---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- 600 Wakil Perempuan Aceh Ambil Keputusan Masa Depan Aceh BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Senin, 7/2). Terkatung-katungnya penyelesaian konflik Aceh selama hampir dua warsa sejak tumbangnya rezim Soeharto, telah membuat para perempuan Aceh harus menentukan sikap politiknya dan berharap dapat membuka pintu bagi perempuan Aceh sebagai pengambil keputusan dalam upaya dan solusi bagi penyelesaian akhir permasalahan di Serambi Mekkah yang aman, damai, adil dan makmur. Musyawarah akbar kaum perempuan Aceh yang rencananya akan dihadiri oleh 600 orang wakil perempuan dari seluruh Daerah Istimewa Aceh dengan berbagai latar belakang dan kalangan itu, akan digelar pada tanggal 20-22 Februari mendatang di Anjong Mon Mata, Banda Aceh itu, yang diberi judul "Duek Pakat Inong Aceh" (musyawarah perempuan Aceh. red) tersebut, merupakan hasil kesepakatan 200 perempuan yang mewakili 68 organisasi perempuan di Aceh. Kegiatan pertama sekali dan terbesar dalam sejarah Aceh itu, diselenggarakan atas dasar kemanusiaan dan kepedulian yang mendalam tentang situasi Aceh yang semakin tidak menentu dan jauh dari solusi penyelesaiannya. Ny. Naimah Hasan, Ketua OC Duek Pakat Inong Aceh, kepada Redaksi Radio Nikoya-FM, Senin pagi (7/2), mengatakan, "disaat penyelesaian masalah Aceh tanpa kekerasan masih menjadi impian belaka, tidak heran jika kami perempuan Aceh mengambil keputusan untuk ikut serta berperan di kancah politik, sebab 52 % dari masyarakat Aceh adalah perempuan dan dengan demikian perempuan juga pemegang saham (stakeholder) yang utama dan yang berkepentingan dalam pemecahan masalah Aceh lebih nyata. Disamping itu, sejarah Aceh telah mencatat kepemimpinan perempuan mulai dari jaman Kerajaan Islam Peureulak tahun 1333 - 1398 hingga dengan Kerajaan Aceh Darussalam, dimana saat itu Ratu Taj' Alam Safiatuddin Syah, seorang perempuan yang telah memerintah Aceh dari tahun 1641 - 1675, lalu Ratu Zakiatuddin dari tahun 1678 - 1688 serta Ratu Kamalat di tahun 1688 - 1699. Seperti diketahui bahwa Ratu Taj' Alama Safiatuddin Syah yang terkenal itu telah berhasil membawa pembaharuan dalam pemerintahan di Aceh serta memperluas pemahaman demokrasi sebagai satu-satunya pemimpin yang pernah memikirkan pada jaman itu", katanya. Apa yang diinginkan oleh kaum perempuan di seluruh Aceh agaknya hampir sama, mereka ingin kedamaian dan kemakmuran untuk dapat terus mendidik anaknya serta membina keluarga dan kariernya dengan baik, dalam berbagai kesempatan penyelesaian konflik Aceh selama ini, perempuan tidak begitu banyak diberikan kesempatan mengambil perannya. Sepertinya dalam banyak hal, laki-laki telah dengan sengaja ataupun tidak, terlihat telah mengabaikan peran dan kemampuan perempuan dalam menangani berbagai persoalan di Aceh, seolah-olah hanya laki-laki sajalah yang berkepentingan dan mampu dalam menangani berbagai persoalan di Aceh. Seperti apa yang dituturkan Suraiya Kamaruzzaman, Ketua SC Duek Pakat Inong Aceh, kepada Radio Nikoya-FM, "perhelatan akbar perempuan Aceh pada pergantian milenium ini diharapkan menjadi awal keikutsertaan perempuan dalam proses kehidupan dan pengambil keputusan politik di Aceh, suatu momentum yang membawa harapan baru demi Aceh yang aman, adil dan makmur bagi seluruh rakyat Aceh. Oleh karenanya kriteria yang menjadi peserta musyawarah perempuan Aceh ini sangat selektif dari seluruh daerah tingkat II di Aceh, mereka adalah yang mewakili lembaga perempuan sipil, lembaga pemberdayaan perempuan, kelompok perempuan yang terorganisir serta yang memiliki komitmen dalam penyelesaian konflik Aceh secara damai dan adil", tambahnya. Duek Pakat Inong Aceh yang mulai dikampanyekan diseluruh media massa cetak dan elektronika di Aceh ini sejak kemarin, akan diawali dengan seminar yang menampilkan pakar-pakar Aceh dan luar Aceh untuk membahas tentang, Posisi Perempuan dalam Syariat Islam dan Hukum Adat Aceh, Perempuan dan Perubahan Sosial di Aceh, Peran Perempuan dalam Mewujudkan Perdamaian di Aceh, Akses Perempuan pada Sumber-sumber Ekonomi Lokal, Peran Perempuan dalam Proses Kehidupan Politik di Aceh. (Tim). News Division RADIO NIKOYA 106.15 FM Banda Aceh Hit Radio Station Jaringan Radio Independen Unesco-PBB URL : http://www.nikoyafm.2000c.net.id ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 Feb 2000 jam 03:25:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
