----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 9 Maret 2000

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PM MAHATHIR AKAN JADI PENGHUBUNG ANTARA PEM GUS DUR DAN GAM
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

MALAYSIA SIAP JADI PERANTARA DALAM MASALAH ACEH

Hari ini, Kamis, 9 Maret 2000, Perdana Menteri Malaysia Dato' Dr Sri
Mahathir Mohammad yang didampingi oleh Menteri Keuangan Tun Daim
Zainuddin, Menteri Luar Negeri Dato' Seri Syed Hamid Albar, Menteri
Perdagangan Internasional dan Industri Dato' Seri Rafidah Aziz dan
Menteri Perusahaan Utama Dato' Seri Dr Lim Keng Yaik serta Direktur MAS
Tan Sri Tajudin Ramli yang memimpin 150 eksekutif dan profesional di
Malaysia akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.

Dimana tujuan dari kunjungan ini adalah untuk meningkatkan kerjasama
ekonomi dan mencari format keterlibatan kalangan usahawan Malaysia dalam
pemulihan ekonomi Indonesia. Malaysia dengan total investasi ke
Indonesia sebesar 7.6 milyar dollar AS menduduki urutan ke-11 dalam hal
investasi. Sebagian besar investasi ditanamkan dalam perladangan kelapa
sawit di Sumatera dan Kalimantan. (
http://www.detik.com/peristiwa/2000/03/09/200038-235947.shtml )

Sedangkan tujuan yang lainnya adalah PM Mahathir akan menjadi penghubung
dalam menyelesaikan konflik bersenjata di Aceh antara Pemerintah Gus Dur
dan Gerakan Aceh Merdeka (Text TV 1 Swedia, 8 Maret 2000).

KONFLIK ACEH TIDAK SELESAI BISA PENGARUHI STABILITAS MALAYSIA

Gus Dur telah berusaha untuk menyelesaikan Aceh dengan metode bawah
tanah tanpa melibatkan kekuatan pihak luar. Usaha diplomasi hubungan
langsung secara diam-diam dengan pihak GAM ternyata belum membawa hasil
yang cukup baik. Dimana kenyataannya dilapangan dan didaerah konflik
Aceh masih terjadi kerusuhan dan jatuh korban rakyat Aceh.

Aceh yang kaya dengan Liquid Natural Gas (LNG) yang sekarang dikelola
oleh PT Arun yang pembangunan kilang gasnya dibiayai Jepang dengan
hampir sebagian besar LNG dan semua LPG yang dihasilkan PT Arun diexpor
ke Jepang. Begitu juga dengan minyak bumi-nya yang dikelola oleh Mobil
Oil sejak tahun 1971 tidak begitu saja bisa diselesaikan dengan mudah.
Kepentingan luar negeri yang diwakili oleh Jepang dan Amerika yang
keduanya mempunyai kepentingan yang besar di Aceh karena minyak dan
gasnya tidak bisa dianggap masalah ringan.

Karena Aceh yang kaya dengan natur Gas dan minyak bumi serta letaknya
yang strategis di selat Malaka inilah yang akan membawa konflik Aceh
bukan hanya konflik dalam negeri RI saja tetapi akan membawa
keterlibatan pihak luar. Dan keadaan inilah yang mendorong Malaysia
dibawah PM Mahathir untuk ikut menyelesaikan perselisihan besar antara
pihak Pemerintah RI dan Aceh yang diwakili oleh mahasiswa, kaum buruh,
Ulama, tjendekiawan, LSM dan GAM/AGAM.

Apabila pertikaian Aceh tidak selesai, maka konflik ini akan merembet
kepada kestabilan negara-negara bagian Malaysia. Karena apabila kekayaan
gas dan minyak Aceh dijadikan sumber bahan bakar konflik, maka jelas
pihak Jepang dan Amerika tidak akan lepas tangan. Sehinga pertikaian
Aceh akan menjadi pertikaian internasional yang dampaknya akan terasa
dan mempengaruhi kestabilan negara federasi Malaysia.

SIKAP PEMERINTAH GUS DUR VS GAM

Sikap yang ditampilkan oleh pihak GAM adalah GAM tidak  ingin duduk
berdialogue dengan RI didalam negeri Indonesia dibawah todongan senjata
RI, dengan tidak dihadiri oleh Badan ke-III, yang bersifat international
dan neutral. GAM berusaha agar pelaksanaan Referendum yang telah mutlak
menjadi tuntutan rakyat Aceh dilaksanakan di Aceh dalam waktu
sesingkat-katnya dengan dihadiri oleh badan ketiga dari Dunia
Internasional yang bersifat neutral dan tidak memihak. ( Dr. Husaini
Hasan, Berfikir Secara Merdeka, 22 Februari 2000)

Sikap Pemerintah Gus Dur adalah menjadikan pertikaian dan konflik di
Aceh sebagai konflik dalam negeri Indonesia dan menolak semua campur
tangan Internasional. Persoalan Aceh diselesaikan sendiri antara
Pemerintah Gus Dur dan rakyat Aceh. Dimana salah satunya dengan melalui
diplomasi diam-diam baik secara langsung atau tidak langsung dengan
pihak GAM dan dengan seperti yang diusulkan oleh Menteri Negara Urusan
Hak Asasi Manusia (HAM) Hasballah M Saad (asal dari Aceh) yaitu
menyiapkan pelaksanaan UU Otonomi Daerah (UU 22/99), UU Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah (UU 25/99), dan UU Pemberlakuan Syariat Islam
di Aceh (UU 44/99).

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Mar 2000 jam 00:41:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke