----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 09/III/20-26 Maret 2000
- ------------------------------

BONDAN

(LUGAS): Hari Kamis 16 Maret lalu, bertepatan dengan hari raya Idul Adha
merupakan hari bersejarah. Pjs Sekretaris Negara Bondan Gunawan atas nama
pemerintah, saat itu, melakukan kunjungan silahturahmi kepada Panglima
Perang Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) Teungku Abdullah Syafi'ie di
sebuah desa di Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie.

Meskipun berlangsung informal, tapi inilah untuk pertama kalinya, pemerintah
berhasil mewujudkan itikadnya berdialog dengan petinggi AGAM. Selama ini,
pertemuan semacam itu tak pernah berhasil dilakukan karena ketegangan yang
selalu timbul antara pihak AGAM dan militer Indonesia. Dalam kacamata
tentara Indonesia, AGAM adalah gerakan makar yang inkonstitusional.
Sementara AGAM menganggap tentara Indonesia harus dilawan karena
kesewenang-wenangnya terhadap rakyat Aceh selama bertahun-tahun. Akibatnya,
selalu muncul sikap apriori.

Yang menarik, Bondan hadir dalam pertemuan itu tanpa pengawalan aparat
keamanan. Ia diberitakan hanya menggunakan mobil carteran menuju lokasi yang
jarak tempuhnya sekitar 2,5 jam dari Banda Aceh. Hal ini, disadari atau
tidak, menguntungkan posisi Indonesia di mata internasional. Sebab, ini
menunjukkan bahwa pihak Indonesia "benar-benar serius" untuk memulai dialog.
Di sisi lain, ini juga pertanda bahwa pihak AGAM pun terbuka pada
penyelesaian persoalan secara damai. Sebab, mereka terbukti tidak melakukan
sesuatu yang merugikan Bondan.

Dengan adanya pertemuan ini, boleh dibilang juga menjadi bukti tidak
efektifnya pendekatan bersenjata yang selama ini dilakukan militer
Indonesia. Wajar jika kemudian banyak orang akan bertanya, buat apa tentara
ngotot menggunakan senjata? Mereka mungkin berpikir, inilah keangkuhan
tentara Indonesia. Atau, jangan-jangan, militer kita memang tak punya nyali
berdialog tanpa senjata? Pertemuan ini seolah-olah hendak mengatakan,
cara-cara sipil yang lebih beradab, terbukti lebih unggul dari cara-cara
militer.

Pendekatan bersenjata bukannya menyelesaikan persoalan, malah menunda
datangnya persoalan yang lebih besar. Kebencian masyarakat Aceh pada tentara
Indonesia sudah amat besar. Bahkan, bukan hanya pada tentara, umumnya orang
Jawa pun sudah dianggap musuh oleh mereka.

Kendati untuk mewujudkan perdamaian di Aceh, masih banyak seri dialog harus
ditempuh. Namun, langkah awal yang besar sudah diambil. Semoga ini jadi
contoh untuk menghadapi kasus-kasus serupa di wilayah lain republik ini.
Semoga pula ini jadi tanda kejayaan pemerintahan sipil dalam negara
Indonesia. (*)

- ---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 01:50:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke