---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- TIME, February 28, 2000 vol.155 No.8 "Saya telah berusaha membangun Suasana Yang Damai" Wawancara dengan Jenderal Wiranto, yang telah dinonaktipkan dari jabatannya di kabinet berhubung dengan penyelidikan yang akan dilakukan terhadap peristiwa-peristiwa mengerikan di Timor Timur. Jenderal Wiranto telah berperan sangat utama di Indonesia moderen. Pada tahun 1998 ditunjuk oleh Suharto sebagai Panglima ABRI, dia telah membantu hingga sang diktator lepas dari kekuasaan secara tenang. Dia melihat betapa militer terlibat ke dalam rangkaian krisis-krisis: demonstrasi-demonstrasi pro-demokrasi di Jakarta, bentrokan-bentrokan kekerasan etnis dan keagamaan di propinsi-propinsi, referendum menuntut kemerdekaan di Timor Timur. Pada minggu lalu Wiranto, 52 thn, dinonaktipkan dari jabatan Menkopolkam sejak dirinya dihubungkan dengan laporan tentang pelanggaran-pelanggaran HAM di Timor Timur. Empat hari kemudian dia berbicara dengan reporter TIME Jason Tedjasukmana di kediaman pribadinya di Jakarta Selatan. TIME: Oleh beberapa kalangan-internasional Anda telah dituduh melakukan genoside. Bagaimana reaksi Anda? Wiranto: Tidak ada terjadi genoside. Itu tidak bisa dibandingkan dengan Somalia atau Ruanda, dimana ratusan ribu mati. Berdasar hitungan kami, selama insiden Timor Timur lebihkurang 92 orang yang mati. Sedang menurut laporan KPP HAM, kira-kira 250 orang. Harus kami akui bahwa konflik antara dua belah pihak telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun lamanya. Bahkan sebelumnya telah pula terjadi pertikaian antara grup-grup etnik dan suku-suku. TIME: Segala apa yang saya saksikan di Timor Timur, adalah kehancuran total belaka. Bagaimana kerusakan yang berskala sedemikian itu bisa terjadi tanpa direncanakan atau diorganisir terlebih dahulu? Wiranto: Tidak semuanya telah dihancurkan. Saya pikir, Anda hanya menyaksikan beberapa distrik saja. Dari keseluruhan 12 distrik-distrik, hanya 4 yang mengalami kerusakan berat. Delapan lainnya masih utuh, seperti misalnya Bacau. Mengapa kerusakan tersebut bisa menjadi sedemikian luasnya? Karena, menurut saksi-saksi setempat dan beberapa pastor dan bahkan seorang pastor yang ada di Radio Portugis, bahwa setelah para pendatang-baru dan mereka yang pro-integrasi mendengar tentang kekalahan mereka, maka mereka merasa bahwa kehidupan mereka di Timor Timur telah berakhir dan menganggap bahwa sebaiknya pindah ke tempat lain. Mulailah mereka menghancurkan serta membakari gedung-gedung dan toko-toko yang telah mereka dirikan sedikit demi sedikit selama berpuluh tahun. Mereka tidak rela meninggalkan rumah-rumah mereka, diambil alih oleh mereka yang dianggap musuh. Seusai membakari rumah sendiri, lantas mereka membantu tetangga-tetangga membakari rumah-rumah mereka. Itu sebabnya mengapa tampak seolah peristiwa tersebut sangat meluas, tapi bukan karena sudah direncanakan oleh TNI. Kejadian spontan diakibatkan oleh pemilik-pemilik rumah-rumah itu sendiri. Tanyakanlah pada pengungsi-pengungsi di Timor Barat. Mereka akan menceriterakan hal yang sama. Saya mengharapkan agar para penyelidik internasional langsung menanyakan kepada kami -- pihak pro-integrasi dan petugas-petugas resmi pemerintah yang berada di sana -- agar supaya diperoleh informasi yang berimbang dan dari pihak lainnya. Jika informasi datangnya hanya dari satu pihak saja, tentu bisa diputarbalikkan. TIME: Dengan disoroti tuduhan-tuduhan yang Anda hadapi, apakah Anda takut untuk meninggalkan negeri ini, karena bisa mengalami nasib seperti yang dialami oleh Pinochet? Wiranto: Tidak. Saya bukan Pinochet. Segalanya telah berlangsung sangat emosionil di Timor Timur itu. Ketika saya di sana, kepada bawahan di lapangan, langsung tembak di tempat dan bertindak tegas. Namun jika Anda berhadapan dengan massa yang berjumlah besar serta emosionil, maka tentara dan polisi di manapun saja di dunia ini akan menghadapi problem. Segala yang terjadi bukanlah disengaja. TIME: Bagaimana perasaan Anda dinonaktipkan setelah menjabat beberapa posisi-posisi yang termasuk paling berkuasa di negeri ini? Wiranto: Saya tidak merasa dirugikan ataupun ditekan. Semua yang telah saya lakukan adalah sebagai pengabdian pada negeri. Apapun posisi yang pernah saya pegang, semua demi melaksanakan aktivitas-aktivitas membantu, menolong dan ikutserta untuk pembangunan negeri ini.Tujuan saya adalah melaksanakan tugas, bukan kedudukan. TIME: Dengan cara bagaimana Anda mendapat informasi tentang keputusan Presiden itu? Wiranto: Saya diberitahu oleh Staf Presiden. TIME: Terkejutkah Anda mendengar keputusan tersebut? Wiranto: Tidak. Selama 30 tahun ini saya telah mengalami problem-problem yang lebih buruk lagi. Reaksi saya berimbang saja. Harus berpikir terang, obyektip dan memandang segala sesuatu dengan pandangan luas dan pula tidak menjadi emosionil. TIME: Apakah sekarang ini Anda mempunyai ambisi-ambisi politis? Wiranto: Hal itu belum terpikirkan oleh saya. Status saya masih tetap sebagai menteri, tapi sedang non-aktip. Saya terus menunggu bagaimana penuntasan keseluruhan proses ini. TIME: Sampai di manakah terasa oleh Anda bahwa Anda telah berpengaruh dalam perubahan bersejarah di Indonesia, sejak Anda menjadi Panglima Angkatan Bersenjata? Wiranto: Saya mengalami 3 pemerintahan yang berbeda-beda, dan selama masa-masa itu saya lajutkan berjalan dengan proses reformasi. Ini termasuk perkembangan global yang harus diikuti oleh Indonesia. Apakah itu dalam hal yang menyangkut HAM ataupun lingkungan, mau tak mau haruslah melaksanakan proses reformasi, jika tidak sudi ketinggalan di belakang. Tidak ada tekanan maupun desakan. Reformasi adalah suatu kebutuhan bagi Indonesia. Saya berpendapat bahwa proses tersebut harus berlangsung secara bertahap dan konstitusionil. Saya bahkan telah membuat satu program tentang reformasi dan telah saya serahkan kepada Presiden dan DPR, ketika saya masih menjabat sebagai Panglima TNI. Jadi, itu tak benar jika dikatakan bahwa TNI menghalang-halangi reformasi. Justru karena kami mendukung reformasi, maka kami melaksanakan reformasi secara internal, sehingga dengan demikian kami bisa berjalan sesuai dengan langkah-langkah reformasi secara nasional. Usul yang telah saya ajukan kepada pemerintah adalah bahwa agendanya harus jelas dan pelaksanaannya secara step by step. Hal yang penting adalah bahwa semuanya harus dikontrol dengan sebaik-baiknya, serta dilaksanakan baik dari segi struktural maupun kultural. TIME: Anda pernah bersumpah untuk melindungi Suharto dan keluarganya. Masih mampukah Anda melaksanakannya? Wiranto: Saya akan melindungi setiap Presiden. Dengan demikian saya melindungi kehormatan Bangsa. Saya tidak akan memprotes jika dia dihadapkan ke pengadilan selagi dalam batas yang legal, dan tidak secara ilegal. Namun, saya tidak akan membiarkan ratusan ataupun ribuan orang yang masuk ke rumahnya dan menyeret dia ke jalanan. Itu tindakan yang vulger. Selama pemeriksaan atas Suharto saya tidak melakukan apa-apa, tidak pula campurtangan, karena saya menghormati proses yang legal. TIME: Dunia-luar menganggap bahwa keputusan yang menyatakan Anda berstatus "non-aktip", adalah berdasarkan keyakinan akan kebenaran hasil-hasil penyelidikan yang ditunjukkan oleh KPP HAM, yang menyangkutkan Anda dengan kekejaman yang berlangsung di saat-saat pasca-referendum di Timor Timur. Apa reaksi Anda terhadap tuduhan tersebut? Wiranto: Terlebih dahulu, menurut hemat saya, adalah penting untuk menjelaskan beberapa hal tentang tuduhan-tuduhan yang dilancarkan oleh KPP HAM itu. Pertama-tama, orang harus tahu apa sebenarnya KPP HAM itu. Mereka bertanggungjawab hanya di bidang pengumpulan informasi lalu menyerahkan laporan tentang segala apa yang mereka anggap telah terjadi di Timor Timur. Mereka tidak memiliki wewenang legal berlaku seperti laporan resmi kepolisian. Dengan demikian, laporan tersebut tak dapat digunakan untuk mengambil keputusan resmi yang sah. Kedua, Jaksa Agung masih memerlukan untuk mempelajari semua yang tertera di dalam laporan itu. Itu akan dilakukan melalui suatu team-khusus yang akan dibentuk secara legal, yang selanjutnya akan memutuskan siapa-siapa yang terlibat dan yang seharusnya dimintai pertanggungjawabannya. Sampai di taraf ini, tak seorangpun yang secara resmi telah dinyatakan terlibat, termasuk saya sendiri juga. Yang ketiga, sebagaimana tertera di dalam laporan yang dibuat oleh KOMNAS HAM untuk Jaksa Agung, pada dasarnya saya samasekali tidak terlibat di dalam tindak pelanggaran HAM. Saya dianggap bertanggungjawab atas segala yang terjadi selama saya menjabat Panglima Angkatan Bersenjata pada waktu itu. Betapapun, cobalah dimengerti, bahwa diantara dua hal-ihwal tersebut tadi terdapat suatu perbedaan yang sangat besar. Dengan pikiran yang demikian, saya menganggap bahwa keputusan me-"non-aktip"-kan saya, adalah sebagai keputusan administratip. Hal itu dilakukan untuk memudahkan saya memperoleh info-info tambahan ataupun penjelasan-penjelasan kepada team-khusus yang dibentuk oleh Jaksa Agung. Akhirnya, mengenai dugaan orang bahwa saya bersalah, saya bertanya kepada Anda: siapa itu yang mengatakan bahwa saya bersalah? Sesungguhnya, banyak orang mengatakan kepada saya bahwa mereka tahu saya tidak bersalah! Namun, memang sebaiknya jika kita semua menunggu dan percaya pada peraturan-peraturan hukum serta juga good governance. TIME: Bagaimana pembelaan yang akan Anda lakukan? Wiranto: Jika kita memandang isu Timor Timur dari perspektip pertanggunganjawab, isu tersebut menjadi semakin bertambah lebih jelas. Di posisi saya sebagai Panglima Angkatan Bersenjata, saya bertanggungjawab di bidang pengaturan politiknya (policy formation, - TIME). Saya tidak bertanggungjawab atas penyebaran pasukan-pasukan ataupun atas pengarahan mereka di lapangan, karena itu adalah termasuk tanggungjawab operasional atau juga taktis. Di bidang di mana saya bertanggungjawab, saya telah berusaha sebaik-baiknya untuk membentuk politik yang ditujukan demi berakhirnya konflik bersenjata, demi berakhirnya teror terhadap yang tak bersalah dan juga terhadap pelanggaran HAM. Perjanjian perdamaian yang ditempa di Dilli pada tgl 21 April 1999, hanyalah salahsatu dari banyak usaha-usaha yang dilakukan untuk menciptakan perdamaian antara dua pihak yang telah bertempur selama lebih dari 25 tahun lamanya. Ini saja sudah menuntut kesabaran dan kerja-keras yang luar biasa. Selanjutnya, telah saya tetapkan dan pertahankan netralitas TNI di hari-hari terakhir di Vietnam, serdadu-serdadu Amerika Serikat dengan sertamerta diminta bersikap netral dan lantas berjabatan-tangan dengan Viet Cong. Bagi pihak kami yang telah bertempur dengan Fretilin selama lebih dari 20 tahun, itu membutuhkan disiplin kemiliteran yang luarbiasa tingginya. Itu terbit dari hati yang sejujurnya menginginkan perdamaian. Untuk menguatkan hasil-hasil yang telah dibuat melalui perjanjian perdamaian tersebut tadi, kemudian saya jaga kelancaran penandatanganan perjanjian gencatan-senjata di Jakarta pada 18 Juni 1999. Tanpa senjata untuk berperang, tanpa kehendak untuk menyerang dan pembunuhan akan berakhir. Dengan tak hentinya saya berusaha meyakinkan dua belah pihak itu agar merubah kofrontasi fisik mereka menjadi perjuangan di bidang politik -- melebur pedang mereka menjadi alat untuk bertani. Sejalan dengan itu sayapun telah membentuk Komisi Perdamaian Dan Stabilitas yang terdiri dari wakil-wakil kedua belah pihak pro dan anti-integrasi, dan juga terdiri dari anggota-anggota KOMNAS HAM dan wakil-wakil dari pemerintah. Komisi ini dibentuk untuk membantu mengontrol agar perjanjian-perjanjian yang telah ditandatangani itu tidak dilanggar. Diamping itu saya gembira bahwa penasehat-penasehat kepolisian asing dan perwira-perwira peninjau asing telah juga dikirim untuk membantu kami menjaga keamanan selama Pemungutan Suara. Bersama dengan orang-orang asing tersebut tadi terdapat juga rombongan-rombongan wartawan dan pemantau-pemantau -- seluruhnya berjumlah 4000 orang asing --- dan selama lebih dari 3 bulan itu tak satupun terjadi hal yang fatal. Syukurlah Pemungutan Suara telah berlangsung dengan damai. Kemudian, setelah hasil-hasilnya diumumkan, dan kerusuhan-kerusuhan mulai timbul, saya lantas mengumumkan Darurat Militer guna menguasai keadaan kembali. Saya akui bahwa selama beberapa hari itu telah terjadi pelanggaran-pelanggaran HAM, dan bahwa anggota-anggota TNI dan Kepolisian telah terlibat. Militer dan Kepolisian telah menangkap dan memproses sejumlah anggota-anggota kami yang terbukti bersalah melakukan kejahatan-kejahatan itu. Demikianlah, sebagai seorang yang bertanggungjawab di bidang politiknya, begitulah yang telah saya usahakan untuk menegakkan perdamaian di Timor Timur. Saya merasa, - terkecuali tentusaja para korban yang bersangkutan -, sayalah yang paling terkejut (distraught, -TIME) atas segala apa yang telah terjadi. Saya telah berupaya untuk menegakkan Rumah Berisi Kedamaian, lantas saya saksikan ia terbakar, dan karenanya saya dituduh bersalah. Tapi cobalah Anda pikir: Untuk apa saya mengucurkan keringat dan membantingtulang dengan tangan sendiri untuk membangun rumah semacam itu, lantas hanya untuk dibakar habis? Jawablah. TIME: Apakah Anda merasa bahwa suatu proses resmi sedang dilaksanakan? Wiranto: Telah saya jelaskan bahwa secara resmi saya tidak pernah diadili karena alasan apapun. Keputusan tentang saya akan diadili ataukah tidak, belumlah ditentukan. Tentang apakah ada alasan lain untuk memberhentikan saya dari jabatan, misalnya karena alasan politis, tentang hal itu pada saat ini saya tidak bersedia membuat dugaan apapun juga. Dewasa ini Indonesia sedang mengalami perubahan-perubahan pokok, ataupun reformasi-reformasi, di bidang-bidang politik dan hukum. Jika seandainya telah terjadi manipulasi hukum untuk maksud-maksud politis, maka apa yang terjadi atas diri saya adalah merupakan langkah-mundur (setback, -TIME) ketimbang gerakmaju ke depan sebagaimana yang sedang dibayangkan oleh banyak orang. Lagipula, jika memang terdapat manipulasi hukum untuk maksud-maksud politis, maka itu akan dikritik serta ditolak oleh rakyat. TIME: Apakah alasannya merubah dari mendudukkan Anda di Kabinet, lantas menggeser Anda di menit-menit terakhir? Wiranto: Saya rasa jawaban atas pertanyaan ini lebih tepatnya bisa dijawab oleh seseorang yang lain. TIME: Adakah Anda merasa bahwa karir Anda menjadi tercemarkan oleh keputusan yang dilakukan oleh Presiden? Wiranto: Karis saya di bidang kemiliteran ditentukan oleh segala yang telah saya laksanakan sebagai prajurit profesional. Selagi saya laksanakan tugas-tugas saya sesuai dengan sumpah prajurit, melaksanakan sebaik-baiknya untuk rakyat dan negara, maka saya yakin bahwa kehormatan saya sebagai prajurit akan terjaga dengan baik. TIME: Apakah Anda merasa telah diadili secara prematur? Wiranto: Jika saya merasa diadili, berarti saya merasa bersalah. Ada satu prinsip di dalam hukum, yang disebut "tak bersalah sebelum dibuktikan bersalah". Artinya, sebelum peradilan hukum menyatakan saya bersalah, maka di depan hukum saya pun tidak bersalah, dari itu jangan dikatakan bersalah. Maka itu, sebaiknyalah saya berpikir positip tentang segala yang telah terjadi dan yakin bahwa kebenaran pasti menang. Saya berharap agar masalah ini bisa diselesaikan secepatnya, tanpa intervensi dari luar ataupun kepentingan-kepentingan (vested interests, -TIME) yang merasa bisa meng-sah-kan cara-cara yang bertentangan dengan hukum. *** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Mar 2000 jam 16:27:58 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
