----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 09/III/20-26 Maret 2000
- ------------------------------

PEMBUNUH BERLOGO ICRC

(POLITIK): Helikopter mirip kepunyaan Palang Merah membantai warga sipil di
Irian tahun 1996. Isinya tentara, Indonesia dan asing. Prabowo terlibat?

Belum cukup rupanya dosa-dosa militer dikupas habis. Baru-baru ini (15/3),
organisasi palang merah internasional (ICRC, The International Committee of
the Red Cross) meminta pemerintah Indonesia menginvestigasi adanya temuan
yang mengindikasikan terjadinya pembantaian warga sipil di Irian Jaya
(Papua) oleh sebuah helikopter yang amat mirip dengan helikopter Palang
Merah pada tahun 1996. Peristiwa ini sendiri berkait dengan drama
penyanderaan sejumlah peneliti lingkungan asal Indonesia, Belanda dan
Inggris oleh gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Penyelidikan yang dilakukan oleh ICRC, sejauh ini telah sampai pada
kesimpulan yang sama dengan temuan televisi Australia, ABC dalam program
Four Corners-nya yang diberi judul "Blood on the Cross" atau "Darah di atas
Salib". ABC juga menyimpulkan, pasukan khusus angkatan udara Inggris
kemungkinan terlibat dalam misi pembebasan sandera yang membawa korban
delapan orang meninggal dunia itu.

Kepada sejumlah wartawan di Jakarta, Direktur Jenderal ICRC, Paul
Grossrieder menyatakan, penyelidikan yang mereka menyimpulkan bahwa sejumlah
tentara ketika itu menggunakan helikopter berwarna putih yang terlihat oleh
penduduk setempat sebagai helikopter Palang Merah Internasional. Menurut
Paul, seandainya kelak terbukti telah terjadi penyalahgunaan logo palang
merah dalam operasi tersebut, ini merupakan pelanggaran hukum internasional
yang sangat serius. Yang menarik, lanjut Paul, ada sejumlah orang barat juga
berada dalam helikopter itu. Hanya dengan investigasi yang serius dan
transparan oleh pemerintah yang menurutnya dapat mengungkap siapa sebenarnya
mereka.

Sebetulnya, sebelum berakhirnya drama penyanderaan tersebut, helikopter ICRC
memang telah berkali-kali terbang menuju kawasan selatan wilayah Papua untuk
bernegosiasi dengan para penyandera supaya bisa membebaskan tujuh peneliti
asal Eropa dan Indonesia itu. Itu sebabnya, ketika helikopter Palang Merah
Internasional palsu melakukan operasinya, penduduk setempat awalnya tidak
merasa curiga.

Selama ini, versi resmi yang dirilis pemerintah menyatakan, delapan anggota
OPM terbunuh oleh pasukan elit, Kopassus dalam pertempuran yang mencapai
klimaksnya setelah dua sandera asal Indonesia dibunuh oleh OPM. Namun,
keterangan Daniel Start, salah seorang sandera pada Radio ABC mengungkap
bahwa korban tewas diberondong sekitar empat atau lima orang kulit putih dan
Indonesia dari helikopter "Palang Merah" yang berada di belakang mereka.
Daniel tidak mengatakan melihat dengan mata kepalanya kedatangan helikopter
tersebut. Ia mendapatkan cerita tersebut dari para penyanderanya "tentang
sebuah helikopter putih yang turun dari atas dan terdapat beberapa orang
kulit putih di dalamnya. Mereka mengira itu dari Palang Merah Internasional,
dan berlari menuju helikopter. Namun, orang-orang yang dikira dari Palang
Merah itu malah menembaki mereka dengan senjata api. Sekitar sepuluh orang
tewas, termasuk beberapa orang anak dan seorang wanita tua."

Menurut sandera lainnya, Anna Mcivor, pada suatu siang, sebelum kedatangan
helikopter tadi, mereka sempat mendengar suara pesawat. Hal ini dianggapnya
tidak lazim, sebab, biasanya pesawat datang pagi hari. Tiba-tiba terdengar
ledakan dahsyat tak lama setelah pesawat datang. "Semua orang berteriak
panik, semua berpikir mereka bakal segera mati." Lalu, tiba-tiba terdengar
ledakan untuk ketiga kalinya yang lebih dahsyat. Mereka baru sadar, telah
terjadi serangan dari pihak militer. Selama lima hari berikutnya, mereka
terpaksa harus melarikan diri ke pegunungan, dan bertemu dengan penduduk
lokal yang juga melarikan diri. Sampai akhirnya para penyandera mulai merasa
frustrasi, memisahkan sandera asal Indonesia dan Eropa, serta membunuh Navy
dan Tessy, dua sandera asal Indonesia.

Tak jelas, apakah "penasihat dari barat" turut membantu militer Indonesia
mempersiapkan operasi tersebut. "Yang jelas," dalam investigasi itu hanya
dikatakan, "sebuah helikopter berwarna putih terlihat terbang sore itu, dan
penduduk setempat kemungkinan menyangkanya sebagai helikopter ICRC, apakah
menggunakan logo Palang Merah atau tidak. Mengelabui penduduk setempat
dengan cara ini jelas bertujuan untuk menciptakan 'kejutan total' dalam
kamus perang militer."

Andaikan kelak, pemerintah Indonesia melanjutkan investigasi atas kasus ini,
nama Letjen Prabowo Subianto tentunya bakal terkait. Operasi pembebasan
sandera itu memang ia sendiri yang memimpin langsung. Ketika itu, ia masih
berpangkat Mayor Jenderal dan juga Komandan Jenderal Kopassus. Banyak cerita
kontroversial yang beredar seputar operasi tersebut, pada saat itu.
Misalnya, sikap Prabowo yang ngotot mengambil alih operasi, padahal wilayah
Irian ketika itu berada dalam tanggungjawab Pangdam setempat Mayjen Johny
Lumintang --kini Gubernur Lemhanas, berpangkat Letjen. Ada pula yang
mengatakan, pembunuh Tessy dan Navy tak lain adalah orang binaan Prabowo
yang disusupkan ke OPM (hingga kini, belum ada yang mengkonfirmasi kebenaran
cerita ini). Tujuannya, sebagai batu loncatan untuk meraih posisi tertinggi
dalam karir kemiliteran. Seperti diketahui, Prabowo saat itu memang baru
saja naik pangkat dari Brigjen ke Mayjen, dan dalam waktu relatif singkat,
ia dipromosikan sebagai Letjen dengan jabatan baru, Pangkostrad --sebelum,
akhirnya, terdepak dari karir militer karena diduga terlibat dalam kerusuhan
Mei 1998.

Bila Prabowo terbukti terlibat, kiranya sia-sialah usahanya "membersihkan
namanya" yang dilakukannya baru-baru ini. Ia mungkin tetap akan dikenang
sebagai jenderal ambisius yang tak segan-segan menggunakan cara-cara kotor.
Namun, bila ternyata ada pasukanasing yang juga terlibat dalam kasus ini,
tampaknyasulit mengharapkan kasus ini akan naik ke permukaan. Ini konspirasi
besar, bung! (*)

========================================

SAS DAN TENTARA BAYARAN

(BOX): Xpos No 30/II/29 Agustus-4 September 1999 pernah memberitakan drama
penyanderaan ini. Dalam laporan itu disebutkan dengan pasti tentang
keterlibatan satuan SAS Inggris, Kopassus dan tentara bayaran dari Executive
Outcomes yang bermarkas di Afrika Selatan. Tentang keterlibatan Executive
Outcomes ini dibenarkan oleh Nick van den Bergh, seorang pemimpin pasukan
itu ketika diwawancarai TV ABC, Australia. Dia memimpin lima anggota
Executive Otucomes dan bertindak sebagai penasehat teknis dan pelatihan bagi
satuan tim penyerangan helikopter. Dia juga membenarkan kehadiran tentara
elit dari pasukan Inggris SAS, meskipun ia menyangkal keberadaan pasukannya
dan SAS dalam penyerangan di Desa Nggeselema.

Menurut laporan Xpos, masyarakat pedalaman Irian sempat melihat pasukan
asing menyerang Desa Nggeselema pada 9 Mei 1996. Atau satu hari setelah
rencana pelepasan sandera yang dimediasi oleh ICRC (Palang Merah
Internasional) gagal dilaksanakan. Waktu itu penduduk Nggeselema mengenali
dari kejauhan helikopter tersebut berwarna putih dengan logo dan bendera
ICRC. Saat helikopter itu mendekat, masyarakat melihat sebuah bendera putih
bergambar salib dikeluarkan dari pintu. Tetapi cara mengeluarkannya tidak
seperti yang biasa dilakukan oleh ICRC. Di dalam helikopter itu terlihat
lima orang kulit putih, empat laki-laki dan seorang wanita. Wanita kulit
putih itu dikenali oleh penduduk sebagai Sylvianne Bonadei, seorang petugas
ICRC yang selalu berkomunikasi dengan para penduduk di Desa Nggeselema.
Tiba-tiba ke lima orang itu melompat turun dari helikopter sambil
masing-masing memegang sebuah tas hitam. Kemudian secara bersamaan ke lima
orang kulit putih tersebut membuka tas itu dan langsung mengarahkan laras
senapan mesinnya ke arah kerumunan penduduk. Tembakan yang membabi-buta itu
juga diarahkan ke Gereja serta poliklinik.

Dalam peristiwa serangan mendadak itu, dua orang penduduk tewas tertembak.
Mereka adalah, Nindi Wandikmbo dan Amisim. Sedangkan dua orang mengalami
luka-luka, yaitu Titus Murib, pimpinan OPM dan Teberak Wandikmbo, yang
kemudian mengalami cacat tubuh seumur hidup. Sedangkan dalam serangan kedua
pada hari yang sama, 11 penduduk tewas. Bombardir itu dilakukan di
Nggeselema, Talem, Yuguru dan kampung kecil lainnya dengan menggunakan
helikopter milik ABRI dan PT Airfast yang tiba-tiba menyusup masuk saat
helikopter ICRC itu lepas landas (lihat Xpos No 30/II/29 Agustus-4 September
1999). (*)

- ---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 02:06:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke