----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 7 Maret 2000

Howard Penghalang Hubungan Australia dengan RI

CANBERRA -- PM Australia John Howard serta dua menteri senior,
Menlu Alexander Downer dan Menhan John Moore dianggap sebagai
penghalang utama upaya memperbaiki hubungan Australia-Indonesia
yang memburuk karena masalah Timtim.

''Elite politik Indonesia, menilai Howard tidak tertarik pada
Asia dan lebih sering memainkan peran politik domestik ketimbang
menjaga hubungan Australia dengan negara tetangganya di utara,''
tulis harian The Australian, edisi Senin (6/3).

Indonesianis dari Universitas Nasional Australia (ANU), Dr
Harold Crouch, dalam suatu seminar di Jakarta pekan lalu juga
mengkritik sikap Howard tersebut. ''Perdana Menteri kami memang
tidak tahu bagaimana cara menyampaikan berbagai hal kepada
Indonesia,'' kata Crouch.

Kritikan juga sering dialamatkan kepada Menlu Downer dan Menhan
John Moore. Ada persepsi bahwa Howard dan dua menteri itu
terlalu berorientasi domestik dan mempunyai kepentingan jangka
pendek. Mereka memanfaatkan euforia Australia atas Timtim dan
tidak terfokus pada perbaikan kembali hubungan dengan Indonesia.

Sementara, Indonesia kini masih mengalami 'luka' atas pengalaman
kasus Timtim dan juga berbagai masalah yang mengancam keutuhan
Negara Kesatuan RI. Analis politik Hermawan Sulistyo mengatakan
dia akan senang melihat foto mantan Presiden Soeharto dibakar,
tetapi jika seseorang membakar bendera nasional Merah-Putih maka
itu berarti ''Anda membakar darah saya''.

Rakyat Indonesia tidak akan pernah lupa bahwa ketika RI
menghadapi tekanan internasional, pemerintah Howard, pers
Australia, dan lainnya terlihat sibuk dengan 'pesta kemenangan'.
Hal itulah yang menjadi sumber kepahitan Indonesia atas
Australia.

Meski begitu, harus diakui pula bahwa kemajuan upaya pemulihan
yang dilakukan telah mencapai hasil jauh dari perkiraan semula.
Dubes Australia di Jakarta, John McCarthy, mengatakan tingkat
pemulihan hubungan saat ini telah mencapai 60-70 persen sesudah
Presiden Abdurrahman Wahid merencanakan kunjungan ke Australia
pertengahan tahun ini. McCarthy menganalisis bahwa untuk
mencapai tingkat pemulihan hubungan secara penuh bisa butuh
waktu beberapa bulan bahkan tahunan.

Ironisnya justru kondisi Indonesia sekarang lebih kondusif
ketimbang saat hubungan kedua negara cukup erat.

Menurut Harold Crouch, Indonesia telah melakukan dua peristiwa
bersejarah yaitu melepas Timtim dan menyelenggarakan pemilihan
presiden secara demokratis. Selain itu, kemajuan dalam kebebasan
pers dan pemberdayaan masyarakat sipil. ''Namun hubungan
Canberra-Jakarta tetap dalam periode beku. Hal itu karena
kurangnya saling pengertian satu sama lain.''

Elite Indonesia masih mempertanyakan mengapa Australia terlihat
begitu sangat aktif atas Timtim. Beberapa orang menduga itu
merupakan bagian dari rencana ekspansi Australia. Persepsi itu
makin kuat dengan munculnya ''Doktrin Howard'', sehingga tugas
membangun kembali hubungan kedua negara makin sulit, meskipun
upaya tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

Tetapi, Howard justru menilai sebaliknya bahwa hubungan
Australia dengan negara-negara Asia lebih damai sekarang karena
Australia tidak lagi 'gelisah' terhadap masalah regional.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Mar 2000 jam 04:38:22 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke