----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Jumat, 11 Februari 2000
Tunda, Transmigrasi ke Papua

Jayapura, Kompas
Pemerintah Daerah Papua minta agar kedatangan warga transmigran dari luar
Papua untuk sementara waktu ditunda. Penundaan itu sesuai aspirasi masyarakat
untuk memberdayakan putra Papua. Sekitar 80 persen putra Papua masih berada di
bawah garis kemiskinan.

Wakil Gubernur I Papua, JRG Djopari, kepada wartawan di Jayapura, Rabu (9/2)
mengatakan, tidak benar ada pemberitaan yang menyebutkan Pemda Papua menolak
kedatangan warga transmigrasi dari luar Papua. Tetapi Pemda sangat
memperhatikan aspirasi masyarakat agar putra daerah harus diberdayakan
secepatnya.

"Yang kami perjuangkan adalah pemberhentian sementara waktu, warga transmigran
dari luar Papua. Mungkin tiga tahun atau lima tahun. Saat ini di kalangan
warga transmigrasi juga terlihat kesenjangan sosial cukup tinggi karena jumlah
yang lebih dominan adalah warga dari luar Papua. Maka ke depan ini, kita
membangun masyarakat Papua yang masih miskin," kata Djopari.
Kepala Pembangunan Masyarakat Desa Papua, Soeprapto menjelaskan, dari dua juta
penduduk Papua, 80 persen masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kehidupan
mereka sangat memprihatinkan. Mereka tersebar di desa-desa yang sulit
dijangkau kendaraan roda dua dan empat. Sekitar 200.000 warga masih menetap di hutan.
Program transmigrasi lokal perlu diberdayakan di kalangan orang Papua. Sedang
diperjuangkan sistem 60:40 artinya 60 persen warga Papua dan 40 persen warga
dari luar Papua. Tetapi 40 persen ini akan berlaku lima tahun yang akan
datang. "Mudah-mudah semua pihak paham akan kondisi di Papua, karena kita
semua ingin orang Papua bisa sejahtera," tuturnya. (kor)

Jumat, 11/02/2000
Tuntut Merdeka, 80 Ribu Rakyat Wamena Turun ke Jalan
Reporter: M.H Imran
detikcom - Jayapura, Sekitar 80 ribu rakyat Jayawijaya turun ke jalan sejak
pukul 09.00 WIT hingga petang hari. Mereka menuntut Papua Merdeka sekaligus
menolak otonomi.

Massa dari berbagai kecamatan dan suku-suku yang ada di kabupaten Jayawijaya
itu turun ke jalan dan berkumpul di lapangan sepakbola Pendidikan Wamena.

Para pengunjuk rasa yang dipimpin kepala-kepala suku, meminta Papua merdeka
dan menolak pemekaran kabupaten dan kecamatan.

Para kepala suku menyampaikan aspirasi mereka kepada ketua komisi gabungan
DPRD propinsi Irian Jaya Demas David Patty, S.Pd, Selamat Hutagalung, Drs Izak
Tabuni, Adrian Toher dan wakil ketua Yance Kogoya, Thimotius Wakur S.Th,
Adrene Laguan, Kapolres Jayawijaya Letkol (Pol) D Suripatty, Dandim Jayawijaya
Letkol (Inf) Paulus L.

Sebelumnya, 8 tokoh dari berbagai kecamatan dan suku itu menyampaikan orasi
tentang permintaan merdeka dan menolak pemekaran kabupaten dan kecamatan itu.

Aksi itu diawali pembacaan doa oleh ketua tim 100 Jayawijaya Pdt Obeth Kamoa,
disusul dengan mengheningkan cipta dan diiringi lagu kebangsaan Papua, Hai
Tanahku Papua.

Kemudian saling bergantian 8 tokoh dan delegasi dari berbagi suku berorasi.
Mereka adalah ketua tim delegasi Papua Konatan Tabuni, Andresso Matiama,
kepala suku Kurima Yofat Yalomakan, delegasi dari Mapunduma masing-masing
Gwijangge, Y Abunawao dan Waroka Matuan.

Kemudian ada kepala suku dari Lembah Baliem Hubi, Eks Tapol/Napol Mumbuay,
kepala suku Panis Philipus Pagawok, Murjono Murib serta delegasi suku Ngelum
Aquino Uropmabin.

Konatan Tabuni dalam orasinya mengungkapkan, kehadiran massa yang menghendaki
merdeka dan menolak pemekaran kabupaten dan kedamaian saat ini bukan
segelintir orang.

 Pernyataan segelintir orang selama ini, kami hapus dalam nama Yesus. Dan
upaya-upaya otonomisasi, pemekaran, saat ini juga kami hapus dalam nama
Yesus," ujar Tabuni berapi-api.

"Berikan kepada kami untuk berbicara atas tanah ini. Tanah ini adalah milik
bangsa Papua. Kepada warga non Papua, tolong selesaikan masalah Ambon, Aceh.
Mau apa lagi berbicara atas tanah ini. Tanah ini milik bangsa Papua," pinta
Tabuni disambut dengan tepuk tangan meriah.

Sedangkan kepala suku Andreso Matiama mengimbau, semua warga baik birokrat
maupun cendekiawan supaya berdiri ditengah-tengah untuk memecahkan persoalan
ini.  Sebab kalau tidak akan terjadi perang suku. Hati-hati berbicara, merdeka
tidak gampang,  tukas Andreso.

Sedangkan kepada Bupati Drs Agustin Hubi dan Ketua DPRD Jayawijaya Drs Budiman
Kogoya, diminta agar mendukung tuntutan merdeka masyarakat Papua. Sebab jika
tidak, maka masyarakat akan memaksa bupati dan ketua DPRD turun dari
jabatannya secara paksa.

Kepada detikcom, Kapolres Jayawijaya Letkol Pol Drs D.Suripatty, mengatakan
situasi kota Wamena dan kabupaten Jayawijaya berlangsung aman. Sebab
masyarakat yang memadati lapangan sepakbola Pendidikan Wamena,
berangsur-angsur pulang hingga sore.

Sementara situasi kota Wamena dari pagi hingga sore lumpuh total. Sekolah,
pasar, perbankan dan pertokoan praktis tutup.

Jumat, 11 Februari 2000

Bila Keran Kebebasan Dibuka
Terbentuk 100 Propinsi

Jakarta, Kompas
Tidak ada penelitian dan kepastian jumlah propinsi yang ideal
ba gi  wilayah  Indonesia. Namun, dengan semaraknya tuntutan
 b e rba gai daerah yang m enghenda ki menjadi propinsi sen diri dan terle
p as dari  prop  i  n  s  i induk, kalau keran kebebasan itu dibuka
selebar-lebarnya, maka bisa jadi terbentuk 100 propinsi di negeri ini. Hal itu
dikemukakan Menteri Negara Otonomi Daerah Ryaas Rasyid dalam rapat kerja
dengan Komisi II DPR di Jakarta, Kamis (10/2). "Bila keran kebebasan itu
dibuka selebar-lebarnya, mungkin ada 100 propinsi yang akan terbentuk. Karena
memang lebih enak menjadi gubernur daripada menjadi bupati. Tetapi harus
diingatkan, pemekaran wilayah itu membawa konsekuensi anggaran yang tak
kecil," ujar Ryaas Rayid.

Dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi II DPR H Amin Aryoso itu hadir pula
puluhan warga Banten yang tergabung dalam Komite Pembentukan Propinsi Banten
(KPPB). Ketika Ryaas menjawab pertanyaan dari anggota DPR mengenai kemungkinan
Banten menjadi propinsi, warga itu berteriak-teriak..,"Hidup Banten, Hidup
Propinsi Banten.." Namun teriakan itu tidak berlangsung lama.

Penuhi syarat

Ryaas mengakui, maraknya tuntutan beberapa daerah menjadi kota, kabupaten,
serta propinsi tersendiri yang terlepas dari induknya itu tak terlepas dari
masalah ketidakadilan yang terjadi pada masa lalu. Walaupun demikian, tidak
semua tuntutan masyarakat yang muncul itu-terutama yang menghendaki
terwujudnya propinsi tersendiri-bisa diwujudkan. Sebab syarat untuk
terbentuknya sebuah propinsi tak bisa dipenuhi.

"Ada masyarakat suatu daerah (Ryaas menyebutkan nama daerah itu-Red) yang
menghendaki menjadi propinsi tersendiri. Tetapi anggota kabinet yang berasal
dari daerah itu (dia menyebutkan nama seorang menteri-Red) membisikan kepada
saya, daerahnya itu belum bisa kalau harus menjadi propinsi tersendiri. Karena
potensi daerahnya kurang," jelasnya lagi.

Dikemukakannya pula, memang masyarakat setempat yang mengetahui apakah
daerahnya layak menjadi propinsi tersendiri. Namun yang harus diingat,
pembentukan propinsi baru itu harus mampu meningkatkan kesejahteraan
rakyatnya. "Artinya, kalau dengan pembentukan propinsi baru itu diyakini
masyarakatnya akan lebih sejahtera, maka tuntutan pembentukan propinsi baru
semestinya tidak ditolak," kata Ryaas.

Dikatakan, jumlah propinsi di Indonesia kini memang tak bisa dipertahankan.
Artinya, perlu ada pemekaran wilayah. Tetapi jumlah propinsi yang ideal tidak
dapat disebutkan. Sebagai gambaran, di Filipina yang wilayahnya lebih sempit
dibandingkan Indonesia, terdiri dari 60 propinsi. Sedangkan di Thailand, kini
terdapat tidak kurang dari 80 propinsi.

Khusus menjawab usulan pembentukan Propinsi Banten, menurut dia, lebih baik
masyarakat juga meminta pertimbangan dari DPRD Tingkat I dan Gubenur Jawa
Barat. Walaupun dapat saja prosesnya di-by pass lewat pengajuan rancangan
undang-undang (RUU) usul inisiatif anggota DPR tentang Pembentukan Propinsi
Banten.

"Saya khawatir, kalau DPRD I Jawa Barat dan Gubernur Jawa Barat tidak dimintai
pendapatnya, setelah terbentuk propinsi baru bisa menimbulkan persoalan yang
tidak perlu. Jikalau pembentukan propinsi baru itu lebih menyejahterakan
rakyat, saya yakin tidak akan ditolak," urainya lagi. (tra)

Jumat, 11 Februari 2000

Pemilu Lokal Batal, Oposisi akan Bangkit

Jakarta, Kompas
Pembatalan pemilihan umum lokal dan pembubaran Komisi Pemilihan Umum (KPU)
merupakan perlawanan terhadap proses demokrasi. Jika hal ini sampai terjadi,
akan bangkit sebuah oposisi yang cukup kuat dengan motivasi kuat untuk
menentang proses demokrasi yang menyimpang.

Hal itu dikemukakan Ketua Panitia Pemilihan Lokal (PPL) Agus Miftach ketika
menyampaikan pernyataan sikap politik PPL KPU di Jakarta, Kamis (10/2). Ia
didampingi Wakil Ketua PPL, Hassan Potabuga, dan Wakil Ketua Tim Evaluasi KPU,
Noor Sewan Noor Datuk. Pernyataan sikap politik PPL KPU itu disampaikan
sehubungan rencana pemerintah membubarkan KPU dan menunda pemilihan umum
lokal.

Soal rencana pemerintah tersebut, menurut PPL KPU, merupakan hasil pemikiran
penguasa yang arogan dan antidemokrasi, selain juga merupakan pemaksaan dari
elite politik yang saat ini berkuasa. Bahkan itu merupakan pengkhianatan
Menteri Dalam Negeri Soerjadi Soedirdja, Menneg Urusan Otonomi Daerah Ryaas
Rasyid, dan Ketua DPR Akbar Tandjung terhadap kesepakatan tanggal 28 Januari
2000 yang telah disetujui Presiden Abdurrahman Wahid.

"KPU bisa saja dibubarkan oleh mereka (Soerjadi, Ryaas Rasyid, Akbar Tandjung)
secara formal karena mereka memiliki kewenangan legal dalam hal pembentukan
undang-undang sehingga mereka bisa membuat peraturan semau mereka. Tetapi ini
tidak akan efektif, justru setelah itu akan bangkit sebuah oposisi yang cukup
kuat (terhadap pemerintah) dengan motivasi yang kuat untuk menentang proses
demokrasi yang menyimpang," kata Agus Miftach.

Lebih lanjut dikatakan, jika keputusan tersebut jadi ditetapkan maka akan
timbul kerawanan di seluruh daerah pemekaran karena mereka sekarang sudah
bersiap mengadakan pemilu lokal sebagai alternatif terbaik daripada tuntutan
kemerdekaan lokal. Seluruh PPLD I dan II di 43 daerah pemekaran yang tersebar
di 15 propinsi saat ini sudah terbentuk. "Keputusan itu akan menimbulkan ekses
yang sangat buruk dalam kondisi politik nasional kita belakangan ini."

Agus Miftach menandaskan, seluruh PPLD dan PPL dengan didukung partai politik
yang tergabung di dalamnya dalam waktu dekat ini akan mengadakan rapat di
Jakarta untuk menuntut pembatalan pemilihan umum lokal tersebut melalui
mekanisme hukum. "Beberapa PPLD sudah menyampaikan pernyataan sikapnya,"
katanya. (ika)

Jumat, 11 Februari 2000

Hubungan Sipil dan Militer Diwarnai Aksi Balas Dendam

Jakarta, Kompas
Hubungan sipil dan militer di Indonesia masih diwarnai rasa curiga dan aksi
balas dendam antara keduanya. Masyarakat sipil saat ini seolah-olah ingin
melakukan balas dendam setelah cukup lama militer mendominasi politik. Sikap
saling curiga dan aksi balas dendam ini perlu segera diakhiri sehingga dapat
hubungan antara sipil dan militer bisa distabilkan.

Demikian dikemukakan oleh pengamat politik Dr Kusnanto Anggoro dan Dr Ikrar
Nusa Bhakti dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Center for Strategic and
International Studies (CSIS) di Jakarta, Kamis (10/2). Diskusi itu menampilkan
pula ahli pertahanan dari Jerman, Mayjen (Purn) Dr Dietrich Genschel.

Menurut Ikrar, aksi balas dendam antara sipil dan militer itu dapat diamati
sejak masa demokrasi parlementer sampai saat ini. Pada masa demokrasi
parlementer, kata Ikrar, partai-partai politik mensubordinasikan militer untuk
kepentingannya.

Sebaliknya pada masa Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, militer mendominasi
dalam politik sampai memegang peran yang sangat besar dalam Golkar. Setelah
Soeharto turun muncul kecenderungan sipil ingin melakukan balas dendam kepada
militer.

Ikrar mengemukakan, usulan untuk menaikkan anggaran militer yang sebenarnya
diperlukan agar TNI dapat melaksanakan fungsinya sebagai penjaga pertahanan
merupakan isu yang tidak populer saat ini. Sipil masih curiga bahwa
peningkatan budget itu justru akan dipergunakan bagi militer untuk membunuh,
menculik, atau menyakiti rakyat.

Masyarakat sipil di Indonesia, kata Kusnanto, menginginkan agar supremasi
sipil dapat berlangsung dengan cepat. Sementara di kalangan sipil maupun
militer sama-sama belum siap menghadapi hal itu. Di kalangan militer masih
banyak personel TNI yang berpikir sangat konservatif dan ingin mempertahankan
dwifungsinya. Sebaliknya di pihak sipil, belum banyak tokoh-tokoh sipil yang
mendalami studi pertahanan. Ia mengusulkan agar suasana kepercayaan antara
sipil dan militer dibangun kembali.

Sementara itu Dietrich Genschel dalam kesempatan itu menceritakan pembangunan
kembali militer Jerman pasca-Perang Dunia II pada saat kehidupan demokrasi
telah berkembang. Meski militer lebih banyak mendalami masalah pertahanan,
tetapi perencanaan dalam militer ditentukan sepenuhnya oleh sipil. Siapa pun
yang berbaju tentara, kata Genschel, harus menjadi subordinasi sipil. (wis)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Feb 2000 jam 04:03:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke