---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 23 Pebruari 2000 DPR-KU SAYANG, BERHENTILAH MEMBISU... SAAT seluruh bangsa dan negara Indonesia ramai membicarakan ancaman bahaya disintegrasi bangsa, terlihat betapa DPR tidak berbuat apa-apa. Padahal rakyat Indonesia sudah tidak berdaya, berusaha sekuat tenaga untuk meredam gejolak tuntutan disintegrasi yang semakin mengkristal di berbagai wilayah. Tuntutan merdeka dari berbagai wilayah di tanah air seperti Aceh, Riau, Ambon dan Irja rupanya dianggap sebagai hal biasa, hanya dianggap sebagai pekerjaan rutin anggota dewan. Anggota dewan tak bergeming, bersuara sedikitpun untuk menyarankan kepada pemerintah dalam mencari solusi penyelesaiannya. Sering kita membaca media massa malah kita prihatin dan tertawa lucu mengenai usulan yang digulirkan oleh anggota dewan sendiri mengenai usulan negara federal. Tidak tanggung-tanggung, usulan tersebut telah dilontarkan oleh Ketua MPR Amien Rais sebagai pencetus ide negara federal. Saya jadi bertambah heran dan prihatin, apakah DPR yang merupakan penjelmaan kekuasaan rakyat, penerus kehendak rakyat, penyambung lidah rakyat memang sudah tidak perduli lagi dengan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Rakyat banyak berteriak minta pertolongan, mohon bantuan karena tidak berdayaan menghadapi masalah ini. Tetapi anggota dewan tetap tuli. Atau apakah DPR hanya sebagai tempat berkumpulnya para elit-elit politik saja yang tidak lain hanya berembuk masalah gaji dewan, uang tunjangan dan mobil dinas, yang ujung-ujungnya menyebut dirinya sebagai wakil rakyat. Nampak jelas di sini, sumpah janji sebagai anggota dewan untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI yang mengakomodasikan aspirasi rakyat sudah dilupakan. Sebagai wakil rakyat yang solid, peka dan tanggap, sebaiknya inilah saat yang tepat mendengar jeritan masyarakat yang minta tolong, apalagi teriakan rakyat yang tidak tega melihat nasib bangsanya yang terancam perpecahan dan kerusuhan. Apakah semua ini akibat politisasi birokrasi yang diwariskan pada masa Orde Baru? Atau pola dan gaya pemerintahan Gus Dur sebagai presiden belum bisa menerapkan sifat tanggap, peduli, mohon petunjuk kepada kabinetnya sehingga menjalar kepada hasil kinerja anggota dewan. Mohon kepada anggota dewan, hilangkan kesan seakan anggota dewan didoktrin untuk tidak boleh berbuat vokal dan sebagai sanksinya akan tergusur dari kursi dewan. Kalau begini terus bisa-bisa anggota dewan telah menjadi mandul dan telah turut andil membiarkan otoriter dan kesewenang-wenangan merajalela di masyarakat. Saya sebagai warga masyarakat menyarankan, agar anggota dewan jangan terjebak dengan pekerjaan rutinitas dan terus berpangku tangan sambil menunggu Indonesia hancur berkeping-keping. Ingat Indonesia sudah sampai diambang kehancuran. Cepatlah bertindak dengan memberi saran, koreksi dan pertimbangan kepada pemerintah untuk segera memutuskan jalan yang terbaik bagi penyelesaian masalah yang mengancam disintegrasi bangsa. Jangan mengingkari dan khianati aspirasi rakyat yang telah menitipkan suaranya kepada anggota DPR. Bukankah pada diri anggota dewan masih tertanam rasa memiliki bangsanya melalui perhatian yang lebih serius, peka dan peduli pada panggilan rakyat yang saat ini sedang khawatir atas ancaman disintegrasi bangsa? Drs. Safari Auzan Cijantung Jakarta Timur ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Feb 2000 jam 10:42:43 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
