----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
-------------------------
8 Februari 2000

SUATU PROSES YANG HARUS  DILALUI
<Menelusuri set-set politik GUS DUR>

Gerakan reformasi dan demokratisasi di negeri kita dewasa ini adalah suatu
gerakan yang amat besar dan mendalam. Barangkali tidak banyak orang yang
betul-betul menyadarinya.
Gerakan reformasi dan demokratisasi yang sedang berlangsung sekarang ini
menyentuh dan melibatkan hampir segenap lapisan masyarakat. Ia bukan intrik
istana, juga bukan suatu perubahan yang hanya menyangkut kalangan 'atas'
saja. Juga bukan  peristiwa dimana yang terlibat hanya kaum elite belaka. Ia
tidak hanya menyangkut bidang kekuasaan riil, seperti birokrasi dan militer,
tapi juga bidang pemikiran dan mental. Bahkan, gerakan reformasi
sesungguhnya dimulai di bidang mental dan pemikiran, khususnya pemikiran
mengenai prinsip-prinsip demokrasi dan hak-hak azasi manusia.

Tidak bisa dibantah bahwa  yang pada pokoknya menjadi sasaran adalah kaum
elitenya: yaitu elite politik dan elite militer.  Mengapa? Karena selama
lebih dari 30 tahun di bawah rezim Orbanya Suharto, adalah elite militer,
elite birokrasi dan elite politik itulah yang telah menyalahgunakan
kekuasaan politik, kenegaraan,militer, birokrasi dan hukum, untuk membina
serta mengkonsolidasi kekuasaannya sendiri, untuk memperluas dan
melestarikan  kekuasaan serta untuk keuntungan dan kepentingan sendiri.
Mereka dengan sejadi-jadinya melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme,
mengubah negara hukum Republik Indonesia, menjadi suatu negara otoriter
yang, laksana piramida menjulang  berpusat pada satu orang, Suharto. .
Dengan massa mahasiswa di barisan paling depan,  sebagai kekuatan pelopor
yang menerobos tumpuan-tumpuan rezim otokrasi mantan jendral Suharto, dengan
kaum cendekiawan sebagai kekuatan moral dan pemikiran, yang selalu menyokong
barisan pelopor ini, dan dengan dukungan kaum muda serta kekuatan masyarakat
lainnya, dengan begitu banyak LSM dan dengan sementara parpol, seperti
PDI-Megawati, PRD, serikat-serikat buruh, presiden dari rezim Orba telah
bisa digulingkan, pada 21 Mei 1998 y.l. Digulingkannya Suharto adalah suatu
perubahan besar. Tapi penggantinya, pemerintahan mantan presiden Habibie,
adalah kroni-kroninya Suharto juga. Ini suatu kenyataan. Namun, untuk
menunjukkan bahwa pemerintah Habibie berbeda dengan rezim Orba, dan untuk
memperoleh dukungan masyarakat, mereka terpaksa mengadakan konsesi,
melakukan sementara perubahan seperti yang menjadi tuntutan gerakan
reformasi dan demokratisasi. Perubahan-perubahan itu kecil, tapi dua hal
penting telah dicapai, yaitu kebebasan pers, kebebasan berorgansasi dan
kemudian pemilihan umum yang transparan dan demokratis, ketimbang pemilu
rekayasa   sebelumnya.

Pemilu demokratis pada 7 Juni 1999, yang pertama kalinya sejak pemilu
demokratis pada tahun 1955 di bawah pemerintahan mantan Presiden Sukarno,
telah menghasilkan MPR  yang telah memilih Gus Dur dan Megawati sebagai
presiden dan wakil presiden RI.

Syukur Alhamdulillah adalah beliau-beliau itu, bukan Habibie lagi, atau
Wiranto,  yang telah terpilih, yang telah mendapat kepercayaan MPR hasil
pemilu  untuk memimpin usaha besar lebih lanjut untuk reformasi dan
demokratisasi. Pemerintahan duet Gus Dur dan Mega, adalah pemerintah yang
kokoh. Karena kedua-duanya sudah sejak rezim Orba masih jaya-jayanya, adalah
pejuang-pejuang untuk perubahan demokratis di Indonesia, maka kecuali
mendapat kepercayaan dari MPR, lebih penting lagi beliau-beliau itu mendapat
dukungan langsung dari rakyat.  Mereka punya dasar dan berakar pada massa
rakyat. Tidak heran kalau Suharto atau Feisal Tanjung ataupun Wiranto pernah
punya fikiran atau rencana untuk memusnahkan beliau-beliau itu.

Pada tahap sekarang ini kita sudah bisa mencatat hasil-hasil penting dalam
usaha besar reformasi dan demokratisasi. Namun masih cukup banyak dalam
agenda reformasi yang menantikan pelaksanaannya,  untuk bisanya negara ini
benar-benar menjadi negara hukum yang adil, yang menghormati hak-hak azasi
manusia.

Satu soal besar yang merupakan salah satu kunci penting dalam usaha
reformasi ialah masalah meletakkan dasar yang kuat dan stabil yang menjamin
supremasi pemerintahan sipil atas militer. Selama ini supremasi militer atas
politik Indonesia berlangsung dengan naungan apa yang dinamakan konsep
"Dwifungsi". Menghapuskan "Dwifungsi", kembali ke supremasi pemerintahan
sipil, adalah lebih mudah mengucapkan daripada melaksanakannya. Dalam
kenyataannya  langkah-langkah ke arah  ini sudah diambil oleh Gus Dur dan
Megawati dalam penyusunan pemerintah yang baru. Yang terpenting adalah
ditempatkannya   seorang sipil, S. Sudarsono, sebagai menteri HanKam yang
selama ini selalu dipegang oleh militer. Juga ditempatkan seorang sipil
lainnya, Marzuki Darusman, sebagai Jaksa Agung, yang selama ini pada
pokoknya dijabat oleh militer.Juga kementerian Kumdang, yang dulunya
kementerian kehakiman, dan yang biasanya dipegang oleh militer, kini dijabat
oleh Yusril Izha Mahendra, juga seorang sipil.

Ketika sedang sengit-sengitnya konflik kekerasan di Aceh dan Ambon, kalangan
tertentu dalam TNI bersaut-sautan dengan vokalnya menuntut diberlakukannya
keadaan darurat di daerah-daerah  rawan tsb. Tapi Gus Dur dan Megawati tetap
mempertahankan pemerintahan sipil di situ. Sikap pemerintah Gus Dur/Mega itu
menunjukkan konsistensi beliau-beliau itu untuk membina dan memperkuat
supremasi sipil atas militer. Suara-suara dari kalangan militer itu berpadu
pula dengan suara 'aneh' lainnya , yang mencoba meyakinkan pende-
ngarnya bahwa Presiden Gus Dur bukanlah panglima tertinggi TNI.

Kekerasan dan konflik di Maluku, Halmahera, Lombok dan Mataram, telah
menguakkan sementara fakta bahwa kasus-kasus tsb timbul, terutama disebabkan
oleh kaum provokator yang disponsori dan dikendalikan oleh sementara elemen
mantan militer dan pengusaha, seperti pernah diungkapkan oleh Gus Dur. Hal
yang oleh pers yang bersumber pada 'intel' masyarakat, telah disinyalir
juga.

Dari sejumlah peristiwa sehubungan dengan masalah  keamanan dan kekuasaan,
tidak bisa lagi ditutupi, bahwa sementara kalangan di dalam kekuatan
militer, baik yang masih dinas
aktif,  maupun yang sudah pensiun, berkeras kepala hendak merintangi proses
reformasi, demokratisasi, dan supremasi sipil atas militer.

Sudah sejak hari-hari pertama berdirinya pemerintah Gus Dur/Megawati, sudah
tampak adanya oposisi baik dari kalangan elite, maupun dalam masyarakat,
seperti tampak pada
rapat akbar di Jakarta di mana telah angkat bicara a.l. tokoh Poros Tengah
Amien Rais. Rapat akbar tsb bukan menunjukkan jalan keluar yang bagaimana,
yang harus ditempuh oleh pemerintah untuk mengurus masalah Maluku, tapi
malah membikin situasi menjadi lebih tegang dan gawat dengan menyerukan
untuk melancarkan "jihad" ke  Maluku.
Menghadapi situasi yang cukup rumit, fihak-fihak yang di bibirnya menyatakan
diri sebagai kekuatan reformasi dan demokrasi, bukannya memberikan dukungan
kepada pemerintah baru Gus Dur/Megawati, dengan cara memberikan usul-usul
kongkrit untuk penyelesaian, tetapi malah memberikan kritikan dan komentar
yang tidak bisa diartikan lain, kecuali  suatu usaha untuk mendeskriditkan
pemerintah baru. Bahkan sudah ada pula yang menyerukan agar pemerintah Gus D
ur/Mega turun saja. Padahal kesempatan kerja belum sampai 100 hari ketika
itu, sedangkan  masalah yang dihadapi begitu banyak dan rumit.

 Melihat bahwa masalah separatisme di Aceh segera harus ditanggulangi, juga
masalah pemulihan kepercayaan internasional perlu segera dipulihkan untuk
menarik investasi modal dari luar untuk pemulihan ekonomi negeri, maka Gus
Dur berkali-kali mengadakan perja-lanan keluar negeri.Perjalanan ke
luarnegeri itu hakikatnya adalah untuk memecahkan masalah dalam negeri. Gus
Dur berhasil mencegah kemungkinan campur tangan asing atas masalah negeri
seperti Aceh dan Maluku, selain itu telah pula memulihkan kepercayaan
internasional atas kesungguh-sungguhan pemerintah baru untuk memberlakukan
proses demokratisasi dan melaksanakan  Ham di Indonesia. Sehingga dengan itu
kesediaan dunia internasional untuk investasi di Indonesia terbuka sudah.
Bukankah perjalanan ke luarnegeri yang dilakukan berkali-kali itu telah
mendatangkan hasil yang positif?

Isu kup militer sudah berkali-kali muncul di negeri kita. Kadang-kadang
terselubung, kadangkala terang-terangan. Adalah membelakangi fakta sejarah
bila mengklaim bahwa fihak militer tidak pernah melakukan kup. Kalau
diteliti perkembangan negara ini, maka memang boleh dinyatakan di sini bahwa
satu-satunya kup terselubung yang dilakukan angkatan bersenjata  yang
berhasil, adalah kup militer merangkak yang dilakukan oleh mantan jendral
Suharto dengan kelompok militernya, yang dilakukan  atas nama ABRI.
Percobaan kup terselubung juga pernah dilakukan oleh Kolonel Nasution dalam
tahun 1952. Insubordinasi sesungguhnya juga merupakan suatu usaha permulaan
kup. Hal itu pernah juga dilakukan oleh Kolonel Lubis. Lalu ada yang lebih
serius, yaitu pemberontakan   PRRI dan Permesta, yang kekuatan intinya
adalah divisi TNI yang ada di daerah pemberontakan tsb.
Gerakan 30 September, yang kekuatan intinya juga adalah kesatuan-kesatuan
TNI, juga dikatakan suatu usaha kup. Tetapi yang kesudahannya adalah jendral
Suharto yang me-nyingkirkan Presiden Sukarno.

Dengan sikap sementara tokoh militer yang negatif terhadap usaha untuk
menyelidiki pelanggaran HAM di Timor Timur, jelas bahwa sementara kalangan
TNI , tidak rela diperlakukan sama dengan sesama warganegara.  Yaitu bahwa
setiap warganegara adalah sama di hadapan hukum. Kan tidak masuk diakal,
bila seseorang sipil atau prajurit melakukan pelanggaran, yang bersangkutan
harus diadili. Tetapi bila yang tertuduh itu seorang jendral, maka
terdengarlah suara, yang mengidentikan seseorang jendral dengan seluruh
institusi TNI.

Orang tidak sulit untuk melihatnya sebagai usaha sementara jendral yang
sudah nervus karena khawatir kesalahannya diproses, untuk bersembunyi di
balik institusi TNI.
Lalu, keluar lagi suara-suara bahwa 'para prajurit akan marah jika
jendralnya dihadapkan ke pengadilan'. Dalam suasana demikian itu, salahkah
jika orang mengkhawatirkan kemungkinan suatu kup militer? Bukan saja pers
dalam negeri, sampai-sampai jurubicara pemerintah AS dan belakangan Itali,
mencanangkan bahwa suatu kup di Indonesia tidak bisa diterima oleh dunia
internasional yang mengharapkan proses demokrasi berlangsung lancar di
Indonesia. Demikian santernya suara  yang mengkawatirkan kup di Indonesia,
sehingga pimpinan TNI mengeluarkan jaminan bahwa tidak akan terjadi kup di
Indonesia, selama presiden Gus Dur sedang berkunjung ke luarnegeri.

Dalam pada itu isu kup dan segala sesuatu yang sehubungan dengan itu, telah
menimbulkan perkembangan  sampingan. Seperti pernyataan Gus Dur bahwa ia
berharap Wiranto mengundurkan diri dari kabinet, karena ia termasuk diantara
5 jendral yang dianggap bertanggung-jawab mengenai pelanggaran HAM di Timor
Timur; dan karena itu mungkin sekali akan diajukan ke pengadilan Indonesia.
Sebenarnya tidak ada hal yang baru dalam pernyataan Gus Dur itu. Karena jauh
sebelumnya beliau sudah menyatakan bahwal setiap menteri yang tertuduh
terlibat dalam suatu pelanggaran, akan diperiksa kemudian diajukan ke
pengadilan, maka untuk mempermudah  proses itu, menteri yang bersangkutan
diharapkan atas kesadarannya sendiri, mengundurkan diri, atau non-aktif.
Kalau ternyata kemudian bersalah, maka harus difinitf turun. Di banyak
negeri yang sistim pemerintahannya berda-sarkan sistim demokrasi
parlementer, hal yang dilakukan oleh Gus Dur itu wajar-wajar saja.
Diisukan pula, mengapa Gus Dur membuat pernyataan itu diluar negeri, dimuka
masyrakart internasional? Dalam suatu perkembangan politik yang termasuk
gawat, maka seorang politikus, termasuk seorang presiden, bisa mengeluarkan
pernyataan politiknya dimana saja yang menurut pertimbangannya, adalah
cocok.  Bila sedang berada diluar negeri tentunya pernyataan itu tidak boleh
menyangkut masalah yang bisa diinterpretasikan mencampuri urusan intern
negeri yang sudah, sedang atau yang akan dikunjunginya.

Walhasil, isu kup militer, itu sebagian terbesar disebabkan oleh sementara
jendral sendiri yang macam-macam ulah dan pernyatannya .Yang kesemuanya itu
menunjukkan bahwa mereka-mereka itu hendak terus mempertahankan 'statusquo'
yang amat menyamankan dan menguntungkan dirinya sendiri, secara politis,
kekuasaan maupun materiil.

Dalam keadaan yang rumit ini, tetapi dimana sudah tampak titik-titik terang
bagi kelangsungan gerakan reformasi dan demokrasi, bagi penyelesaian masah
Aceh, Maluku dll,
bagi permulaan pemulihan ekonomi kita yang masih morat-marit, apakah
berkelebihan jika kita serukan untuk memberikan sokongan dan dukungan yang
sungguh-sungguh pada pemerintah Gus Dur / Megawati? Karena jalan yang sedang
ditempuh oleh pemerintah Gus Dur dan Megawati adalah jalan yang direstui
bangsa dan negara.

Suatu proses yang harus dilalui!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Feb 2000 jam 03:59:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke