----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Hasil Investigasi Kontras di Timtim, Milisi Timtim Digaji Bupati

Kamis, 16 Desember 1999
Berita Buana

TENTARA atau TNI boleh saja mengatakan tidak bisa mengendalikan para milisi.
TNI juga bisa saja mengatakan bahwa para milisi berjuang untuk
mempertahankan Timor Timur (Timtim) tetap berada dalam pangkuan Indonesia.
TNI juga bisa saja mengatakan tidak terjadi pelanggaran HAM. Namun
Koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan) Munir
SH menegaskan, tragedi kemanusiaan yang terjadi di Timtim serta keterlibatan
milisi pro-integrasi dalam penghancuran Timtim merupakan fakta sosial yang
telah terjadi dan tidak bisa dibantah.

Menurut Munir, Pangkostrad Jaja Suparman mungkin saja benar bahwa TNI bisa
marah jika para jenderal itu dipanggil oleh Komisi Penyelidikan Pelanggaran
(KPP) HAM. "Tetapi Kontras juga tidak bisa menutup-nutupi fakta sosial yang
terjadi di Timtim. Temuan Kontras tersebut juga bukan sembarang temuan,"
tandasnya.

Disebutkan Munir -- yang juga anggota KPP HAM pimpinan Albert Hasibuan --
temuan Kontras bukan hasil analisa, melainkan hasil investigasi tim
investigasi Kontras langsung di Timtim. Hasil lengkap investigasi tersebut
menurut Munir, akan diserahkan ke KPP HAM untuk dikonfirmasi lebih lanjut.

Salah satu fakta yang ditemukan Kontras adalah, para milisi pro-integrasi di
Timtim ternyata orang-orang gajian. "Para milisi pro-integrasi yang
mendukung TNI dalam pasca jajak pendapat di Timtim bulan September lalu,
ternyata bukan murni perjuangan dari masyarakat yang menginginkan Timtim
tetap bergabung dengan wilayah RI. Mereka ternyata adalah orang-orang yang
digaji untuk berperang dan mengamankan Timtim," ujar Munir.

Munir pun berani mempertanggungjawabkan temuannya ini. Sebab, dia mengaku
Kontras punya bukti. Bukti tersebut berupa surat-menyurat antara milisi dan
aparat, maupun dari keterangan saksi serta beberapa bukti alat senjata api
yang tertinggal di tempat-tempat konsentrasi milisi di Timtim.

"Kontras memiliki bukti berupa satu buku tebal yang rapi diketik dengan
komputer berupa daftar gaji para milisi. Mereka digaji secara reguler
sebesar Rp 150.000 tiap bulannya," tandas Munir.

"Hubungan gaji ini merupakan hal yang penting, mengingat agak menarik kalau
ada elemen masyarakat menyampaikan sikap politiknya -- misalnya
pro-integrasi -- tetapi ternyata memperoleh gaji. Ini agak aneh. Aneh karena
dalam situasi politik seperti itu mereka memperoleh ikatan dalam bentuk
penggajian," kata Munir.

Digaji Bupati

Lalu, siapa yang menggaji? Apakah pihak militer? Menurut Munir, penggajian
ini memang tidak bisa langsung dikatakan dari militer. Penggajian datang
dari banyak pintu dan tidak langsung dari tangan institusi militer setempat.
"Tetapi yang jelas beberapa bupati menjadi penyandang dana bagi para
 milisi," tandas Munir, seraya menambahkan dokumen gaji tersebut harus
diklarifikasi lebih jauh oleh KPP HAM.

Yang lebih unik, dari temuan Kontras ternyata diketahui para milisi tersebut
bukan hanya orang-orang asli penduduk Timtim, melainkan para preman yang
berasal dari Jawa Barat, Ambon, Sumatera dan sebagainya. Masalah ini juga
menimbulkan pertanyaan tentang kemurnian perjuangan para milisi tersebut.

Sistem penggajiannya juga ditentukan dengan spesifikasi keterikatan dengan
aparat. Misalnya milisi punya ikatan dengan pengadilan, kejaksaan, pegawai
negeri sipil di kepolisian dan militer. Jadi masing-masing wilayah berbeda.
Namun intinya masing-masing bupati membiayai langsung keberadaan
milisi-milisi itu.

Lebih rinci Munir juga mengungkapkan kuatnya indikasi adanya hubungan
langsung antara militer dengan milisi. "Surat-menyurat dengan aparat seperti
stempel milisi hampir sama dengan militer, misalnya gerigi serta struktur
komando yang hampir sama. Hubungan lain misalnya dalam hal posko. Posko
milisi misalnya berdekatan dengan aparat," katanya.

Ini artinya, tegas Munir, aparat mengetahui persis bahwa milisi memegang
senjata. Jadi, tambahnya, kalau militer mengatakan tidak bisa mengatasi
milisi, hal itu terbantahkan oleh fakta sosial yang ada di sana.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Dec 1999 jam 03:57:34 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke