----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kompas, Selasa, 18 Januari 2000

Nurcholish Madjid: Gus Dur Harus Dipertahankan

Jakarta, Kompas
Cendekiawan Nurcholish Madjid (Cak Nur) menepis keinginan
sejumlah orang untuk mengganti pemerintahan yang dipimpin
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Wakil Presiden Megawati
Soekarnoputri. Meski daftar kekecewaan terhadap pemerintahan Gus
Dur-Megawati bisa sangat panjang, namun menurut Cak Nur, peran
yang dimainkan kekuatan oposisi di Indonesia sebaiknya terbatas
meminimalisasi sisi-sisi kekurangan Gus Dur. "Bila karena kecewa
lalu Gus Dur dijatuhkan dan diganti oleh pemerintah baru, tidak
ada satu pun yang bisa selamat. Ukuran kecewa sangat cair
sehingga yang terjadi kemudian adalah balas-membalas politik
yang tidak ada habisnya dan kita akan dikutuk sampai tiga
generasi," demikian Cak Nur dalam orasi politiknya dalam acara
halal bihalal yang diselenggarakan Komite Independen Pemantau
Pemilu (KIPP) di Jakarta, Senin (17/1) malam.

Menurut Cak Nur, dalam menyikapi pemerintahan Gus Dur sebaiknya
semua pihak mengikuti prinsip menunda kesenangan. Mengganti
pemerintahan Gus Dur, bisa menyenangkan tetapi akan meninggalkan
benih konflik yang tiada habisnya.

Cak Nur menekankan kembali perlunya masyarakat bersabar terhadap
pemerintahan Gus Dur. Berbagai kerusuhan yang terjadi saat ini,
menurut dia, merupakan harga dari demokrasi meski Cak Nur tidak
bermaksud menyepelekan jiwa manusia.

Gus Dur, kata Cak Nur, merupakan presiden pertama yang secara
sadar memperjuangkan pluralisme, toleransi, antikekerasan, dan
menyadari sepenuhnya bahwa ia mewakili masyarakat secara
keseluruhan. "Aset itu harus ditabung terlebih dulu," kata
Rektor Universitas ParamadinaMulya ini.

Hukuman yang pantas diberikan kepada Gus Dur, menurut Cak Nur,
tidak lain adalah tidak memberikan kesempatan untuk menjadi
presiden untuk kedua kali apabila dinilai gagal.

Membangun oposisi

Cak Nur mengemukakan, Sidang Umum MPR 1999 merupakan kesempatan
bagi bangsa Indonesia untuk melembagakan oposisi. Namun
kenyataannya semua ingin menjadi "priyayi", masuk kabinet, dan
dapat pangkat. Godaan untuk menjabat itu begitu kuat karena
biasanya jabatan sejajar dengan kekayaan. Oleh karena itu,
menurut Cak Nur, perlunya oposisi harus terus ditanamkan dalam
masyarakat sampai masyarakat merasa terhormat untuk menjadi
oposisi, berada di luar pemerintahan, dan tidak mempunyai
derajat atau pangkat.

Oposisi, kata Cak Nur, tidak harus dipahami sebagai menentang.
Dalam konteks politik, oposisi merupakan kekuatan penyeimbang
karena persoalan sosial dan politik tidak boleh dipertaruhkan
pada itikad baik pribadi. Oposisi diperlukan untuk mengingatkan
bahwa tidak ada orang yang tidak bisa berbuat salah.

Indonesia, lanjut Cak Nur, sudah berhasil mencapai tahap
demokrasi. Tahapan selanjutnya adalah tahap yang sangat sulit,
tahap yang menuntut kedewasaan dan kesanggupan menerima
keragaman. Persoalan yang dihadapi adalah bangsa Indonesia masih
belum terlatih menyelesaikan masalah melalui otot bukan akal.
Padahal demokrasi tidak bisa didukung oleh mob politics.

Menurut Cak Nur, Indonesia merupakan bangsa yang relatif baru
dan dengan pengalaman yang panjang sebagai masyarakat terjajah.
Demokrasi, kata Cak Nur, bukanlah sesuatu yang jatuh dari atas
melainkan kategori dinamis yang tumbuh melalui pengalaman dan
eksperimentasi. Dalam eksperimentasi ini ada masalah mencoba dan
salah (trial and error).

"Dalam pemerintahan Gus Dur-Megawati, trial and error-nya
dominan. Yang perlu dicegah jangan sampai error-nya banyak
sekali sehingga membatalkan seluruh proses demokrasi yang ada,"
kata Cak Nur.

Oposisi penting

Sekjen KIPP Mulyana W Kusumah mengemukakan pentingnya membangun
oposisi di Indonesia. Pemerintahan Gus Dur, kata Mulyana,
menghadapi berbagai persoalan, seperti ketidakmampuan mengambil
langkah strategis dalam masalah disintegrasi, kekhawatiran
munculnya neokroniisme akibat politik akomodasi dan neo-
otoritarianisme, dan relasi parpol dengan pemerintah yang
menutup peluang oposisi parlementer.

Bertolak dari penilaian itu Mulyana mengemukakan, penumbuhan
oposisi parlementer maupun ekstraparlementer yang konstruktif
menjadi sangat penting. Tiga fungsi yang harus dijalankan
serentak adalah institusionalisasi kontrol politik yang efektif,
konsolidasi demokrasi dengan penguatan partisipasi, dan prevensi
atas kemungkinan dipilihnya jalan keluar inkonstitusional.

"Tanpa oposisi parlementer dan ekstraparlementer yang efektif
mengancam munculnya replikasi rezim otoritarian gaya baru dan
tertutupnya jalan demokrasi yang emansipatif," kata Mulyana.
(wis)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 03:26:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke