----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

POLITIK MAKAN SIANG GUS DUR

Ada tiga acara "makan di luar" Gus Dur yang mendapat perhatian penuh dari
masyarakat. Makan malam di rumah Wiranto, makan pagi di tempat Habibie, dan
makan siang di Cendana, kediaman Soeharto. Semuanya atas inisiatif Gus Dur
sendiri. Sementara itu banyak pengamat yang memuji manuver-manuver politik Gus
Dur ini. Jurus apa yang sedang kau mainkan, Gus?

Yang pasti Gus Dur ingin muncul sebagai pemenang. Pertemuan dengan Wiranto
dilakukannya setelah ia dengan tangan dingin menonaktifkan Wiranto. Jelas, ini
kekalahan telak untuk Wiranto. Skornya 2-0. Pukulan pertama saat Gus Dur
keliling eropa, setiap hari meminta Wiranto mundur berkaitan dengan laporan
KPP HAM Timtim. Pukulan telak kedua saat kembali ke tanah air, Gus Dur
langsung menonaktifkan Wiranto dan "melantik" penggantinya Soerjadi Soedirdja
sebagai Menko Polkam AI.

Makan pagi Gus Dur di kediaman Habibie juga cukup menarik. Apalagi pada saat
itu Gus Dur akan diagendakan berbicara di acara Habibie Centre. Jika Gus Dur
benar berbicara di Habibie Centre maka ini akan merupakan suatu kekalahan bagi
BJ Habibie. Bukankah Gus Dur yang menggagalkan Habibie sebagai Presiden.
Dengan menarik dukungannya pada Habibie maka putra Sulawesi ini terjerembab.
Gus Dur memang pintar berpolitik. Dengan usahanya mengkooptasi Habibie Centre
dan sebagai kompensasi memberikan rumah kepada Rudy Habibie maka Gus Dur
lagi-lagi menunjukkan kelebihannya dibidang politik ketimbang Habibie.

Yang paling menarik dan mendapat perhatian banyak kalangan adalah pertemuan
Gus Dur dengan mantan orang kuat di Indonesia, Soeharto. Banyak pengamat yang
mengaku bingung dengan tingkah Gus Dur ini. Tidak sedikit yang bilang bahwa
pertemuan ini dimaksudkan Gus Dur untuk meredam pengikut Soeharto. Sekali lagi
pengikut Soeharto, yang diyakini masih ikut bermain memanasi suasana. Ya, Gus
Dur masih memperhitungkan faktor Soeharto.
Ada juga yang bilang, pertemuan itu mengajarkan pada masyarakat tidak adanya
dendam politik. Toh, Gus Dur sendiri yang bilang bahwa kunjungannya ini adalah
silaturahmi biasa, yang muda mengunjungi yang tua dan sedang sakit. Sedangkan
beberapa pengamat politik mengkhawatirkan bila kunjungan Gus Dur ke rumah
Soeharto, akan berimplikasi buruk berkaitan dengan hukum, misalnya Gus Dur
akan mengampuni Soeharto yang sedang dalam penyidikan oleh kejaksaan. Namun
hal ini akan ditentukan waktu.
Yang jelas, kunjungan ke rumah Soeharto ini bersamaan waktunya dengan besarnya
pertanyaan di masyarakat berkaitan dengan pemrosesan kasus Soeharto. Apakah
Soeharto benar-benar sakit sehingga Kejaksaan tidak dapat memeriksanya.
Nah, Gus Dur telah bermain cantik saat menyambangi Soeharto, dan Soeharto
sepertinya terjebak. Gus Dur sedang memainkan peran politik dalam porsi yang
besar. Dengan kunjungannya itu, dia membantu Jaksa Agung Marzuki Darusman
untuk membuktikan Soeharto itu sehat dan siap untuk diperiksa. Seperti
diketahui, pemeriksaan mantan presiden ini selalu tertunda karena alasan
kesehatan Soeharto. Jangankan untuk pemeriksaan secara hukum. Pemeriksaan
kesehatan Soeharto oleh tim kejaksaan sendiri pun terganjal karena kondisi
kesehatannya yang dikatakan keluarga dan pengacaranya sebagai tidak memungkinkan.

Inilah trick-nya Gus Dur. Secara luas terlihat di televisi Soeharto masih
sehat. Senyumnya pun masih manis seperti dulu. Paling tidak, membantah
anggapan banyak orang selama ini seperti diutarakan orang sekitar Soeharto
bahwa mantan presiden itu sakit parah dan sudah tak bisa apa-apa. Bicara pun
sulit dan sebagainya. Kondisi Soeharto itu pun diakui oleh Mbak Tutut, anaknya
yang mengatakan bahwa secara fisik bapak baik. Namun dia tak menyebut secara mental.

Dengan kedatangan Gus Dur itu, maka sudah sedikit mengeliminir pendapat
sebelumnya bahwa Soeharto sakit jasmani dan rohani. Dua hal yang menjadi
syarat mutlak memeriksa seseorang. Apakah kunjungan Gus Dur itu juga untuk
membantu kejaksaan, adalah Jaksa Agung yang harus menterjemahkan dan berjuang
keras. Sayangnya, justru Jaksa Agung yang terlihat lambat. Lagi-lagi tim
dokter yang disiapkan kejaksaan gagal untuk memeriksa Soeharto. Jangan-jangan
nanti giliran Marzuki Darusman yang ditendang Gus Dur karena
ketidakbecusannya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Mar 2000 jam 16:26:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke