---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 03/III/30 Januari-5 Pebruari 2000 ------------------------------ AMIEN VS MEGA BERLANJUT (POLITK): Perang terbuka PAN-PDI Perjuangan mulai berkobar lagi. Pemicunya, kritikan keras pihak PDI-P terhadap Amien Rais. Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat nasional (DPP) menuntut secara hukum baik pidana maupun perdata Gerakan Perekat Bangsa (GPB) dan Taufik Kiemas Sebagai pimpinan Tabloid Demokrat karena dianggap menghina dan "menyerang" Ketua Umum DPP PAN Amien Rais. Aksi GPB yang dipersoalkan PAN itu adalah demonstrasi sekitar 500 massa GPB yang kebetulan beratribut PDI Perjuangan di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Senin (17/1/2000). Saat itu GPB menuntut agar Amien jangan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. "Kalau Pak Amien mengaku sebagai lokomotif reformasi jangan menggunakan isu-isu yang mudah memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa,' papar Cheppy, Humas Gerakan Perekat Bangsa (GPB). Sejumlah massa menempeli mobil dinas Amien dengan poster-poster. Di kaca depan, mereka menempelkan poster bertuliskan "Amien Rais Kalau Berani Ikut Ibu Mega ke Ambon". Sedangkan di atas plat mobil dinas itu mereka menempelkan poster bernada "Ketua MPR Jangan Pongah" dan "Anak SD Seneng Banget Kalau Amien Rais Ikut Ke Ambon". Poster-poster tersebut dinilai Ketua PAN AM Fatwa bernada jorok dan merupakan sebuah penghinaan terhadap Ketua Umum PAN itu. Gerakan GPB sendiri adalah reaksi spontan terhadap aktifitas Amien Rais yang mengikuti tablig Akbar di silang Monas, beberapa hari menjelang hari Lebaran lalu. Tablig itu dinilai telah menjadi ajang provokasi perpecahan bangsa. Kedongkolan AM Fatwa tampaknya tidak hanya pada kritikan atau aksi itu sendiri. Tapi lebih pada siapa yang melakukan aksinya. Sedangkan gugatan kepada Taufik Kiemas sebagai pimpinan Tabloid Demokrat, disebabkan karena tabloid tersebut selain memuat foto Amien Rais pada sampulnya, juga pada isi tabloid Demokrat edisi 49 tanggal 24-30 Januari. Sampul tabloid No 49 itu terdapat gambar -yang oleh DPP PAN- dianggap sebagai Amien Rais bermuka drakula yang menakutkan. Begitu juga laporan utamanya berjudul "Vampir Politik Indonesia." "Tulisan di dalamnya sangat tendensius seperti kalimat 'TNI dan Amien Rais cs adalah Vampire Politik yang mengerikan' di halaman 4 laporan utama tabloid Demokrat itu," demikian pernyataan DPP PAN. Karenanya, untuk keperluan upaya hukum, DPP PAN telah membentuk Tim Advokasi untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut. Yang menarik dari pernyataan DPP PAN tersebut adalah dugaan mereka akan adanya upaya sistematis yang dilakukan kelompok tertentu terhadap Amien Rais. Kelompok ini menurut mereka berusaha mendiskreditkan, mendelegitimasikan, dan melakukan pembunuhan karakter (character asassination) terhadap pimpinan DPP PAN yang kini Ketua MPR. Caranya, menurut AM Fatwa (salah satu pendantangan pernyataan, adanya kelompok tertentu dalam DPR RI yang selama ini melakukan "penyerangan" terhadap Amien Rais agar diberikan teguran oleh pimpinan DPR RI sehubungan dengan gagasan ide federalisme. Juga munculnya aktivitas massa yang menggunakan simbol partai tertentu ke Gedung MPR/DPR dengan menamakan diri Gerakan Perekat Bangsa dengan menggunakan seragam partai tertentu (tidak eksplisit menyebut PDI-P). Sementara itu, Demokrat telah menanggapi reaksi DPP PAN ini dengan menyampaikan permohonan maaf tertulis kepada Amien Rais dan DPP PAN atas pemuatan cover "Vampire Politik Indonesia". Melalui siaran pers yang ditandatangani Pemimpin Redaksi Nuah Torong, Demokrat juga menyatakan pembelaan mereka terhadap Pemimpin Umum mereka yaitu Taufiq Kiemas. Disebutkan termuatnya cover itu sama sekali di luar sepengetahuan dan tanggung jawab Pemimpin Umum. Untuk itu Demokrat meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersinggung dan dirugikan terutama kepada DPP PAN dan Amien Rais. Demokrat juga meminta waktu bertemu dengan Amien untuk memberikan penjelasan. Perang dingin antara Poros Tengah yang dimotori PAN dengan PDI-P sebenarnya telah berlangsung beberapa saat sebelum pemilihan presiden. Ketegangan di antara mereka sempat memuncak saat SU MPR. Puncak kekecewaan PDI-P adalah manuver Amien Rais yang dalam Pemilu 1999 partainya hanya memperoleh 7% suara tetapi bisa menjadi Ketua MPR. Dan yang paling menyakitkan adalah gagalnya Megawati menjadi presiden, berkat hadangan poros tengah. Dendam itu berlanjut terus hingga saat ini. Dan mulai membuka lagi setelah Amien Rais mendatangi acara tablig Akbar Silang Monas yang dinilai upaya menggoyang Gus Dur dan dipandang oleh PDI-P sebagai tindakan yang tidak seharusnya dilakukan oleh pimpinan MPR. Amien memang harus dikritik tapi cara PDI-P juga tak berbeda dengan Amien. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Jan 2000 jam 20:46:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
