----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA:
---------------------------
10 Maret 2000

Menelusuri set-set politik Gus Dur (4)
Transparansi, Retooling dan Reformasi bergandengan .
Belakangan ini banyak langkah-langkah politik Gus Dur yang menimbulkan
pelbagai reaksi dan komentar. Juga tidak sedikit yang heran dan
bertanya-tanya. Set-set politik tsb misalnya tampak pada langkah-langkah
seperti: Menunjuk Henri Kissinger, mantan menlu AS zaman Nixon, Lee Kuan
Yew, Mandela  dan George Soros untuk menjadi penasihat-penasihat  Indonesia.
Menurut  Kissinger, ia menerima usul Gus Dur itu,  ketika ia berkunjung ke
Indonesia baru-baru ini. Lalu, yang lebih ramai dibicarakan pers, ialah
kunjungan Gus Dur kepada Wiranto, Habibie dan Suharto. Baiklah sementara
disisihkan dulu pembicaraan mengenai langkah-langkah Gus Dur yang belakangan ini.

Baik dilihat dulu masalah yang lebih fundamental yang dihadapi Indonesia
dewasa ini dan apa sikap Gus Dur terhadapnya.

Bila seorag pemimpin, seperti Gus Dur, ingin melaksanakan Reformasi, baik
dibidang kekuasaan politik, perekonomian, kehakiman dan perundang-undangan,
dsb, maka hal itu hanya bisa dilakukannya dengan suatu 'aparat' yang sesuai
dan bisa disandari, yang mampu untuk melaksanakan tugas Reformasi itu.
Disini muncullah keharusan melakukan 'stok opname' terhadap aparat dan
birokrasi peninggalan Orba, yang ada di hadapan mata. Diperiksa dan
disimpulkan: mana 'sekrup', 'mur', 'baut'  bahkan 'motor' yang perlu
diganti, 'diretool'. Di kalangan birokrasi dan aparat itu, kemungkinan
besar, mayoritas  adalah orang-orang yang demi periuk belanganya, turut saja
perintah atasan, meskipun tahu perintah itu menyalahi hukum. Ada yang
ikut-ikutan karena 'kecipratan' rezeki. Tapi, yang gawat, ada orang-orang
yang memang jati-dirinya adalah penganut faham otokrasi-militerisme bahkan
penganut faham fasisme. Tambahan lagi mereka itu bergelimang dan  terlibat
dengan KKN. Mereka biasa ngotot  mempertahankan 'Statusquo", tidak peduli
apapun akibatnya bagi bangsa dan negeri. Orang-orang seperti itu merupakan
minoritas dari aparat dan birokras. Tak salah lagi, mereka itu adalah
sasaran 'retooling' atau 'dismantling'.

Tentu 'retooling' dan 'bongkar pasang' itu,  dilakukan sesuai dengan
kewajaran tumbuh dan perkembangan mekanisme negara yang didasarkan atas
hukum (rechtsstaat). Yang sesuai dengan hak-hak prerogatif  presiden.
Itulah yang dilakukan oleh Presiden Gus Dur sejak beliau bersama Wapres
Megawati, memegang kemudi bahtera negara Republik Indonesia. Tindakan beliau
itu wajar, sesuatu yang  perlu dilakukan oleh seorang kepala pemerintahan
yang bertanggung-jawab.

LANGKAH MULA UNTUK AKHIRI 'DWIFUNGSI'
Apa yang dilakukan oleh Gus Dur selama ini dibidang 'retooling' aparat
negara, khususnya terhadap aparat keamanan, seperti TNI dan kepolisian,
adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Retooling dibidang
pertahanan dan keamanan adalah 'conditio sine qua non', suatu keharusan
untuk terciptanya syarat keamanan fisik dan politik, untuk melangkah lebih
lanjut.  Langkah tsb perlu, mengingat perubahan, transformasi dan reformasi
yang hendak direalisasi adalah begitu besar dan begitu mendalam.Di segi
lain, perubahan itu dilakukan bukan melalui suatu revolusi, atau
penjungkir-balikkan yang tiba-tiba dan radikal, sekaligus dan menyeluruh.
Reformasi yang mulai diberlakukan  pemerintah Gus Dur, bukan dengan cara
'penghancuran' terhadap  mesin militer dan birokrasi yang ada, dan bukan
dengan cara menggantikannya dengan yang samasekali baru, yang muncul dari
gerak revolusi itu sendiri. Apa yang sedang berlaku pada  bangsa kita dewasa
ini ialah suatu perubahan politik yang  struktural yang dilakukan  secara
gradual, secara berangsur-angsur.
Kongkritnya yang mendesak  direformasi, adalah  sistim pemerintahan
militer-otokratis Orba, yang melindungi dan mengisolasi dirinya dari setiap
kontrol dan partisipasi masyarakat. Yang hendak ditegakkan ialah suatu
sistim kekuasaan yang didasarkan atas kedaulatan rakyat, yang demokratis dan
transparan, suatu negara yang didasarkan atas hukum, bukan negara yang
ditegakkan atas dasar kekerasan militer dan polisi.

Perlu senantiasa  terus menerus difahami dan disadari bahwa yang hendak
dituju adalah melakukan perubahan  kultur dan struktur kehidupan politik,
yang dalam arti kata tertentu  adalah suatu penjungkir balikkan terhadap
segala sesuatu yang eksis dan berlaku selama ini. Tujuan itu  hendak dicapai
melalui suatu proses yang evolusioner. Artinya dengan menempuh cara damai
tanpa kekerasan , yang  tidak berdarah. Inilah ciri utama usaha Reformasi
dari Demokratisasi dari pemerinthaan Gus Dur dan Megawati.

PENANGANAN MASALAH EKONOMI:
 Ada satu tugas urgen dari pemerintah,  yang mendesak yang juga tidak boleh
ditunda-tunda.  Yaitu program untuk memulihkan keadaan ekonomi yang masih
belum keluar dari situasi krisis . Amat diperlukan dimulainya  usaha yang
nyata untuk mereformasi bidang vital ini. Kebijakan politik ekonomi Orba
yang terlalu berat keatas, penuh KKN, dan sepenuhnya tergantung  dari luar,
dirasakan perlu diubah secara mendasar.  Perubahan itu diharapkan bisa
memulai transisi dari  keadaan ekonomi dewasa, ini menjadi  usaha ekonomi
yang sungguh-sungguh  nasional, dimana tak ada lagi monopoli swasta. Diatas
segala-galanya perlu menjadikan usaha ekonomi, jadi urusan seluruh
masyarakat, dimana golongan yang hingga kini disebut golongan 'ekonomi lemah
' memperoleh kesempatan dan bantuan untuk tumbuh dan berkembang.

Dengan demikian memberikan kemungkinan kepada golongan ekonomi lemah itu,
untuk menjadi suatu 'kekuatan ekonomi' yang menuju kepada  pemerataan
kemakmuran. Jadi,  tidak menggantungkan harapan pada konsepsi 'trickle down
effect' . Justru di bidang ekonomi  inilah,  tampaknya pemerintah Gus
Dur/Mega masih tampak  lemah. Kelemahan ini agak menonjol pada  segi
konsepsionil, maupun segi administratif serta  pengelolaan organisatoris
lembaga-lembaga  dan para-pakar yang ada. Dalam gerak untuk  merealisasi
program ekonomi nasional, tampak ketiadaan visi dan kemampuan mengelola.
Juga dirasakan  ketiadaan keberanian untuk merumuskan  suatu konsepsi
ekonomi nasional yang orisinil, yang didasarkan  atas  keadaan dan kebutuhan
nasional Indonesia sendiri. Yaitu suatu konsepsi yang menjangkau jauh
kedepan, yang sesuai dengan tujuan kemakmuran rakyat seperti yang tercantum
dalam Fasal 33, UUD-45. Dengan demikian kita  tidak terus-terusan tergantung
dan menggantungkan diri pada investasi, pinjaman dan 'bantuan' modal asing
internasional. Seperti diketahui modal kapitalis internasinal hanya punya
satu tujuan, yaitu mengeduk keuntungan semaksimal mungkin. Hal ini sudah dan
sedang dibuktikan terus oleh praktek IMF maupun Bank Dunia.

 Kelemahan pemerintah di bidang penanganan ekonomi dibikin tambah ruwet,
dengan munculnya ke permukaan,  konflik antara Kwik Kian Gie sebagai Menko
Ekonomi dan Industri (Ekuin) dengan Sofyan Wanandi, ketua  Dewan
Pengembangan Usaha Nasional (DPUN), yang anggota-anggotanya terdiri dari
banyak pengusaha.  Badan ini  khusus dibentuk Gus Dur, maksudnya untuk
memberikan nasihat-nasihat di bidang ekonomi. Konflik tsb memberikan dampak
negatif pada imago pemerintah dibidang kebijakan ekonomi. Membikin orang
mengurut dada. Perasaan demikian itu muncul, , karena suatu badan yang
mestinya memberikan  nasihat kepada presiden tentang  kebijaksanaan ekonomi,
untuk  melancarkan pelaksanaan politik ekonomi pemerintah, kok malah bentrok
dengan sang menteri yang seyogianya harus diberi nasihat itu.  Konflik tsb
diselingi pula dengan  saling tuduh didepan umum. Ini namanya ketiadaan
kedewasaan dalam berpolitik. Menggantikan rasio dengan emosi, atau motif
lain. Orang-orang yang diharapkan menjadi pembantu, kalau cekcok diantara
mereka sendiri, memang, tidakkah sebaiknya mundur saja. Jalan lain ialah
segera menyadari kekurangam masing-masing, dan cepat  mengkoreksi diri.

RETOOLING DI BIDANG PERTAHANAN-KEAMANAN MUTLAK PERLU.
Tidak ada satu kepala pemerintahan atau negarawan  di dunia ini, yang mampu
melaksanakan beleid politiknya tanpa asistensi suatu  aparat politik dan
birokrasi yang mampu, dipercayai dan loyal terhadapnya. Dengan
dilaksanakannya 'mutasi' atau 'tour of duty' di kalangan TNI, paling tidak
ada dua tujuan yang ingin dicapai. Satu: Mengambil langkah selanjutnya untuk
mengembalikan peranan semula TNI sebagai kekuatan pertahanan. Langkah awal
sudah dilakukan sebelumnya dengan memberikan tanggung jawab pertahanan
kepada seorang sipil, Yuwono Sudarsono. Dengan penjebolan ini,  telah
diakhiri 'tradisi' yang diwaktu yang lalu  ditempuh oleh mantan presiden
Suharto, yaitu menempatkan seorang militer sebagai menteri pertahanan dan
keamanan. Kebijaksanaan Suharto dulu itu, yang selalu menempatkan seorang
militer sebagai menteri pertahanan dan keamanan, selain sebagai salah satu
pilar penting dominasi militer atas kekuasaan negara, sekaligus merupakan
pelaksanaan yang logis dari konsepsi TNI, yaitu  "Dwifungsi ABRI".

Maka, langkah Gus Dur menempatkan seorang sipil pada jabatan menteri yang
bertanggungjawab atas pertahanan dan keamanan, adalah langkah permulaan
dalam melakukan operasi 'dismantling' terhadap "Dwifungsi ABRI". Dalam
menelusuri politik yang ditujukan untuk 'mendismantle' sutruktur kekuasaan
menurut konsepsi"Dwifungsi", jangan sekali-kali dilupakan apa yang sudah
dilakukan  MPR hasil pemilihan 7 Juni 99, yang telah memilih seorang sipil,
yaitu Gus Dur sebagai presiden ke-4 dan seorang sipil lainnya, Megawati,
sebagai wapres.

Sikap MPR itu sangat tepat dan punya nilai dan jangkauan strategis.Perubahan
yang praktis menjadikan supremasi militer mulai beralih menjadi supremasi
sipil, disebabkan, pertama-tama  oleh tuntutan masyarakat yang semakin
meluas, sehingga merupakan kekuatan politik yang amat besar. Sebab lainnya,
ialah kebangkrutan dari konsep 'Dwifungsi' yang telah membawa begitu banyak
korban, kerugian materiil  dan bencana nasional. Yang telah membikin kas
negara negatif  terus dari tahun ketahun. Jangan salah faham, penolakan
masyarakat terhadap 'Dwifungsi' bukan disebabkan oleh 'hujatan' yang
membeludak, tapi oleh praktek "Dwifungsi' itu sendiri selama seluruh periode
rezim Orba, yang dirasakan dan diderita oleh mayoritas dari bangsa kita.

RETOOLING  AKAN BERLANGSUNG TERUS
'Dinonaktifkannya' Menko Hankam Jendral Wiranto, tampaknya bukan saja karena
ada masalah tuduhan terhadap dirinya terlibat ataupun ikut bertanggungjawab
atas pelanggaran HAM di Timor Timur, tetapi juga menyangkut masalah beleid
pertahanan dan keamanan secara menyeluruh, dan untuk meratakan jalan bagi
perubahan reformasi dan transformasi lebih lanjut. Wiranto sebagai
penanggung jawab pertahanan dan keamanan merupakan 'rem' terhadap usaha
reformasi baik di dalam TNI sendiri maupun di dalam masyarakat.

Keputusan Presiden dan Kabinet untuk membubarkan BAKORSTANAS dan juga LITSUS
adalah juga dalam rangka retooling yang menyeluruh. Sebenarnya bila mau
berterus terang, dan tidak menggunakan kata-kata diplomatis, pembubaran
kedua badan intelijen tsb diatas, adalah untuk meratakan jalan menuju
reformasi dan demokratisasi. Bakortanas dan Litsus punya nama dan sejarah
yang buruk dan berdarah, sebagai penunjang suatu rezim yang represif selama
puluhan tahun, dengan dalih demi keamanan dan kestabilan nasional.

Kiranya tidak salah bila kita mengantisipasi akan adanya retooling lebih
lanjut di bidang lain-lainnya, seperti  kehakiman dan kejaksaan. Karena
bidang kehakiman dan kejaksaan merupakan salah satu mata rantai  yang amat
erat kaitannya dengan praktek KKN selama ini. Untuk memberantas KKN yang
telah diprogramkan oleh pemerintah, retooling di bidang kehakiman dan
kejaksaan harus digalakkan.

PENASIHAT ASING DAN  KUNJUNGAN SOSIAL GUS DUR.
Berbagai komentar dan tanggapan bisa dibaca dan didengar dari media cetak
maupun elektronik mengenai usul Gus Dur kepada Kissinger, Lee Kuan Yew,
Nelson Mandela, George Soros, dan mungkin masih ada lagi, untuk menjadi
penasihat Indonesia.Tak bisa dibantah, langkah Gus Dur itu memang lain dari
pada praktek presiden-presiden yang mendahuluinya.

Yang paling penting ialah jangan sampai kita kehilangan kepercayaan kepada
Gus Dur, bahwa beliau adalah seorang pemimpin dan negarawan yang benar-benar
independen, yang punya fikiran, pendapat dan konsep politik sendiri. Bahwa
beliau melakukan hal-hal tsb demi menarik kefaedahannya bagi kepentingan
Republik Indonesia. Apa salahnya memperoleh 'nasihat' dan 'usul' dari
dedengkot-dedengkot internasional seperti Kisingger dsb mengenai pelbagai
masalah internasional. Apakah nasihat atau usul itu nantinya akan diterima
atau tidak, dilaksanakan atau tidak, itu sepenuhnya tergantung pada fihak
Indonesia sendiri. Yang penting ialah bahwa dengan memperoleh penasihat
prodeo seperti Kissinger, Gus Dur punya akses langsusng pada seorang tokoh
politik penting AS. Selain itu dengan bisa 'dirangkul-nya' Kissinger,
sebagai komiaris dari  perusahaan "Freeport' yang beroperasi di Papaua,
presiden bisa langsung ada akses juga ke perusahaan tsb dalam rangka
mengadakan perubahan yang diperlukan atas kontrak Indonesia dengan Freeport.
Perubahan mana diperlukan untuk mengubah kerugian di fihak Indonesia selama
ini, menjadi suatu hal yang positif. Siapa bisa menekan siapa, dalam
hubungan antara Gus Dur dan Kissinger, itu tergantung pada Gus Dur. Kiranya
kita tidak ragu bahwa Gus Dur mampu, pada waktunya menampik dan sekaligus
melakukan tekanan dari dan kepada siapapu, bila hal itu diperlukan..

Kunjungan sosial yang dilakukan Gus Dur kepada Wiranto, Habibie, Amien Rais,
Akbar Tanjung, kemudian kepada Suharto, juga punya macam-macam dampak.
Kiranya kunjungan-kunjungan tsb bukan kebetulan dan bukan tak ada maksud.
Banyak komentar mengatakan bahwa Gus Dur sedang mengintroduksi suatu kultur
politik yang baru, yaitu kultur melakukan politik secara manusiawi, tanpa
kekerasan dan tanpa dendam. Meskipun ada perbedaan di bidang politik, tapi
secara pribadi tetap baik sebagai sesama anggota dari keluarga besar
Indonesia. Kalau berhasil, memang hal itu akan merupakan suatu kemajuan
penting. Me-ngingat sampai sekarang ini, kultur 'menghukum sampai 7 turunan'
siapa saja yang tidak sefaham, masih berlaku. Cara Gus Dur ini, mungkin
hanya Gus Dur yang bisa melakukan-nya. Yang jelas, langkah kunjungan tsb
telah sedikit meredakan ketegangan, paling sedikit diantara yang
bersangkutan, tapi juga diantara para pengikut dan pendukung masing-masing.
Juga dengan cara itu Gus Dur bisa mendapat akses langsung kepada yang
bersangkutan. Tidak melalui orang kedua atau ketiga. Ini jauh lebih baik
bila hanya dari 'dengar-dengar saja'.

Yang bersangkutan dengan kunjungan Gus Dur kepada Suharto, ialah
terungkapnya suatu kebohongan yang selama ini diuar-uarkan oleh  keluarga
Suharto dan tim kesehatannya, yang menyatakan bahwa Suharto demikian
sakitnya sehingga , sebagai orang yang terduduh, tidak mungkin bisa
diinterogasi oleh Kejaksaan Agung.  Sesudah pertemuan Gus Dur dengan
Suharto, beliau-beliau itu tampil dimuka pers dan kamera, dan dari
penampilan Suharto ketika itu, orang tidak bisa menyimpulkan bahwa Suharto
itu sakit parah.

Tidaklah salah untuk mengkonstatasi bahwa sampai detik ini, mantan presiden
Suharto masih punya pengaruh yang patut dihitung, di bidang politik maupun
aparat dan birokrasi. Suharto dan tentu, kroni-kroninya masih berpengaruh
besar di bidang bisnis. Memperhitungkan semua ini, 'menetralisasi' sementara
pengaruh kekuatan Suharto, kalau berhasil, demi melanjutkan usaha Reformasi
dan Demokratisasi, dianggap sesuatu yang bisa dilakukan..
Semua itu tentu dengan syarat tidak akan merupakan rintangan terhadap
pekerjaan Kejaksaan Agung yang sedang mengusut Suharto, dll.

Bagi saya sendiri, apapun yang dilakukan oleh Gus Dur, itu semua tidak lepas
dari pemikiran, rencana dan kalkulasi beliau, demi melancarkan dan
mensukseskan program politik pemerintah dewasa ini. Itu dilakukannya dalam
rangkaian taktik-taktik untuk mencapai tujuan strategis.Jadi, tidak ada yang
spontan ataupun sesuatu yang kebetulan dilakukannya. Akhirnya kembali pada
pertanyaan: Apakah percaya atau tidak pada Gus Dur?

Memikirkan langkah-langkah beliau dan suasana tanggapan dan reaksi
masyarakat, Gus Dur tetap dipercayai sebagai pemimpin bangsa dewasa ini.

* * * *

Kolom IBRAHIM ISA:
---------------------------
10 Maret 2000

Menelusuri set-set politik Gus Dur (4)
Transparansi, Retooling dan Reformasi bergandengan .
Belakangan ini banyak langkah-langkah politik Gus Dur yang menimbulkan
pelbagai reaksi dan komentar. Juga tidak sedikit yang heran dan
bertanya-tanya. Set-set politik tsb misalnya tampak pada langkah-langkah
seperti: Menunjuk Henri Kissinger, mantan menlu AS zaman Nixon, Lee Kuan
Yew, Mandela  dan George Soros untuk menjadi penasihat-penasihat  Indonesia.
Menurut  Kissinger, ia menerima usul Gus Dur itu,  ketika ia berkunjung ke
Indonesia baru-baru ini. Lalu, yang lebih ramai dibicarakan pers, ialah
kunjungan Gus Dur kepada Wiranto, Habibie dan Suharto. Baiklah sementara
disisihkan dulu pembicaraan mengenai langkah-langkah Gus Dur yang belakangan
ini.

Baik dilihat dulu masalah yang lebih fundamental yang dihadapi Indonesia
dewasa ini dan apa sikap Gus Dur terhadapnya.

Bila seorag pemimpin, seperti Gus Dur, ingin melaksanakan Reformasi, baik
dibidang kekuasaan politik, perekonomian, kehakiman dan perundang-undangan,
dsb, maka hal itu hanya bisa dilakukannya dengan suatu 'aparat' yang sesuai
dan bisa disandari, yang mampu untuk melaksanakan tugas Reformasi itu.
Disini muncullah keharusan melakukan 'stok opname' terhadap aparat dan
birokrasi peninggalan Orba, yang ada di hadapan mata. Diperiksa dan
disimpulkan: mana 'sekrup', 'mur', 'baut'  bahkan 'motor' yang perlu
diganti, 'diretool'. Di kalangan birokrasi dan aparat itu, kemungkinan
besar, mayoritas  adalah orang-orang yang demi periuk belanganya, turut saja
perintah atasan, meskipun tahu perintah itu menyalahi hukum. Ada yang
ikut-ikutan karena 'kecipratan' rezeki. Tapi, yang gawat, ada orang-orang
yang memang jati-dirinya adalah penganut faham otokrasi-militerisme bahkan
penganut faham fasisme. Tambahan lagi mereka itu bergelimang dan  terlibat
dengan KKN. Mereka biasa ngotot  mempertahankan 'Statusquo", tidak peduli
apapun akibatnya bagi bangsa dan negeri. Orang-orang seperti itu merupakan
minoritas dari aparat dan birokras. Tak salah lagi, mereka itu adalah
sasaran 'retooling' atau 'dismantling'.

Tentu 'retooling' dan 'bongkar pasang' itu,  dilakukan sesuai dengan
kewajaran tumbuh dan perkembangan mekanisme negara yang didasarkan atas
hukum (rechtsstaat). Yang sesuai dengan hak-hak prerogatif  presiden.
Itulah yang dilakukan oleh Presiden Gus Dur sejak beliau bersama Wapres
Megawati, memegang kemudi bahtera negara Republik Indonesia. Tindakan beliau
itu wajar, sesuatu yang  perlu dilakukan oleh seorang kepala pemerintahan
yang bertanggung-jawab.

LANGKAH MULA UNTUK AKHIRI 'DWIFUNGSI'
Apa yang dilakukan oleh Gus Dur selama ini dibidang 'retooling' aparat
negara, khususnya terhadap aparat keamanan, seperti TNI dan kepolisian,
adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Retooling dibidang
pertahanan dan keamanan adalah 'conditio sine qua non', suatu keharusan
untuk terciptanya syarat keamanan fisik dan politik, untuk melangkah lebih
lanjut.  Langkah tsb perlu, mengingat perubahan, transformasi dan reformasi
yang hendak direalisasi adalah begitu besar dan begitu mendalam.Di segi
lain, perubahan itu dilakukan bukan melalui suatu revolusi, atau
penjungkir-balikkan yang tiba-tiba dan radikal, sekaligus dan menyeluruh.
Reformasi yang mulai diberlakukan  pemerintah Gus Dur, bukan dengan cara
'penghancuran' terhadap  mesin militer dan birokrasi yang ada, dan bukan
dengan cara menggantikannya dengan yang samasekali baru, yang muncul dari
gerak revolusi itu sendiri. Apa yang sedang berlaku pada  bangsa kita dewasa
ini ialah suatu perubahan politik yang  struktural yang dilakukan  secara
gradual, secara berangsur-angsur.
Kongkritnya yang mendesak  direformasi, adalah  sistim pemerintahan
militer-otokratis Orba, yang melindungi dan mengisolasi dirinya dari setiap
kontrol dan partisipasi masyarakat. Yang hendak ditegakkan ialah suatu
sistim kekuasaan yang didasarkan atas kedaulatan rakyat, yang demokratis dan
transparan, suatu negara yang didasarkan atas hukum, bukan negara yang
ditegakkan atas dasar kekerasan militer dan polisi.

Perlu senantiasa  terus menerus difahami dan disadari bahwa yang hendak
dituju adalah melakukan perubahan  kultur dan struktur kehidupan politik,
yang dalam arti kata tertentu  adalah suatu penjungkir balikkan terhadap
segala sesuatu yang eksis dan berlaku selama ini. Tujuan itu  hendak dicapai
melalui suatu proses yang evolusioner. Artinya dengan menempuh cara damai
tanpa kekerasan , yang  tidak berdarah. Inilah ciri utama usaha Reformasi
dari Demokratisasi dari pemerinthaan Gus Dur dan Megawati.

PENANGANAN MASALAH EKONOMI:
 Ada satu tugas urgen dari pemerintah,  yang mendesak yang juga tidak boleh
ditunda-tunda.  Yaitu program untuk memulihkan keadaan ekonomi yang masih
belum keluar dari situasi krisis . Amat diperlukan dimulainya  usaha yang
nyata untuk mereformasi bidang vital ini. Kebijakan politik ekonomi Orba
yang terlalu berat keatas, penuh KKN, dan sepenuhnya tergantung  dari luar,
dirasakan perlu diubah secara mendasar.  Perubahan itu diharapkan bisa
memulai transisi dari  keadaan ekonomi dewasa, ini menjadi  usaha ekonomi
yang sungguh-sungguh  nasional, dimana tak ada lagi monopoli swasta. Diatas
segala-galanya perlu menjadikan usaha ekonomi, jadi urusan seluruh
masyarakat, dimana golongan yang hingga kini disebut golongan 'ekonomi lemah
' memperoleh kesempatan dan bantuan untuk tumbuh dan berkembang.

Dengan demikian memberikan kemungkinan kepada golongan ekonomi lemah itu,
untuk menjadi suatu 'kekuatan ekonomi' yang menuju kepada  pemerataan
kemakmuran. Jadi,  tidak menggantungkan harapan pada konsepsi 'trickle down
effect' . Justru di bidang ekonomi  inilah,  tampaknya pemerintah Gus
Dur/Mega masih tampak  lemah. Kelemahan ini agak menonjol pada  segi
konsepsionil, maupun segi administratif serta  pengelolaan organisatoris
lembaga-lembaga  dan para-pakar yang ada. Dalam gerak untuk  merealisasi
program ekonomi nasional, tampak ketiadaan visi dan kemampuan mengelola.
Juga dirasakan  ketiadaan keberanian untuk merumuskan  suatu konsepsi
ekonomi nasional yang orisinil, yang didasarkan  atas  keadaan dan kebutuhan
nasional Indonesia sendiri. Yaitu suatu konsepsi yang menjangkau jauh
kedepan, yang sesuai dengan tujuan kemakmuran rakyat seperti yang tercantum
dalam Fasal 33, UUD-45. Dengan demikian kita  tidak terus-terusan tergantung
dan menggantungkan diri pada investasi, pinjaman dan 'bantuan' modal asing
internasional. Seperti diketahui modal kapitalis internasinal hanya punya
satu tujuan, yaitu mengeduk keuntungan semaksimal mungkin. Hal ini sudah dan
sedang dibuktikan terus oleh praktek IMF maupun Bank Dunia.

 Kelemahan pemerintah di bidang penanganan ekonomi dibikin tambah ruwet,
dengan munculnya ke permukaan,  konflik antara Kwik Kian Gie sebagai Menko
Ekonomi dan Industri (Ekuin) dengan Sofyan Wanandi, ketua  Dewan
Pengembangan Usaha Nasional (DPUN), yang anggota-anggotanya terdiri dari
banyak pengusaha.  Badan ini  khusus dibentuk Gus Dur, maksudnya untuk
memberikan nasihat-nasihat di bidang ekonomi. Konflik tsb memberikan dampak
negatif pada imago pemerintah dibidang kebijakan ekonomi. Membikin orang
mengurut dada. Perasaan demikian itu muncul, , karena suatu badan yang
mestinya memberikan  nasihat kepada presiden tentang  kebijaksanaan ekonomi,
untuk  melancarkan pelaksanaan politik ekonomi pemerintah, kok malah bentrok
dengan sang menteri yang seyogianya harus diberi nasihat itu.  Konflik tsb
diselingi pula dengan  saling tuduh didepan umum. Ini namanya ketiadaan
kedewasaan dalam berpolitik. Menggantikan rasio dengan emosi, atau motif
lain. Orang-orang yang diharapkan menjadi pembantu, kalau cekcok diantara
mereka sendiri, memang, tidakkah sebaiknya mundur saja. Jalan lain ialah
segera menyadari kekurangam masing-masing, dan cepat  mengkoreksi diri.

RETOOLING DI BIDANG PERTAHANAN-KEAMANAN MUTLAK PERLU.
Tidak ada satu kepala pemerintahan atau negarawan  di dunia ini, yang mampu
melaksanakan beleid politiknya tanpa asistensi suatu  aparat politik dan
birokrasi yang mampu, dipercayai dan loyal terhadapnya. Dengan
dilaksanakannya 'mutasi' atau 'tour of duty' di kalangan TNI, paling tidak
ada dua tujuan yang ingin dicapai. Satu: Mengambil langkah selanjutnya untuk
mengembalikan peranan semula TNI sebagai kekuatan pertahanan. Langkah awal
sudah dilakukan sebelumnya dengan memberikan tanggung jawab pertahanan
kepada seorang sipil, Yuwono Sudarsono. Dengan penjebolan ini,  telah
diakhiri 'tradisi' yang diwaktu yang lalu  ditempuh oleh mantan presiden
Suharto, yaitu menempatkan seorang militer sebagai menteri pertahanan dan
keamanan. Kebijaksanaan Suharto dulu itu, yang selalu menempatkan seorang
militer sebagai menteri pertahanan dan keamanan, selain sebagai salah satu
pilar penting dominasi militer atas kekuasaan negara, sekaligus merupakan
pelaksanaan yang logis dari konsepsi TNI, yaitu  "Dwifungsi ABRI".

Maka, langkah Gus Dur menempatkan seorang sipil pada jabatan menteri yang
bertanggungjawab atas pertahanan dan keamanan, adalah langkah permulaan
dalam melakukan operasi 'dismantling' terhadap "Dwifungsi ABRI". Dalam
menelusuri politik yang ditujukan untuk 'mendismantle' sutruktur kekuasaan
menurut konsepsi"Dwifungsi", jangan sekali-kali dilupakan apa yang sudah
dilakukan  MPR hasil pemilihan 7 Juni 99, yang telah memilih seorang sipil,
yaitu Gus Dur sebagai presiden ke-4 dan seorang sipil lainnya, Megawati,
sebagai wapres.

Sikap MPR itu sangat tepat dan punya nilai dan jangkauan strategis.Perubahan
yang praktis menjadikan supremasi militer mulai beralih menjadi supremasi
sipil, disebabkan, pertama-tama  oleh tuntutan masyarakat yang semakin
meluas, sehingga merupakan kekuatan politik yang amat besar. Sebab lainnya,
ialah kebangkrutan dari konsep 'Dwifungsi' yang telah membawa begitu banyak
korban, kerugian materiil  dan bencana nasional. Yang telah membikin kas
negara negatif  terus dari tahun ketahun. Jangan salah faham, penolakan
masyarakat terhadap 'Dwifungsi' bukan disebabkan oleh 'hujatan' yang
membeludak, tapi oleh praktek "Dwifungsi' itu sendiri selama seluruh periode
rezim Orba, yang dirasakan dan diderita oleh mayoritas dari bangsa kita.

RETOOLING  AKAN BERLANGSUNG TERUS
'Dinonaktifkannya' Menko Hankam Jendral Wiranto, tampaknya bukan saja karena
ada masalah tuduhan terhadap dirinya terlibat ataupun ikut bertanggungjawab
atas pelanggaran HAM di Timor Timur, tetapi juga menyangkut masalah beleid
pertahanan dan keamanan secara menyeluruh, dan untuk meratakan jalan bagi
perubahan reformasi dan transformasi lebih lanjut. Wiranto sebagai
penanggung jawab pertahanan dan keamanan merupakan 'rem' terhadap usaha
reformasi baik di dalam TNI sendiri maupun di dalam masyarakat.

Keputusan Presiden dan Kabinet untuk membubarkan BAKORSTANAS dan juga LITSUS
adalah juga dalam rangka retooling yang menyeluruh. Sebenarnya bila mau
berterus terang, dan tidak menggunakan kata-kata diplomatis, pembubaran
kedua badan intelijen tsb diatas, adalah untuk meratakan jalan menuju
reformasi dan demokratisasi. Bakortanas dan Litsus punya nama dan sejarah
yang buruk dan berdarah, sebagai penunjang suatu rezim yang represif selama
puluhan tahun, dengan dalih demi keamanan dan kestabilan nasional.

Kiranya tidak salah bila kita mengantisipasi akan adanya retooling lebih
lanjut di bidang lain-lainnya, seperti  kehakiman dan kejaksaan. Karena
bidang kehakiman dan kejaksaan merupakan salah satu mata rantai  yang amat
erat kaitannya dengan praktek KKN selama ini. Untuk memberantas KKN yang
telah diprogramkan oleh pemerintah, retooling di bidang kehakiman dan
kejaksaan harus digalakkan.

PENASIHAT ASING DAN  KUNJUNGAN SOSIAL GUS DUR.
Berbagai komentar dan tanggapan bisa dibaca dan didengar dari media cetak
maupun elektronik mengenai usul Gus Dur kepada Kissinger, Lee Kuan Yew,
Nelson Mandela, George Soros, dan mungkin masih ada lagi, untuk menjadi
penasihat Indonesia.Tak bisa dibantah, langkah Gus Dur itu memang lain dari
pada praktek presiden-presiden yang mendahuluinya.

Yang paling penting ialah jangan sampai kita kehilangan kepercayaan kepada
Gus Dur, bahwa beliau adalah seorang pemimpin dan negarawan yang benar-benar
independen, yang punya fikiran, pendapat dan konsep politik sendiri. Bahwa
beliau melakukan hal-hal tsb demi menarik kefaedahannya bagi kepentingan
Republik Indonesia. Apa salahnya memperoleh 'nasihat' dan 'usul' dari
dedengkot-dedengkot internasional seperti Kisingger dsb mengenai pelbagai
masalah internasional. Apakah nasihat atau usul itu nantinya akan diterima
atau tidak, dilaksanakan atau tidak, itu sepenuhnya tergantung pada fihak
Indonesia sendiri. Yang penting ialah bahwa dengan memperoleh penasihat
prodeo seperti Kissinger, Gus Dur punya akses langsusng pada seorang tokoh
politik penting AS. Selain itu dengan bisa 'dirangkul-nya' Kissinger,
sebagai komiaris dari  perusahaan "Freeport' yang beroperasi di Papaua,
presiden bisa langsung ada akses juga ke perusahaan tsb dalam rangka
mengadakan perubahan yang diperlukan atas kontrak Indonesia dengan Freeport.
Perubahan mana diperlukan untuk mengubah kerugian di fihak Indonesia selama
ini, menjadi suatu hal yang positif. Siapa bisa menekan siapa, dalam
hubungan antara Gus Dur dan Kissinger, itu tergantung pada Gus Dur. Kiranya
kita tidak ragu bahwa Gus Dur mampu, pada waktunya menampik dan sekaligus
melakukan tekanan dari dan kepada siapapu, bila hal itu diperlukan..

Kunjungan sosial yang dilakukan Gus Dur kepada Wiranto, Habibie, Amien Rais,
Akbar Tanjung, kemudian kepada Suharto, juga punya macam-macam dampak.
Kiranya kunjungan-kunjungan tsb bukan kebetulan dan bukan tak ada maksud.
Banyak komentar mengatakan bahwa Gus Dur sedang mengintroduksi suatu kultur
politik yang baru, yaitu kultur melakukan politik secara manusiawi, tanpa
kekerasan dan tanpa dendam. Meskipun ada perbedaan di bidang politik, tapi
secara pribadi tetap baik sebagai sesama anggota dari keluarga besar
Indonesia. Kalau berhasil, memang hal itu akan merupakan suatu kemajuan
penting. Me-ngingat sampai sekarang ini, kultur 'menghukum sampai 7 turunan'
siapa saja yang tidak sefaham, masih berlaku. Cara Gus Dur ini, mungkin
hanya Gus Dur yang bisa melakukan-nya. Yang jelas, langkah kunjungan tsb
telah sedikit meredakan ketegangan, paling sedikit diantara yang
bersangkutan, tapi juga diantara para pengikut dan pendukung masing-masing.
Juga dengan cara itu Gus Dur bisa mendapat akses langsung kepada yang
bersangkutan. Tidak melalui orang kedua atau ketiga. Ini jauh lebih baik
bila hanya dari 'dengar-dengar saja'.

Yang bersangkutan dengan kunjungan Gus Dur kepada Suharto, ialah
terungkapnya suatu kebohongan yang selama ini diuar-uarkan oleh  keluarga
Suharto dan tim kesehatannya, yang menyatakan bahwa Suharto demikian
sakitnya sehingga , sebagai orang yang terduduh, tidak mungkin bisa
diinterogasi oleh Kejaksaan Agung.  Sesudah pertemuan Gus Dur dengan
Suharto, beliau-beliau itu tampil dimuka pers dan kamera, dan dari
penampilan Suharto ketika itu, orang tidak bisa menyimpulkan bahwa Suharto
itu sakit parah.

Tidaklah salah untuk mengkonstatasi bahwa sampai detik ini, mantan presiden
Suharto masih punya pengaruh yang patut dihitung, di bidang politik maupun
aparat dan birokrasi. Suharto dan tentu, kroni-kroninya masih berpengaruh
besar di bidang bisnis. Memperhitungkan semua ini, 'menetralisasi' sementara
pengaruh kekuatan Suharto, kalau berhasil, demi melanjutkan usaha Reformasi
dan Demokratisasi, dianggap sesuatu yang bisa dilakukan..
Semua itu tentu dengan syarat tidak akan merupakan rintangan terhadap
pekerjaan Kejaksaan Agung yang sedang mengusut Suharto, dll.

Bagi saya sendiri, apapun yang dilakukan oleh Gus Dur, itu semua tidak lepas
dari pemikiran, rencana dan kalkulasi beliau, demi melancarkan dan
mensukseskan program politik pemerintah dewasa ini. Itu dilakukannya dalam
rangkaian taktik-taktik untuk mencapai tujuan strategis.Jadi, tidak ada yang
spontan ataupun sesuatu yang kebetulan dilakukannya. Akhirnya kembali pada
pertanyaan: Apakah percaya atau tidak pada Gus Dur?

Memikirkan langkah-langkah beliau dan suasana tanggapan dan reaksi
masyarakat, Gus Dur tetap dipercayai sebagai pemimpin bangsa dewasa ini.

* * * *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Mar 2000 jam 17:49:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke