---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 09/III/20-26 Maret 2000 - ------------------------------ BANCAKAN POSISI DIRUT PT TELKOM (POLITIK): Rebutan kue BUMN oleh partai-partai besar belum surut kendati banyak dikritik. Ada calo jabatan dan proyek, ada juga yang ingin menguasai sepenuhnya. Gus Dur sudah memilih Baihaqi Hakim mantan Dirut Caltex Indonesia sebagai Direktur Utama Pertamina. Dipilihnya Baihaqi, yang bukan tidak mewakili partai apapun, tampaknya disengaja Gus Dur untuk menengahi perebutan jabatan empuk di BUMN terkaya itu antara Partai Amanat Nasional (PAN) dan PDI-P. Ada empat calon Dirut Pertamina, yakni: Hatta Radjasa (PAN), Arifin Panigoro (PDI-P), dan John Karamoy (Dirut Medco), dan Baihaqi Hakim mantan Dirut Caltex Indonesia. Nah, para kandidat itu masing-masing memberi upeti kepada Taufik Kiemas agar bisa merebut posisi empuk itu. Hatta menyumbang dana sekitar Rp1,5 miliar begitupun Arifin Panigoro. Perebutan Dirut Pertamina ini dulu cukup seru karena melibatkan lobi-lobi oleh para politisi terkenal seperti Ketua MPR, Amien Rais dan Pjs Skretaris Negara, Bondan Gunawan. Baihaqi Hakim, bukannya tanpa konsesi ketika diangkat jadi Dirut Pertamina. Kendati ia tak mewakili partai apapaun dan tidak menyogok uang tunai, ia tetap harus memberi Taufik konsesi beberapa proyek pengeboran dan kepada beberapa kawan Taufik diberi jabatan sebagai pimpinan di sebuah anak perusahaan Caltex. Nah, kini yang diincar para petinggi partai adalah memasukkan orang-orang merebut posisi Direktur Utama PT Telkom, BUMN yang juga "subur" karena banyak menghasilkan uang. Dirut PT Telkom sekarang, Mayjen TNI AA Nasution, yang dulu merupakan titipan ABRI di BUMN yang menangani industri strategis itu, dinilai korup dan tidak profesional. Di RUPS mendatang, Nasution akan diganti. Namun, upaya penggantian Nasution pernah ditentang oleh Menteri Perhubungan Letjen TNI Agum Gumelar. Maklum, kalau Nasution, wakil TNI di Telkom dibabat, salah satu sumber keuangan terpenting jendral-jendral TNI Angkatan Darat akan hilang. Namun, Agum akhirnya mundur karena perebutannya akan keras, lagipula Nasution dikenal korup. Untuk memasukkan jendral lainnya juga agak sulit karena lobi-lobi partai politik kini lebih kuat ketimbang lobi TNI. Para calo pun mulai bergerak. Lagi-lagi, muncul nama Taufik Kiemas, lalu ada nama Rozy Munir dari PKB, yang mulai menekan Kwik Kian Gie, Menteri Penanaman Modal dan BUMN ad interim. Mereka menitipkan nama-nama agar masuk dalam daftar kandidat. PT Telkom sendiri mengajukan nama-nama, agar tidak diintervensi dari luar (partai-partai politik). Calon-calon itu adalah Kristiono (Kadivre-V Telkom Jatim), Guntur Siregar (Kadivre-II Jakarta), Walden Bakara (Kadiv Multimedia), Taufik Akbar (Dirut PT Lintas Arta) dan Mulya P Tambunan (Dirut PT Telkomsel). Calon lainnya adalah Muhammad Nazib, Pembantu Rektor II UI. Perebutan ini merepotkan Kwik. Beberapa nama yang tak lolos fit and proper test (nama baik) dipaksakan oleh beberapa pejabat untuk masuk dalam bursa calon Dirut. Taufik Kiemas dan Rozy Munir menurut sumber-sumber Xpos, jadi calo lagi di bursa Dirut PT Telkom ini. Taufik Kemas menitipkan nama Harry Supangkat, Direktur Keuangan PT Telkom. Harry sama sekali tidak dicalonkan oleh PT Telkom, karena yang bersangkutan sudah tidak lulus dalam fit and proper test. Harry dan Taufik memang tak memiliki hubungan apapaun, baik hubungan keluarga maupun hubungan karena kepartaian. Taufik berjuang untuk Harry karena, Harry menyediakan sejumlah fasilitas untuk Taufik jika ia jadi Dirut PT Telkom. Tak hanya dengan Harry, Taufik juga mendekati beberapa calon kuat Dirut PT Telkom dan berjanji akan menggolkannya jadi Dirut, asal mereka nantinya memberi beberapa proyek dan mau dititipi beberapa orang Taufik untuk jadi pimpinan di PT Telkom. Telkom sejak tercatat di Bursa London dan New York sudah melepas 25 persen saham tahun 1995 dan tahun 1997 pemerintah melepas 12,5 persen saham lagi. Sekarang saham pemerintah di Telkom masih 62,5 persen, kalau mau menjadi pemegang mayoritas maka yang dilepas tahap ketiga sekitar 11,5 persen sejak tahun 2001. (*) - --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 02:24:51 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
