----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

KPP HAM Ajak Nasution Sama-sama ke Timtim

Jakarta, Kompas
Senin, 20 Desember 1999

Ketua Komisi Penyelidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Timor Timur (KPP HAM
Timtim) Albert Hasibuan membantah kesan yang diperoleh Adnan Buyung Nasution
(Ketua Tim Advokasi HAM Perwira TNI) bahwa kegagalan Nasution masuk ke
Timtim adalah karena konspirasi antara Komisi Nasional HAM, Pasukan
Internasional di Timtim (Interfet), dan United Nations Transitional
Administration in East Timor (UNTAET).

"Nggak ada konspirasi. Konspirasi apa? Lebih baik kita sama-sama saja ke
Timtim untuk melihat dari dekat hasil praktik bumi hangus di Timtim. Mari
kita juga ke Suai sama-sama untuk melihat lokasi pembunuhan di gereja Suai,"
ucap Hasibuan kepada Kompas di Jakarta, Minggu (19/12).

Seperti diberitakan, setelah gagal ke Timtim, Nasution memperoleh kesan
adanya konspirasi antara Komnas HAM, Interfet, dan UNTAET. Namun, Nasution
mengaku kesan yang diperolehnya juga bisa salah. (Kompas, Sabtu (18/12)

UNTAET dalam siaran persnya juga membantah telah tidak memberikan akses
kepada Nasution. "Tidak benar, Interfet dan UNTAET menolak Nasution. Kami
katakan silakan datang, tetapi berikan pemberitahuan kepada kami lebih dari
24 jam," ujar Sidney Jones, staf hak asasi manusia unit UNTAET.

"Tak ada delegasi dari negara mana pun, meminta dengan segera masuk ke
Timtim, terlebih dengan anggota delegasi 27 orang," kata Sidney Jones seraya
menambahkan, kala itu Nasution juga tidak menginformasikan berapa lama akan
di Timtim dan siapa saja yang akan ditemui. "Kami kesulitan akomodasi,
transportasi, dan keamanan," ujar Sidney Jones.

Bukan alasan

Menanggapi kesimpulan sementara Tim Advokasi HAM Perwira TNI bahwa
pelanggaran HAM terjadi karena ekspresi kekecewaan masyarakat, Hasibuan
mengatakan, alasan itu tidak bisa dijadikan pembenar. Kesalahan sejarah dan
adanya kekecewaan masyarakat bukan merupakan alasan untuk membenarkan
terjadi pelanggaran HAM.

"Senang atau tidak senang kita harus mengakui. Kalaupun ada kesalahan pada
pelaksanaan penentuan pendapat yang diselenggarakan Unamet (Misi PBB di
Timtim-Red) bukan merupakan legitimasi untuk pelanggaran HAM," ucap
Hasibuan.

KPP HAM, mulai Senin ini, akan melakukan serangkaian pertemuan dengan
berbagai pihak yang dianggap mengetahui proses terjadi pelanggaran HAM di
Timtim. Mantan Panglima TNI Jenderal Wiranto termasuk orang yang akan
dimintai keterangan.

Di Bina Graha, hari Sabtu, Wiranto dalam jumpa pers mengatakan, dipanggil
atau tidak dipanggil, diminta atau tidak diminta, ia akan memberi penjelasan
atau keterangan kepada KPP HAM mengenai masalah Timor Timur. Ia juga
menyesalkan terhadap publikasi hasil pengumpulan fakta oleh KPP HAM yang
dinilainya bersifat sepihak.

Kepada wartawan, Wiranto secara panjang lebar menjelaskan kronologi situasi
di Timtim sampai diselenggarakan penentuan pendapat dan setelah peristiwa
itu. Ia menceritakan keikutsertaannya dalam kancah Timtim pada tahun 1976,
dan dalam proses pembuatan kebijakan yang menyangkut diselenggarakan
penentuan pendapat di wilayah itu belum lama ini.

Mantan Menhankam/ Panglima TNI di masa pemerintahan BJ Habibie tersebut
mengatakan pula, KPP HAM memang perlu diberi fakta, diberi data. Karena,
katanya lagi, tugas KPP HAM mencari data dan fakta untuk diserahkan kepada
pemerintah, dan bukan penyelidik, bukan penuntut.

Ia mengatakan, publikasi dari hasil pengumpulan fakta dan keterangan yang
dilakukan KPP HAM telah memperberat masalah. Wiranto menunjukkan fakta yang
dikumpulkan dan kemudian dipublikasikan KPP HAM tersebut sebagian besar
masih berasal dari pihak Unamet, Interfet, dan masyarakat prokemerdekaan.
"Belum ada penjelasan yang diminta dari pihak Indonesia, militer Indonesia,
birokrasi Indonesia dan yang pro-integrasi. Baru sedikit sekali. Tetapi itu
sudah diekspos," ujarnya.

"Ini yang kita sesalkan," ujarnya. Kemudian ia mengatakan, permintaan
bantuan hukum kepada Adnan Buyung Nasution serta kawan-kawannya itu, antara
lain untuk mencegah adanya kesewenang-wenangan hukum terhadap pihaknya,
terutama kepada TNI. Jadi, bukan untuk menghadapi pengadilan yang belum
tentu berlangsung.

Bekerja

Sementara Ketua PBHI Hendardi, pengajar Universitas Indonesia Harkristuti
Harkrisnowo, dan Ketua Departemen Luar Partai Amanat Nasional (PAN) Bara
Hasibuan, yang dihubungi terpisah Minggu mengatakan, kunjungan Nasution dan
kawan-kawan ke Timtim dinilai hanya ingin menggalang opini publik. Publik
domestik dan internasional digiring untuk melihat bahwa tim yang dipimpin
pendiri YLBHI memang benar-benar bekerja, tetapi upaya itu semua gagal.

Harkristuti menyatakan bahwa dirinya menolak bergabung ke dalam tim pimpinan
Nasution. Ia mengatakan, apa yang dilakukan Nasution hanya sebatas
mengumpulkan informasi, dan bukan mengumpulkan fakta yang ada di lapangan
yang ada di kawasan Timtim di mana fokus perhatian dunia ada di sana."

Untuk itu menurut Harkristuti, informasi lisan satu sisi (one sided
information) yang dikumpulkan Nasution harus ditindaklanjuti dan jangan
berhenti pada keterangan sepihak itu. Bahwa ada keluarga korban kekerasan
pascapenentuan pendapat perlu dikumpulkan juga oleh Buyung Nasution.

Hendardi meminta Nasution menjelaskan metode penelitian sehingga bisa sampai
pada sebuah kesimpulan sementara. "Apakah hanya dengan mewawancarai mantan
milisi pro-integrasi, pengungsi, mantan pejabat militer setempat, melihat
perbatasan dan melihat proses kembalinya para pengungsi lalu bisa sampai
pada sebuah kesimpulan sementara? Ini 'kan sepihak juga. Kalau itu yang
dilakukannya, maka kerja Nasution sangat jauh dari apa yang dinamakan metode
pencarian fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dari sisi ilmiah," demikian
Hendardi.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Dec 1999 jam 06:45:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke