----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Hasballah M Saad:
Bulan Ini, Peradilan HAM Tetap Digelar

Serambi-Banda Aceh
Menteri Negara HAM Hasballah M Saad menegaskan bahwa peradilan terhadap para pelanggar 
HAM di Aceh akan digelar bulan ini meskipun
tersangka utamanya, Letkol Sudjono, belum juga ditemukan.
"Saya datang kemari untuk mengkonsultasikan dengan aparat terkait supaya persidangan 
itu segera dilakukan dan saya harapkan bulan
ini juga harus sudah digelar," kata Hasballah kepada wartawan, Kamis kemarin, di 
Meuligoe Gubernuran Aceh.
Kasus yang menjadi prioritas untuk disidangkan yaitu pembantaian Tgk Bantaqiah bersama 
sejumlah muridnya di Beutong Ateuh tahun
lalu. "20 prajurit TNI yang terlibat pembantaian itu kini sudah ditahan di Pomdam, 
hanya Letkol Sudjono yang memimpin operasi itu
kini masih menghilang. Namun, pimpinan TNI telah berupaya untuk mencarinya kembali dan 
sudah pula dinyatakan sebagai prajurit yang
disersi. Walaupun Letkol Sudjono belum ditemukan, persidangan ini akan terus 
dilaksanakan," kata Hasballah M Saad.
Untuk menggelar persidangan ini, ada dua kendala teknis yang dihadapai. Pertama, 
hilangnya seorang calon tersangka. Kedua, belum
diputuskannya di mana tempat persidangan tersebut, meskipun selama ini disebut-sebut 
bakal digelar di Sabang.
Menurut undang-undang, sebuah peradilan harus dilakukan di tempat kejadian perkara. 
Sehingga kasus Bantaqiah sebenarnya harus
digelar di Pengadilan Negeri Meulaboh. Kalau PN Meulaboh merasa tidak mampu atau ada 
halangan lain, ketua pengadilannya secara resmi
harus menulis surat ke Mahkamah Agung. Selanjutnya Mahkamah Agung akan berkonsultasi 
dengan Menteri Hukum dan Perundang-undangan
untuk memutuskan tempat lainnya.
"Ketika saya cek kemarin, selain ada calon tersangka yang hilang, juga tempatnya belum 
diputuskan. Itulah tujuan saya datang ke Aceh
untuk mendengarkan dari bapak-bapak di sini, untuk menyegerakan kita laksanakan. Kita 
tunggu saja fatwa dari Mahkamah Agungnya,"
ujarnya Hasballah.
Hasballah Saad mengakui telah menerima masukan bahwa rakyat Sabang menyatakan 
keberatan atas persidangan kasus pelanggaran HAM
dilaksanakan di Sabang. Rakyat Sabang takut daerah itu akan menjadi ajang kerusuhan 
saat peradilan itu digelar.
"Saya minta pengertian semua tokoh masyarakat, pimpinan daerah, DPRD, termasuk bupati. 
Saya segera mengundang pimpinan instansi
terkait di sini Jakarta 18 Februari mendatang untuk bertemu dengan Jaksa Agung, 
Menteri Hukum dan Perundangan, unsur Mahkamah Agung,
dan Kapolri. Melalui rapat tanggal 18 itu nanti akan kita putuskan waktu dan tempat 
digelarnya persidangan itu," ujar Hasballah M
Saad.
Hentikan kekerasan
Pada bagian lain, Hasballah M Saad meminta pihak-pihak yang bertikai di Aceh untuk 
segera menghentikan kekerasan. Sebab, persoalan
Aceh yang sudah berlangsung cukup lama tak mungkin diselesaikan dengan kekerasan.
"Dalam rapat kabinet beberapa hari lalu sudah diputuskan persoalan Aceh harus 
diselesaikan secara politik, bukan dengan cara
kekerasan," kata Hasballah menjawab wartawan mengenai masih berlangsungnya kematian 
rakyat sipil secara tak wajar di Aceh.
Mantan dosen Unsyiah itu mengaku, meski upaya penyelesaian secara politik sedang 
diupayakan, tapi di lapangan kekerasan masih
terjadi di mana-mana. Oleh karena itu, supaya mulusnya penyelesaian kasus Aceh, ia 
mengimbau kedua pihak baik TNI/Polri maupun GAM
untuk menahan diri. Sebab, bila kekerasan masih terus dilakukan proses penyelesaian 
secara politik pasti terganggu.
Langkah awal yang ditempuh Meneg HAM itu adalah berkonsultasi dengan Panglima/Pimpinan 
TNI/Polri maupun pihak Gerakan Aceh Merdeka.
Meskipun dengan pihak GAM belum bisa bertemu langsung, sudah dicari hubungan yang bisa 
menyampaikan pesan upaya menyelesaikan
persoalan Aceh secara politik.
"Dan kita harus menyadari pesan itu bisa sampai dengan sesegera mungkin, ini 
memerlukan kesabaran," kata Hasballah. "Upaya untuk
menghentikan kekerasan itu penting, sebab, rakyat Aceh sudah cukup lama menderita, 
baik yang berhadapan dengan TNI/Polri maupun yang
berhadapan dengan Gerakan Aceh Merdeka," tambahnya.
Menyinggung makin bertambahnya pasukan TNI/Polri yang didatangkan ke Aceh, Hasballah 
langsung menimpali, "Justru karena itu kita
imbau Panglima dan Pimpinan TNI/Polri untuk menguranginya. Bila perlu tarik lagi. 
Tetapi kita harus menghormati, kalau TNI
mengurangi pasukannya jangan ada profokatif, sehingga pasukan yang mau ditarik tak 
jadi ditarik". (kan/ism)

Danrem 011/LW: GAM jangan Hanya Bisa Membantah
*Kapolda: Nggak Salah kok Takut?

Serambi-Banda Aceh
Komandan Korem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Syafnil Armen berpendapat berbagai bantahan 
dan statemen dari kelompok tertentu yang
mengatasnamakan juru bicara dan Biro Penerangan GAM di media massa tidak masuk akal 
dan menggelikan. "Hal ini terlihat dari berbagai
pernyataan mereka yang tidak logis," kata Syafnil Armen kepada wartawan di 
Lhokseumawe, Kamis (10/2).
Sementara itu Kapolda Aceh Brigjen Pol Drs Bachrumsyah Kasman mengatakan masyarakat 
tak perlu takut dengan pelaksanaan sweeping yang
dilakukan aparat polisi/TNI. "Hanya mereka yang bersalahlah yang takut dengan 
kehadiran aparat di tengah masyarakat," kata Kapolda
di Banda Aceh, Kamis.
Tentang ketaklogisan statemen AGAM dicontohkan Kolonel Syafnil Armen dengan kerapnya 
AGAM membesar-besarkan jumlah korban yang jatuh
dalam sebuah insiden. "Misalnya mereka mengklaim jumlah korban 20 orang. Padahal 
aparat keamanan waktu itu tidak sampai 20 orang.
Ini kan lucu dan ngawur," ungkapnya.
Selain itu, tambah Sayfnil, bila dari kelompok tersebut ada korban, mereka tidak 
mengakui sebagai anggotanya dan disebut masyarakat
biasa. "Padahal korban tersebut jelas-jelas orang bersenjata yang selama ini 
meresahkan masyarakat," katanya.
Menurut Syafnil, sikap ini menunjukkan kelompok itu tidak bertanggung jawab terhadap 
anggotanya dan hanya mengambil keuntungan
semata. Mengenai korban di pihak aparat, Syafnil Armen menjelaskan bahwa bila ada 
korban ditandai dengan pengibaran bendera merah
putih setengah tiang di instansi militer. Selama tidak ada pengibaran bendera setengah 
tiang, maka tidak ada korban dari aparat
karena itu merupakan penghormatan terakhir prajurit yang gugur dalam tugas.
Syafnil juga berpendapat sebenarnya masyarakat sudah menyadari bahwa selama ini sudah 
dibohongi dan dimanfaatkan kelompok tertentu
untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya saja. Ini terbukti dengan banyaknya anggota 
mereka yang kaya mendadak tanpa mempunyai
pekerjaan jelas. Bahkan tragisnya, sebut Syafnil, saat ini pentolan GBPK terindikasi 
hendak keluar dari Aceh bahkan akan menuju ke
luar negeri.
Sementara pada acara silaturrahmi di pesantren Darul Ulum Dinniyah Islamiyah (NUDI) di 
Desa Jungka Gajah Kecamatan Meurah Mulia,
Aceh Utara, Kamis kemarin, Syafnil menyatakan sebagai manusia yang beriman kita 
hendaknya menghilangkan dendam atas segala musibah
yang menimpa selama ini.
Dalam sambutannya, Danrem menyatakan dengan ketulusan hati sesama umat Islam sebangsa 
dan setanah air, ia berkeinginan untuk
membangun kembali pesantren tersebut yang terbakar beberapa waktu lalu. "Karena 
pesantren sebagai sarana pendidikan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan meningkatkan iman serta taqwa kepada 
Allah," katanya seraya menambahkan tidak perlu
menyoalkan siapa yang membakar karena hal itu tidak menyelesaikan masalah.
Sementara itu, pengurus Pesantren NUDI Tgk Usman Ishak menyebut pesantren tersebut 
merupakan milik masyarakat dan diharapkan dapat
dibangun kembali. Barang-barang yang musnah terbakar masing-masing 250 ranjang, 35 
pintu, satu balai, dua dapur, enam sepeda, dan
dua sound system.
Lebih jauh, Danrem Syafnil Armen mengajak kelompok tertentu yang telah mengambil jalan 
salah untuk insyaf kembali demi kemaslahatan
masyarakat yang aman dan damai. "Kalau menginginkan suasana kondusif, semua pihak 
harus turut aktif berpartisipasi mewujudkannya,"
tutur Syafnil Armen.
Tergantung
Brigjen Pol Drs Bachrumsyah Kasman mengatakan pelaksanaan sweeping yang digelar pihak 
Polri di Aceh, tergantung dari kacamata mana
memandangnya. "Kalau kacamatanya melihat sweeping ini menghambat kegiatan mereka yang 
bersenjata, jelas ini meresahkan. Tapi kalau
dilihat dari hasilnya, berapa ratus kendaraan dari para pejabat dan pengusaha yang 
kita tangkap. Kalau tidak dengan sweeping
bagaimana kita menangkapnya," ujar Kapolda.
Bahkan Bachrumsyah menyiratkan kekecewaan terhadap pemandangan umum anggota DPRD Tk I 
Aceh yang menyatakan bahwa sweeping yang
dilakukan aparat sudah meresahkan masyarakat. "Menurut saya, dewan selaku yang punya 
wilayah Aceh ini, perintahkan saya secara
formal untuk menghentikan sweeping. Begitu keluar perintah, hari ini juga saya 
hentikan sweeping. Termasuk kalau dewan minta agar
senjata disimpan, saya akan simpang. Gampang saja. Tapi, ketika sweeping dihentikan 
dan senjata disimpan, aksi-aksi dari gerombolan
bersenjata makin banyak, kita akan minta pertanggungjawaban dewan (yang memerintahkan 
penghentian sweeping dan penyimpanan
senjata)," katanya.
Dikatakannya, hari-hari ke depan aparat keamanan akan terus melakukan pengejaran 
terhadap kelompok sipil bersenjata ini. Oleh karena
itu, diingatkan kepada masyarakat yang tidak ada hubungan dengan kelompok bersenjata, 
enggak usah takut. "Kami juga tahu diri. Saya
tahu persis siapa-siapa orangnya yang memecah-mecahkan helm, saya kenal anaknya. 
Sekarang tinggal kita lihat, apakah si pemecah helm
itu nanti pakai helm apa tidak. Kesimpulannya kita ini serba tahu, pengetahuan yang 
kita miliki nanti akan kita laksanakan di
lapangan."
"Kita akan terus memburu kemanapun mereka lari. Kalau mereka lari ke kantor polisi, ke 
kantor polisi kita kejar. Kalau mereka lari
ke kampung, ke kampung kita kejar. Kami ini kan sedang mengejar tikus. Kalau larinya 
ke lubang, lubangnya kita bongkar supaya dapat
tikusnya. Jangan si lubang memberikan kesempatan kepada si tikus, kalau si lubang 
tidak ingin terganggu," katanya menambahkan.
Menurut Bachrumsyah, 800 orang yang menjadi target buruan polisi adalah pasti mereka 
terlibat langsung dalam konstelasi kekisruhan
di Aceh. "Yang tidak terlibat langsung itu ribuan banyaknya. Diprioritaskan ya 800 itu 
dulu. Sasaran yang utama adalah mereka-
mereka yang meresahkan masyarakat." (tim)

Dua Tewas, Satu Diciduk di Pidie
* Dua Pucuk Senjata Disita

Serambi-Sigli
Dua warga Kecamatan Simpangtiga, Pidie, yang menurut aparat anggota AGAM wilayah itu, 
tewas kena tembak dan seorang lain lain dapat
diciduk ketika berlangsungnya pengepungan di kawasan Cot Jaja, Rabu (9/2). Dalam aksi 
itu, aparat mengaku dapat menyita dua pucuk
senjata api.
Tapi, pihak AGAM mengatakan tidak ada anggotanya yang tertembak dalam kontak senjata 
di Cot Jaja. Begitu pula, senjata yang disita
aparat bukan milik pasukannya. "Mereka yang tertembak itu adalah warga sipil, bukan 
anggota kami," kata Abu Razak melalui telepon ke
redaksi Serambi, malam tadi.
Dua mayat pemuda yang dikatakan aparat anggota AGAM, kemarin sekitar pukul 12.00 WIB 
sudah dibawa ke RSU Sigli. Kedua korban
mengalami luka tembak cukup serius. Mereka tertembak di bagian dada, bahu, dan paha 
ketika meletusnya kontak senjata sekitar pukul
10.30 WIB kemarin.
Dandim 0102/ Pidie Letkol Inf Iskandar MS dan Kapolres Pol Endang Emiqail Bagus kepada 
Serambi, kemarin mengatakan korban kala itu
sedang mengendarai sepeda motor. Dan pasukan gabungan yang terus memburu, akhirnya 
berpapasan dengan sasaran dimaksud.
Menurut Iskandar, mereka merupakan kelompok AGAM yang selama ini dicari aparat adalah 
Suriadi alias Dekdin (20), Gambit Husin (28),
dan seorang yang ditangkap adalah Abdurrahman (28). Artinya, mereka sudah menjadi 
target aparat karena selama ini sering membuat
kekacauan di wilayah tersebut.
Ketika dikejar aparat, menurut Iskandar, korban memberikan perlawanan. Kala itu 
pasukan dari berbagai kesatuan terus memburu dan
memblokir ke semua arah. Akhirnya, dua dari mereka yang berboncengan tiga dengan satu 
sepeda motor GL Pro berhasil dilumpuhkan di
areal persawahan. Sedangkan Abdurrahman berhasil ditangkap oleh aparat.
Kedua korban dihujani peluru, sehingga beberapa bagian tubuhnya kelihatan bolong dan 
mengalami luka serius. Selain mengalami luka
tembak di bagian dada, bahu, dan kepala, kedua korban lebih dulu tertembak di bagian 
paha. Sehingga mereka tidak bisa lolos dari
kepungan aparat.
Setelah berhasil melumpuhkan korban, tambah Iskandar, aparat juga menyita dua pucuk 
senjata api. Dua pucuk pistol beserta 30 amunisi
kini diamankan aparat. Selain itu, aparat juga menemukan borgol, sebilah rencong, dan 
2 selongsong peluru.
Dandim Iskandar kemarin ikut langsung dalam penyergapan anggota AGAM, ia mengaku 
terjun memimpin pasukan, ketika korban sudah lari
ke arah sawah. Satu dari mereka ditemukan jadi mayat di dalam air areal sawah, 
sedangkan satu lagi dekat saluran irigasi setelah
dihujani peluru aparat.
Tujuan ikut langsung ke lapangan, menurut Dandim Iskandar, supaya memperkecil ekses 
pasca peristiwa tersebut. Sehingga tidak ada
masyarakat yang disakiti dan dirugikan dalam peristiwa penghadangan. "Walau sudah 
meninggal, saya tetap minta prajurit memperlakukan
korban secara manusiawi," katanya.
Kedua mayat korban yang sempat divisum kemarin, menurut Dandim Iskandar, dijemput 
pihak keluarganya dan dikebumikan di desa asal
mereka Mesjid Tungoe Kecamatan Simpangtiga. "Dua mayat itu sudah dijemput 
keluarganya," ungkap seorang petugas di RSU Sigli.(tim)

Seorang Kades Ditembak Saat Hendak Shalat

Serambi-Tapaktuan
Syamsuar (55), Kepala Desa Ujong Tanoh, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Selatan, tewas 
ditembak di depan rumahnya, Rabu (9/2) malam.
Ayah empat anak itu menghembus nafas terakhir di tempat kejadian setelah tiga butir 
peluru bersarang dalam tubuhnya.
Wakapolres Aceh Selatan, Mayor Pol Drs Supriadi Djalal yang dihubungi Serambi, Kamis 
(10/2) kemarin, menjelaskan, peristiwa
penembakan yang menewaskan Kades Syamsuar terjadi sekitar pukul 19.50 WIB. Beberapa 
saat sebelum kejadian, korban tengah bersiap-
siap ke masjid yang terletak di sebelah rumahnya untuk melaksanakan shalat Isya 
berjamaah.
Ketika itulah, ada seseorang laki-laki yang memanggil dirinya. Dan Syamsuar pun 
menjumpai orang itu di beranda rumahnya. Menurut
keterangan, kata Wakapolres, pada saat korban berada di halaman rumah, terdengar suara 
pertengkaran yang diduga keras dengan orang
yang memanggil korban. "Berat dugaan antara korban dengan orang tersebut sudah saling 
kenal," kata Supriadi Djalal. Tapi sebelum
keluarga korban melihat dengan siapa korban bertengkar, tiba-tiba terdengar suara 
letusan senjata secara beruntun sebanyak tiga
kali.
Belum dapat dipastikan apakah korban ditembak pada terjadi perang mulut atau pada saat 
korban meninggalkan orang tak dikenal itu.
Yang jelas seiring suara letusan senjata, korban masih mampu melangkah masuk ke dalam 
rumah, kemudian jatuh berlumuran darah di
hadapan istri dan salah seorang anaknya.
Bahwa korban akan melaksanakan shalat Isya berjamaah di masjid juga dibenarkan salah 
seorang keluarganya. "Ada orang yang memanggil
korban. Setelah berjalan beberapa langkah dari pintu depan, terdengar suara tembakan 
sebanyak tiga kali secara beruntun, namun
korban masih mampu berbalik masuk rumah, lalu jatuh dalam ruang depan dengan 
bermandikan darah. Sementara penembaknya segera
melarikan diri," kata seorang anggota keluarga Syamsuar.
Salah seorang anak korban menjerit histeris begitu melihat orangtuanya berlumuran 
darah. Warga sekitar juga mengaku terperanjat
dengan letusan senjata dan jerit histeris keluarga Pak Kades. Sejumlah warga 
memberanikan untuk keluar rumah, kemudian mendapati
Kades Syamsuar tergeletak berlumuran darah yang ditangisi istri dan anaknya.
Dalam waktu relatif singkat rumah kades didatangi ratusan warga guna memberikan 
bantuan. Namun nyawa korban tidak tertolong lagi.
Korban tewas setelah tiga butir peluru mengenai bagian dada dan punggung.
Kepala Puskesmas Tangan-Tangan, dr Nur Amilawati yang melakukan visum terhadap jenazah 
korban, pagi kemarin menjelaskan pada jenazah
korban tiga luka tembak, dua pada bagian dada kanan dan satu pada bagian punggung. 
Ukuran luka ketiga tempat sama, yaitu 0,5 x 0,5
cm. Ketiga peluru, menurut dr Nur Amilawati masih bersarang dalam tubuh korban.
Menurut Wakapolres Aceh Selatan, Mayor Pol Drs Supriadi Djalal, tersangka pelaku 
penembakan merengut nyawa Kades Syamsuar dalam
pengejaran anggota polisi dengan melakukan penyisiran kawasan Desa Ujong Tanoh 
sekitarnya. Namun sampai tadi malam belum ada laporan
tentang hasilnya.
Suasana yang sempat dipantau Serambi, kemarin, peristiwa penembakan yang menewaskan 
Kades Syamsuar menimbulkan duka sangat mendalam
kalangan masyarakat yang mendiami kawasan tepi pantai yang berbatasan dengan Kecamatan 
Susoh itu. Selama empat tahun menjabat
jebatan kepala desa, korban dinilai punya perhatian besar terhadap warganya.
"Warga setempat benar-benar kehilangan figur pemimpin yang disegani," kata salah 
seorang tokoh masyarakat Tangan-Tangan. Tokoh
tersebut mengaku sangat mengenali pribadi korban yang disenangi warganya.
Kades Syamsuar dikebumikan warga setempat, Kamis siang di Desa Ujong Tanoh dalam 
suasana haru sangat mendalam. Korban meninggalkan
seorang istri dan empat orang anak (satu laki-laki, tiga perempuan). Seorang anaknya 
yang perempuan, menurut keterangan sudah
berkeluarga, dua lainnya sedang mengikuti pendidikan di Banda Aceh.(tim)

Widodo AS: GAM Menyerah bukan Rekayasa TNI

Serambi-Jakarta
Panglima TNI Laksamana Widodo AS menegaskan, penyerahan diri sebagian anggota 
masyarakat yang selama ini telah terprovokasi Gerakan
Aceh Merdeka (GAM) bukan rekayasa TNI, tetapi merupakan realita di lapangan.
"TNI tidak mau mengambil resiko, yakni merekayasa terhadap hal-hal yang bertentangan 
dengan realita," kata Widodo menjawab
pertanyaan anggota DPR dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR-RI yang 
membidangi pertahanan dan luar negeri di Gedung DPR
Jakarta, Kamis kemarin.
Penegasan itu merupakan jawaban atas pertanyaan dua anggota Komisi I, yakni Anwar Ali 
dan AR Rasyidi, atas penyerahan diri sebanyak
12.000 anggota masyarakat pengikut GAM di wilayah hukum Korem-012/Teuku Umar.
Dalam rapat yang dipimpin Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Astrid S Susanto, Penglima 
Widodo menegaskan kembali bahwa TNI yang selama
hampir dua tahun terakhir terus "digebuki" dari kanan dan kiri, tidak akan merekayasa.
"Yang jelas, anggota masyarakat di Aceh yang selama ini telah terprovokasi ide 
separatis itu, secara sadar dan insyaf menyatakan
kembali bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya.
Menurut Panglima, anggota masyarakat pengikut GAM itu menyerahkan diri bukan kepada 
aparat TNI, tetapi mereka secara sadar dan
insyaf membuat pernyataan penyerahan diri itu kepada pihak Kepolisian.
Menjawab pertanyaan AR Rasyidi tentang jumlah personel TNI-AD yang ditugaskan di Aceh, 
Panglima menyatakan bahwa saat ini ada lima
batalyon pasukan organik yang bertugas untuk menjaga keamanan dan mengamankan 
proyek-proyek vital di wilayah Aceh Utara.
Selain pasukan organik TNI-AD, juga terdapat satu batalyon pasukan Marinir TNI-AL yang 
bertugas untuk mengaman perairan di wilayah
pantai Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie, dan Aceh Besar dari penangkapan ikan oleh 
nelayan asing secara ilegal.
Sedangkan anggota Brimob yang di BKO-kan di beberapa daerah rawan gangguan keamanan di 
Provinsi Aceh, Panglima Widodo AS mengatakan
tidak mengetahui jumlahnya, termasuk yang dilibatkan dalam operasi "Sadar 
Rencong-III/2000".
Sebelumnya, Danrem-012/Teuku Umar, Kol (CZI) Syarifuddin Tippe mengatakan bahwa 
sebanyak 12.000 masyarakat di Aceh yang selama ini
terprovokasi ide separatis, kini menyatakan insyaf dan kembali setia kepada Negara 
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Wilayah Korem-012/Teuku Umar yang membawahi kota Banda Aceh, Aceh Besar, Kodya Sabang, 
Aceh Barat, Aceh Selatan dan Kabupaten Aceh
Singkil itu, dilaporkan telah menerima surat pernyataan insyaf dari masyarakat enam 
daerah Tk-II itu.
"Saya masih ragu, apakah mereka yang membuat pernyataan itu benar-benar anggota 
masyarakat yang selama ini telah terprovokasi ide
separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM)," kata AR Rasyidi.
Ia mengakui, kondisi keamanan di Aceh saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan 
beberapa bulan lalu namun kegiatan razia terus
terjadi setiap saat, dan disesalkan adanya sikap sebagian aparat yang sangat 
berlebihan.
Saksi kunci
Sedangkan kasus hilangnya saksi kunci, Letkol Sujono atas pembantaian Teungku 
Bantaqiah di Desa Beutong Ateuh, Aceh Barat, AR
Rasyidi menduga ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu agar persoalannya tidak 
melebar. "Itu isu yang berkembang di kalangan
masyarakat di Aceh saat ini," katanya.
Menanggapi pernyataan Presiden Abdurahman Wahid agar kasus Aceh diselesaikan oleh 
masyarakat Aceh sendiri, Rasyidi menilai tidak
realistis karena persoalannya cukup lengkap, sehingga perlu ikut campur pemerintah 
pusat. "Pemerintah pusat harus lebih serius
menyelesaikan konflik di Aceh, terutama perlu menghidupkan forum dialog," pintanya.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR lainnya, Tgk H Muhibuddin Waly mengatakan, untuk 
menyelesaikan kasus Aceh bukan tugas masyarakat
Aceh semata, tetapi perlu adanya keseriusan pemerintah pusat.
Ulama asal Aceh Selatan itu mengatakan, dalam masyarakat Aceh dikenal tiga kelompok 
masyarakat yang perlu penyamaan persepsi, yakni
kelompok yang berpihak kepada pemerintah, anti pemerintah dan kelompok netral.
Siapkan diri
Pada bagian lain penjelasannya, Panglima Widodo AS menegaskan bahwa TNI senantiasa 
menyiapkan diri dengan mencurahkan seluruh
kemampuannya untuk memelihara dan mengamankan negara kesatuan Republik Indonesia. 
"Terhadap gangguan keamanan yang mengancam
integritas bangsa, keutuhan wilayah dan kedaulatan bangsa dan negara, TNI senantiasa 
menyiapkan diri," kata Widodo.
Panglima TNI mengatakan berkaitan dengan berbagai konflik di berbagai wilayah, TNI 
mendukung kebijakan pemerintah yang ditempuh
melalui dialog dan rekonsiliasi dengan pendekatan politik, sosial, dan agama. Selain 
itu, TNI dalam pelaksanaan tugas selalu
mempedomani prinsip penegakan hukum.
Kendala yang dihadapi TNI dalam mengatasi konflik adalah masalah kepastian hukum yang 
mendasari pelibatan TNI, keterbatasan sarana
dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan tugas, dan masalah pembinaan ketrampilan 
yang dipengaruhi intensitas penugasan dalam
jumlah besar.
Dalam kesempatan itu, juga dikatakannya bahwa belum tuntasnya penanganan atas berbagai 
kasus selama ini bukan merupakan hal yang
disengaja oleh TNI/Polri, melainkan karena ada berbagai kendala, seperti kurangnya 
alat bukti.
Juga dikatakannya bahwa TNI memahami upaya preventif jauh lebih baik dilakukan dalam 
menjaga stabilitas keamanan daripada mengatasi
kerusuhan yang telah terjadi.
Menanggapi pertanyaan Komisi I DPR tentang penuntasan kasus Marsinah, Udin, 27 Juli 
1996, Semanggi, Trisakti, dan kasus lainnya,
Panglima TNI mengatakan TNI pada prinsipnya bertekad menuntaskan kasus-kasus tersebut. 
"Karenanya, TNI akan senantiasa menjunjung
tinggi dan menegakkan supremasi hukum, sehingga bila ada oknum-oknum TNI yang terlibat 
dalam kasus pelanggaran, TNI tidak akan
menutup-nutupi, dan bahkan mendorong agar oknum yang secara nyata terlibat dapat 
diusut secara tuntas sesuai prosedur," katanya.
(ant/fik)

Sumber: Serambi Jum'at,  11  Pebruari 2000
http://come.to/koalisi-ham

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Feb 2000 jam 09:43:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke