----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
21 Januari, 00
------------------------

Indonesia - Belanda,
Suatu "Love and Hate Relation"
(Ditulis dalam rangka kunjungan Presiden Gus Dur mendatang ke Belanda)

1) Menjelang kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke Belanda yang
direncanakan pada permulaan Februari ini, Menlu Belanda Van Aartsen datang
ke Indonesia . Van Aartsen sebelum berangkat ke Jakarta, dengan Van Aartsen
sesudah berkunjung ke Indonesia <dan cakap-cakap dengan counerpartnya di
Indonesia, Menlu Alwi Shihaab, lalu dtierima oleh Presiden Gus Dur> , adalah
Menlu Van Aartsen dari partai VVD yang sama. Tetapi yang menarik adalah
sikapnya yang berbeda bila dibanding pada masa sebelum, dan ketika sesudah
berkunjung ke Indonesia. Sebelum berangkat ke Jakarta, Van Aartsen pernah
menolak menerima Gus Dur< waktu itu beliau masih belum presiden RI>, ketika
beliau sedang berkunjung ke Belanda tahun y.l. Alasannya, karena tidak ada
waktu. Dalam kolom ini, beberapa minggu y.l.  penulis telah mengecam sikap
tinggi hati Van Aartsen tsb yang menunjukkan masih meletaknya  sisa-sisa
mentalitas kolonialis yang masih bercokol di Den Haag.

Adalah Van Aartsen yang sama itu juga, yang sekembalinya  dari Indonesia
minggu y.l., menyatakan bahwa, ia "amat terkesan" dengan beleid Presiden
Wahid mengenai masalah diakhirinya kekerasan di Maluku dan daerah-daerah
lain yang ada soal serupa, seperti di Aceh dan Lombok. "Pokoknya Presiden
Wahid patut memperoleh sokongan kita dan sokongan dari Uni Eropah", kata Van
Aartsen.

Mengenai keadaan hubungan kedua negeri, Indonesia dan Belanda, Menlu Van
Aartsen menyatakan: "Hubungan tsb lebih daripada baik. Saya telah mengalami
hari istimewa yang hangat. Di negeri ini sedang berlangsung suatu
perkembangan yang fantastis. Terdapat demokrasi, suatu renaissance
Indonesia. Di mana Nederland bisa memberikan sumbangan-nya, di situ kita mau
berbuat sesuatu <untuk Indonesia>". Alangkah indah dan bersahabatnya kesan
yang didapat  oleh Van Aartsen dari kunjungannya ke negeri kita. Pokoknya
antara Belanda dengan Indonesia, tidak ada soal. Demikian Van Aartsen.

Tapi, anehnya,  sebelum Menlu Belanda itu berkunjung ke Indonesia, beliau
telah mengirimkan surat yang 'nyelekit' kepada menlu Indonesia, Alwi
Shihaab. Di dalam surat itu Van Aartsen menyatakan kekhawatiran pemerintah
Belanda mengenai situasi di Maluku. Surat tsb juga menunjukkan keragu-raguan
Belanda apakah TNI bisa mengatasi kekerasan di Indonesia. Juga Aartsen
menawarkan bantuan Belanda, atau melalui Belanda diundangnya <internvensi?>
luar, misalnya PBB, untuk menyelesaikan masalah kekerasan di Indonesia. Bagi
suatu negeri yang berdaulat tawaran seperti yang diajukan Van Aartsen itu,
tidak beda dengan suatu tuduhan bahwa pemerintah yang bersangkutan itu,
tidak mampu mengatasi masalah dalam negerinya sendiri, maka dianjurkan untuk
mengundang internvensi fihak asing. Sikap Van Aartsen ini oleh "de
Volkskrant", harian Belanda, dikatakan sebagai usaha untuk menenangkan dan
mengenakkan golongan pendukung RMS di Belanda.

2) Barangkali Van Aartsen terinspirasi oleh berlangsungnya intervensi PBB di
Timor Timur yang telah bisa meredakan situasi di TimTim dan mengarahkan
direalisasinya kemerdekaan bagi Timor Timur, suatu pilihan yang telah
dilakukan sendiri oleh rakyat Timor Timur dalam referendum y.l. Tapi, jangan
sekali-kali lupa, Timor Timur tidak sama dengan daerah-daerah Indonesia,
seperti Maluku, Aceh, Riau dan Papua dan Lombok.  Masalah Timor Timur,
bukanlah masalah dalam negeri Indonesia. Sampai tahun 1975, Timor Timur
adalah koloni Portugis. Timor Timur dulunya bukannya  bagian dari wilayah
Hindia Belanda, yang kemudian menjadi Republik Indonesia. Masalah Timor
Timur timbul karena intervensi bersenjata Indonesia ke Timor Timur, yang
sudah memproklamasikan kemerdekaannya dalam tahun 1975. PBB dan masyarakat
internasionl umumnya tidak pernah mengakui Timot Timur sebagai wilayah
Republik Indonesia. Tidak peduli  MPR di zaman Orba telah mengambil
keputusan yang "konstitusional" bahwa Timor Timur telah menjadi  propinsi
dari Indonesia. Jadi, menyamakan, atau menarik kemungkinan adanya  persamaan
antara Timor Timur dengan Aceh, Maluku, Riau, Lombok atau Papua, betul-betul
meleset Itu tidak relevan dan idiot!

Masalah TimTim ada dalam katagori masalah hak-hak bangsa-bangsa untuk
menentukan nasibnya sendiri. Sedangkan masalah Aceh, Riau, Maluku, Papua
adalah masalah kesalahan pemerintah Orba di Jakarta, yang menganak tirikan
daerah, yang melaksanakan sentralisme yang sudah menjadi otoriterisme, yang
meniadakan  demokrasi. Hal-hal minus ini kesemuanya  disalahgunakan oleh
elemen-elemen separatisme, untuk mencabik-cabik Indonesia.

3) Kembali ke masalah yang kita bicarakan pada permulaan: Mengenai hubungan
Indonesia-Belanda. Bagaimana keadaan  hubungan kedua negeri ini. Bisa
disimpulkan secara sarkartis ataupun secara dramatis,  sebagai suatu 'LOVE
AND HATE RELATION'.

Yang dimaksud dengan 'love' disini adalah yang datang dari jurusan Holland
terhadap bekas koloninya dulu. . Dan yang dikemukakan sebagai 'hate' adalah
yang pada pokoknya datang dari fihak Indonesia. Tetapi kadang-kadang juga
bisa berpindah jurusan dari mana datangnya 'love' ataupun 'hate' itu.

Fakta sejarah tidak bisa diubah.  Indonesia memperoleh kemerdekaannya bukan
sebagai hadiah dari pemerintah kolonial Belanda. Berhasilnya bangsa
Indonesia membangun suatu negara merdeka, Republik Indonesia, bukanlah
karena   b i m b i n g a n   dari gubernur jendral Belanda yang merajai
Hindia Belanda begitu lama. Indonesia mencapai kemerdekaannya adalah berkat
jerih payah dan pengorbanan yang diberikannya selama perjuangan kemerdekaan
nasional, sejak zaman kolonial Belanda. Pada ahun 1949,  pemerintah Belanda
di Den Haag, terpaksa menyetujui diadakannya Konferensi Meja Bundar dengan
Indonesia yang dipelopori dan dipimpin secara politik oleh tokoh-tokoh
pimpinan Republik Indonesia, seperti Moh. Hatta dan Moh. Rum. Konferensi
Meja Bundar menghasilkan poengakuan Belanda atas de jure kemerdekaan
Indonesia.. Republik Indonesia Serikat berdiri dari pemrintah Belanda
'menyerahkan' kedaulatan Indonesia kepada RIS. Barangkali sejenak terdapat
hubungan 'love' antara Indonesia dan Belanda ketika itu. Tapi sebentar saja,
karena, ketika sudah  mulai tampil kepermukaan hubungan 'love and hate'
antara Indonesia dan Belanda.

Hubungan "love" berlangsung pada zaman Orba, dengan jatuhnya Bung Karno
sebagai presiden dan naiknya jendral Suharto sebagai kepala negara
Indonesia. Ketika itu  terdapatlah suasana 'love' antara Indonesia dengan
Belanda. Modal Belanda, yang dinasionalisasi oleh pemerintah Sukarno,
beroperasi lagi di Indonesia. Ratu Juliana dan Pengeran Bernhard mengadakan
kunjungan kenegaraan ke Indonesia.Lalu mantan presiden Suharto berkunjung ke
Belanda. Banyak orang tahu bahwa sebenarnya Bung Karno ada juga keinginan
untuk mengadakan kunjungan persahabatan ke Belanda . Beliau tahu bahwa
rakyat Belanda adalah rakyat yang bersahabat dengan Indonesia. Ini tidak
sampai kejadian, karena antara Indonesia dan Belanda di bawah pemerintahan
mantan presiden Sukarno, masih banyak masalah yang  belum selesai. Meskipun
kekuasaan politik dan militer Belanda sudah meninggalkan Indonesia, fihak
Belanda sejak semula, selalu berusaha untuk menggerowoti kemerdekaan
Indonesia. Antara lain  melalui gerakan militer kapten Westerling yang
berkedok ' APRA' <angkatan perang Ratu Adil>, dukungan terhadap gerakan RMS,
aksi subversif Jungslaeger, dan penganggakangan atas Irian Barat. Belanda
berusaha keras untuk mempertahankan kepentingan ekonominya di Indonesia.

Latar belakangnya ialah karena, , Hindia Belanda yang begitu 'dicintainya'
dan begitu banyak membawa keuntungan dan kekayaan, terpaksa dilepaskannya.
Indonesia gembira, Belanda sedih. Tapi Indonesia juga tidak senang dan benci
kepada Belanda, karena masih ada masalah Irian Barat, yang tersisa
penyelesaiannya. Sengaja disisakan oleh fihak Belanda yang masih belum bisa
melepaskan politik kolonialnya. Indonesia berjuang terus. Harus diakui,
bahwa mantan Presiden Sukarno tidak sekejappun melupakan bahwa Irian Barat
adalah wilayah Indonesia, maka beliau  terus memimpin bangsa Indonesia
memperjuangkannya, sampai akhirnya Irian Barat kembali kepangkuan Ibu
Pertiwi. Di sini lagi-lagi Indonesia senang dan Belanda sedih dan marah.

4) Sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya,  ada dua pandangan
mengenai kemerdekaan Indonesia. Kita beranggap bahwa , Indonesia merdeka
sejak proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda baru
mengakui kemerdekaan Indonesia pada waktu 'penyerahan kedaulatan' kepada
fihak Indonesia pada akhir tahun 1949, sesudah ditandatanganinya Persetujuan
Konferensi Meja Bundar (KMB) oleh kedua belah fihak. Maka Indonesia selalu
memperingati dan merayakan hari nasionalnya pada tanggal 17 Agustus, yaitu
hari prokalamasi kemerdekaan Indonesia. Tetapi fihak Belanda tidak pernah
mengakuinya. Maka ketika Ratu Beatrix bersama Pangeran Claus mengadakan
kunjungan kenegaraan pada tahun 1995, beliau-beliau itu tidak bersedia
menghadiri hari ultah ke-50 Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus.
Mereka berkunjung ke Indonesia beberapa hari kemudian. Bagi Belanda masih
ada  masalah untuk membenarkan kepala negaranya resmi menghadiri Ultah
Proklamasi 1945.

Ganjelan lain yang meneruskan 'love and hate relation' antara Indonesia dan
Belanda, adalah tidak adanya pengakuan pemerintah Belanda, bahwa selama
ratusan tahun mereka menjajah Indonesia, fihak kolonial Belanda telah
melakukan hal -hal yang buruk dan tercela terhadap bangsa Indonesia. Untuk
itu seyogianya pemerintah Belanda minta maaf kepada bangsa Indonesia. Tetapi
itu tidak pernah dilakukannya. Sebenarnya kesempatan itu ada ketika Ratu
Betrix ke Indonesia dalam tahun 1995. Di Belanda sampai kini di kalangan apa
yang disebut orang-orang Belanda bekas-bekas "KNIL", masih saja ada yang
berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan di Indonesia dulu, menunjang
kolonialisme dan menentang kemerdekaan Indonesia, adalah tugas kerajaan yang
mulya dan harus dihormati. Maka mereka aktif sekali menentang Poncke
Princen, mantan tentara Belanda, yang menyeberang ke fihak Indonesia ketika
perang kemerdekaan, diberikan visa masuk Belanda untuk menengok keluarganya.
Bekas-bekas KNIL tsb masih belum rela dengan merdekanya Indonesia.

Soal yang paling berat, ialah sikap Belanda terhadap Bung Karno. Bagi kita,
Bung Karno adalah patriot pejuang kemerdekaan sejak zaman kolonial Belanda.
Beliau  adalah proklamator Republik Indonesia, dan salah seorang 'founding
fathers' dari nasion dan Republik Indonesia. Beliau adalah pahlawan.
Bagaimana halnya sikap Belanda terhadap Bung Karno?

Dalam waktu panjang, mungkin sampai sekarang, pandangan bahwa Bung Karno
adalah 'kolaborator' Jepang, artinya kolabotor dengan musuh, masih ada di
kalangan pemerintah dan masyarakat Belanda. Hal ini masih tampak ketika di
Amsterdam tahun yang lalu diadakan simposium mengenai masa pendudukan Jepang
terhadap Indonesia. Masih dicetuskan juga di dalam seminar tsb tuduhan bahwa
Bung Karno adalah "kolaborator" Jepang. Karena kebetulan penulis ini hadir
di situ, maka telah melakukan bantahan yang keras atas tuduhan rendah tsb.

Sesungguhnuya mengenai masalah proklamasi Republik Indonesia dan masalah
sikap terhadap mantan presiden Sukarno, adalah dua soal yang erat bertalian,
yang menyebabkan selalu ada ganjelan antara hubungan 'love and hate' antara
kita dan Belanda.

Seyogianyya fihak Belanda mengambil langkah inisiatif untuk menyelesaikan
masalah tsb.
Kesempatan Presiden Abdurrahman Wahid mengadakan kunjungan kenegaraan ke
kerajaan Belanda, diterima oleh Ratu Beatrix dan Pangeran Claus, dan akan
berpidato di sidang paripurna Tweede Kamer <DPR Belanda>, adalah saat yang
baik dimana fihak pemerintah Belanda menyatakan penyesalan dan permintaan
maaf mereka atas politik dan tindakan kolonial mereka, yang sampai dua kali
melancarkan perang yang mereka juluki "Aksi Polisionil" terhdap bangsa kita.
Pemerintah Belanda juga sebaiknya  menggunakan kesempatan tsb untuk
menyatakan respek mereka  terhadap proklamator dan pendiri Republik
Indonesia, mantan Presiden Sukarno. Dengan demikian menghapuskan tuduhan
mereka selama ini bahwa Bung Karno adalah 'kolaborator' Jepang.

Dengan mulainya era demokrasi dan memberlakukan HAM di Indonesia di bawah
Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri,
pemerintah Belanda sebaiknya menggunakan kesempatan ini untuk memperbaharui
hubungan antara kedua rakyat dan negeri, bukan lagi suatu hubungan 'love and
hate', tetapi suatu hubungan sama derajat yang wajar, saling menghargai,
saling menguntungkan  dan saling tidak campur tangan dalam urusan dalam
negeri masing-masing.

Dengan demikian diharapkan dimulailah  era baru dalam hubungan antar
Indonesia dan Belanda. Insya Allah.

* * * * *

 Kolom IBRAHIM ISA
21 Januari, 00
------------------------

Indonesia - Belanda,
Suatu "Love and Hate Relation"
(Ditulis dalam rangka kunjungan Presiden Gus Dur mendatang ke Belanda)

1) Menjelang kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke Belanda yang
direncanakan pada permulaan Februari ini, Menlu Belanda Van Aartsen datang
ke Indonesia . Van Aartsen sebelum berangkat ke Jakarta, dengan Van Aartsen
sesudah berkunjung ke Indonesia <dan cakap-cakap dengan counerpartnya di
Indonesia, Menlu Alwi Shihaab, lalu dtierima oleh Presiden Gus Dur> , adalah
Menlu Van Aartsen dari partai VVD yang sama. Tetapi yang menarik adalah
sikapnya yang berbeda bila dibanding pada masa sebelum, dan ketika sesudah
berkunjung ke Indonesia. Sebelum berangkat ke Jakarta, Van Aartsen pernah
menolak menerima Gus Dur< waktu itu beliau masih belum presiden RI>, ketika
beliau sedang berkunjung ke Belanda tahun y.l. Alasannya, karena tidak ada
waktu. Dalam kolom ini, beberapa minggu y.l.  penulis telah mengecam sikap
tinggi hati Van Aartsen tsb yang menunjukkan masih meletaknya  sisa-sisa
mentalitas kolonialis yang masih bercokol di Den Haag.

Adalah Van Aartsen yang sama itu juga, yang sekembalinya  dari Indonesia
minggu y.l., menyatakan bahwa, ia "amat terkesan" dengan beleid Presiden
Wahid mengenai masalah diakhirinya kekerasan di Maluku dan daerah-daerah
lain yang ada soal serupa, seperti di Aceh dan Lombok. "Pokoknya Presiden
Wahid patut memperoleh sokongan kita dan sokongan dari Uni Eropah", kata Van
Aartsen.

Mengenai keadaan hubungan kedua negeri, Indonesia dan Belanda, Menlu Van
Aartsen menyatakan: "Hubungan tsb lebih daripada baik. Saya telah mengalami
hari istimewa yang hangat. Di negeri ini sedang berlangsung suatu
perkembangan yang fantastis. Terdapat demokrasi, suatu renaissance
Indonesia. Di mana Nederland bisa memberikan sumbangan-nya, di situ kita mau
berbuat sesuatu <untuk Indonesia>". Alangkah indah dan bersahabatnya kesan
yang didapat  oleh Van Aartsen dari kunjungannya ke negeri kita. Pokoknya
antara Belanda dengan Indonesia, tidak ada soal. Demikian Van Aartsen.

Tapi, anehnya,  sebelum Menlu Belanda itu berkunjung ke Indonesia, beliau
telah mengirimkan surat yang 'nyelekit' kepada menlu Indonesia, Alwi
Shihaab. Di dalam surat itu Van Aartsen menyatakan kekhawatiran pemerintah
Belanda mengenai situasi di Maluku. Surat tsb juga menunjukkan keragu-raguan
Belanda apakah TNI bisa mengatasi kekerasan di Indonesia. Juga Aartsen
menawarkan bantuan Belanda, atau melalui Belanda diundangnya <internvensi?>
luar, misalnya PBB, untuk menyelesaikan masalah kekerasan di Indonesia. Bagi
suatu negeri yang berdaulat tawaran seperti yang diajukan Van Aartsen itu,
tidak beda dengan suatu tuduhan bahwa pemerintah yang bersangkutan itu,
tidak mampu mengatasi masalah dalam negerinya sendiri, maka dianjurkan untuk
mengundang internvensi fihak asing. Sikap Van Aartsen ini oleh "de
Volkskrant", harian Belanda, dikatakan sebagai usaha untuk menenangkan dan
mengenakkan golongan pendukung RMS di Belanda.

2) Barangkali Van Aartsen terinspirasi oleh berlangsungnya intervensi PBB di
Timor Timur yang telah bisa meredakan situasi di TimTim dan mengarahkan
direalisasinya kemerdekaan bagi Timor Timur, suatu pilihan yang telah
dilakukan sendiri oleh rakyat Timor Timur dalam referendum y.l. Tapi, jangan
sekali-kali lupa, Timor Timur tidak sama dengan daerah-daerah Indonesia,
seperti Maluku, Aceh, Riau dan Papua dan Lombok.  Masalah Timor Timur,
bukanlah masalah dalam negeri Indonesia. Sampai tahun 1975, Timor Timur
adalah koloni Portugis. Timor Timur dulunya bukannya  bagian dari wilayah
Hindia Belanda, yang kemudian menjadi Republik Indonesia. Masalah Timor
Timur timbul karena intervensi bersenjata Indonesia ke Timor Timur, yang
sudah memproklamasikan kemerdekaannya dalam tahun 1975. PBB dan masyarakat
internasionl umumnya tidak pernah mengakui Timot Timur sebagai wilayah
Republik Indonesia. Tidak peduli  MPR di zaman Orba telah mengambil
keputusan yang "konstitusional" bahwa Timor Timur telah menjadi  propinsi
dari Indonesia. Jadi, menyamakan, atau menarik kemungkinan adanya  persamaan
antara Timor Timur dengan Aceh, Maluku, Riau, Lombok atau Papua, betul-betul
meleset Itu tidak relevan dan idiot!

Masalah TimTim ada dalam katagori masalah hak-hak bangsa-bangsa untuk
menentukan nasibnya sendiri. Sedangkan masalah Aceh, Riau, Maluku, Papua
adalah masalah kesalahan pemerintah Orba di Jakarta, yang menganak tirikan
daerah, yang melaksanakan sentralisme yang sudah menjadi otoriterisme, yang
meniadakan  demokrasi. Hal-hal minus ini kesemuanya  disalahgunakan oleh
elemen-elemen separatisme, untuk mencabik-cabik Indonesia.

3) Kembali ke masalah yang kita bicarakan pada permulaan: Mengenai hubungan
Indonesia-Belanda. Bagaimana keadaan  hubungan kedua negeri ini. Bisa
disimpulkan secara sarkartis ataupun secara dramatis,  sebagai suatu 'LOVE
AND HATE RELATION'.

Yang dimaksud dengan 'love' disini adalah yang datang dari jurusan Holland
terhadap bekas koloninya dulu. . Dan yang dikemukakan sebagai 'hate' adalah
yang pada pokoknya datang dari fihak Indonesia. Tetapi kadang-kadang juga
bisa berpindah jurusan dari mana datangnya 'love' ataupun 'hate' itu.

Fakta sejarah tidak bisa diubah.  Indonesia memperoleh kemerdekaannya bukan
sebagai hadiah dari pemerintah kolonial Belanda. Berhasilnya bangsa
Indonesia membangun suatu negara merdeka, Republik Indonesia, bukanlah
karena   b i m b i n g a n   dari gubernur jendral Belanda yang merajai
Hindia Belanda begitu lama. Indonesia mencapai kemerdekaannya adalah berkat
jerih payah dan pengorbanan yang diberikannya selama perjuangan kemerdekaan
nasional, sejak zaman kolonial Belanda. Pada ahun 1949,  pemerintah Belanda
di Den Haag, terpaksa menyetujui diadakannya Konferensi Meja Bundar dengan
Indonesia yang dipelopori dan dipimpin secara politik oleh tokoh-tokoh
pimpinan Republik Indonesia, seperti Moh. Hatta dan Moh. Rum. Konferensi
Meja Bundar menghasilkan poengakuan Belanda atas de jure kemerdekaan
Indonesia.. Republik Indonesia Serikat berdiri dari pemrintah Belanda
'menyerahkan' kedaulatan Indonesia kepada RIS. Barangkali sejenak terdapat
hubungan 'love' antara Indonesia dan Belanda ketika itu. Tapi sebentar saja,
karena, ketika sudah  mulai tampil kepermukaan hubungan 'love and hate'
antara Indonesia dan Belanda.

Hubungan "love" berlangsung pada zaman Orba, dengan jatuhnya Bung Karno
sebagai presiden dan naiknya jendral Suharto sebagai kepala negara
Indonesia. Ketika itu  terdapatlah suasana 'love' antara Indonesia dengan
Belanda. Modal Belanda, yang dinasionalisasi oleh pemerintah Sukarno,
beroperasi lagi di Indonesia. Ratu Juliana dan Pengeran Bernhard mengadakan
kunjungan kenegaraan ke Indonesia.Lalu mantan presiden Suharto berkunjung ke
Belanda. Banyak orang tahu bahwa sebenarnya Bung Karno ada juga keinginan
untuk mengadakan kunjungan persahabatan ke Belanda . Beliau tahu bahwa
rakyat Belanda adalah rakyat yang bersahabat dengan Indonesia. Ini tidak
sampai kejadian, karena antara Indonesia dan Belanda di bawah pemerintahan
mantan presiden Sukarno, masih banyak masalah yang  belum selesai. Meskipun
kekuasaan politik dan militer Belanda sudah meninggalkan Indonesia, fihak
Belanda sejak semula, selalu berusaha untuk menggerowoti kemerdekaan
Indonesia. Antara lain  melalui gerakan militer kapten Westerling yang
berkedok ' APRA' <angkatan perang Ratu Adil>, dukungan terhadap gerakan RMS,
aksi subversif Jungslaeger, dan penganggakangan atas Irian Barat. Belanda
berusaha keras untuk mempertahankan kepentingan ekonominya di Indonesia.

Latar belakangnya ialah karena, , Hindia Belanda yang begitu 'dicintainya'
dan begitu banyak membawa keuntungan dan kekayaan, terpaksa dilepaskannya.
Indonesia gembira, Belanda sedih. Tapi Indonesia juga tidak senang dan benci
kepada Belanda, karena masih ada masalah Irian Barat, yang tersisa
penyelesaiannya. Sengaja disisakan oleh fihak Belanda yang masih belum bisa
melepaskan politik kolonialnya. Indonesia berjuang terus. Harus diakui,
bahwa mantan Presiden Sukarno tidak sekejappun melupakan bahwa Irian Barat
adalah wilayah Indonesia, maka beliau  terus memimpin bangsa Indonesia
memperjuangkannya, sampai akhirnya Irian Barat kembali kepangkuan Ibu
Pertiwi. Di sini lagi-lagi Indonesia senang dan Belanda sedih dan marah.

4) Sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya,  ada dua pandangan
mengenai kemerdekaan Indonesia. Kita beranggap bahwa , Indonesia merdeka
sejak proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda baru
mengakui kemerdekaan Indonesia pada waktu 'penyerahan kedaulatan' kepada
fihak Indonesia pada akhir tahun 1949, sesudah ditandatanganinya Persetujuan
Konferensi Meja Bundar (KMB) oleh kedua belah fihak. Maka Indonesia selalu
memperingati dan merayakan hari nasionalnya pada tanggal 17 Agustus, yaitu
hari prokalamasi kemerdekaan Indonesia. Tetapi fihak Belanda tidak pernah
mengakuinya. Maka ketika Ratu Beatrix bersama Pangeran Claus mengadakan
kunjungan kenegaraan pada tahun 1995, beliau-beliau itu tidak bersedia
menghadiri hari ultah ke-50 Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus.
Mereka berkunjung ke Indonesia beberapa hari kemudian. Bagi Belanda masih
ada  masalah untuk membenarkan kepala negaranya resmi menghadiri Ultah
Proklamasi 1945.

Ganjelan lain yang meneruskan 'love and hate relation' antara Indonesia dan
Belanda, adalah tidak adanya pengakuan pemerintah Belanda, bahwa selama
ratusan tahun mereka menjajah Indonesia, fihak kolonial Belanda telah
melakukan hal -hal yang buruk dan tercela terhadap bangsa Indonesia. Untuk
itu seyogianya pemerintah Belanda minta maaf kepada bangsa Indonesia. Tetapi
itu tidak pernah dilakukannya. Sebenarnya kesempatan itu ada ketika Ratu
Betrix ke Indonesia dalam tahun 1995. Di Belanda sampai kini di kalangan apa
yang disebut orang-orang Belanda bekas-bekas "KNIL", masih saja ada yang
berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan di Indonesia dulu, menunjang
kolonialisme dan menentang kemerdekaan Indonesia, adalah tugas kerajaan yang
mulya dan harus dihormati. Maka mereka aktif sekali menentang Poncke
Princen, mantan tentara Belanda, yang menyeberang ke fihak Indonesia ketika
perang kemerdekaan, diberikan visa masuk Belanda untuk menengok keluarganya.
Bekas-bekas KNIL tsb masih belum rela dengan merdekanya Indonesia.

Soal yang paling berat, ialah sikap Belanda terhadap Bung Karno. Bagi kita,
Bung Karno adalah patriot pejuang kemerdekaan sejak zaman kolonial Belanda.
Beliau  adalah proklamator Republik Indonesia, dan salah seorang 'founding
fathers' dari nasion dan Republik Indonesia. Beliau adalah pahlawan.
Bagaimana halnya sikap Belanda terhadap Bung Karno?

Dalam waktu panjang, mungkin sampai sekarang, pandangan bahwa Bung Karno
adalah 'kolaborator' Jepang, artinya kolabotor dengan musuh, masih ada di
kalangan pemerintah dan masyarakat Belanda. Hal ini masih tampak ketika di
Amsterdam tahun yang lalu diadakan simposium mengenai masa pendudukan Jepang
terhadap Indonesia. Masih dicetuskan juga di dalam seminar tsb tuduhan bahwa
Bung Karno adalah "kolaborator" Jepang. Karena kebetulan penulis ini hadir
di situ, maka telah melakukan bantahan yang keras atas tuduhan rendah tsb.

Sesungguhnuya mengenai masalah proklamasi Republik Indonesia dan masalah
sikap terhadap mantan presiden Sukarno, adalah dua soal yang erat bertalian,
yang menyebabkan selalu ada ganjelan antara hubungan 'love and hate' antara
kita dan Belanda.

Seyogianyya fihak Belanda mengambil langkah inisiatif untuk menyelesaikan
masalah tsb.
Kesempatan Presiden Abdurrahman Wahid mengadakan kunjungan kenegaraan ke
kerajaan Belanda, diterima oleh Ratu Beatrix dan Pangeran Claus, dan akan
berpidato di sidang paripurna Tweede Kamer <DPR Belanda>, adalah saat yang
baik dimana fihak pemerintah Belanda menyatakan penyesalan dan permintaan
maaf mereka atas politik dan tindakan kolonial mereka, yang sampai dua kali
melancarkan perang yang mereka juluki "Aksi Polisionil" terhdap bangsa kita.
Pemerintah Belanda juga sebaiknya  menggunakan kesempatan tsb untuk
menyatakan respek mereka  terhadap proklamator dan pendiri Republik
Indonesia, mantan Presiden Sukarno. Dengan demikian menghapuskan tuduhan
mereka selama ini bahwa Bung Karno adalah 'kolaborator' Jepang.

Dengan mulainya era demokrasi dan memberlakukan HAM di Indonesia di bawah
Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri,
pemerintah Belanda sebaiknya menggunakan kesempatan ini untuk memperbaharui
hubungan antara kedua rakyat dan negeri, bukan lagi suatu hubungan 'love and
hate', tetapi suatu hubungan sama derajat yang wajar, saling menghargai,
saling menguntungkan  dan saling tidak campur tangan dalam urusan dalam
negeri masing-masing.

Dengan demikian diharapkan dimulailah  era baru dalam hubungan antar
Indonesia dan Belanda. Insya Allah.
* * * * *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Jan 2000 jam 04:21:39 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke