----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Supersemar Bukan Penyerahan Kekuasaan
Cak Roes: Dari Pidato Bung Karno
Feisal Tanjung Diduga Menyimpan

JAKARTA-Mantan Menteri Luar Negeri Dr H Roeslan Abdulgani mengatakan, Supersemar 
sesungguhnya bukan surat penyerahan kekuasaan
sebagaimana yang banyak disebut selama ini.

Menurut Cak Roes, salah satu bukti Supersemar bukan surat penyerahan kekuasaan itu, 
bisa diamati dari pidato Bung Karno tepat satu
hari setelah Supersemar itu terbit.

''Banyak yang lupa, satu hari setelah terbitnya Supersemar itu, Bung Karno kembali 
berpidato. Pernyataannya banyak menyinggung isi
Supersemar,'' tandasnya pada seminar membahas Supersemar di Bandung, akhir pekan lalu.

Sementara itu dugaan terhadap mantan Pangab Jenderal TNI (purn) Feisal Tanjung 
menyimpan naskah asli Supersemar kian kuat.
Setidaknya sudah dua tokoh melontarkan pernyataan itu, yaitu Ketua DPR Akbar Tanjung 
dan Ketua PNI Ny Supeni.

''Dari cerita-cerita yang saya dengar, mantan Pangab Jenderal TNI (purn) M Yusuf 
sempat menyimpan naskah asli supersemar dan
kemudian diserahkan ke Feisal Tanjung,'' kata Ny Supeni, di Jakarta.

Kabar yang diperolehnya beberapa waktu lalu itu masih harus dibuktikan lagi 
kebenarannya. Dan itu harus dijadikan salah satu masukan
bagi penyelidikan atas misteri yang masih menyelubungi sekitar autentifikasi 
Supersemar.

Sebelumnya, Akbar Tanjung juga menyatakan bahwa dari informasi yang diperoleh dari M 
Yusuf, naskah Supersemar yang asli itu masih
ada dan oleh M Yusuf diserahkan pada seseorang. ''Dari pihak Arsipnas mengatakan, 
naskah asli Supersemar ada pada Feisal Tanjung,''
katanya kepada wartawan.

Supeni sependapat bila masalah Supersemar tersebut dituntaskan melalui pengadilan. 
Kendatipun demikian diingatkannya bila harus
menempuh jalur hukum, itu harus dilakukan segera. "Dari tiga jenderal yang waktu itu 
menerima Supersemar, tinggal M Yusuf yang masih
hidup,'' ujarnya.

''Ada hal yang tidak benar dengan (Supersemar) itu," katanya lagi seraya mengatakan 
bahwa sehari setelah surat itu dikeluarkan, pada
12 Maret 1966 dirinya bertemu dengan Soekarno dan menanyakannya.

Soekarno waktu itu, ingatnya, mengatakan surat itu dikeluarkan bagi Soeharto ''sebatas 
untuk menjaga keamanan''.

Adalah keluarga Soekarno yang menurutnya paling berhak mengajukan masalah Supersemar 
jadi kasus hukum. Karena, dalam masa itu
Soekarno dikucilkan juga dari keluarganya.

Sedangkan Cak Roes, yang juga mantan Dubes Ri di PBB mengaku dirinya tidak tahu, di 
mana naskah Supersemar yang asli. Tapi,
berdasarkan pidato 12 Maret, dirinya yakin Bung Karno mengatakan, supaya semua yang 
hadir mengambil segala tindakan yang dianggap
perlu untuk menjamin keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan.

Pada kesempatan itu Cak Roes menegaskan keyakinannya, tentang adanya pihak yang 
menghilangkan kata "lain" pada pernyataan Bung Karno
mengenai keharusan koordinasi perintahnya dengan panglima-panglima angkatan lain.

''Pernyataan itu berarti yang diberi perintah agar melaporkan segala sesuatu yang 
bersangkut-paut dengan tuggas dan tanggung
jawabnya,'' tegasnya.

Kesaksian Wilardjito

Di tempat terpisah, salah satu saksi hidup yang juga mengaku sebagai mantan pengawal 
Presiden Soekarno, S Wilardjito melihat
Soekarno terancam jiwanya ketika menandatangani Supersemar. Dia melihat sendiri 
keduanya mencabut pistol waktu meminta Bung Karno
menandatangani surat tersebut.

Kesaksian itu dia ungkapkan dalam diskusi seputar peristiwa tersebut, di UGM, kemarin. 
Wilardjito mengungkapkan malam hari tanggal
10 menjelang 11 Maret 1966, dia mengetuk pintu Bung Karno dan melaporkan ada empat 
jenderal yang mau menghadap. Mereka yaitu Amir
Mahmud, Basuki Rahmat, M Yusuf dan Panggabean.

Ketika sedang melaporkan kedatangan para jenderal tersebut, menurutnya tiba-tiba 
keempat petinggi militer itu sudah berada di ruang
kerja Presiden. Bung Karno masih dengan pakaian piyama dan selop kemudian keluar dan 
menuju ruang kerjanya. Wilardjito mengawasi
dari jarak sekitar 3 meter.

''Bung Karno waktu itu bertanya mengapa malam-malam datang ke istana,'' ujar 
Wilardjito. Dia mendengar Jenderal M Yusuf memohon agar
Presiden menandatangani sesuatu sambil menyodorkan map.

''Lho ini kok diktum militer, kok bukan diktum kepresidenan,'' kata Bung Karno seperti 
dikutip Wilardjito.

''Untuk mengubahnya waktunya sudah sempit,'' ujar Wilardjito menirukan jawaban Basuki 
Rahmat.

Pada saat menjawab itulah, dia melihat Basuki mencabut pistol jenis FN 46. Langkah 
yang sama dilakukan Panggabean. Melihat Bung
Karno terancam, dia juga mencabut pistolnya. Namun Presiden menurutnya menunjukkan 
sikap tidak senang dengan kondisi tersebut dan
tangan kirinya digerakkan ke atas bawah seakan melarangnya mengeluarkan pistol. Dia 
memasukkan pistolnya dan Bung Karno kemudian
menandatangani kertas dalam map yang disodorkan M Yusuf.

Sebelum tanda tangan, Wilardjito mengaku mendengar Bung Karno berkata,''Ya sudah, 
kalau saya terpaksa menyerahkan mandat ini kepada
Soeharto, tetapi kalau situasinya sudah kembali pulih, mandatnya kembalikan kepada 
saya lagi.''

Disiksa

Wilardjito mengatakan seusai tanda tangan Bung Karno sempat mengingatkannya agar 
berhati-hati. Benar pula apa yang dikatakan
tersebut karena tak berapa lama, malam itu juga, dia ditangkap oleh satu peleton 
pasukan tentara. Bersama 12 teman lainnya dia
dinaikkan ke truk dan dibawa ke rumah tahanan militer (RTM) di Jalan Budi Utomo.

Setelah ditahan selama 6 bulan, dia kemudian diinterogasi di Teperda Jaya. Dia dituduh 
PKI karena berani menodongkan pistol pada
para jenderal yang menghadap Bung Karno. Semenjak itu dia ditahan dan selalu 
berpindah-pindah tempat tanpa melalui prosedur.

''Dalam tahanan saya disiksa tanpa perikemanusiaan, dipukuli, digebuki, dicambuk, 
dalam keadaan bugil saya disetrum,'' paparnya.
Menurut pengakuannya dia juga diminta memangku tahanan wanita yang juga telanjang dan 
diminta ''bermesraan'' di depan 6 petugas
pemeriksa.

Akibat terlalu banyak diperlakukan tidak manusiawi - terutama disetrum - sumsum tulang 
belakang Wilardjito kering. Dia mengatakan
hal itu berdasarkan pemeriksaan dokter dari RS Sardjito dan Bethesda yang menyebutkan 
demikian. Akibatnya lambat laun dia mengalami
kelumpuhan, kendati tidak total.

''Sejak ditangkap, ditahan sampai sekarang saya belum pernah menerima surat 
penangkapan maupun pemecatan. Sedangkan semua data dan
surat-surat termasuk surat nikah, akte anak-anak, semuanya disita tanpa surat 
penyitaan,'' paparnya. (di,D19,bn-60c)

Copyright� 1996 SUARA MERDEKA

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Mar 2000 jam 16:27:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke