---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- PEREMPUAN ACEH AKAN SELESAIKAN KONFLIK BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Jum'at 11/2). Kebekuan penyelesaian konflik di Aceh selama ini tampaknya akan menjadi agenda utama "Duek Pakat Inong Aceh" (kongres perempuan Aceh) yang akan diikuti oleh lebih dari 600 peserta perempuan di seluruh Daerah Istimewa Aceh, pada tanggal 20 - 22 Februari mendatang di Anjong Mon Mata, Banda Aceh. Mungkin inilah awal kebangkitan kembali kaum perempuan Aceh dibidang politik, dalam menentukan masa depan Aceh yang damai, adil dan makmur. "Bersatunya kaum perempuan Aceh dalam kongres akbar itu diharapkan akan mampu memberikan kontribusi terhadap penyelesaian konflik di Aceh, selain itu diinginkan pula agar perempuan Aceh dapat memformulasikan berbagai kebutuhan dan kepentingan mereka, sehingga peran perempuan dalam berbagai bidang yang terabaikan selama ini dapat dihargai, karena bagaimanapun perempuan Aceh itu adalah potensi yang besar, yang dapat dimanfaatkan untuk memakmurkan serta arah yang lebih baik bagi masa depan Aceh, kongres itu juga diharapkan akan dapat menetapkan apa kira-kira yang harus dikerjakan oleh perempuan Aceh, sehingga betul-betul menjadi potensi yang harus diperhitungkan, karena dalam sejarah Aceh telah dibuktikan bahwa kaum perempuan Aceh bukan-lah orang-orang yang berada dibelakang laki-laki, sebuah fakta dalam sejarah Aceh, kalau perempuan di Aceh pernah menjadi negarawan, pemimpin laskar perang dan juga dikenal kiprahnya dalam pendidikan, mengapa disaat keadaan negara lebih baik, justru perempuan yang dipinggirkan", demikianlah yang dituturkan oleh Ny. Naimah Hasan, Ketua OC 'Duek Pakat Inong Aceh' dalam wawancara khusus dengan Radio Nikoya-FM, Kamis malam (10/2) di Banda Aceh. Naimah Hasan, menambahkan, "khusus tentang konflik Aceh, dalam konflik ini yang paling menderita adalah perempuan dan anak-anak, pada saat suami mereka diambil dan di bunuh, lalu hal ini bukan hanya sampai disitu saja, akibat yang timbul adalah istri yang terbunuh itu akan memperoleh satu beban yang luar biasa, dimana mereka harus memberi makan anaknya, memberikan perhatian dan pendidikan anaknya dan kadang-kadang tak tahu harus menjawab kemana suaminya saat anak-anaknya bertanya, kemana ayahnya. Ini berarti bahwa orang yang sangat terkorbankan dan menderita dalam konflik di Aceh ini adalah perempuan, lalu ketika penyelesaian konflik ini dilakukan, tidak diikut sertakan orang yang sangat menderita itu, saya fikir itu yang tidak adil, jadi kaum perempuan-lah yang paling tau apa yang kami rasakan, bagaimana mungkin orang-orang lain bisa mencari keputusan penyelesaian tanpa kami diikut sertakan, inikan persoalannya, oleh karena itu melalui 'Duek Pakat Inong Aceh' ini, kami berusaha menyamakan persepsi bahwa perempuan Aceh menginginkan begini ini untuk menyelesaikan persoalan dan masa depan Aceh", katanya. Menurut Ketua OC - Duek Pakat Inong Aceh ini, "sampai hari ini belum ada kejelasan dan titik terang bagaimana Aceh, dengan kebekuan yang telah terjadi selama ini, mungkin dengan munculnya perempuan Aceh dengan latar dan pijakan yang berbeda itu, kami harapkan akan bisa mencairkan kebekuan ini, sehingga akan lahir upaya-upaya yang lebih kongkrit untuk penyelesaian Aceh itu sendiri, karena kalau kita terus bertahan pada kebekuan itu, kami fikir orang Aceh ini akan terus mati, anak-anak akan terancam putus sekolah dan sekarang saja kita dengar mahasiswa di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh telah banyak yang keluar, inilah yang kami fikir hal-hal yang juga penting untuk kita fikirkan dan kedepankan dalam kongres itu nantinya", katanya dengan rasa optimis. Selain itu Naimah membantah tentang adanya isu campur tangan pemerintah dalam kongres perempuan Aceh tersebut, sebab pesertanya diseleksi secara ketat dengan latar belakang yang berbeda-beda dari seluruh daerah Aceh, untuk meningkatkan wawasan peserta kongres, panitia pelaksana sengaja menempatkan beberapa kegiatan seminar diawal kongres, untuk penyegaran dan tambahan pengetahuan bagi peserta tentang posisi perempuan Aceh serta keadaan Aceh yang sebenarnya, yang kemudian akan menjadi bekal dalam mengikuti kongres. (Tim). ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Feb 2000 jam 04:05:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
