----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Penggerebekan Posko People Crisis Centre

Tanggal 10 Desember 1999 (berkenaan dengan hari HAM) telah terjadi
penggerebekan posko PCC di Pusong, Aceh Utara. Penggerebekan ini  berawal
dari di bomnya markas polisi perairan dan udara (POLAIRUD) Pusong, Aceh
Utara. Hal ini kemudian dijadikan alasan pembenar kepada aparat untuk
melakukan penyisiran di desa Pusong, Aceh Utara.

Dalam penyisiran tersebut para aparatur Brimob sejumlah satu truk yang
dikomandoi lansung oleh Letda Ridwan yang kemudian melakukan tindakan
penggerebekan tanpa surat terhadap Posko PCC yang bekerja untuk kemanusiaan
di wilayah Pusong dan sekitarnya. Dalam penggerebekan tersebut telah disita
satu buah kamera beserta dua buah klise film serta mengobrak abrik isi posko
dan menahan ID card para relawan. Ketika ditanyai tentang alasan
penggerebekan, aparat tersebut menjelaskan bahwa para relawan yang aktiv di
PCC dinilai memihak kepada gerakan separatis, indikasinya adalah ketika
relawan PCC tidak pernah
menyuplai bentuk informasi apapun kepada aparat, serta tidak adanya relawan
PCC yang berada di tempat kejadian saat terjadinya pengeboman di pos AIRUD.

Ketika dikonfirmasi kepada Juanda (koordinator PCC), Ia membantah tentang
tidak adanya relawan PCC di AIRUD, saat itu relawan sedang menuju ke lokasi
pengeboman namun terdengar rentetan tembakan dari aparat yang berada di
AIRUD membuat masyarakat disekitar tempat kejadian dan relawan PCC
berlarian menyelamatkan diri.

Sehari sebelumnya (9/12) juga terjadi penggerebekan terhadap Posko PCC dan
Gabungan Aksi Mahasiswa Untuk Rakyat (GAMAUR) di Matang, Aceh Utara. Dalam
penggerebekan yang dilakukan oleh aparatur Brimob tersebut  PCC dan GAMAUR
tidak mengalami kerugian apapun karena posko tersebut telah ditinggali oleh
relawan sehari sebelumnya.

Pembaca yang Terhormat,

Kondisi  Aceh sebelum dan pasca 4 desember ditandai dengan munculnya
berbagai macam isu yang berkembang ditengah tengah masyarakat sehingga
membuat masayarakat hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran yang sangat.
Kondisi sebelum 4 desember sebagian masyarakat kecamatan Selimum khususnya
kemukiman Lamtamot dan kemukiman Saree mengungsi ke tempat tempat yang
menurut mereka lebih aman. Masyarakat kemukiman Lamtamot dan Panca mengungsi
ke  mesjid Selimum dan SD Selimum, sedangkan kemukiman Saree mengungsi ke
Banda Aceh sebanyak 32 KK.
Kondisi pada tanggal 4 desember ditandai dengan dilaksanakannya upacara HUT
GAM dibeberapa tempat. Aceh besar dipusatkan di Piyeung dan Tungkop, begitu
juga didaerah daerah lainnya. Kepatuhan masyarakat mendengar setiap amaran
yang dikeluarkan oleh GAM menandakan bahwa sebagian masyarakat Aceh sepakat
dan setuju  serta mendukung gerakan Aceh Merdeka. Hal yang sangat kita
sayangkan ketidak konsisten pemerintah khususnya TNI/Polri dalam menyikapi
setiap pergolakan yang terjadi di Aceh baik pra maupun pasca 4 desember. Ini
terbukti dengan terjadinya beberapa peristiwa di Aceh Timur, Aceh Utara,
Pidie dan Aceh Barat. Kemudian kondisi  kota Banda Aceh sehari sebelum 4
desember sudah nampak sangat mencekam apalagi pada malam hari H sebagian
masyarakat memadati mesjid mesjid untuk berdoa dan selawat sehingga nampak
sekali dijalan tidak ada satupun kenderaan yang lewat tetapi hanya panser
dan aparat kemanan saja yang sering lalu lalang di jalan jalan kota.
Pemantauan relawan relawan PCC di beberapa daerah yang secara langsung
melakukan monitoring  antara lain: Terjadi penembakan keatas saat masyarakat
Idi Rayeuk Aceh Timur  melakukan aksi dengan berjalan kaki sambil membaca
doa, kejadian ini telah membuat masyarakat panik dan lari kocar kacir. 12
personil aparat  Brimob menembak keatas dan merusak umbul umbul yang dibuat
masyarakat Krung Geukuh Aceh Utara dalam menyambut HUT GAM dan bulan
Ramadhan, aparat aparat tersebut mengeluarkan kata kata " Orang Aceh mau
saya bunuh semua, apa merdeka merdeka".  ini semua semakin menunjukkan bukti
bahwa aparat (pemerintah) sama sekali meng-angin lalukan masalah aceh, dan
untuk ini hanya satu hal yang harus dipikirkan oleh orang aceh bahwa
persoalan pelanggaran HAM dan penghancuran terhadap seluruh unsur dalam
masyarakat aceh hanya kita sendiri yang bisa menyelesaikannya. hanya ada dua
pilihan, kita selesaikan dengan cara kita sendiri atau pusat harus segera
merealisasikan seluruh tuntutan rakyat aceh. Emosional ! jelas, seluruh
orang aceh dalam keadaan emosional saat ini, namun masih mampu berpikir
dengan kepala dingin. nah, apakah ketika fungsi kontrol masih dapat
dijalankan, masih adakah harapan untuk menunggu pusat berbuat sesuatu?

Berikut beberapa aksi brutal militer selama pra dan pasca perayaan HUT GAM,
Insiden Layung, Aceh Barat

Pada tanggal 27 Nopember 1999 sekitar pukul 20.00 aparat TNI dari Kompi C
Lapang Meulaboh mengadakan patroli dengan jumlah pasukan sebanyak 2 truk
lengkap. Berpatroli dari Meulaboh menuju ke Kuala Bhe. Pada saat itu pula
aparat TNI berpapasan dengan mobil kijang yang didalamnya berawak 5-6 orang
sipil bersenjata (GAM) yang kebetulan sedang menuju ke arah Meulaboh, dan
kontak senjata pun terjadi sekitar 15 menit di Desa layung. Korban dari
pihak TNI (1 orang tewas), dan dipihak GAM 3 orang mengalami luka tembak.
Pihak GAM melarikan diri dan korban luka tembak juga dibawa serta. 30 menit
kemudian, di lokasi terjadinya kontak senjata tersebut, aparat TNI melakukan
penyisiran dengan represifnya sehingga mengakibatkan jatuhnya korban dari
masyarakat sipil. Penyisiran berlangsung hingga pukul 16.00 tanggal 28
Nopember 1999. Namun, aparat datang lagi sekitar pukul 22.00 dan kembali
menyiksa masyarakat dengan kasar dan tidak manusiawi. Malah aparat secara
paksa juga mengambil barang-barang dari 15 kedai/warung kopi milik
masyarakat dan merusak merusak TV, kulkas serta membakar 7 unit sepeda
motor, dan 1 unit mobil kijang yang dibakar menyerupai api unggun. Sedangkan
1 unit mobil kijang milik warga bernama Yusna dibawa aparat TNI.

Pada pukul 18.00 masyarakat dari lokasi sekitar tempat kontak senjata
berlangsung  (Layung, Alue Lhok, Kuwait, Kuta Padang) mulai mengungsi ke
tempat-tempat yang agak aman yaitu, Ujong Limpat, Alu Bakong, Ujong Kut,
Dayah Pesantren Nurul Islam, Mesjid Layung dan Gunung Panah.
Korban tindak kekerasan Insiden Layung :

.       Abd. Jalil (46), penduduk Desa Layung. Kepala bengkak, dada sesak
dan kemaluan sakit akibat dipukul dengan popor senjata.
�       Nazaruddin (25), penduduk Layung. Muka bengkak dan lengan memar
akibat dipukul dan ditendang.
�       Bustami (40). Luka memar bagian muka, bibir pecah dan patah gigi.
�       Cut Meurah Wan (35). Luka lecet kena peluru.
�       Saifuddin (26). Luka dibibir dan muka memar.
�       Ahmad Dairi (22). Muka bengkak dan memar, bibir pecah akibat dipukul
dengan sangkar aparat.
�       Saiman (30). Luka di muka, dada dan lengan akibat pukulan dengan
senjata.
�       Samsul (20). Muka bengkak dan jari hancur kena popor senjata.
�       Ilhamuddin (18). Luka di muka, bibir pecah, dada memar dan sesak
akibat kena pukulan dan tendangan.
�       Ilyas (28). Luka memar bagian muka, goresan di badan.
�       T. Zulfahri (30). Kepala berdarah, bibir pecah akibat pukulan  popor
senjata.
�       Ramadhan (21). Luka memar bagian muka.
�       Raja Bangsawan (30). Luka memar bagian muka.
�       Puteh (70). Luka tembak di bahu.

        14 korban lainnya tidak perlu perawatan, hanya mengalami luka lecet.
Jumlah korban seluruhnya  8 orang. 4 diantaranya harus dirawat di RSU Cut
Nya' Dhien. Mereka adalah :
�   Ahmad Dairi
�   Abdul Jalil
�   T. Zulfahmi
�   Ramadhan

Jumlah pengungsi lebih kurang 2.000-an jiwa.

Pengungsi Lamtamot

Desa yang mengungsi :

�       Lon Baroh, 372 jiwa/67 KK
�       Meunasah Baro, 250 jiwa/75 KK
�       Alue Rindang, 600 jiwa/140 KK
�       Lambaro Tunong, 375 jiwa/61 KK
�       Iboh Tanjung, 400 jiwa/58  KK
�       Lam Asan, 350 jiwa/95 KK
�       Lamtamot, 1.160 jiwa/227 KK
�       Panca, 400 jiwa/47 KK
�       Iboh Tunong, 260 jiwa/67 KK
�       Paya Keneng, 423 jiwa/100  KK
�       Lam Kubu, 250 jiwa/46 KK

Jumlah keseluruhan, 13.000 jiwa/1300 KK Mengungsi sejak tanggal 27 Nopember
(pukul 21.55) tiba di Banda Aceh (mesjid kampus darussalam) dan sebagian
lainnya di tampung di mesjid dan SD Seulimum.

Pada saat mengungsi, dan berada dalam camp di Seulimum. Para pengungsi ini
keracunan yang diakibatkan oleh campuran yang dimasukkan dalam makanan
mereka oleh seseorang yang hingga hari ini tidak diketahui identitasnya.
Akibat ini 71 orang harus di rawat di RSUZA, 12 orang dirawat di Puskesmas
Indrapuri dan 85 orang lainnya dirawat di Puskesmas Seulimum.

03 Desember 1999

Sekitar 1000-an jiwa pengungsi yang terdiri dari warga aceh dan non-aceh
bersama-sama mengungsi. Mereka merencanakan untuk menetap di Mesjid Raya
Baiturrahman, namun ketika dalam perjalanan, seluruhnya mereka ditampung di
Mesjid Seulimum bergabung dengan para pengungsi yang sebelumnya telah
ditempatkan di Mesjid Seulimum.

 KR. GEUKEUH (04/12/99)

�       Aparat datang dengan 4 unit sepeda motor beranggotakan 8 personil
mengancam penduduk Desa Tambon Baroh terutama pemuda untuk membantu
menghancurkan posko pemuda setempat, namun tak ada yang mau membantu. Namun
dengan alasan mereka simpatisan GAM, pemuda yang sedang duduk di posko
diancam untuk melakukan hal tersebut diatas. Ketika tidak ada yang bergerak,
aparat dengan emosinya memukul seorang pemuda hingga tersungkur yang
kemudian ditendang dari belakang. Korban bernama Hasbi (40) yang berlamatkan
Desa Tambon Baroh Dusun II Jl. Tuha Selatan Kr. Geukeuh.
�       Sekitar pukul 09.30, aparat menghancurkan pintu gerbang (gapura)
jalan menuju Desa Nisam. Dalam aksinya, aparat juga memaksa 3 orang pemuda
setempat untuk membakar bendera GAM. Setelah pembakaran tersebut, 2 orang
diantaranya lari dan tinggal 1 orang disandera oleh yang lalu disuruh
mengarak bendera yang telah dibakar, jaraknya antara Desa tambon Tunong
sampai Sp. Elak. Korban bernama Yusra (18) penduduk Desa Tanbon Tunong.
Sedangkan yang berhasil melarikan diri adalah Adnan dan Rusdan.
�       Paloh Kayee Kunyet. Gapura dan pos keamanan pemuda setempat
dihancurkan aparat karena dianggap berbau GAM. Kemudian aparat melepaskan
tembakan ke arah perumahan Desa, namun tidak ada korban jiwa.
�       Gampong Barat. Gapura dan pos keamanan setempat dibakar aparat,
namun kaum wanita desa berhasil memadamkan api. Setelah membakar pos, aparat
menganiaya 22 orang warga setempat. Diantara mereka ada yang dilemparkan ke
sungai, 4 orang ditendang dan diancam dengan sangkur. Juga penembakan ke
udara berulang kali untuk menakuti warga setempat.
�       Meunasah Kulam. Aparat menangkap seorang warga Desa bernama Yadib
Abu Bakar (26). Ketika itu, korban sedang tidur di rumah dan dibangunkan
aparat langsung secara paksa disiksa. Korban mengalami patah pinggang dan
memar seluruh tubuh. Sekarang korban berada dalam perwatan Puskesmas Nisam.
Ada 2 orang saksi yang bersedia di panggil untuk dimintai keterangan.

Insiden Sigli (04/12)

Pukul 11.00 siang tanggal 4 Desember 1999 setelah upacara perayaan HUT GAM,
sekitar 4 truk massa ditambah dengan konvoi mobil dan sepeda motor
mengadakan pawai yang dimulai dari arah Beureunun yang direncanakan menuju
kota Sigli. Namun massa yang mengusung bendera GAM dihadang di depan Markas
Kodom Sigli dan langsung diberondong dengan senjata yang mengakibatkan
jatuhnya korban dari massa yaitu 3 orang luka tembak dan 8 lainnya luka
akibat jatuh dari truk. 4 orang korban sekarang dirawat di RSU Sigli, 1
orang korban luka tembak di tangan sudah dievakuasi ke RSU ZA Banda Aceh.
Pada saat insiden penemabakan itu, korban yang sudah kocar-kacir
menyelamatkan diri ke persawahan juga ditembak sambil melakukan dikejar oleh
aparat Kodim, namun tidak ada korban jiwa lagi.

Truk, mobil dan sepeda motor yang digunakan massa seluruhnya diamanakan di
Kodim Sigli, namun sore harinya truk ini dilepaskan, sedangkan yang lain
tinggal. Massa yang tidak dapat melarikan diri di lokasi penembakan juga
ditangkap. Sore hari mereka dilepaskan setelah ada negosiasi antara anggota
DPR-RI yang kebetulan berada di lokasi. Namun ada indikasi masih ada yang
ditahan sampai dengan 5 Desember 1999.

Kandang, 04 Desember 1999

Sejumlah 38 rumah dan 3 buah Meunasah yaitu Mns. Mee, Mns. Manyang dan Mns.
Simpang di Desa Kandang kec. Kuta Makmur Aceh Utara dirusak oleh aparat
Brimob yang datang ke desa tersebut untuk menurunkan bendera GAM. Insiden
ini terjadi pukul 12.00. Sejumlah peralatan milik wrga seperti Becak, sepeda
motor, dan perabotan RT dibakar aparat.

Dokumentasi
People Crisis Centre (PCC-ACEH)

MOHON DISEBAR LUASKAN
Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR)
Tarmizi MSI

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 05:49:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke