----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Militer dan Orang Soeharto Terlibat
Panja Ambon Dikritik, Tim 19 Usul Rekonsiliasi

Jakarta, Jawa Pos.-
Kamis, 16/12/1999

Inilah analisis terbaru tentang konflik Ambon yang hampir berlangsung satu
tahun. Menurut sosiolog Universitas Indonesia Dr Thamrin Amal Thomagola, ada
indikasi orang-orang mantan Presiden Soeharto dan militer terlibat dalam
konflik bernuansa agama itu.

Dia mengungkapkan analisisnya itu saat dipanggil Panitia Kerja (Panja) Ambon
DPR RI di gedung DPR, Jakarta, kemarin. Selain mendatangkan Thamrin, panja
yang diketuai I Nyoman Gunawan ini juga menghadirkan Ketua Tim 19 Kasus
Ambon Letjen TNI Suaedi Marasabessy.
Rapat Panja dengan sosiolog ahli Ambon dan Tim 19 yang dibentuk di masa
pemerintahan Habibie itu berlangsung tertutup. Ini atas permintaan tim
tersebut.

Suaedi yang didampingi 15 anggotanya menganggap masalah Ambon ini sangat
sensitif.
Sedangkan Thamrin setelah rapat langsung melontarkan kritik keras kepada
Panja DPR. Dia menganggap kerja panja ini sangat terlambat. Dia malah
menyarankan agar panja ini dibubarkan saja. ''Kerja panja ini akan sia-sia
belaka. Tingkat keparahan kasus Ambon ini sudah akut dan korban sudah
banyak,'' katanya.

Thamrin pesimistis terhadap hasil yang akan dicapai panja ini. Sebab, ketika
pemerintah melalui presiden dan Wapres sudah berdialog dengan masyarakat
Ambon, DPR tak berusaha menyinergikan langkah pemerintah itu. DPR justru
asyik dengan melakukan pemanggilan hanya untuk meminta keterangan.
Menurut Thamrin, konflik yang sudah berlangsung hampir satu tahun itu
sebetulnya sudah mulai bisa dideteksi siapa pelaku, provokator, dan korban
pertikaian berbasis isu agama ini. Dia bilang, penyulut konflik Ambon adalah
persoalan ketidakadilan yang dipertontonkan pemerintah pusat terhadap rakyat
Maluku.

''Pemerintah, saat itu, memolitisasi konflik vertikal menjadi konflik
horizontal. Dengan cara itu, mereka berharap dapat mengurangi risiko konflik
vertikal,'' kata Ketua Koordinator Lembaga Rekonsiliasi dan Perdamaian
Indonesia (Lerai) ini.
Tentang provokator, dia mengakui bahwa ada indikasi kuat orang-orang mantan
Presiden Soeharto terlibat sebagai penyulut konflik tersebut. Indikasi itu
disimpulkan dari kenyataan bahwa para birokrat sipil dan militer di daerah
itu tidak setuju kalau Soeharto disiksa dan diadili.

Mereka menganggap bahwa Soeharto telah banyak memberikan kenikmatan materi
kepada orang-orang birokrat di daerah. ''Sehingga kalau Soeharto diusik,
mereka tidak bisa menerima. Untuk itu, mereka membuat kekacauan di sejumlah
daerah,'' papar Tamrin.
Berdasarkan analisisnya, cukup banyak bukti bahwa militer dan Cendana
menjadi penyebab konflik masyarakat. Militer, katanya, menjadi biang
kerusuhan karena mereka punya kepentingan di sana. Apa kepentingan mereka?

Menurut Tamrin, militer menciptakan konflik baru untuk memperlambat gerakan
reformasi yang akan menggusur kroni Soeharto dan mencabut dwifungsi TNI.
''Mereka akan mengerem gerak reformasi. Pemerintah dibuat kalang kabut,''
ujarnya yakin.
Sementara itu, Suaedi Marasabessy yang kini menjadi Kasum TNI ini menegaskan
bahwa rekonsiliasi adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik di
Ambon. Sayangnya, dia tak mau menjelaskan format rekonsiliasi tersebut.

Dia malah menyatakan bahwa konflik di Ambon ini adalah masalah yang sangat
sensitif. Karena itu, jika masalah tersebut di-blow up media massa
dikhawatirkan akan timbul persepsi yang keliru pada dua kelompok yang
bertikai. ''Saya mohon maaf tidak bisa bicara banyak. Mohon dimengerti
itu,'' ujarnya sembari masuk ke mobil.
Yang jelas, rapat panja yang berlangsung 2 jam itu kemarin tak menghasilkan
kesepakatan apa pun. Tim 19 yang dipimpin Suaedi juga tak mau menjelaskan
isi rapat tersebut. Dia bilang tak punya kewenangan untuk memberikan
penjelasan. ''Yang akan memberikan keterangan nanti panja,'' kata Kasum TNI
ini.

Anggota panja dari Partai Bulan Bintang, Hamdan Zoelvan, menjelaskan bahwa
banyak bias informasi dalam kasus Ambon. Karena itu, dia minta pejabat
pemerintah dan tokoh-tokoh pusat untuk mengorfirmasikan informasi dari pihak
lain.
''Banyak contoh yang terjadi. Ada penembakan yang dilakukan oleh orang
Kristen, sementara juga dikatakan telah dilakukan oleh umat Islam,'' kata
Hamdan setelah mengikuti rapat panja dengan Tim 19.

Dia setuju dengan Thamrin bahwa ada indikasi kuat oknum aparat terlibat
dalam konflik yang sudah menelan ratusan jiwa manusia itu. Karena itu, kata
Hamdan, aparat harus segera melakukan klarifikasi dan penyelidikan secara
mendalam terhadap indikasi tersebut.
Bagaimana soal usulan pemberlakuan garis demarkasi? ''Upaya itu bisa
dilakukan sebagai penyelesaian akhir jika tidak ada jalan lain,'' kata
Hamdan. Dia berpendapat, penyelesaian model itu hanya bersifat sementara.
Tujuannya, menghindari meluasnya aksi kekerasan. Yang perlu segera
dilakukan, menurut Hamdan, melakukan mediasi terhadap kedua kelompok
sehingga terjadi dialog.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Dec 1999 jam 03:57:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke