---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Republika, 22 Januari 2000 Wiranto tentang Isu Kudeta: Saya Punya Kesempatan JAKARTA -- Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Menkopolkam) Jenderal TNI Wiranto mengakui, beberapa kali mempunyai kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan. Namun, katanya, kesempatan itu tidak diambilnya dan dia memilih jalur konstitusional. Wiranto menyatakan, pihak-pihak yang mengatakan kudeta perlu memahami secara mendalam nilai-nilai di dalam TNI. ''Saya tidak akan berpolemik mengenai masalah kudeta ini, karena merupakan masalah yang sensitif. Namun, marilah kita menengok ke belakang. Pada saat saya memimpin TNI, ada beberapa kesempatan yang mengisyaratkan dengan mudah untuk mengambil alih kekuasaan,'' kata Wiranto kepada wartawan di kantornya, Jumat (21/1). Dia kemudian memberi contoh, kesempatan itu yang diakuinya bisa digunakan untuk mengambil alih kekuasaan adalah saat Sidang Istimewa, November 1999. Saat itu, puluhan ribu demonstran ingin menduduki Gedung DPR/MPR dan ingin membentuk pemerintahan Presidium. ''Dari Jembatan Semanggi ke Gedung DPR itu tinggal berapa langkah? Kalau TNI atau saya sendiri mempunyai sesuatu niat yang tidak baik, kita dengan mudah memberikan peluang: Masuk silakan! Gedung DPR diambil alih, dan setelah ada kudeta (oleh massa) itu saya tinggal melakukan anti-kudeta. Itu juga bisa,'' kata Wiranto. Pada kenyatannya, TNI memang berusaha mati-matian mempertahankan Gedung DPR/MPR. Bahkan, saat itu sempat timbul korban di pihak aparat dan demonstran. Kesempatan lainnya, lanjut Wiranto, pada saat mantan Presiden Soeharto akan turun dari jabatannya (lengser). Demikian pula pada saat pergantian kepemimpinan nasional dari Soeharto ke BJ Habibie. ''Saat itu saya mengantungi perintah untuk mengambil tindakan-tindakan dalam rangka darurat. Dan itu bisa dengan gampang bagi saya menyatakan kepada Bapak Presiden untuk mengumumkan keadaan darurat militer, yang artinya militer berkuasa,'' tegasnya. Kesempatan itu, kata mantan Panglima TNI ini, tidak diambilnya dan lebih memilih jalur konstitusional. TNI kemudian mengantarkan Soeharto lengser dan mengamankan Wakil Presiden BJ Habibie menjadi Presiden sesuai dengan Pasal 8 UUD 45. Tentang isu kudeta yang belakangan ini yang diarahkan kepadanya, Wiranto menyatakan jangan tanyakan padanya. ''Saya bukan pengamat politik. Sudah saya katakan, saya tidak akan berpolemik mengenai kabarnya dan tidak ingin menganalisis sesuatu yang sebenarnya bukan permasalahan,'' katanya. Wiranto bahkan mengharapkan, terjalinnya trust and mutual respect antara sipil dan militer di Indonesia yaitu adanya kepercayaan dan penghargaan yang tinggi satu dengan yang lain. Jika sikap itu sudah terbentuk, katanya, akan terjalin langkah kerjasama dan kebersamaan dalam suatu kesetaraan. ''Kalau seperti itu bagus karena saat ini negara-negara lain sedang memperkuat posisi angkatan bersenjatanya untuk memperkuat bargaining position di persaingan global yang sangat ketat. Mengapa justru kita beramai-ramai melemahkan TNI kita? Ini yang sangat saya sesalkan,'' lanjut Wiranto. Tentang sinyalemen bahwa dia masih mempunyai pengaruh yang kuat di TNI, Wiranto tak bersedia memberi komentar. ''Secara psikologis dan kultural memang iya. Hubungan kultural itu tidak bisa diputuskan, tapi hubungan struktural TNI mempunyai konsep yang jelas,'' katanya. Meski demikian, menurut Wiranto, dirinya tak pernah memerintahkan pejabat-pejabat struktural TNI untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak semestinya. Namun diakuinya, dia masih diundang dan menjalin komunikasi dengan pejabat-pejabat tersebut. Di saat menjabat, Wiranto mengaku tidak pernah menggunakan pendekatan like and dislike. Dia mengaku selalu berorientasi kepada pembinaan dan misi yang benar. ''Jadi jangan dikatakan ada 'orang-oragnya Pak Wiranto' dan sebagainya,'' tambahnya. Menyinggung hubungannya dengan Presiden Abdurrahman Wahid, Wiranto menegaskan tidak berubah baik dari segi kultural maupun struktural. ''Saya menghadap beliau bila memang waktunya menghadap, sesuai dengan kepentingan dan tugas yang diberikan kepada saya,'' ujarnya. Bersama Presiden dan Wapres Megawati, Wiranto mengaku sebagai satu tim. Oleh karena itu, katanya, Presiden dan Wapres jangan digoyang karena mereka nakhoda Bangsa Indonesia. ''Yang terbaik adalah berikan kesempatan kepada Presiden dan Wapres untuk mengarahkan perahu ini dengan bantuan kita-kita ini,'' katanya memberi ibarat. Yang terjadi saat ini, menurut Wiranto, justru ada di dalam 'perahu' yang membuat 'nakhoda'-nya gatal atau membuat anak buahnya satu sama lain menjadi tidak rukun. (bsa) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Jan 2000 jam 04:03:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
