----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 14 Desember 1999 16:10 UTC

** TNI ADAKAN AKSI PENYISIRAN DI ACEH

** PULAU SERAM RUSUH LAGI

** PENJAHAT PERANG SERBIA DIVONNIS 40 TAHUN PENJARA

** TOPIK GEMA WARTA: SOAL OTONOMI DAERAH, DI MANA PERAN TNI?

** TOPIK GEMA WARTA: AGUS WIRAHADIKUSUMAH MENGGAPAI DUKUNGAN RAKYAT

** TOPIK GEMA WARTA: MENGAPA KUNJUNGAN GUS DUR KE TIMOR LOROSAE
PENTING?

* TNI ADAKAN AKSI PENYISIRAN DI ACEH

Suasana DI  Aceh mencekam setelah TNI mengadakan aksi penyisiran
(sweeping). TNI mengadakan aksi  itu menyusul terbunuhnya Pasi Intel
Kodim Aceh Tengah, Kapten Inf Alex, Senin petang di Takengon. Seorang
warga yang juga tertikam kini masih dalam keadaan koma, demikian
Kolonel Syafnil Armen, Danrem 011/Lilawangsa. Armen menegaskan,
kesabaran TNI sudah semakin menipis. Sementara itu Panglima Gerakan
Atjeh Merdeka (AGAM), Teungku Abdullah Syafii, menyatakan sebagai
pejuang kemerdekaan pihaknya bertekad akan meneruskan perjuangannya.
Pihak TNI/Polri bersiap-siaplah dan tunggu saja kedatangan kami ke
markas. Kalau ingin selamat lebih baik secepatnya hengkang dari Aceh,
kata Abdullah Syafii berkali-kali, seperti dikutip koran Serambi.
Sejak aksi penyisiran itu, banyak warga mencari perlindungan di
mesjid-mesjid dan ada pula yang mengungsi dari desanya.

* PULAU SERAM RUSUH LAGI

Setelah sempat tenteram sejenak, Pulau Seram kembali dilanda betrok
antar umat. Tiga orang warga dikabarkan terbunuh dan empat orang
terluka. Ratusan rumah penduduk dikabarkan terbakar. Insiden ini
terjadi satu hari setelah presiden Abdurrahman Wahid dan wakil
presiden Megawati Soekarnoputri bersama dengan delegasi masyarakat
Maluku dari Belanda mengadakan kunjungan yang sudah lama
dinanti-nanti di Maluku. Dalam kesempatan itu Gus Dur mengimbau umat
Islam dan Kristen agar mengadakan rekonsiliasi. Kekerasan antar umat
di Maluku tahun ini telah menelan nyawa ratusan warga.

* PENJAHAT PERANG SERBIA DIVONNIS 40 TAHUN PENJARA

Tribunal Yugoslavia di Den Haag, Negeri Belanda, menjatuhkan hukuman
penjara 40 tahun terhadap Goran Jelisic, warga Serbia yang menamakan
dirinya Adolfnya Serbia. Ia dinyatakan bersalah sebagai pejahat
perang dan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pihak Jaksa
semula menunut hukuman penjara seumur hidup, hukuman maksimal yang
bisa dijatuhkan Tribunal. Jelisic, 31 tahuh, mengaku membunuh dua
belas muslim di kamp Luka, Bosnia, pada bulan Mei 1992. Menurut
Jaksa, Jelisic telah membunuh lebih dari seratus muslim dengan kejam
seperti binatang. Tribunal menokak tuduhan genoside, karena kurang
bukti.

* TERUSAN PANAMA DIKEMBALIKAN

Hari ini di Panama diadakan upacara serah terima terusan Panama dari
Amerika kepada negeri itu. Yang mewakili Amerika adalah mantan
presiden Jimmy Carter. Selain itu upacara juga dihadiri oleh Raja
Spanyol Juan Carlos dan presiden-presiden Meksiko dan Kolombia.
Secara resmi Panama mengelola terusan itu pada 31 Desember mendatang,
tapi atas permintaan Amerika, serah terima terusan yang panjangnya
lima puluh kilometer itu, dipercepat. Panama adalah beka provinsi
Kolombia yang merdeka pada 1903 atas turut campur Amerika.
Pembangunan terusan Panama dituntaskan Amerika yang akhirnya menjadi
pengelola terusan terpenting di kawasan itu. Tetapi pada 1977
presiden AS Carter menyetujui serah terima. Tiap tahun sekitar
tujuhbelas ribu kapal melewati terusan tersebut. Hampir dua pertiga
bertolak dari dan bertujuan ke pelabuhan di Amerika.

* EHUD BARAK BERTOLAK KE WASHINGTON

Perdana Menteri Israel Ehud Barak bertolak ke Washington untuk
mengadakan perundingan perdamaian dengan Suriah yang diawali besok.
Perundingan yang terutama mengenai penarikan tentara Israel dari
Dataran Tinggi Golan ini sempat macet selama hampir empat tahun.
Sebelum berangkat, Barak sempat mengadakan pertemuan dengan kolonis
Yahudi di kawasan itu. Para Kolonis menegaskan akan menentang keras
pengembalian Dataran Tinggi Golan kepada Suriah. Kedua negara
belakangan ini menunjukkan sikap optimis akan tercapainya perjanjian
perdamaian yang bersejarah. Parlemen Israel telah mendukung
dilanjutkannya perundingan dengan Suriah tersebut.

* PEMERINTAH JEPANG CABUT SANKSI TERHADAP KOREA UTARA

Pemerintah Jepang akan mencabut semua sanksi yang dikenakannya
terhadap Korea Utara. Sanksi itu sebagai reaksi atas kasus peluncuran
rudal jarak jauh Korea Utara yang sempat memasuki kawasan udara
Jepang. Akibat sanksi itu maka berakhirlah bantuan pangan Jepang
untuk Korea dan pembicaraan tentang pemulihan hubungan antara kedua
negara. Selain itu Tokyo melarang penerbangan ke dan dari Korea.
Namun sanksi ini sudah dicabut bulan lalu setelah rejim Korea Utara
berjanji tidak akan mengadakan ujicoba peluncuran rudal lagi. Belum
jelas kapan Jepang akan melanjutkan bantuan pangan kepada Korea
tersebut.

* FILIPINA PIMPIN PASUKAN PBB DI TIMOR LOROSAE

PBB memilih seorang jenderal Filipina untuk memimpin pasukan
pemelihara perdamaian PBB yang akan ditugaskan di Timor Timur tahun
depan. Demikian tegas para pejabat Filipina. Wakilnya dari Australia.
Sebelumnya PBB telah mewawancarai tiga jenderal Filipina sebagai
calon pemimpin pasukan tersebut. Namun PBB tidak menyebutkan nama
jenderal yang terpilih. Pasukan pemelihara perdamaian PBB itu akan
menggantikan pasukan mulitinasional yang dipimpin Australia yang
bertugas untuk menumpas kekerasan menyusul jajak pendapat di mana
mayoritas rakyat bekas jajahan Portugal itu memutuskan untuk merdeka.

* SOAL OTONOMI DAERAH, DI MANA PERAN TNI?
Intro: Panglima Komando Daerah Militer VII Wirabuana Mayjen Agus
Wirahadi Kusumah tidak menyetujui gagasan pemekaran Kodam dan
teritorial militer. Komando teritorial di Jawa perlu dikurangi mulai
dari penghapusan Koramil dan Babinsa. Di Jawa tidak perlu lagi ada
Kodam. Demikian Agus Wirahadi Kusumah. Apakah pendapatnya didukung
oleh kalangan luas TNI. Berikut komantar pakar politik militer Salim
Said.

Salim Said (SS): Saya kira itu lebih banyak pendapat dia pribadi dan
sejumlah orang di dalam TNI yang saya anggap tidak begitu sabar
melihat perkembangan reformasi di dalam TNI.

Radio Nederland (RN): Juga kabarnya kalangan TNI tidak setuju dengan
pendapat dia, karena dia katanya mau dikeluarkan kek, segala macam
gitu. Bagaimana menurut anda ini?

SS: Saya tahu bahwa pimpinan TNI tidak begitu 'happy' dengan
pernyataan Jenderal Agus itu. Tapi saya tidak tahu apa tindakan yang
akan mereka ambil.

RN: Dengan demikian ini tidak bisa dikatakan sebagai kecenderungan
dalam  tubuh dalam tubuh TNI.

SS: Saya kira tidak. Tetapi makin lama makin banyak suara seperti itu
di dalam TNI.

RN: Karena apa, bung Salim Said?

SS: Ya karena mereka tidak sabar melihat reformasi yang berjalan
lambat.

RN: Maksudnya tidak sabar itu bagaimana?

SS: Ya artinya mereka ingin cepat ada keputusan-keputusan misalnya
mengenai Kodam, mengenai Korem, Kodim dan sebagainya. Mereka ingin
agar segera ada sikap yang jelas dari pimpinan TNI untuk menunjukkan
bahwa mereka betul-betul telah melakukan reformasi sebagaimana yang
mereka janjikan.

RN: Sebenarnya bagaimana sih visi TNI, kalau Indonesia nanti
menikmati otonomi daerah. Kodam-kodam ini akan dikemanakan?

SS: Nggak jelas. Itulah persoalan, sehingga sebenarnya Agus itu boleh
saya katakan mendapat simpati publik yang juga tidak sabar melihat
TNI tidak kunjung menunjukkan bergerak ke arah mana dia dalam
melaksanakan reformasinya itu.

RN: Kalau menurut anda bagaimana seharusnya? Misalnya begini. Kalau
nanti di Indonesia terjadi otonomi daerah, sementara Kodam-kodam ini
masih ada dan di dalam struktur yang seperti sekarang. Kan bisa
dikatakanotonomi daerahnya sama dengan bohong begitu?

SS: Masalah Kodam dan aparat teritorial itu adalah masalah doktrin.
Maka doktrin dasar pertahanan Indonesia itu yang harus dibicarakan.
Ada atau tidak ada Kodam itu harus dibicarakan. Karena itu lebih
banyak cocok untuk suasana Orde Baru yang otoriter. Dalam pasca Orba
ini kita memerlukan sebuah doktrin yang bisa menampung tentara yang
tidak berpolitik praktis.

RN: Dan itu juga harus tercermin dalam Kodam-kodamnya?

SS: Nah Kodam itu akibat saja. Itu induknya adalah doktrin
pertahanan. Kalau doktrinnya berubah itu soal Kodam bisa berubah.
Jadi bukan Kodamnya yang diutak-atik. Yang harus diutak-atik adalah
induknya, doktrinnya itu.

RN: Menurut anda sejauh mana sekarang TNI sudah berpikir mengenai
doktrin ini?

SS: Mereka sudah berpikir dan katanya sedang melalukan tindakan di
dalam. Tapi kan orang memerlukan segera kabar sudah sampai ke mana
reformasi itu. Nah, Agus termasuk orang yang tidak sabar, bersama
sejumlah temannya. Itulah makanya mereka menerbitkan buku.

RN: Apakah dia juga termasuk kalangan yang ikut memutuskan akan
diapakan doktrin TNI ini?

SS: Mestinya ya. Sebab dia kan asisten perencanaan umum.

RN: Karena omongan seperti ini belum pernah kita dengar dari
orang-orang lain.

SS: Secara umum ya nggak.

RN: Lalu seberapa jauh anda melihat bahwa Agus ini tidak atas nama
dirinya sendiri?

SS: Saya kira memang dia lebih banyak atas nama dirinya. Tapi
pengamatan saya menunjukkan bahwa ada sejumlah perwira seperti itu di
dalam Angkatan Darat.

* AGUS WIRAHADIKUSUMAH MENGGAPAI DUKUNGAN RAKYAT

Sementara para jenderal sibuk berbicara mengenai payung politik atau
payung undang-undang, Mayjen Agus Wirahadikusumah justru mencari
payung rakyat. Koresponden Syahrir melaporkan dari Jakarta:

"TNI akan menjadi dinosaurus kalau ditinggalkan rakyat. Maka TNI
harus kembali mencari rakyat, kata Pangdam Wirabuana itu. Baru kali
ini ada prajurit TNI yang berani melakukan otokritik terhadap
korpsnya. Pendapatnya  itu sama dengan senior-seniornya seperti Kemal
Idris dan Alex Kawilarang. Bahkan mantan Pangdam Siliwangi ini
mengatakan, "Kalau TNI tidak merubah dirinya, sebaiknya TNI
dibubarkan saja". Tetapi Indonesia tanpa TNI mungkin dianggap kurang
komplit. Sebagaimana Wapres Megawati mengatakan di Biak kemarin:
"Tanpa Irian Indonesia tidak komplet". Menurut seorang lain
sebenarnya tanpa Timor Timur pun Indonesia tidak komplet mengingat
pengorbanan rakyat Indonesia selama ini. India misalnya bisa
mempertahankan Goa. Mengapa Indonesia tidak?

Jawabannya mungkin karena Indonesia punya tentara yang tidak
menghormati HAM dan sudah terkena virus kerajaan Majapahit yang sejak
dahulu kala ingin menjajah bangsa-bangsa di luar pulau Jawa. Maka
pada tahun-tahun berikut Indonesia bisa kehilangan Aceh, Riau, Irian
dan bahkan Sulawesi dan Kalimantan jika tentara tidak ditertibkan.
Indonesia bisa mengalami nasib seperti Yugoslavia yang akhirnya hanya
mencakup Serbia saja. Kemarin, Yoseph Rumaseb, Sekretaris Forum
Rekonsiliasi Rakyat Irian Jaya, FORERI, dalam pertemuan dengan Wapres
menyampaikan aspirasi rakyat Papua Merdeka bagi penuntasan
permasalahan HAM di Tanah Papua. Menurut Yoseph, pengibaran bendera
Papua Merdeka adalah wujud ekspresi tentang persoalan yang lebih
mendalam dan pernyataan kebutuhan suatu dialog. Oleh sebab itu jangan
lantas dituduh makar, melainkan dicarikan penyelesaian secara damai
terutama kasus Timika dan Nabire saat ini. Kasus-kasus pelanggaran
HAM oleh TNI di Irian memang tidak banyak berbeda dengan kasus-kasus
di Aceh dan Timor Timur dahulu.

Menteri Otonomi Daerah, Ryas Rasyid pernah mengeluh bahwa  selama ini
daerah-daerah hanya mengeluh dan mengemukakan soal dosa-dosa
pemerintahan otoriter Orde Baru. Tidak ada yang menyebut soal
dosa-dosa negara kesatuan, kata Ryas Rasyid dalam suatu seminar
mengenai Negara-Kesatuan versus Negara Federal di gedung MPR.
Sehubungan dengan itu seorang pengamat mengatakan, "dosa negara
kesatuan ialah dibentuknya Kodam-Kodam oleh TNI, serta
diberlakukannya dwifungsi pada saat Dekrit Presiden Soekarno pada
tahun 1959. Ketika UUD 45 diberlakukan kembali maka pada saat itu
pula dua perwira TNI masuk ke dalam kabinet, sebagai menteri. Saat
itu pula empat panglima angkatan berdiri di belakang Bung Karno.
Ketika itu diduga Indonesia tanpa dwifungsi  ABRI tidak komplet.
Tetapi sama halnya dengan hilangnya Timor Timur, Indonesia sekarang
bisa saja  berjalan terus tanpa TNI. Dalam arti tanpa peran
teritorial TNI.

Mantan Asisten Perencanaan Umum TNI Mayjen Agus Wirahadikusumah juga
mengakui hal itu. Untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah,
konstruksi TNI harus dirubah, ujarnya. Sudah saatnya TNI menanggalkan
politik teritorial, yang merupakan penerjemahan konsep dwifungsi
ABRI. Ini justru yang menimbulkan problem, kata Pangdam Wirabuana
itu. Ia juga mengharapkan secara bertahap Koramil dan Babinsa ditutup
bahkan juga Kodam-Kodam. Terutama Kodam-Kodam di pulau Jawa sudah
dapat ditutup dan dijadikan Pesantren atau Puskesmas,jelasnya. Ia
menilai lembaga-lembaga  ini lebih banyak berpolitik.

Seorang mantan anggota DPP Golkar pun mengakui bahwa pada awal
revitalisasi Golkar tahun 1971, Kodim-Kodim dan Koramillah yang
mendirikan cabang-cabang Golkar di daerah. Karena itu kalangan
akademisi di Jakarta mengharapkan TNI harus dijadikan insitusi atau
alat negara yang mandiri dari kekuasaan politik agar dapat berperan
aktif sebagai bhayangkara negara. Masyarakat sipil pun harus
diperkuat. Mereka perlu bertanggungjawab dalam pembentukan bangsa
yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkepastian hukum. Untuk itu
perlu ada pakta-pakta antara sipil dan militer. Hal ini untuk
mencegah gejolak  dalam hubungan sipil-militer, kerusuhan sosial dan
disintegrasi sosial.

TNI memang nampak sangat kuatir  jika UUD 45 diamandemen apalagi jika
bentuk negara diubah. Sebab suatu negara federal jelas tidak
membutuhkan TNI semacam sekarang ini. Yang ada hanya tangsi-tangsi
karena doktrin negara-negara federal tidak mengenal Dwifungsi
Tentara. Tentara adalah tentara.Titik. Maka dalam rangka proses
demokratisasi, perlu dilakukan amandemen konstitusi atas UUD 45.
Tentara harus diingatkan bahwa konflik adalah suatu hal yang inherent
dalam demokrasi. Konflik harus diselesaikan secara damai dan bukannya
secara represif dengan tindakan militer sebagaimana diusulkan oleh
Sembiring Meliala dari fraksi PDI Perjuangan pada pertemuan dengan
Panglima TNI Laksamana Widodo baru-baru ini.

* MENGAPA KUNJUNGAN GUS DUR KE TIMOR LOROSAE PENTING?

Presiden Abdurrahman Wahid memastikan, akan berkunjung ke Timor Timur
untuk memenuhi undangan badan PBB UNTAET, meski tanggalnya belum
ditetapkan. Pengaruh Indonesia bagi Timtim bakal penting sekali di
masa depan, meski Tim-tim, sebaliknya, tidak akan menjadi  agenda
yang terlampau penting bagi Jakarta kelak. Tetapi, kunjungan Gus Dur
ke Timtim pada saat-saat ini, merupakan momentum yang menarik di kala
presiden diguncang oleh kalangan TNI dalam soal Aceh dan soal
KPP-HAM. Lebih jauh ulasan redaksi di Hilversum

Undangan dari Ketua UNTAET Sergio Vieira de Mello kepada Presiden Gus
Dur itu, bagi Gus Dur, lebih tepat waktunya ketimbang bagi PBB atau
bagi Timtim. De Mello yang belakangan hari berada di Jakarta,
berharap, Indonesia dapat segera memulihkan hubungan dagang dengan
Timtim, termasuk membuka kembali penerbangan ke Dili. Kami memerlukan
sumberdaya dari Barat, tapi juga dari Indonesia, kata bos PBB di
Timtim itu.

Soal tapal batas dan soal lalu lintas orang, jasa dan barang antara
perbatasan NTT-Timtim, perlu diatur dengan baik. Apalagi soal warga
Timtim yang September lalu diungsi-paksa ke NTT dan masih tersisa 140
ribuan itu, belum juga tuntas selama unsur-unsur TNI dan
milisi-milisi pro-otonomi yang didukungnya masih bergerak leluasa di
sana. Semua orang Timtim welcome untuk kembali ke Timtim, termasuk
para mantan PNS, mantan anggota TNI dan mantan anggota milisi, tegas
De Mello.

Pesan yang sama belum lama lalu juga disampaikan oleh pemimpin Timor
Lorosae Xanana Gusmao, kepada Presiden Wahid maupun kepada publik
luas. Bahkan Xanana seolah  menegaskan hal itu kembali dengan secara
diplomatis menerima dengan hangat, dan berfoto bersama dengan mantan
panglima milisi Joao Tavarez, mantan jagoannya Kopassus yang suka
bertopi koboi dan lebih mirip war lord, atau raja lokal, itu. Dengan
kata lain, PBB dan CNRT membutuhkan kredibilitas baik di mata para
warganya yang di NTT maupun di mata Jakarta dan dunia luar, bahwa
pihak-pihak yang kalah atau dulu pro-Indonesia itu akan dijamin
keamanannya di Timtim.

Di sinilah Gus Dur dapat memberi sumbangan penting. Kunjungan
Presiden RI dapat menggarisbawahi pesan-pesan Xanana Gusmao dan De
Mello tadi. Dengan demikian, Gus Dur yang telah lama bersahabat
dengan Xanana Gusmao dan Uskup Carlos Belo, dapat memperkuat upaya
mereka untuk mengawali rekonsiliasi dan membangun negara baru Timor
Lorosae.

Gus Dur, selaku Kepala Negara yang mewakili Indonesia yang baru,
dapat membuka halaman baru tetangga Goliath di negeri si Kecil David.
Datang tepat 24 tahun setelah invasi dan pendudukan ABRI, yang
berakhir dengan dekolonisasi yang berdarah September lalu, Presiden
Gus Dur bisa bertandang secara simpatik sambil meminta maaf. Rakyat
Timor Lorosae pasti akan tertawan hati dan menaruh kepercayaan pada
Gus Dur, jika Gus Dur mengambil jurus Mea Culpa atau mohon ampun dan
maaf itu. Kalau setelah 50 tahun Indonesia merdeka, pemerintah
Belanda saja resminya masih  enggan untuk meminta maaf, maka Gus Dur
tak perlu menanti sampai lima dasa-warsa.

Akan tetapi, justru di sinilah masalahnya. Di kandang sendiri, Gus
Dur belum berhasil mengucilkan kalangan yang dianggapnya perlu
dikucilkan. Soal Aceh mulai  mengungkap tentangan TNI dan kegelisahan
DPR, bahkan TNI makin kebelet untuk menggebrak Aceh. Lebih panas
lagi, soal KPP-HAM yang menyelidiki kasus bumi hangus Timtim selepas
jajak pendapat, pagi-pagi sudah menjadi kontroverse, padahal belum
ada satu jendral pun yang resmi didakwa. Karena itu giliran Gus Dur
pagi-pagi memperingatkan, kalau Menko Polkam Wiranto resmi didakwa,
dia akan dinonaktifkan, dan kalau dinyatakan bersalah, dia akan
dipecat sebagai menteri.

Sejauh itu, Gus Dur memang bisa bersikap tegas atas nama negara
hukum, tetapi untuk Mea Culpa kepada rakyat Timtim, itu bakal sama
saja dengan menampar TNI di muka publik, meski dunia akan mengatakan,
itu merupakan suatu kejujuran. Jadi, Gus Dur perlu  berkelit dengan
pintar dan jeli, untuk menjadikan momentum kemenangannya terhadap TNI
tanpa menampar TNI.

Masih ada beberapa soal lain. Di Timtim, Gus Dur dapat menegaskan
kredibilitas Filipina sebagai Komandan Tentara PBB yang akan
menggantikan tentara Australia INTERFET. Sekaligus Gus Dur perlu
menjamin bahwa tentara Yordania yang akan ditempatkan di daerah
kantong Oecussi sebagai bagian pasukan PBB itu, tidak akan membawa
serta mantan Danjen Kopassus Letjen Prabowo atau semacamnya.

Pendek kata, kunjungan Gus Dur ke bumi Timor Lorosae nanti merupakan
peluang bagus bagi semua pihak, pihak RI, Gus Dur, UNTAET dan Timtim,
di berbagai front.

---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Dec 1999 jam 19:30:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke