----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

George J. Aditjondro:

"Tuntutan Menentukan Nasib Sendiri Overlap"

"Tabea aski." Itulah kali pertama yang diucapkan George J. Aditjondro
ketika menyapa JUBI, minggu lalu. Salam yang berarti damai sebagaimana
pernah dipopulerkan Arnold Ap itu seolah menegaskan bahwa George tidak
pernah putus dengan Papua. Segala gerak Papua masih menjadi kajian
kekritisannya.

Latarbelakangnya sebagai wartawan, dosen, dan aktivis memang memberinya
perlengkapan untuk selalu kritis. Dan kekritisan itulah yang menjadikan
George fenomenal. Ketika Soeharto masih begitu kuat, dia diburu aparat.
Gara-garanya, lelaki yang pernah bertahun-tahun bermukim di Papua ini
terlalu kritis menggugat kebobrokan mantan presiden tersebut. Dan ketika
gerakan menjatuhkan Soeharto dari singgasana kepresidenan berhasil,
serta-merta dia juga menjadi bahan perbincangan. Tulisannya tentang
kekayaan Soeharto Cs sempat menggelorakan semangat masyarakat menuntut
peradilan atas Soeharto. Hingga kini.

Lalu, ketika masalah Aceh sedang berklimaks, kekritisannya juga memerahkan
telinga aparat. Tabloid Masyarakat Sipil, yang memuat wawancara itu pada
edisi Mei 1999, sempat kebat-kebit "diapa-apain". Tapi, bukanlah George
jika tidak terus kritis. Soal Papua? "Yang perlu dipersiapkan dalam jangka
sangat pendek adalah suatu bentuk kepempimpinan kolektif, semacam
presidium," katanya. Kepada M. Kholifan dari JUBI, George menjawab berbagai
pertanyaan seputar gerakan Papua Merdeka. Berikut petikannya:

Bagaimana peluang Papua Merdeka?

Sesudah rubuhnya Tembok Berlin, konflik-konflik internasional yang sangat
menggema di dunia, bukan lagi soal komunis versus kapitalis, melainkan
antara pendukung HAM dan penentang HAM. Konflik-konflik internasional tidak
lagi antarnegara semata-mata,  melainkan sangat multi-dimensional. Gerakan
sosial (social movements) melawan bank-bank pembangunan multilateral
(multilateral development banks), seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan
Asia, Bank Pembangunan Inter-Amerika, dsb. Juga antara gerakan sosial
internasional, misalnya gerakan lingkungan, melawan maskapai multinasional
(MNC). Selain itu, gerakan pro-bangsa-bangsa pribumi (indigenous peoples),
perempuan, dan HAM semakin besar. Pun peranan asosiasi-asosiasi regional,
seperti ASEAN dan South Pacific Forum.

Tuntutan bagi penegakan hak bangsa Papua Barat untuk menentukan nasib
mereka sendiri overlap (tumpang tindih) dengan berbagai gerakan itu. Juga
dengan perjuangan Gerakan bagi Kawasan Pasifik Yang Merdeka dan Bebas
Nuklir yang berbasis di Suva, Fiji, yang juga menjadi pusat berbagai kantor
South Pacific Forum.

Di Pasifik Selatan, dukungan bagi perjuangan kemerdekaan Papua Barat, yang
tadinya hanya terbatas di antara negara-negara rumpun Melanesia, terutama
Vanuatu, kini sudah menjalar ke Samoa. Samoa terdiri dari negara Samoa yang
merdeka, dan Samoa yang merupakan wilayah AS, yang dengan demikian punya
wakil dalam Kongres AS. Wakil American Samoa itu belakangan ini telah

mengangkat isu Papua Barat di Kongres AS.

Apa yang harus dipersiapkan masyarakat Papua?

Yang perlu dipersiapkan, dalam jangka sangat pendek, adalah suatu bentuk
kepempimpinan kolektif, semacam presidium, yang dapat mewakili berbagai
kelompok etno-linguistik (etnis) di Papua Barat. Juga mewakili perbedaan
pendapat tentang strategi perjuangan, faham ekonomi, serta sistem politik
yang dicita-citakan.

Bagaimana kapasitas para pemimpin Papua sekarang?

Saya belum kenal secara pribadi kapasitas semua pemimpin Papua yang ada
sekarang. Pers cenderung menyederhanakan masalah dengan memfokuskan pada
satu dua orang. Misalnya pada paitua Ondoafi Besar Sentani, Theys Eluay.
Dari liputan televisi Australia, saya sudah melihat munculnya suatu bentuk
kepemimpinan kolektif. Ada tokoh kharismatik seperti Theys Eluay, ada
pejuang lingkungan seperti Tom Beanal, ada intelektual seperti Willy
Mandowen. Buat saya, siapa saja yang diterima oleh orang banyak, sudah
memenuhi salah satu syarat bagi seorang pemimpin, yakni punya basis massa.

Nah, para pemimpin yang punya massa dan kharismatik itu, perlu melengkapi
diri dengan mereka yang punya keahlian khusus, misalnya, keahlian dalam
politik dan hukum internasional, keahlian ekonomi, keahlian antropologi,
dan lain-lain.

Yang jelas, orang seperti Yorris Raweyai, jangan diikutsertakan. Sebagai
ketua harian Pemuda Pancasila, tangannya ikut berlumuran darah dan air mata
para pejuang hak-hak asasi manusia. Keputusan paitua Theys Eluway untuk
mengangkat Yorris sebagai ketua adat bagi masyarakat Papua Barat di
Jakarta, merupakan keputusan yang sungguh-sungguh keliru.

Bagaimana sebenarnya dukungan internasional untuk Papua merdeka?

Dukungan internasional bukanlah sesuatu yang konstan. Seperempat abad
lalu, dalam iklim Perang Dingin, Blok Barat kompak mendukung invasi dan
aneksasi Indonesia atas Timor Timur. Lebih-lebih Australia, yang kemudian
mendahului semua negara Barat lainnya mengakui pencaplokan Timor Loro Sa'e
secara de facto dan de jure, supaya dapat mengatur pembagian potensi migas
di Celah Timor dengan Indonesia, demi keamanan pasokan migas Australia di
abad ke-21 ini.

Seperempat abad kemudian, ketika Xanana Gusmao dan Jose Ramos-Horta
memimpin, yang demi kesatuan perjuangan bekerjasama secara erat dengan
partai pro-kemerdekaan yang konservatif dan pro-kapitalis, UDT, sikap blok
Barat berubah. Apalagi ketika "citra" para pejuang kemerdekaan Timor Loro
Sa'e bergeser dari Fretilin ke Gereja Katolik, yang dipimpin Uskup Belo.

Selanjutnya, seiring meningkatnya represi Indonesia, blok Barat di bawah
pimpinan AS, yang tidak lagi punya saingan sebagai "polisi dunia",
dukungannya bergeser ke CNRT, organisasi payung perlawanan Timor Loro Sa'e
pimpinan Xanana. Apalagi setelah Xanana, dari dalam penjara Orde Baru,
bersedia memberikan semacam garansi tertulis pada maskapai minyak
Australia, BHP, bahwa negara Timor Loro Sa'e yang merdeka akan tetap
menaati prinsip-prinsip Perjanjian Celah Timor.

Mengambil analogi dari kasus pergeseran dukungan blok Barat dari Jakarta ke
CNRT, saya rasa bahwa dukungan blok Barat terhadap klaim Jakarta atas Papua
Barat juga bisa bergeser, seiring dengan perubahan dalam konfigurasi

politik dunia. Juga dapat bergeser, apabila (a) para pejuang kemerdekaan
Papua Barat dapat merapikan barisannya (b) dapat memberikan rasa aman
kepada maskapai-maskapai mancanegara, yang kini beroperasi di bumi dan laut
Papua Barat, dan (c) dapat menunjukkan pada dunia luar, bahwa "they are the
good guys, and the Indonesians are the bad guys", dengan mengutamakan
perjuangan diplomatik. Suatu smiling policy, tanpa operasi-operasi
penyanderaan seperti yang terjadi beberapa tahun lalu.

Kalau dikatakan bahwa dunia internasional mendukung klaim Indonesia atas
Papua dan Aceh, di mana gerakan-gerakan kemerdekaan setempat -- OPM dan GAM
-- dianggap sebagai "persoalan dalam negeri Indonesia", mengapa dunia
internasional mendukung bubarnya Uni Soviet dan Yugoslavia, justru pada
saat partai-partai komunis di kedua negara itu sudah tidak lagi merupakan
kekuatan monolit yang harus ditakuti? Apakah itu sekedar untuk mencegah
bangkitnya "hantu komunis" kembali, ataukah karena gerakan-gerakan
kemerdekaan di kawasan Baltik dan Balkan pintar mencari dukungan di antara
turunan mereka di luar negeri?

Bagaimana dengan perbagai tawaran solusi Gus Dur pada 31 Desember lalu?

Gus Dur adalah pejuang hak-hak asasi manusia yang masih mengidap penyakit
ultra-nasionalis, dan masih berada dalam "penjara" alam berfikir tentara.
Menggali hukum adat, dalam kerangka negara kesatuan, di mana bangsa Papua
hanya merupakan satu minoritas, di tengah-tengah bangsa-bangsa lain di
Nusantara, yang ingin memperluas ruang hidup mereka, dengan menginjak-injak
hak-hak adat masyarakat setempat, berbeda dengan menggali hukum adat di
Papua Niugini, di mana rumpun bangsa Melanesia merupakan mayoritas.

Kalau mau mengadili militer yang melanggar HAM di Papua Barat, harus mulai
dari pengadilan anumerta terhadap Ali Murtopo dan Sarwo Eddhi, dan banyak
jenderal dan pensiunan jenderal lain. Termasuk pengadilan terhadap Rajakami
Sembiring Meliala, yang berkolaborasi dengan Kopassus (waktu itu masih
disebut Kopassandha), untuk menghabisi nyawa Arnold Ap dan mengebiri
kegiatan Mambesak, yang dikhawatirkan akan menggalakkan nasionalisme Papua
Barat lewat bidang kebudayaan.

Gagasan mengadili militer Indonesia yang melanggar HAM di bumi kasuari ini
akan segera ditorpedo oleh keluarga TNI yang gugur di Papua, dengan
menuntut "keadilan" berupa pengadilan terhadap para pimpinan dan anggota
OPM, yang membunuh keluarga mereka. Tanpa membedakan mana yang aksi dan
mana yang reaksi.

Makanya, saya tidak begitu optimis terhadap validitas saran-saran Gus Dur
itu. Saya hanya dapat mengatakan, kembalikan kepada rakyat Papua Barat
sendiri  dengan mengulangi referendum tahun 1969. ***

Wawancara Tabloid JUBI (= Jujur Bicara) dengan saya soal prospek Papua
Merdeka.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 2000 jam 07:59:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke