran yang mendalam. Yusra Habib Abdul Gani, adalah seorang aktivis Aceh Merdeka yang memimpin Biro Penerangan ASNLF di Denmark, beliau lahir di Kenawat-Takengon�(Aceh Tengah) pada tanggal 12 April 1955, memiliki 3 orang hati dari istri-nya bernama, Aida Fitri, kini menetap di Denmark. (Tim). Selamat. Sewaktu di Malaysia sdra Yusra bekerja sebagi penjual paspor palsu RI dan mempunyai hubungan rapat dengan Kedutaan RI di Kuala Lumpur Wassalam Takdir Ilahi ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 05:43:48 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
