----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 9 Maret 2000

PM Australia John Howard Dianggap Gagal

PM Australia John Howard dikecam di dalam negeri. Ia dinilai
bersikap tak adil terhadap Aborigin, warga asli Australia.

CANBERRA -- PM Australia John Howard dianggap gagal menunjukkan
kepemimpinan nasionalnya. Kecaman itu dilontarkan Senat
Australia, menyangkut langkah rekonsiliasi dengan masyarakat
Aborigin yang merupakan suku bangsa asli Australia.

Kecaman itu dilontarkan menyusul pengumuman hasil jajak pendapat
umum terbaru dari lembaga Newspoll Rabu (8/3), kemarin. Hasil
jajak pendapat tadi mengungkapkan bahwa delapan dari 10 warga
Australia berkeyakinan rekonsiliasi warga kulit putih dengan
Aborigin merupakan hal yang penting.

Mosi kecaman atas kebijakan Howard -- untuk menentang permintaan
maaf dan tenggat waktu rekonsiliasi -- mendapat dukungan dari 33
senator. Sedangkan senator yang membela sikap Howard tersebut
hanya 28 orang.

Dalam sebuah debat di parlemen, satu-satunya senator keturunan
Aborigin Aden Ridgeway mengecam pedas sikap Howard manyangkut
isu rekonsiliasi tersebut. Ridgeway menganggap Howard tidak
realistis dalam bersikap terhadap persoalan hubungan antara suku
asli Aborigin dengan warga kulit putih pendatang.

Ridgeway bersikeras bahwa kebijakan untuk menolong kaum pribumi
Aborigin haruslah serupa dengan kebijakan yang dirancang untuk
membantu seluruh masyarakat Australia. ''Sekarang menjadi jelas
bahwa Australia tidak siap menerima budaya pertama Negara
Kanguru,'' katanya.

Jajak pendapat Newspoll menunjukkan, 37 persen responden
menganggap rekonsiliasi sebagai hal yang 'sangat penting'.
Tetapi hanya empat dari 10 responden menyetujui pemerintah
meminta maaf atas penculikan anak-anak Aborigin yang terjadi
pada awal 1960-an.

Newspoll juga menyimpulkan bahwa sebanyak 84 persen responden
setuju bahwa kaum Aborigin mendapatkan perlakuan tidak adil di
masa lalu. Namun 57 persen responden menolak meminta maaf. Jajak
pendapat Newspoll yang diikuti 1.300 responden itu menyimpulkan
pula bahwa sebagian besar rakyat Australia menolak bertanggung
jawab atas peristiwa masa lalu dan memilih untuk memusatkan
perhatian pada masa depan.

Survei Irving Saulwick and Associates yang dipublikasikan, pekan
lalu, juga menyimpulkan adanya penolakan warga kulit putih
Australia untuk meminta maaf atas terjadinya penculikan anak-
anak Aborigin.

PM Australia John Howard menunjukkan sikap tidak simpatik
terhadap warga minoritas Aborigin dengan mengabaikan tenggat
waktu rekonsiliasi pemerintahnya dengan rakyat Aborigin pada 31
Desember 2000. Sikap Howard itu merupakan pelanggaran atas
janjinya ia untuk kedua kalinya menang dalam Pemilihan Umum
(Pemilu) pada Oktober 1998.

Howard, pada saat itu dengan lantang menyuarakan program
pemerintahnya yang memprioritaskan rekonsiliasi dengan Aborigin
sebelum akhir tahun 2000. Rekonsiliasi tersebut diharapkan dapat
menghapus luka lama warga Aborigin Australia atas kasus
penculikan anak-anak Aborigin (stolen generation) oleh
pemerintahan kulit putih Australia di masa lalu.

Nasib dan kesejahteraan warga Aborigin Australia sampai sekarang
jauh tertinggal dibandingkan dengan nasib warga kulit putih
Australia. Akibatnya warga Aborigin sering diidentikkan dengan
kemiskinan dan kriminalitas.

Beberapa negara bagian Australia bahkan memberlakukan undang-
undang berbau rasialis untuk menghukum anak-anak dan remaja
Aborigin yang sering mencuri.

Nasib warga Aborigin Australia dewasa ini persis dengan nestapa
yang diderita warga asli Indian di Amerika. Sebagai warga asli,
mereka justru tak memiliki kekuasaan apa pun, karena telah habis
diserobot warga pendatang kulit putih.

Mula-mula, warga kulit putih pendatang di Australia kebanyakan
merupakan nara pidana (napi) dari Inggris. (ant/pra)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Mar 2000 jam 02:40:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke