----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 09/III/20-26 Maret 2000
- ------------------------------

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan:
"PERMINTAAN MAAF SAJA TIDAK CUKUP"

Awal pekan silam TVRI menyajikan acara "Secangkir Kopi" bersama Presiden
Abdurrahman Wahid. Biasa, Gus Dur selalu melontarkan pernyataan-pernyataan
mengagetkan. Salah satunya yang terlontar adalah permintaan maafnya atas
kesalahan massa NU yang telah ikut membunuh anggota dan simpatisan PKI pada
tahun 65-66. Gus Dur juga memberikan lampu hijau untuk membuka kembali kasus
tersebut.

Berikut adalah tanggapan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, yang  10
tahun 2 bulan dibuang ke Pulau Buru bersama 12 ribu orang lainnya. Pramoedya
belum lama ini menerbitkan karyanya "Arok Dedes" yang berkisah tentang
perebutan kekuasaan tersamar, mirip peristiwa 1965.

T: Bagaimana pendapat Anda tentang permintaan maaf Gus Dur terhadap anggota
dan simpatisan PKI dan keluarganya?
J: Minta maaf bagaimana? Banyak yang sudah dibunuh, banyak yang sudah
belasan tahun dihukum kerja paksa, dirampasi barang-barangnya, tidak
dikembalikan sampai sekarang. Seperti yang saya alami sendiri, rumah, tanah,
perpustakaan dibakar, naskah-naskah. Naskah saya satu saja di seluruh negara
ini tidak ada yang bisa bikin, bagaimana menggantinya? Delapan naskah saya
dibakar oleh angkatan darat. Gampang saja minta maaf....

Itu omong kosong saja, semua harus lewat hukum, lewat proses pengadilan!
Omong kosong. Gampang amat hidup kalau begitu.Semua kejahatan dimaafkan
begitu saja.

Itu kejahatan negara?

Kejahatan Orde Baru dan penerusnya. Kesalahan pihak Orde Baru, politiknya,
orangnya, peralatannya dan penerusnya. Karena penerusnya tidak membawa
persoalan ini ke pengadilan, sampai sekarang. Saya tidak pernah diadili,
dibuang dan disuruh kerja paksa di Pulau Buru. Tak pernah ada tuduhan resmi.

T: Mengapa itu bisa terjadi?
J: Permasalahannya yang terjadi waktu itu, Soekarno harus jatuh. Karena
Soekarno anti imperialis, kolonialis, anti kapitalisme. Sedangkan kapital
sudah gatal ingin masuk ke Indonesia menikmati kekayaan alam Indonesia.

T: Hubungannya dengan PKI?
J: Karena komunis menyokong Soekarno. Karenanya, untuk menghancurkan
Soekarno, maka komunis harus dihancurkan dulu.

T: Siapa yang bertanggungjawab?
J: Semua tanggungjawab Soeharto! Dia sebagai antek, kaki tangan kapitalis
barat. Kalau dia berkuasa kan kapital barat masuk, dipersilahkan, sampai
sekarang. Itu tanggungjawab Soeharto, apalagi dia sebagai kepala negara.

T: Apakah pemerintah sekarang harus mengadili Soeharto?
J: Apa berani. Lha wong yang memerintah sekarang ini semua orang Orde Baru.

T: Belum percaya dengan pemerintahan Gus Dur?
J: Saya nggak percaya sama sekali, pada elit Indonesia. Semuanya. Seharusnya
mereka pergi semua, digantikan generasi muda yang belum berdosa. Habisnya,
yang sekarang tangannya pada berlumuran darah pembantaian, untuk apa saya
mempercayai. Lihat saja sekarang menteri satu, sama lainnya tuding menuding
korupsi, ya begitu itu lah!

Generasi muda sekarang harus siap memimpin. Tangannya tidak berlumuran darah
pembantaian, kantong sakunya tidak ada rupiah korupsi. Keinginannya yang
baik-baik saja untuk tanah air dan nasionnya. Itu saja mereka masih
dipukuli, ditembaki, diculik. Bagiamana? Sampai orang-orang yang sekarang
menjabat jabatan tinggi karena gerakan angkatan muda yang menjatuhkan
Soeharto tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada angkatan muda.
Bagaimana saya bisa mempercayai keadaan begini?

Saya tidak terlalu berharap pada pemerintah sekarang. Nggak percaya.
Angkatan muda harus tampil. Gulung mereka, sisa-sisa Orde Baru. Tapi ini
bukan surga, ini dunia. Apapun yang dikehendaki harus melalui perjuangan.
Kalau surga, kita bilang "paha ayam goreng", maka datang paha ayam goreng,
tinggal mengunyah. Tapi karena ini dunia, maka semua harus melalui perjuangan.

Saya hanya berharap kepada angkatan muda. Kalau mereka  masih seperti yang
sebelumnya, maka saya berpihak kepada yang lebih muda lagi.

T: Pemerintah sekarang masih berhubungan dengan pemerintah lalu?
J: Gus Dur saja masih sowan ke Soeharto. Orde Baru masih berkuasa sampai
sekarang. Waktu Habibie berkuasa kan saya namakan Orde Baru Baru. Sampai
sekarang ya Orde Baru Baru Baru.

T: Apa permintaan maaf itu bukan langkah rekonsiliasi?
J: Rekonsiliasi bagaimana? Yang memusuhi itu pihak mereka, orang yang
berkuasa. Kami yang dimusuhi, kami tidak membutuhkan yang begituan. Mereka
yang membutuhkan.

T: Jadi belum ada perubahan?
J: Dari pengalaman pribadi saya, buku-buku saya itu dilarang terbit. Sampai
sekarang belum dicabut larangannya. Padahal itu perampasan penghidupan.
Selama Orde Baru sampai sekarang ini. Karena itu, kalau saya punya sikap
seperti ini, saya harap orang bisa mengerti.

T: Sampai kapan bisa dimaafkan?
J: Sampai mereka bisa mendirikan hukum yang bener. Semua yang salah harus
diadili, semua yang melanggar peri kemanusiaan, yang melanggar hukum harus
diadili. Kalau dibiarkan saja, ya impunity itu, apakah hakim, jaksa,
presiden, menteri sama saja.

T: Apa salah Anda sehingga dibuang ke Buru?
J: Saya sendiri tidak tahu kesalahan saya. Nggak pernah ke pengadilan, tidak
ada tuduhan resmi, tidak ada kesempatan membela diri sampai sekarang ini.
Hanya melalui mulut saja, termasuk di pers itu. Tuduhan-tuduhan datang
sampai sekarang.

Saya tidak tahu apa sebabnya, karena mereka yang melakukan. Ternyata bukan
hanya  persoalan itu dituduh PKI. Anak yang di bawah umur, yang waktu itu
ditangkap juga ikut di buang ke Pulau Buru, bagaimana itu? Saya nggak
ngerti, itu cara  mereka.

Saya 10 tahun dua bulan, kerja paksa, makan cari sendiri, obat-obatan beli
sendiri. Saya termasuk rombongan yang pertama kali masuk dan terakhir keluar.

T: Yang membebaskan pemerintah?
J: Itu garis pemerintah. Karena tekanan luar negeri. Amerika mengancam tidak
akan memberikan bantuan lagi kalau tapol ini tidak dibebaskan. Terpaksa
dibebaskan. Itu semua kehendak modal asing.

T: Keluarga Anda menderita?
J: Diteror, dihina, diejek, ditakut-takuti setiap hari. Garis pemerintah
memang begitu. Memang fasisme itu kekuasan teror. Harto kan fasis, semua
harus takut karena biar mudah diperintah. Kondisi itu sekarang sudah mulai
berkurang karena ada gerakan mahasiswa dan kalangan muda. Kalau itu nggak
ada, maka tetap Orde Baru murni. Teror terus.

T: Apa Anda sering mendapat kesulitan?
J: Saya nggak pernah kesulitan, sama sekali. Tentang diri saya, saya yang
menentukan, bukan orang lain. Saya juga tidak sakit hati. Saya hanya
kasihan, kok begitu rendah budayanya. Membunuh orang tanpa mau
bertanggungjawab, Soeharto yang harus bertanggungjawab terhadap semua ini
hanya senyum-senyum saja. Apa semua ini? Kalau sandiwara kita bisa tertawa.
Ini bukan. Menyedihkan, memuakkan, membosankan. (*)

- ---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 03:20:19 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke