----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 09/III/20-26 Maret 2000
- ------------------------------

MEMANGKAS PANGDAM MBALELO

(PERISTIWA): Gus Dur akan menyikat orang-orang Wiranto yang masih jadi
Pangdam. Di antaranya: Pangdam V/Brawijaya, Pangdam IV/Diponegoro dan
Pangdam IX Udayana.

Kalau Pandam Jaya, Mayjen TNI Ryamizard Ryacudu merasa tertuduh oleh tuduhan
Presiden KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), itu terlalu berlebihan.

Nyatanya, Gus Dur kemudian memperjelas lagi, bahwa Pangdam yang dimaksudnya
itu bukan Pangdam Jaya, dan bukan pula Pangdam XVI/Patimura. Ryamizard tentu
bukan yang dimaksud Gus Dur sebagai Pangdam yang sedang "mempreteli"
kekuasaan Gus Dur. Justru sebaliknya, Ryamizard adalah salah satu jendral
yang setia kepada Gus Dur ketika ia dan pasukan Kodam Jaya plus satuan lain
pendukung Gus Dur menyatakan akan menghadang setiap pasukan yang akan
mengkudeta Gus Dur.

Ryamizard bukanlah unsur Wiranto, dan sebagai jendral yang masih muda
(lulusan Akmil 1974), karirnya masih cemerlang, apalagi ia punya ide militer
tak boleh berpolitik.Ryamizard sendiri juga sudah membantah. Dan, yang
mengarahkan tuduhan Gus Dur ke nama Ryamizard dan Pangdam III/Siliwangi,
Mayjen TNI Slamet Supriyadi adalah para wartawan Jakarta. Kalau para
wartawan itu rajin mengamati peta elite Angkatan Darat, sebenarnya mereka
bisa memilih "tersangka" yang mendekati maksud Gus Dur. Slamet (lulus Akmil
1971) adalah perwira intelijen yang dekat dengan KSAD Jendral TNI Tyasno
Sudarto yang amat pro Gus Dur, dan Ryamizard adalah kelompok Mayjen TNI Agus
Wirahadikusumah yang reformis dan berseberangan dengan klik Wiranto.

Belakangan, Ryamizard memang agak tegang saja dengan Ketua DPR Akbar
Tanjung, yang mengancam akan menyeret Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, ayah
mertua Ryamizard soal pembantaian demonstran Tanjung Priok, September 1994.
Ryamizard juga agak risih dengan Pemerintah Gus Dur yang kendati sudah
dibela mati-matian melawan Wiranto, tak mau membalas budi dengan
menyelamatkan Try. Namun, tentu itu bukan alasan untuk menghimpun kekuatan
yang mempreteli Gus Dur, kendati Gus Dur dalam banyak kesempatan selalu
menyalahkan Try Sutrisno dalam kasus Tanjung Priok, dan melindungi Jendral
TNI (Purn) L.B. Moerdani. Dua pekan lalu, Gus Dur mengunjungi Moerdani yang
terkena stroke.

Tudingan Gus Dur ini, tampaknya untuk menanggapi rencana sejumlah jendral
klik Wiranto yang hendak mundur karena tak setuju dengan mutasi tempo hari.
Sejumlah jendral yang dekat dengan Wiranto memang masih menduduki jabatan
penting di jajaran TNI, baik Mabes TNI maupun di jajaran Angkatan Darat.
Mereka adalah Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Bibit Waluyo, Pangdam
VI/Brawijaya Mayjen TNI Sudi Silalahi dan Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Kiki
Syahnakri. Pangdam yang dimaksud Gus Dur mungkin satu di antara tiga jendral
ini. Namun, khusus soal Mayjen Kiki, mungkin jendral ini bisa dikeluarkan
dari "daftar tersangka" karena Kiki bukanlah jendral yang punya interes
politik, kendati ia, belakangan ia banyak bergaul dengan kelompok politik
yang tergabung dalam Kelompok Alumni ITB (AI) 234, kelompok yang dipimpin
Zulkarnaen (mantan Direktur Eksekutif Walhi). AI 234 yang antara lain
beranggotakan Meilono Suwondo, Hermawan Sulistyo, Batara Lumban Raja ini
memang dekat dengan Wiranto. Namun, di kalangan gerakan kelompok ini juga
mengklaim mampu menggerakkan aksi-aksi Forkot dan aksi-aksi PDI-P. Nah,
kendati Mayjen Kiki tergabung dalam kelompok yang memiliki interes politik
seperti AI 234 ini, ia bukanlah tipe jendral politisi. Karier militernya
dihabiskan di lingkungan Kodam IX Udayana. Begitu lulus dari Akmil (lulusan
Akmil 1971), ia diterjunkan ke Timor Barat, lalu terlibat dalam infiltrasi
ke Timor Portugis, ikut menyerang wilayah itu dan berkarier di sana. Ia
militer profesional, kendati belakangan pro Wiranto. Itu karena Wiranto
memberinya jabatan setelah ia ditendang Prabowo karena berselisih dengan
menantu Soeharto itu saat ia menjadi Danrem 164/Wiradharma, Timor Timur.

Jadi, tersangkanya tinggal Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Sudi Silalahi dan
Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Bibit Waluyo. Dua Pangdam ini memang amat
dekat dengan Wiranto. Sudi adalah Kasdam Jaya ketika Letjen TNI Djadja
Suparman jadi Pangdam Jaya. Djadja adalah orang Wiranto dan Sudi berada di
lingkungan Wiranto. Naiknya Sudi jadi Pangdam V/Brawijaya juga karena jasa
baik Wiranto. Sebelum jadi Kasdam Jaya, ia menduduki jabatan Wakil Asisten
Operasi Kasospol ABRI di zaman Pangabnya Wiranto. Namun, buru-buru Sudi
membantah. "Sangat berlebihan jika yang dimaksud adalah saya. Saya siap
dipecat bila tuduhan Gus Dur terbukti," ujar Sudi.

Memang, Sudi segera bergerak ketika mendengar pernyataan Presiden Gus Dur
dalam dialog TVRI Selasa pagi itu, bahwa ada Pangdam yang menghimpun
kekuatan untuk memusuhi Presiden. Petang harinya, Sudi langsung mengontak
KSAD, Jenderal TNI Tyasno Sudarto. Ia juga mengontak koleganya, yakni Wakil
Panglima (Wapang) TNI Jendral TNI Fachrul Razi, yang sama-sama sebagai
anggota klik Wiranto.Yang membantah bukan hanya Sudi dan Ryamizard, tapi
juga Wapang Jenderal Fachrul Razi, orang dekat Wiranto di Mabes TNI. Ia
bilang TNI tidak ragu untuk tetap loyal kepada bangsa dan negara, "Saya
menjamin tidak akan ada Pangdam yang berbuat di luar ketentuan yang sudah
digariskan," ujar Fachrul.

Pernyataan dua jendral pro Wiranto ini memang cukup melegakan. Ini pertama
kali, sejak terjadi ketegangan antara Pemerintahan Gus Dur dengan klik
Wiranto. Benar atau tidak benar, ada Pangdam yang merongrong Gus Dur, hasil
yang dicapai jelas: Gus Dur memperoleh pernyataan dukungan dari orang-orang
Wiranto di TNI. Sudi yang dikenal amat pro Wiranto akhirnya tunduk kepada
Gus Dur, begitu juga Fachrul yang selama ini memilih bungkam.

Boleh jadi, ini hanya trik Gus Dur untuk memancing reaksi dari kalangan
Angkatan Darat, terutama dari kalangan klik Wiranto. Kalau itu yang dimaui
Gus Dur, maksud itu sudah tercapai. Pembersihan pengaruh Wiranto di jajaran
angkatan bersenjata usai sudah. (*)

- ---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 01:36:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke