----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

16 Maret 2000

PANDANGAN BAPAK SUDIRMAN
Padmanaba Ph.D.
EROPAH TENGAH

Terimakasih atas ulasan Pak Sudirman yang menjawab tulisan saya.

Per-tama2 saya ingin jelaskan mengapa saya sebut kata _priyayi Jawa_,
ini untuk memudahkan pembaca mengerti posisi saya dalam berdiskusi.
Setiap orang terbelenggu oleh ruang sociologis darimana dia berasal.
Jadi, bukan untuk pameran lho.

Baik Pak Sudirman, pak Suherman dan saya sendiri ada kesamaan yang
substantial: bermukin ditanah Barat, dalam lingkung budaya Kristiani,
tatalingkup ketatanegaraan yang sekular, kita hidup ditengah masyarakat
yang madani dan beradab...dan kita hargai dan sayangi lingkungan kita.
Bukan?

Pak Sudirman mempersoalkan definisi _saleh_ dan _fanatik_ yang saya
pakai. Saleh menurut pengertian saya adalah sifat dan perilaku yang
berusaha mengikuti norma2 luhur agama (apapun). Fanatik, adalah attitude
untuk memegang kukuh posisi filsafahnya sendir i, dan sering tak
menghargai nilai2 filsafah yang lain. Bagi saya, Gus Dur adalah saleh
dan tidak fanatik. Menurut saya, ini tak perlu diterangkan lagi. Kalau
beliau fanatik, maka beliau tak mengakui dan menghargai budaya,
kepercayaan atau golongan etnis yang lain. Apakah beliau benar2 saleh
seperti yang Allah perintah kan, hanya Allah yang tahu, saya tak ingin
dan tak akan mampu menilainya. Sayapun tak mampu menilai, sejauh mana
Allah menerima cara hidup saya. Ketika para ahli kitab Jahudi bertanya
pada Kristus mengenai pendapatNya akan pelemparan batu pada pelacur, Kr
istus bersabda, siapa yang merasa tak bersalah semoga melempar batu
pertama.

(...Sekarang benarkah Indonesia dipimpin oleh cendekiawan-cendekiawan
muslim yang saleh tetapi tidak fanatik? Nah kalau Indonesia dipimpin
oleh cendekiawan-cendekiawan muslim yang saleh artinya Indonesia
dipimpin oleh orang-orang yang hanya menyerahkan di ri kepada Allah SWT
dengan menjalankan segala yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi
segala apa yang dilarang Allah SWT. Apakah keadaan ini sudah terjadi di
Indonesia?. )

Mungkin saya terlalu _cepat memberikan acungan jempol_ pada pemimpin2
Indonesia seperti Gus Dur ini, tetapi saya kira, saya tidak sendiri
dalam melakukan hal ini. Banyak orang2 yang bijaksana didalam dan luar
negeri yang juga mengacungkan jempol. Atau?

Pak Sudirman katakan saya tidak memahami pengertian saleh dan fanatik.
Oh, pak Sudirman fahami itu? Siapa yang memberikan kesaksian ini? Saya
tahu sekali arti kata saleh, yang sudah saya pakai jutaan kali sejak
saya masih kanak2. Sekarangpun, pengertian _ saleh_ saya ini disetujui
oleh banyak orang yang saya kenal. Dan mereka bukan orang2 bodoh lho!.

(...Sebenarnya saudara Padmanaba masih harus meneliti dan menggali lebih
jauh pemimpin-pemimpin Indonesia ini. Jangan asal memberikan acungan
jempol saja tanpa memahami pengertian saleh dan pengertian fanatik. )

( Sebenarnya kalau mau jujur orang-orang yang hanya menyerahkan diri
kepada Allah SWT dengan menjalankan segala yang diperintahkan Allah SWT
dan menjauhi segala apa yang dilarang Allah SWT serta memiliki keyakinan
yang kuat terhadap agama yang dianutnya dan diterapkan dalam kehidupan
sehari-harinya, masih belum tampak dikalangan para pemimpin Indonesia
sekarang ini. ..)

Wahh..saya tak mau komentari ini. Sebagai seorang Kristen yang saleh
saya usahakan untuk hidup bagi Allah sebagaimana puteraNya yang tunggal,
Kristus, menyabdakannya. Tentu saja, saya masih sangat jauh dari tempat
tujuan. Tetapi, kiranya, hanya Allah yang maha sempurna, tak adalah
makhluk dibumi ini yang mampu memberikan penilaian kepada sesamanya.

Tentu saja, juga di-negara2 barat yang sudah maju ini dan hukum benar2
diberlakukan, ada tindak2 kriminal sexual. Tentu. Dan ini kalau
ditangkap akan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Tetapi, ini kan
bukan masalah para TKW kita. Ber-ribu2 TKW dar i Asia Tenggara
ber-duyung2 kerja ke negara2 yang memakai Islam sebagai pedoman, dan
justeru dari negeri2 ini, ber-duyun2 wanita2 kita diperkosa. Apa ini
kebetulan? Berapa persen wanita kita diperkosa seperti ini di Europa
atau di Amerika utara, di-neger i2 Kristiani dan sekular? Tak perlu iri
atau dengki, kita dapat akui fakta ini bukan?

(DINEGARA-NEGARA SEKULAR TIDAK ADA YANG DINAMAKAN ZINA DAN HUKUMNYA.
Dinegara-negara sekular hubungan kelamin antara laki dan perempuan
adalah masalah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan agama dan hukum
agama sebagaimana yang diajarkan oleh Islam. Apakah hubungan kelamin itu
dilakukan sebelum perkawinan atau sesudah perkawinan tidaklah
dipersoalkan. Yang dipersoalkan dalam hubungan kelamin ini adalah
apabila salah satu pihak merasa diperlakukan dengan cara kekerasan,
seperti diperkosa. Bisa saja bagi mereka yang sudah kawin, tetapi ketika
salah satu pihak melakukan tindakan kekerasan dalam hubungan kelaminnya,
maka pihak yang merasa diperkosa punya hak untuk mengajukan lawan
jenisnya kepihak kepolisian dengan tuduhan telah memperkosanya. Tindakan
kekerasan dalam hubungan kelamin ini seperti perkosaan sering terjadi.
Tetapi karena masyarakat di negara sekular ini menganggap hal tersebut
sebagai hal pribadi tidaklah begitu menjadi gempar sebagaimana kalau
terjadi di Saudi Arabia atau di UAE dengan kasus Kartininya dan kasus
para TKW lainnya dari Indonesia.

Setiap sekali seminggu ada acara TV3 yang berjudul "dicari", selalu ada
saja kasus-kasus perkosaan. Swedish memperkosa swedish, swedish
memperkosa orang asing, orang asing memperkosa swedish. Tetapi
kasus-kasus tersebut tidak tersebar keseluruh dunia, karena memang di
negara-negara sekular lainnya hal-hal tersebut telah menjadi santapan
umum setiap hari.....)

PS: definisi _saleh_ dapat ditemui disetiap kamus dan disetiap agama.
Bagi kami, orang2 Kristiani juga ada petunjuk yang maha jelas, bagaimana
hidup saleh itu. Banyak sekali petunjuk Sancto Petrus untuk itu dalam
surat2nya pada jemaat2 di Junani. Pak Sudi rman ingin tahu?

Salam kasih dalam Kristus,

Padmanaba Ph.D.
[EMAIL PROTECTED]

-----------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 16 Maret 2000

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

GATRA ANGKAT CERITA TKW DI SAUDI
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Untuk Saudara Padmanaba Ph.D (Eropah Tengah)

PENDAPAT PADMANABA: INDONESIA DIPIMPIN OLEH CENDEKIAWAN-CENDEKIAWAN
MUSLIM YANG SALEH TETAPI TIDAK FANATIK

Saudara Padmanaba, seorang "sarjana keturunan priyayi Jawa yang sudah
hampir 40 tahun di Europa berpendapat sangat menarik mengikuti diskusi
antara M.Suherman dan Ahmad Sudirman. Juga berpendapat bahwa negara kita
tercinta ini, yang kini dipimpin oleh cendekiawan2 Muslim yang saleh
tetapi tidak fanatik, tak mungkin dianggap lagi anti Islam.

Dinegara dimana saya hidup, negara yang sangat makmur ditengah Europa,
dan berstandard sosial yang tinggi, adalah bermayoritas Katholik Roma.
Namun, tetap saja, Hukum Gereja Katholik Romawi - CIC atau Code Iuris
Canonicii - tidak diberlakukan diatas semua warga. Kehidupan berbangsa
diatur menurut Hukum Perdata yang sangat beradab. Juga pemberlakuannya
dan praktik hukumnya.

Apa yang diutarakan Bapak Suherman adalah logis dan, walau agak
emosional, patut disimak. Kiranya tak perlu dibahas lagi, bahwa praktik2
syariat seperti yang kita dengar didalam kasus Kartini itu, adalah sudah
daluwarsa, dan berlaku kira2 2000 tahun yang lalu. Saya kira, juga
pemikir2 dari IAIN2 dinegeri kita sependapat.

Memang benar, makin dalam penguasaan agama itu, juga agama Islam, makin
besar daya toleransi dan kemajemukan. Makin datar, makin primitive,
sebagaimana yang dipraktekkan oleh Sekarmadji Kartosoewirjo dengan
begundal2nya.

Untuk itu, kita tak perlu tanggapi paham yang sempit dari penulis Ahmad
Sudirman itu, yang kalau memang betul2 konsekwen, hendaknya datang ke
Tanah Air dan tampil dalam ceramah silang pendapat dengan ahli2 kita
seperti is dan guru2 bijaksana dari IAIN2 setanah air.

Kita tak perlu lulus SD untuk dapat membedakan qualitas hidup sosial
sebuah negara seperti Swiss, Austria dan Jerman dibandingkan dengan
Afganistannya Taliban2 itu..."(Padmanaba, [EMAIL PROTECTED] , Tentang
negara Islam..,Mon, 13 Mar 2000,
http://www.indopubs.com/archives/0210.html ).

PADMANABA TIDAK MENJELASKAN SIAPA ORANG SALEH DAN APA ARTI FANATIK.

Karena saudara Padmanaba tidak menjelaskan arti saleh dan arti fanatik,
maka akan menimbulkan kesalah pahaman.

Pengertian saleh menurut para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah; suci dan beriman.
Sedangkan bila ditinjau dari sudut Islam pengertian saleh itu sebagai
yang digambarkan Allah SWT: "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh,
baik laki-laki, maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.." (An
Nahl, 16:97). Jadi pengertian saleh disini adalah menjalankan perbuatan
yang diperintahkan Allah dan menjauhi yang dilarang-Nya serta beriman
kepada Allah SWT.

Adapun pengertian fanatik adalah merupakan kata sifat yang mempunyai
arti teramat kuat kepercayaannya (keyakinannya) terhadap (agama,
politik, dsb). Sedangkan pengertian fanatisme adalah keyakinan
(kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dsb)
(Kamus besar bahasa Indonesia, DPDKRI, 1988).

Keyakinan yang kuat terhadap agama yang dianutnya dan diterapkan dalam
kehidupan sehari-harinya itu adalah bukan hal yang negatif, melainkan
hal yang baik dan positif. Itu tandanya orang tersebut betul-betul yaqin
terhadap agamanya. Atau dengan istilah lain adalah fanatisme terhadap
agama yang dianutnya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya itu
adalah bukan hal yang negatif, melainkan hal yang baik dan positif.

Sekarang benarkah Indonesia dipimpin oleh cendekiawan-cendekiawan muslim
yang saleh tetapi tidak fanatik?

Nah kalau Indonesia dipimpin oleh cendekiawan-cendekiawan muslim yang
saleh artinya Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang hanya menyerahkan
diri kepada Allah SWT dengan menjalankan segala yang diperintahkan Allah
SWT dan menjauhi segala apa yang dilarang Allah SWT.
keadaan ini sudah terjadi di Indonesia?.

Sebenarnya saudara Padmanaba masih harus meneliti dan menggali lebih
jauh pemimpin-pemimpin Indonesia ini. Jangan asal memberikan acungan
jempol saja tanpa memahami pengertian saleh dan pengertian fanatik.

Sebenarnya kalau mau jujur orang-orang yang hanya menyerahkan diri
kepada Allah SWT dengan menjalankan segala yang diperintahkan Allah SWT
dan menjauhi segala apa yang dilarang Allah SWT serta memiliki keyakinan
yang kuat terhadap agama yang dianutnya dan diterapkan dalam kehidupan
sehari-harinya, masih belum tampak dikalangan para pemimpin Indonesia
sekarang ini.

PADMANABA PENYAMBUNG SUARA GATRA

Dalam tulisan Padmanaba lainnya yang ditujukan kepada Ahmad Sudirman dan
dimuat di Indopubs berisikan suara yang didengungkan oleh majalah GATRA
Nomor 17/VI, 11 Maret 2000 dengan bunyi alunan tulisan "pergi sendiri
pulang berdua". Dimana Padmanaba memberikan pendahulan dengan ungkapan
kata: "Dibawah ini kutipan berita dari majalah GATRA mengenai nasib yang
menyayat hati dari saudara2 kita wanita Muslimin di-negara2 Arab dengan
permohonan pendapat, mengapa ini semua terjadi dilingkungan budaya yang
sama. Mungkinkah berita2 ini kita dengar dari Swedia, Swiss,
Liechtenstein, Denmark, Inggris Raya, Kerajaan Belanda atau negara2 yang
berbudaya yang khas Barat ini (dan sekular)??." (Padmanaba, Bagi pak
Ahmad Sudirman...,Tue, 14 Mar 2000,
http://www.indopubs.com/varchives/0227.html ).

EMPAT KASUS TKW DI SAUDI VERSI GATRA

Saya padatkan sedikit dari empat kasus yang ditampilkan GATRA tersebut.

Pada suatu malam di akhir tahun 1997, Ida Laila yang berumur 16 tahun
bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga Ibrahim Al Hababi di
Riyadh, didatangi oleh Ali Al Hababi (anak Ibrahim Al Hababi) yang
berusia 24 tahun ke kamar tidurnya dan ditidurinya dengan paksa. Ida
lari dari rumah majikannya, lapor ke polisi dan tidur dikantor polisi.
Menurut pengakuan Ida, polisi bahkan menuduhnya menggoda Ali, sehingga
timbul perzinahan. Ida minta pulang ke Indonesia yang diluluskan oleh
majikannya. Di Indonesia Ida hamil.

Pada akhir April 1996, Yuyun bekerja sebagai pembantu rumah tangga di
keluarga Saad Mousa Al-Shaqrawi di Riyadh. Suatu hari Muhamad Musa,
kakak kandung Saad mousa meniduri Yuyun dengan cara paksa. Yuyun minta
pulang ke tanah air, diluluskan majikannya setelah habis kontraknya yang
tinggal 4 bulan lagi. Muhammad Musa yang telah meniduri Yuyun berjanji
mau menafkahinya, tetapi sampai bayi berumur 1.5 tahun tidak pernah
kunjungdatang nafkahnya itu.

Pada tahun 1994, Sopiah binti Oji, yang sekarang berusia 33 tahun,
pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga keluarga Omar Burhan di
Riyadh. Pada suatu hari Sopiah digagahi dengan paksa oleh Abdullah, 30
tahun putra sulung Omar. Untuk mengelabui apabila tertangkap polisi
Abdullah memaksa Sopiah untuk mengaku bahwa suaminya pernah datang ke
Riyadh (walaupun Sopiah tidak punya suami). Ketika pulang ke Indonesia
Sopiah telah hamil.

Pada tahun 1987, Partinah yang pada waktu itu berumur 27 tahun bertemu
dengan Qodadad Khan asal Pakistan, Kontraktor listrik asal Pakistan,
mempunyai banyak pegawai yang berasal dari Madura. Kemudian memaksa
Partinah untuk memenuhi nafsunya dengan ancaman akan memecat
pegawai-pegawai asal Madura apabila Partinah menolak keinginan nafsunya.
7 tahun Partinah bekerja dengan Qodadad. Tahun 1994, ketika Partinah
sedang hamil terjerat rahasia polisi. Karena ia tidak ada izin tinggal
lalu dipulangkan ke Indonesia. Sempat menerima kiriman pertama uang
sebesar Rp 1.250.000 kemudian disusul kiriman kedua Rp 860.000 tahun
1995.
(GATRA Nomor 17/VI, 11 Maret 2000, "pergi sendiri pulang berdua",
http://www.indopubs.com/varchives/0227.html ).

TIGA KESAMAAN DARI EMPAT KASUS TKW VERSI GATRA DIATAS

Setelah saya padatkan empat kasus TKW di Saudi Arabia versi GATRA
diatas, maka ada tiga hal yang sama yang dapat diambil dari empat kasus
tersebut diatas yaitu zina, ditiduri dengan paksa dan hamil.

HUKUMAN TERHADAP PIHAK PEREMPUAN YANG HAMIL AKIBAT DITIDURI DENGAN CARA
PAKSA DITINJAU DARI HUKUM ISLAM

Adanya perbedaan diantara para fuqaha mengenai penjatuhan hukuman zina
berdasarkan pada tampaknya kehamilan. Menurut Imam Malik hukuman
dijatuhkan kepada perempuan yang menunjukkan kehamilan, kecuali kalau
perempuan itu dapat menunjukkan tanda-tanda bahwa ia dipaksa. Kalau
mengaku sudah kawin, maka ia
harus dapat mendatangkan saksi atas perkawinannya itu.

Imam Syafi'i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa timbulnya kehamilan dan
pengakuan telah dipaksa menyebabkan tidak dilaksanakannya hukuman
terhadap perempuan itu. Begitu juga jika disertai pengakuan telah kawin,
meski ia tidak mendatangkan tanda-tanda dalam pengakuannya bahwa ia
telah dipaksa, atau mendatangkan saksi dalam pengakuannya bahwa ia telah
kawin. Ini didasarkan kepada riwayat Umar ra, bahwa ia menerima
kata-kata orang perempuan yang mengaku bahwa tidurnya nyenyak sekali,
dan seorang lelaki telah menyetubuhinya, kemudian lelaki itu pun pergi,
sementara ia sendiri tidak tahu, siapakah lelaki itu.

Tidak ada perselisihan diantara para fuqaha bahwa perempuan yang dipaksa
berzina itu tidak dijatuhi hukuman. (Ibnu Rusyd, Bidayatu'l Mujtahid,
Juz 3, Kitab Az-Zina, Bab III, hal. 632-633, Cetakan pertama 1991, Edisi
Malaysia, Victory Agencie, Kuala Lumpur).

Jadi dari empat kasus perzinahan yang dipaksa dan mengakibatkan
kehamilan tersebut menurut para fuqaha pihak perempuan tidak dijatuhi
hukuman.

HUKUMAN TERHADAP PIHAK LAKI-LAKI DITINJAU DARI HUKUM ISLAM

Setelah diajukan empat orang saksi dan kesaksiannya bisa diterima, dan
sitertuduh mengakui kesalahannya, maka dalam kasus pertama, Ali Al
Hababi (anak Ibrahim Al Hababi) yang berusia 24 tahun dihukum dera 100
kali. Dalam kasus kedua, Muhamad Musa, kakak kandung Saad mousa,
dijatuhi hukum rajam bila Muhammad Musa sudah kawin, tetapi kalau belum
kawin dihukum dera 100 kali. Dalam kasus ketiga, Abdullah, 30 tahun
putra sulung Omar dijatuhi hukuman dera 100 kali. Dalam kasus keempat,
Qodadad Khan dijatuhi hukuman rajam bila Qodadad sudah kawin, tetapi
kalau belum kawin dihukum dera 100 kali. (Ibnu Rusyd, Bidayatu'l
Mujtahid, Juz 3, Kitab Az-Zina, Bab II, Bab III, hal. 617-633, Cetakan
pertama 1991, Edisi Malaysia, Victory Agencie, Kuala Lumpur).

DARI CERITRA GATRA KEEMPAT KASUS ZINA DIATAS TIDAK DIAJUKAN KEPENGADILAN

Disini saya melihat bahwa adanya usaha-usaha dari pihak warga negara
Saudi, dalam kasus ini pihak majikan untuk menutupi tindakan pidananya
(meniduri dengan paksa pegawai ditempat kerjanya atau di rumah
majikannya). Ditambah lemahnya kedudukan pihak pegawai, terutama yang
menjadi pegawai sebagai pembantu rumah tangga. Status sebagai pegawai
pembantu rumah tangga masih dianggap rendah, apalagi warga negara asing,
sehingga bisa dipermainkan dan dibodohi. Ditambah adanya sebagian pihak
penegak hukum, seperti polisi masih menganggap rendah kaum wanita yang
berwarga negara asing bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan terlibat
dalam perzinaan (walaupun dipaksa) di rumah majikannya, seperti pada
kasus Ida Laila.

DINEGARA-NEGARA SEKULAR TIDAK ADA YANG DINAMAKAN ZINA DAN HUKUMNYA

Dinegara-negara sekular hubungan kelamin antara laki dan perempuan
adalah masalah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan agama dan hukum
agama sebagaimana yang diajarkan oleh Islam. Apakah hubungan kelamin itu
dilakukan sebelum perkawinan atau sesudah perkawinan tidaklah
dipersoalkan. Yang dipersoalkan dalam hubungan kelamin ini adalah
apabila salah satu pihak merasa diperlakukan dengan cara kekerasan,
seperti diperkosa. Bisa saja bagi mereka yang sudah kawin, tetapi ketika
salah satu pihak melakukan tindakan kekerasan dalam hubungan kelaminnya,
maka pihak yang merasa diperkosa punya hak untuk mengajukan lawan
jenisnya kepihak kepolisian dengan tuduhan telah memperkosanya.

Tindakan kekerasan dalam hubungan kelamin ini seperti perkosaan sering
terjadi. Tetapi karena masyarakat di negara sekular ini menganggap hal
tersebut sebagai hal pribadi tidaklah begitu menjadi gempar sebagaimana
kalau terjadi di Saudi Arabia atau di UAE dengan kasus Kartininya dan
kasus para TKW lainnya dari Indonesia.

Setiap sekali seminggu ada acara TV3 yang berjudul "dicari", selalu ada
saja kasus-kasus perkosaan. Swedish memperkosa swedish, swedish
memperkosa orang asing, orang asing memperkosa swedish. Tetapi
kasus-kasus tersebut tidak tersebar keseluruh dunia, karena memang di
negara-negara sekular lainnya hal-hal tersebut telah menjadi santapan
umum setiap hari.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin*.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Mar 2000 jam 08:55:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke