---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Calgary, 14 Maret 2000 ASUMSI-ASUMSI MARKUS SOLO MENYESATKAN Eko W Raharjo University of Calgary - CANADA Usaha Markus Solo untuk menengahi polemik antara Ahmad Sudirman dan Bambang Ekalaya mungkin bisa dihargai. Namun asumsi-2 yang dipakai oleh dia tidak saja justru membikin topik diskusi menjadi keruh tetapi juga amat menyesatkan pembaca. Asumsi I: menyatakan bahwa polemik tersebut adalah polemik antara penganut Islam garis keras dan Muslim moderat. Mengatakan Ahmad Sudirman sebagai penganut Islam adalah masuk akal, tetapi menggolongkannya sebagai penganut garis keras mestinya perlu disertai alasan yang mendukung. Sejauh saya tahu tidak ada tulisan Ahmad yang menyiratkan kekerasan, kecuali bahwa dia secara teguh, konsisten dan rasional bersedia menjelaskan ide negara dengan dasar kaidah Islam. Justru yang tidak disadari oleh Markus Solo adalah kenyataan bahwa banyak orang sudah freaked out hanya mendengar ide negara Islam, sehingga scientific integrity mereka ambrol dan pikiran mereka menjadi berkabut. Bambang Ekalaya yang seperti dikutip oleh Ahmad mendeklarasian diri sebagai seorang sekuler atau kafir, dinyatakan oleh Markus sebagai seorang Muslim yang moderat. Berdasar kamus mana Markus menggolongkan seorang yang mengaku kafir sebagai seorang Muslim moderat? Saya juga tidak tahu apa motif Markus Solo dibalik pengasumsian yang amat menyesatkan tsb. Tulisan tsb mengesankan pula bahwa pembaca berusaha digiring kearah stereotype good guy (Muslim moderat) versus bad guy (Muslim garis keras). Padahal semestinya dalam diskusi yang menjadi pokok bahasan adalah reasoning bukan atribut yang bersangkutan. Asumsi II: "(Seorang penganut Islam)tidak bisa mengintegrasikan diri ke dalam kultur Amerika secara benar dan mendalam (inkulturasi), kalau harus menjalankan model kehidupan religiusnya yang pada dasarnya tak mudah diperdamaikan dengan ala kehidupan Amerika". Pengandaian ini juga menyesatkan karena mengesankan seolah-olah kultur Amerika bertentangan dengan agama (religion)Islam. Kultur Amerika (USA ataupun Canada) adalah sangat dinamic dan multiple. Ia amat dipengaruhi oleh tokoh-2 besar seperti Muhammad Ali. Siapakah yang menyangsikan integrasi Ali terhadap kultur Amerika?. Infact, Ali yang Muslim dan religius telah memberi sumbangan tak ternilai terhadap kebesaran kultur Amerika. Dengan kata lain kultur Amerika telah memeluk erat legacy Ali. Sampai sekarang Muhammad Ali dengan segala nilai-2 yang dianutnya menjadi darling masyarakat Amerika dari semua lapisan dan golongan. Assumsi III: "Orang Eropa atau Amerika pada dasarnya anti orang2 yang tak ingin berintegrasi(ingat konflik anti2 orang2 asing di Jerman, atas dasar lemahnya inisiatif integrasi para imigran dan kuatnya kubu ke dalam dari para imigran...)". Adalah amat menyedihkan opini dalam diskusi berbasiskan pada ide-2 Neo-Nazi, KKK, Aryan Nation atau kelompok ultra kanan lainnya. Amerika (North America) adalah designated sebagai negara immigrants oleh karena itu sudah merupakan pengertian umum disini bahwa immigrants mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk mempertahankan nilai-2 original mereka (mulai dari perkara makanan sampai kepercayaan). Eropa (barat) memang bukan negara immigrant namun tidak berarti bahwa mayoritas masyarakat disana berpendapat Deutschland fuer die Deutschen!. Hanya Neo-Nazi dan Joerg Haider lah yang berpendapat demikian. Itupun memperoleh perlawanan yang amat sengit dari mayoritas orang Jerman dan Austria sendiri. Sewaktu saya di Freiburg eine gnadige Frau menyatakan pendapatnya kepada saya bahwa tidak saja ia bisa menerima orang luar(dengan segala nilai-2 yang dibawanya) melainkan sebagai seorang Jerman ia merasa terhormat dan diperkaya. Saya kira satu kesamaan yang yang berlaku di Eropa dan Amerika adalah kalau pendatang menilai dirinya sendiri, kulturnya, kepercayaan atau agamanya sebagai sesuatu yang amat rendah maka orang disana pun akan memperlakukan dengan rendah pula. Tetapi apabila seorang menilai dirinya, kultur dan agamanya dengan penuh martabat dan keluhuran maka kemungkinan besar orang disana pun akan ikut menghargai dan menghormatinya. Dari tulisan Markus maupun Bambang tersirat adanya kesan freaked out syndrome akan suatu ide (negara dengan dasar kaidah Islam). Tanda-2nya kendor integrity, butek nurani serta lemah pikiran fair dan rasional mereka. Hormat saya, Eko W Raharjo University of Calgary [EMAIL PROTECTED] ---------------- Innsbruck, 13 Maret 2000 POLEMIK ABSURD AHMAD S. DAN BAMBANG E. Markus Solo University of Innsbruck - AUSTRIA Saudara Ahmad Sudirman yang terhormat, menyedihkan sekali, saat menyimak polemik Saudara dengan Saudara Bambang Ekalaya dalam surat2 terakhir, yang tiba di Box saya. Mengapa demikian? 1. Anda berdua berdiskusi tentang sebuah tema yang masing2nya mewakili posisi yang berbeda, walaupun sesama Muslim. Sudirman, sejauh mengklaim diri jelas2 (sejauh nada tulisan , artinya teoretis - praxis, soal lain lagi!), adalah Penganut paham Islam garis keras dan mengidealisasikan sebuah sistim kehidupan bernegara dan berbangsa dengan corak islam (saya sengaja tidak menggunakan kata "dasar" menggantikan kata "corak" karena kedua kata ini mengandung perbedaan sangat besar dan kalau disalahgunakan, berakibat porakporanda dan fatal!) - dan sesuai ajaran Al-Qur'an, semoga hanya "Allah" yang berkuasa ("Allah" di sini adalah sebuah "terminus technicus" bukan dalam pemahaman agama2 monotheistis, karena "Allah" dengan semua sifatnya adalah definisi agama bersangkutan, jadi sifatnya sudah relatif"). Saudara Bambang Ekalaya adalah seorang Muslim moderat, yang mungkin sudah demikian berdasarkan pendidikan dalam keluarga semasa kecil, atau memang telah memahami arti agama Islam dalam konteks pluriformitas bangsa (seperti negara asalanya Indonesia), atau mungkin telah banyak berpengalaman dalam negara Amerika dengan realitas kehidupannya yang serba pluriform, baik secara sosial, agama, etnis, kultur, dll. Mingkin di sana ia memahami hakekat sebuah agama, sebagai salah satu dari aspek kehidupan (sekali lagi, salah satu, dan bukan satu yang absolut) dan menempatkan skala nilai kehidupan secara lain berdasarkan tuntutan kehidupan level Amerika atau Eropa, katakanlah sesuai tuntutan kehidupan negara2 makmur. Dugaan terakhir adalah beralasan dan masuk akal, karena bagaimana si Ekalaya bisa mengintegrasikan diri ke dalam kultur Amerika secara benar dan mendalam (inkulturasi), kalau harus menjalankan model kehidupan religiusnya yang pada dasarnya tak mudah diperdamaikan dengan ala kehidupan Amerika. Kalau saudara Sudirman sukses dalam proses inkulturasi dan integrasi dalam ritme kehidupan orang2 Swedia karena mampu memperdamaikan corak kehidupan agama sendiri dan corak kehidupan sosial Swedia, yang kata Saudara "sekuler, maka saya angkat topi. Satu catatan penting: Orang Eropa atau Amerika pada dasarnya anti orang2 yang tak ingin berintegrasi (ingat konflik anti2 orang2 asing di Jerman, atas dasar lemahnya inisiatif integrasi para imigran dan kuatnya kubu ke dalam dari para imigran...). Integrasi di sini bukan seperti pepatah indonesia "kacang lupa kulit"! Bukan! Integrasi sejauh nilai2 kehidupan dikaji secara baru, inovatif dan kreatif, sehingga orang tidak menderita "shock of cultur" karena telah 100% mengidentifikasikan diri dengan "sesuatu" dari negara asal, dan sebagai pelarian, ia memasukan diri dalam kubu pribadi yang semakin hari semakin parah, dan mengakibatkan klik dalam negara asing. Akibat lanjutnya adalah penolakan dari masyarakat bersangkutan. Rangkaian masalah kompleks ini mengundang rasa antipati negara-negara, tempat kita tinggal untuk menggeneralisasikan tingkah para imigran yang ingin membangun klik2 di dalam negaranya dan terkenal tak mampu berintegrasi dan berinkulturasi. Saya yakin, Saudara Sudirman dan Ekalaya pernah mengamati fenomen sosial ini di negara Anda masing2 dengan teliti. Sampai di sini kita sadar, bahwa hidup itu adalah sebuah "sistem". Aspek yang satu tak terlepas dari aspek yang lain. Sebuah problem sosial akan berdampak religius, politis, kulturel, dlll. Baiklah. Agar tidak terlalu jauh keluar dari rel pembicaraan ini, saya kembali kepada tema dasar polemik Anda berdua. 2. Anda berdua rajin menggunakan kata "sekuler dan religius". Polemik2 saudara menjadi absurd, karena Anda mengklaim "kata sekuler dan religius" sebagai dasar dan bentuk negara. "Sekuker dan religius" adalah dua kata sifat dan bukan kata benda. Ia memberikan warna dan bukan mengubah wujud sebuah benda. Ambil saja contoh dalam skala politik. Negara Austria adalah negara demokrasi. Agama dan Politik adalah dua bagian terpisah, tapi itu bukan berarti bahwa negara Austria mengabaikan kehidupan agama dan dengan itu, sifat negara ini menjadi sekuler. Bukan. Keduanya memiliki hubungan akrab dan dapat berjalan secara damai. Negara Austria berbentuk Republik dan berfama demokrasi. Itu berarti, ia tidak membasiskan diri atas agama tertentu, atau atas paham Sekularisme dalam arti sempit. Saudara Sudirman mengidealkan sebuah negara (bukan negara agama - sejauh saya mengerti!) yang bercorak agama (dengan rakyatnya yang bertaqwah kepada Allah swt dan tekun menjalankan kaidah-kaidah dan syariah2Nya), dan itu berarti belum ada ide untuk mendirikan sebuah "negara Islam" di Indonesia. Minta maaf Saudara Bambang Ekalaya. Ini tidak mungkin! Negara Indonesia adalah negara Pancasila dengan sistim pemerintahan Demokrasi (tentu ala Indonesia - ala "Bapak, ala monggo, ala ABS, ala tunggu dulu, dll...). Realitas kehidupan negara kita dengan derajad pluriformitasnya yang tinggi tidak mungkin mengenakan paham yang diduga pada diri Saudara Ahmad Sudirman di atas. Kalau memang ada tendensi saudara Ahmad Sudirman ke arah itu (baru bersifat tendensi, bukan sudah dalam proses dan tentu bukan realisasi), maka kita sudah dengan tahu dan mau merencanakan sebuah proyek hitam, proyek keruntuhan negara Indonesia. Dengan ide2 macam ini, kita mulai memotong akar negara kita secara tahu dan mau dan meruntuhkan Beringin di dada dan dikandungan Garuda Pancasila. Kita mulai menyusun tragedi kemanusiaan pasca rentetan tragedi kemanusiaan akhir 1999. Kita mungkin belum puas dengan rentetan tragedi masa silam? Mata kita belum puas menyaksikan banjir darah sesama kita? Kita bukan bangsa teroris, bukan bangsa kanibal, bukan bagsa pemecahbelah, bukan bangsa tak kenal damai. Kalau kita sama2 mengklaim diri sebagai orang beragama (entah itu garis keras, moderat atau musiman), maka kita tak akan merencanakan sesuatu yang tidak diajarkan dalam agama, apalagi pembunuhan. Allah setiap agama monotheis adalah Allah yang mencintai kehidupan dan bukan kematian, apalagi dengan cara yang kita pernah laksanakan dan yang mungkin sedang kita bayangkan. Absurd. Kita sebaiknya belajar dari negara Nigeria yang pecah bulan lalu oleh karena upaya pihak tertentu untuk meletakkan negaranya atas dasar faham keagamaan, yang pada dasarnya menentang persatuan dan kesatuan bangsa, yah, seakan2 tak mengakui eksistensi pihak lain; "menampung semuanya dalam satu periuk" (terjemahan pepatah Jerman: Alles in einem Topf - atau "Alles unter einem Hut"). Saya sendiri non Muslim dan sangat beragama. Saya mencintai realitas kehidupan sebuah negara yang bersifat multi. Agama saya, yang adalah cuma sebuah dimensi kehidupan, saya anuti dan menjalankan ajaran2nya, tanpa pandangan sempit, tanpa tendensi hegemoni, tanpa tendensi politis, karena semuanya ini adalah ancaman dan bahaya besar bagi kemanusiaan. Dan memang Agama saya tidak mengajarkan hal2 demikian. Ia mencintai nilai2 kemanusiaan dan cinta damai. Berhadapan dengan sistim kehidupan Eropa yang serba liberal dan "sekuler", terminus akrab Anda berdua, saya samasekali tidak menjadi lebih introvert, justru sebaliknya, karena saya melihat Agama dan kepercayaan saya sebagai satu dari dimensi kehidupan penting seorang manusia dan tidak ada tendensi untuk mengideologisasikannya. Agama saya ingin saya anuti dengan serius sambil memperhatikan aktualisasinya dalam kehidupan sosial. Kalau kita realistis, ada terlalu banyak tema penting yang harus dibicarakan dan dicari penyelesaiannya. Tema seputar "sekuler dan religius" dalam polemik sampai mengecam kedua belah pihak sampai habis2an, tidak bermanfaat bagi perkembangan kemanusiaan. 3. Negara kita kini pelan2 menikmati ketenangan, walau belum merata. Presiden Wahid, Megawati dan Aparat Pemeerintahannya berfungsi. Sebagian besar masyarakat puas. Mulai dihitung2 keberhasilan awal. Marilah kita mendukung dan tidak mencari ide-ide baru terciptanya konflik baru di Persada Ibu Pertiwi. Pluralitas negara kita tidak akan menjadi semakin kecil, malah akan lebih besar. Segala upaya untuk sengaja menutup mata terhadap realitas ini dan menerapkan sesuatu yang pada dasarnya merong-rong HAM dalam relaitas pluriformitas di atas, adalah absurd. Hasilnya adalah keruntuhan terencana, kehangusan yang diinstusionalisasi. Tanggapan Anda saya nanti dengan sabar. Markus Solo University of Innsbruck - Austria [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Mar 2000 jam 00:52:33 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
