----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Date of Publication: March 2000
INDONESIAN MUSLIMS FOR GLOBAL PEACE AND JUSTICE

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh

ULAMA BESAR WAFAT, TAK SATU PUN MEDIA KITA MELIPUTNYA
oleh Agung Primamorista

Beberapa  hari  yang  lalu  seorang  ulama besar, syaikh Sayyid Sabiq telah
berpulang  ke  rahmatullah.  Peristiwa  tersebut  begitu  mengejutkan dunia
Islam, sehingga Islam on-line, sebuah media Islam berbahasa Inggris menulis
"Seorang   ahli  fiqih  terbesar  abad  20  telah  wafat."  Media  tersebut
melaporkan  bahwa acara takziyah ulama pengarang kitab Fiqh Sunnah tersebut
dihadiri   lebih   dari  10.000  jama*ah  yang  memadati  Masjid  Rabiyatul
Adawiyyah,  Kairo.  Syaikh  Muhammad  Ath-Thantawi,  beserta para ulama dan
petinggi  Mesir  dilaporkan  hadir  dalam acara tersebut. Pada bagian akhir
pemberitaannya,  Islam  On-line  edisi  1  Maret  2000  tersebut  tak  lupa
mencantumkan  nomor  faks almarhum, yang berguna bagi siapa saja yang ingin
menyampaikan ucapan belasungkawa.

Berdasarkan pengamatan penulis, cukup banyak media masa Islam di Barat yang
meliput  peristiwa  tersebut.  Tak kurang media sekelas IINA (International
Islamic  News  Agency),  yang  berpusat  di Amerika, menulis "Seorang ulama
Mesir  terkenal  telah  wafat. Bukunya, Fiqih Sunnah telah diterjemahkan ke
beberapa  bahasa,  adalah  sebuah  buku yang benar-benar mengingatkan kita,
kepada salah satu sumber dalam ilmu Fiqh."  Media tiga bahasa tersebut juga
menyatakan bahwa, Sayyid Sabiq telah menyumbangkan hidupnya selama setengah
abad  menggeluti  dakwah  dan  kebudayaan Islam, dan memegang banyak posisi
penting  dalam  bidang  pelayanan  masyarakat  sipil  di  Mesir.  MSA  News
mengangkat  berita  tersebut  dengan  mengatakan  bahwa  Sayyid Sabiq telah
berjuang  demi  agama  Allah,  tidak  hanya  dengan  pena,  pengetahuan dan
kefaqihannya,  tetapi juga secara fisik di Palestina pada perang tahun 1948
bersama para pemuda Ikhwanul Muslimin." "May Allah reward him with the best
reward of Al-Ulamaa Al-Mujahideen", tulisnya. Begitu pula MUSALMAN on-line,
membuat  judul "Raksasa Fiqh telah Wafat" pada hari yang sama. Demikianlah,
berbagai  rasa  simpatik dan penghargaan yang diberikan media masa Islam di
Barat,  kepada  Syaikh  Sayyid  Sabiq,  seorang  ulama mujahidin yang telah
berjuang secara tulus ikhlas di jalan Allah.

Namun,  sayang  seribu  sayang,  tak  satu pun media masa kita yang meliput
peristiwa  penting tersebut, walau sekedar menyampaikan rasa simpatik. Jika
Islam  on-line  dan  media  masa  Islam di Barat lainnya, menyampaikan rasa
simpatik  yang  mendalam kepada beliau dengan menceritakan perjalanan hidup
serta  berbagai  prestasi  yang  telah  dicapainya,  media masa kita justru
sebaliknya  :  tidak mengetahui kepergian hamba Allah yang sholeh dan faqih
itu.

Kantor  berita  Antara  on-line yang mengambil motto "Get the update news",
misalnya,  sampai saat ini tidak tahu menahu akan peristiwa itu. Hal serupa
juga  dialami  oleh keenam stasiun televisi di negeri mayoritas muslim ini,
meskii  mereka  selalu mengklaim sanggup menyajikan informasi aktual, tajam
dan terpercaya.

Harian  KOMPAS dan Media Indonesia juga sama saja. Namun, mayoritas pembaca
di  Indonesia  nampaknya  sudah  mahfum akan sepak terjang kedua media ini.
Yang   mengherankan   adalah  Republika.  Harian  umum  yang  dikenal  oleh
masyarakat  sebagai  media  yang  "pro-Islam", sampai hari ini belum sempat
memberitakan kepergian sang ulama, apalagi mengulas liku-liku kehidupannya.

Padahal,  bila  kita  tengok  kejadian  beberapa  tahun  yang lalu, saat PM
Israel,  Yitzak  Rabin  terbunuh,  seluruh media massa mengeksposnya secara
besar-besaran.  Begitu  pula  pada  saat  Paus  Johanes Paulus II melakukan
perjalanan  spiritualnya  ke  Mesir  beberapa waktu yang lalu. TVRI melalui
siaran  Dunia  Dalam  Beritanya meliput kegiatan tersebut dalam durasi yang
relatif  cukup  lama.   TVRI  juga melaporkan bahwa kunjungan Paus tersebut
mendapat  sambutan  hangat  dari pemimpin para ulama Mesir, Syaikh Muhammad
Ath-Thantawi.  Bahkan   dalam kesempatan televisi tsb, TVRI sempat mengutip
ucapan  Paus  yang  mengutuk segala bentuk kekerasan atas nama agama. Masih
hangat   pula  dalam  ingatan  kita,  saat  Presiden  Gus  Dur  dan  nyonya
mengunjungi  Roma  beberapa  waktu  yang lalu, tak satu pun media masa kita
yang  luput  mengekspos  berita  tersebut. Langkah serupa juga diikuti oleh
hampir  seluruh media masa kita, bahkan harian KOMPAS memampang besar-besar
foto ketiga "tokoh dunia" tersebut, di halaman muka.
Demikian  pula  saat seorang tokoh dunia Barat terlibat sebuah skandal seks
atau  pun  seorang selebritis terlibat suatu kasus, maka dengan serta merta
seluruh  media  masa  di negeri kita mengeksposnya secara besar-besaran dan
berulang-ulang.  Namun,  tatkala  ribuan jiwa kaum Muslimin dibantai dengan
keji di Bosnia, Kosova atau pun seorang ulama besar yang  wafat, maka hanya
segelitir saja dari media kita yang meliputnya secara proporsional.

Sungguh ironis memang. Tapi, itulah kenyataan yang terjadi saat ini. Betapa
media  masa kita begitu tergantung terhadap berbagai media masa Barat, yang
nota  bene  sangat  membenci  Islam.   Budaya  "mengekor"  pada masa Barat,
nampaknya  masih  cukup  melekat dalam diri media masa kita, sekalipun kita
tahu  bahwa  media  Barat  senantiasa  menyajikan informasi secara sepihak.
Tidaklah  berlebihan  nampaknya,  jika  kita  ibaratkan  media kita laksana
seekor  burung Beo yang  dari waktu ke waktu hanya dapat "mencontek" segala
macam  ucapan tuannya. Dan sungguh tepat apa yang dikatakan oleh DR. Rifyal
Ka*bah,  dalam sebuah seminar tentang TV-ISLAM di Jakarta, tahun 1999 lalu,
bahwa  media  kita  hanya  merupakan salinan dari media Barat. Lalu, sampai
kapan hal akan ini terjadi?

Nampaknya  kaum  muslimin  sudah  mulai bosan terhadap ulah media masa kita
yang sering bertolak belakang dengan kenyataan dan tidak mempunyai
sensitifitas   sama  sekali  terhadap  berbagai  tragedi  kemanusiaan  yang
belakangan terjadi di berbagai belahan dunia.

Melihat  kondisi  yang  begitu memprihatinkan ini, maka tidaklah berlebihan
jika  kaum muslimin di negeri ini mendambakan sebuah media yang benar-benar
dapat  menyajikan informasi yang aktual, tajam dan terpercaya, dan dikeloka
secara  profesional.  Jika  keinginan  tersebut  diwujudkan  sebagai sebuah
kantor berita, stasiun Televisi atau pun  Radio yang Islami, why not?

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh
(DI-02/03/2000)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 2000 jam 08:25:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke