---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Kolom IBRAHIM ISA ------------------------- DITERIMA OLEH PRESIDEN GUS DUR. <mantan 'guru' bertemu kembali dengan yang pernah jadi muridnya> 3 Februari 2000 Ada dua hal yang tak pernah sekilaspun saya membayangkan ataupun memimpikannya akan terjadi. Satu: Abdurrahman Wahid, dulu pernah murid saya, kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia, menjadi Kepala Negara. Siapa yang nyangka? Kedua, yang pernah murid saya itu, mencari saya, bekas gurunya, untuk bertemu. Siapa pernah menduga hal ini bisa terjadi. Bagi saya jamuan makan di Wisma Duta, Wassenaar, yang diadakan kemarin malam, atas undangan Dubes Abdul Irsan, berkenaan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Gus Dur ke Belanda, adalah suatu surprise yang tak akan terlupakan sepanjang hidup saya. Terus terang saya akui, malam itu, adalah suatu hari yang bahagia bagi saya. Sesudah diterima oleh Ratu Beatrix, Presiden Gus Dur tiba di Wisma Duta, beberapa jam terlambat dan sudah cukup lelah. Beberapa acara yang sudah direncanakan terlebih dahulu, seperti pertemuan tersendiri Gus Dur dengan kawan-kawan kita dari masyrakat Maluku di Belanda yang selama ini selalu setia pada Republik Indonesia, dengan kawan kita dari Papua, Viktor Kasieppo, dan juga dengan sementara kawan-kawan yang tergolong 'tidak bisa pulang' karena menentang Orba, yaitu A.S Munandar, T.M. Siregar, Francisca F. Fanggiadaej, Wiyanto, Djumaeni termasuk saya sendiri, terpaksa diurungkan. Namun, meskipun lelah Gus Dur meneyempatkan diri untuk memberikan wejangannya. Juga memberikan waktu untuk suatu dialog singkat dengan sekira 150 tamu yang datang atas undangan. Dalam wejangannya itu Gus Dur menekankan agar kita-kita yang di luar negeri ini jangan sampai terbawa oleh arus berita pers, khususnya pers luarnegeri, yang sedemikian rupa membesar-besarkan kekerasan yang terjadi di Aceh, Maluku, Papua dan belakangan di Lombok. Pemberitaan tsb telah memberikan gambaran seolah-olah negeri kita sudah sedemikian serius krisisnya sehingga sudah akan segera runtuh. Gus Dur menandaskan bahwa masalah-masalah Aceh, Maluku, Papua dsb sudah dalam proses penyelesaiannya. Kita tidak usah khawatir, kata Gus Dur, kita mampu menyelesaikan semua soal-soal itu. Orang-orang yang menimbulkan kekacauan itu adalah sejumlah kecil saja. Tidak usah khawatir. Gus Dur menekankan pentingnya memusatkan perhatian pada masalah pemba-ngunan ekonomi. Adalah penting menggiatkan usaha kita agar para investor luar negeri bersedia ambil bagian dalam pemulihan dan perkembangan ekonomi kita. Itulah alasannya beliau mengadakan kunjungan ke sedemikian banyak negeri. Seusai acara wejangan presiden dan dialog , semua dipersilahkan makan. Ketika sedang menikmati santapan Indonesia, saya dicari Dubes. Seorang petugas KBRI mengatakan kepada saya dengan nada gurau, ada 'bekas murid ingin menjumpai bekas gurunya'. Ter-nyata Gus Dur ingin bertemu dengan saya. Suatu kehormatan besar bagi saya .Saya menduga adalah Dubes Irsan yang menceriterakan kepada Gus Dur bahwa pada malam itu, ada bekas guru beliau yang turut hadir. Juga hadir dalam pertemuan itu Menlu Alwi Shihaab dan Dubes Abdul Irsan. 'Saya merasa bangga', begitu saya katakan kepada Gus Dur, ketika pertama kali menjabat tangannya. 'Terima kasih', kata beliau. Saya tanyakan kepada Gus Dur apakah masih ingat Perguruan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, di Jakarta), dimana beliau belajar dulu. Bahkan nomor dari gedung sekolah yang di jalan Cenadana itupun beliau masih ingat. Nomor lima, kata beliau. Kami meneruskan pembicaraan mengenai hal-hal yang lampau. Kesempatan bertemu pribadi dengan Gus Dur, saya gunakan untuk menyampaikan bahwa saya telah menulis surat yang berisi usul-usul kongkrit kepada PM Wim Kok, mengenai bagaimana memperbaharui hubungan kedua negeri, Indonesia - Belanda. Saya laporkan bahwa di dalam surat tsb saya usulkan kepada Kok agar menggunakan kesempatan kunjungan kenegaraan Presiden Wahid ke Belanda, untuk meletakkan hubungan kedua negeri atas dasar yang baru sama sekali. Saya usulkan agar pemerintah Belanda menyatakan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan kolonialisme Belanda atas Indonesia; mengakui 17 Agustus 1945 sebagai hari lahirnya Republik Indonesia, dan menghormati perasaan dan sikap rakyat Indonesia terhadap Bung Karno sebagai proklamator RI dan pembina nasion Indonesia, sebagai salah seorang 'founding fathers' dari bangsa kita. Saya kemukakan bahwa mengenai masalah Bung Karno dan Bung Hatta , di kalangan yang berkuasa dan dikalangan media Belanda, masih ada yang menganggap kedua pemimpin nasional kita itu sebagai 'kolaborator Jepang'. Ini terbukti ketika pada tahun yang lalu, di Amsterdam dilangsungkan seminar mengenai masa pendudukan Jepang atas Hindia Belanda. Ketika itu saya telah mengajukan bantahan keras. Dubes Irsan juga mengetahui tentang seminar tsb dan hal-hal yang dikemukakan mengenai Bung Karno dan Bung Hatta. Komentar Gus Dur terhadap surat saya kepada PM Wim Kok itu singkat saja. "Kita lihat saja bagaimana sikap mereka itu". Selanjutnya Gus Dur menyatakan bahwa beliau akan datang lagi ke Holland dalam bulan Juni tahun ini. Pada saat itu beliau akan cari waktu untuk berbincang-bincang bersama lagi dalam waktu yang lebih leluasa. Gus Dur minta alamat saya. Saya katakan bahwa telah saya berikan kepada Menlu Alwi Shihaab bersama sejumlah esai-politik saya mengenai beberapa masalah politik dan HAM. Tentu saya gembira sekali bahwa beliau nanti akan mencari kesempatatn ketika berkunjung ke Holland, Juni nanti, untuk bisa lebih lama bercakap-cakap. Banyak hal yang yang ingin saya sampaikan , belum sempat saya kemukakan malam itu, mengingat sempitnya waktu. Memang beliau masih banyak acara kunjungan kenegaraan keesokan harinya. Pada waktu berpisah Gus Dur menanyakan tentang Rima Melati dan minta agar disampaikan salam beliau kepada Rima Melati. Pada malam itu, ada peristiwa menarik lainnya yang saya alami. Ketika saya sedang menantikan waktu untuk bertemu Gus Dur, tiba-tiba saya disapa orang seseorang yang ada di situ. Ternyata kemudian yang menyapa itu adalah dr. Umar Wahid, Ketua Tim Dokter Kepresidenan , yang juga kebetulan adalah adik Gus Dur. Dr Umar mengingatkan saya bahwa beliau juga dulunya murid saya. Wah, bahagia betul saya malam itu, sekaligus bertemu kembali dengan dua tokoh yang dulu pernah menjadi murid saya. Betapa bangganya. Peristiwa menarik lainnya terjadi ketika saya sedang duduk menanti waktu.Di sebelah saya duduk seorang wanita remaja yang sedang terlibat sibuk dalam percakapan dengan seorang Belanda. Dengan wanita remaja itu saya tidak kenal. Sedangkan orang Belanda itu adalah mantan perdana menteri Belanda, Ruud Lubbers. Saya segera saja menyapa beliau, dan menyatakan terima kasih bahwa adalah di bawah pemerintahan beliau saya sekeluarga di terima sebagai orang-orang suaka politik, dan kemudian memperoleh naturalisasi, sehingga saya sempat pulang dua kali ke Indonesia. Lubbers gembira mendengar ceritsa saya itu. Tapi kemudian air muka Lubbes berubah menjadi muram, karena saya cerita kepadanya bahwa saya telah menulis surat khusus kepada PM Wim Kok, sehubungan dengan usaha untuk meletakkan hubungan Indonesia-Belanda atas dasar yang baru samasekali. Yang membikin saya berreaksi cepat ialah tanggapan Lubbers atas surat saya kepda Kok itu. Lubbers dengan wajah serius dan defensif mengatakan bahwa menurut pengatahuannya rakyat Indonesia tidak ada perasaan dendam terhadap Belanda. Yang ia maksudkan tentunya ialah bahwa oleh karena itu, Belanda tidak usah menyesal atau minta maaf kepada bangsa Indonesia, atas kolonialismenya di Indonesia yang ratusan tahun itu, termasuk dua kali agresi militer terhadap Republik Indonesia. Saya katakan kepada Lubbers, memang rakyat Indonesia samasekali tidak ada dendam apapun terhadap rakyat Belanda. Di dalam usul saya agar Belanda menyatakan penyesalannya dan minta maaf itu, tidak ada masalah dendam samasekali. Saya katakan bahwa akan baik sekali jika Belanda mengambil insiatif demikian itu Hal itu, kata saya, akan membikin bangsa kita merasa lega. Lubbers tidak bicara lagi, tapi wajahnya tetap muram. Karena ada dua mahasiswa Indonesia yang sampai dua kali minta dipotret bersama wanita remaja di sebelah saya itu, maka saya tanyakan kepada mahasiswa yang motret itu, siapa wanita remaja itu. Ternyata dia adalah Yeni, putrinya Gus Dur. Saya jelaskan kepadanya bahwa Gus Dur, dulu adalah murid saya. Ketika ia menoleh ke arah saya, Yeni menyatakan, bahwa ia sudah lebih dulu melihat saya di siaran TV CNN tentang pelarian politik Indonesia yang di luar negeri yang dewasa ini oleh pemerintah Gus Dur disilakan pulang. Ternyata sebelum bertemu dengan Gus Dur, sambil menunggu waktunya, Lubbers menggumnakan kesempatan untuk menimba sebanyak mungkin informasi dari Yeni, puterinya Gus Dur. Seperti diketahui Lubbers pernah disebut untuk memainkan peranan sebagai penengah dalam konflik Maluiku. Belakangan diberitakan bahwa Lubbers tidak bersedia memainkan peranan sebagai penengah/ Dari percakapan saya yang amat singkat dengan Lubbers itu, jelas sekali bahwa masalah kolonialisme Belanda khususnya dua kali agresi terhadap RI, masih amat berat bagi Belanda untuk dengan terus terang ngaku salah. Sampai sekarang baik dari PM Kok maupun dari Ketua Parlemen Belanda, dan para ketua fraksi parpol penting di Tweede Kamer, yang saya kirimi kopi surat saya kepada Kok itu, tidak ada satupun yang menanggapinya. Kopi surat kepada Kok yang saya kirimkan kepada redaksi-redaksi NRC Handelsblad dan de Volkskrant, untuk disiarkan, mereka tolak secara diplomatis. Di luar dugaan saya adalah Ketua Fraksi VVD dalam Tweede Kamer yang belakangan menanggapi surat saya kepada Kok itu. Orang yang bertanggung jawab dalam fraksi VVD menyatakan bahwa sudah waktunya Belanda untuk mengakui bahwa 17 Agustus adalah Hari Kemerdekaan Indonesia. Saya heran, kok sampai sekarang partai-partai yang dianggap Kiri seperti PvDA, Groen Links dan Partai Sosialis, berdiam diri atas kiriman saya itu. Heran! Apakah sudah demikian anehnya peta politik Belanda, sehingga yang selama ini dianggap Kanan seperti VVD ternyata lebih 'maju' daripada yang Kiri. Bagi saya pertemuan di Wassenaar itu selain menimbulkan rasa bahagia dan terhormat diterima tersendiri oleh Gus Dur, sebagai tanda hormat beliau pada bekas gurunya, serta kesediaan Gus Dur untuk nantinya jumpa lagi, adalah, bisanya saya menyerahkan sejumlah esai politik yang saya tulis, mengenai masdalah politik aktuil Indonesia. Begitu diumumkan bahwa pertemuan terpisah dengan 'rombongan kami', yang enam orang itu, dibatalkan, saya segera menghampiri Menlu Alwi Shihaab untuk menyampaikan esai-esai politik tsb. Yang terdiri dari: Evaluasi terhadap pemerintahan Gus Dur/Mega, Imbauan kepada Gus Dur, Pernyataan Terima Kasih kepada Gus Dur atas kepedulian dan komitmen beliau kepada para korban politik dan janji untuk mencabut Instruksi Mendagri No. 32/81 dan dua esai lagi mengenai hubungan Indonesia -Belanda dan hari depannya. Saya sampaikan esai-esai politik tsb, karena saya tahu Gus Dur sejak dulu selalu ingin menampung sebanyak mungkin pendapat dan pemikiran daari masyarakat mengenai berbagai hal. Itulah sebabnya masih ketika dalam era Oba, Gus Dur telah mengadakan 'Open House' untuk menampung sebanyak mungkin pendapat. Inilah gaya khas Gus Dur yang menunjukkan kebijaksanaan beliau . Malam ini saya turut gembira melihat berita TV NOS Journal jam 20.00 yang mengomentari kunjungan kenegaraan Gus Dur ke Belanda sebagai suatu sukses penting. Sempat kusaksikan di TV PM Kok mengulurkan tangan persabahtan yang baru Belanda ke pada Gus Dur. Saya juga ikut ketawa ketika menyaksikan dalam Journal TV itu pidato Gus Dur ketika dijamu Beatrix, yang tidak ketinggalan mengeluarkan guraunya , ketika ia mengatakan bahwa ia minta maaf kepada kesebelasdan sepakbola Ajax dan Feyenoord, karena selama ini beliau memihak pada PSV. * * * * ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Feb 2000 jam 08:36:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
