----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 09/III/20-26 Maret 2000
- ------------------------------

DPR GALAK TAPI MANDUL

(POLITIK): Produktifitas parlemen hasil Pemilu 1999 rendah. Ini bisa ancam
pemerintahan Gus Dur.

Anggota DPR kini terbukti lebih berani. Bukan cuma di media massa mereka
lantang bicara, dalam berbagai sidang dan acara dengar pendapat, mereka
tampil bak singa kelaparan. Bukan cuma menghadapi para bankir nakal,
menghadapi presiden serta para jenderal pun mereka tak gentar. Berita baik
bagi pecinta demokrasi. Soalnya, apakah ini cukup? Sayangnya tidak. Dalam
kondisi negara yang masih berusaha bangkit dari krisis multidimensi, yang
dibutuhkan adalah solusi dari setiap persoalan. Sikap high profile saja
tidak cukup.

Kenyataannya, produktifitas DPR periode sekarang masih amat rendah. Dalam
pengamatan Australia Financial Review misalnya, sejak dilantik pada Oktober
tahun lalu, DPR belum mengeluarkan satupun undang-undang bernuansa reformasi
yang penting. Semestinya, mereka menunjukkan kinerja yang lebih baik. Sebab,
bagaimanapun parlemen kini merupakan produk pemilu paling demokratis di
Indonesia sejak tahun 1955. Komposisinya pun tidak lagi didominasi oleh
orang-orang yang direstui oleh Soeharto. Malah kebanyakan dari mereka adalah
tokoh-tokoh yang dulu dikenal haus perubahan. Lebih penting lagi, untuk
pertama kalinya, DPR punya hak inisiatif penuh untuk mengajukan rancangan
undang-undang tanpa harus mendapatkan persetujuan presiden.

Anehnya, meskipun sudah terkuak berbagai persoalan yang butuh penanganan
cepat --misalnya pemberantasan korupsi secara sistematis, penegakan hukum,
perbaikan sistem hukum dan pengadilan, perbaikan manajemen lingkungan serta
perlindungan pada kaum minoritas-- DPR sepertinya merasa tak perlu
terburu-buru. Yang lebih memalukan, parlemen yang terpilih di era Orde Baru
masih berkuasa, yaitu dalam pemilu 1997, ternyata memiliki catatan yang
lebih baik dalam hal "mendukung proses reformasi." Semasa BJ Habibie masih
menjabat sebagai presiden, parlemen ketika itu berhasil mengeluarkan lusinan
undang-undang reformasi. Mulai dari yang mengatur pelaksanaan otonomi
daerah, independensi bank sentral hingga kebebasan pers. Benar bahwa
parlemen ketika itu didesak oleh gejolak dan tuntutan dari massa mahasiswa,
namun sejarah tentu hanya akan mencatat prestasi berdasarkan dokumentasi.

Sejauh ini, berdasarkan pemberitaan di media massa, baru satu rancangan
undang-undang penting yang akan dibahas secara serius oleh DPR, yaitu RUU
Kepresidenan. Hanya saja, menurut informasi berbagai sumber, motif di balik
pengajuan RUU ini tidak didasari oleh semangat reformasi. Konon, ini
merupakan salah satu strategi untuk memudahkan ambisi Amien Rais untuk
menjadi presiden kelima RI setelah Gus Dur. Caranya dianggap sangat
kontroversial, yaitu dengan memindahkan wewenang triumvirat --seandainya
presiden dan wapres berhalangan-- dari eksekutif (Mendagri, Menhan dan
Menlu) kepada legislatif dan yudikatif (Ketua DPR, Ketua MA dan Ketua MPR),
yang berarti merancukan prinsip pemisahan kekuasaan dalam konsep negara
demokrasi.

Catatan lain tentang "buruknya" wajah DPR, pernah pula dirilis oleh Forum
Komunikasi Massa (FKM) atau Forum Kajian dan Dialog Wartawan Koordinatoriat
DPR akhir Februari lalu (28/2). Berdasarkan laporan FKM, diketahui sebanyak
91 anggota dewan hasil Pemilu 1999 kehadirannya dalam rapat-rapat komisi
DPR, kurang dari 50%. Sedangkan yang kehadirannya di bawah 10%, sebanyak 37
orang. Sementara itu, 12 orang lainnya, sama sekali tak pernah hadir dalam
rapat-rapat komisi DPR. Celakanya, mereka ini, umumnya tokoh partai yang
perilakunya bisa jadi contoh anggota-anggota lainnya. Mereka antara lain
Abdul Madjid (PDI-P), H. Effendy Yusuf SH (Partai Golkar), Matori Abdul
Djalil (PKB), Prof. Dr. Amien Rais (Fraksi Reformasi), Prof. Dr. Dimyati
Hartono (PDI-P), HM Husein Naro (KKI), HM Husnie Thamrie (PPP) serta HAM
Saefuddin (PPP). FKM juga mencantumkan nama Taufik Kiemas, namun berdasarkan
catatan Xpos, suami Ketua Umum PDI-P tersebut telah mundur dari keanggotaan
DPR, sejak istrinya menjabat sebagai wakil presiden.

Yang teranyar, adalah kekecewaan Koordinator Badan Pekerja ICW (Indonesia
Corruption Watch) Teten Masduki terhadap Panitia Kerja (Panja) Koperasi
Komisi V DPR.

Sikap DPR yang begitu melempem ini tentu saja amat mengkhawatirkan. Wajar
saja bila ada yang curiga mereka telah "disuap" --meskipun bisa juga mereka
bersikap demikian karena takut terhadap teror melalui tembakan saat Tommy
berada di DPR. Bila mereka benar-benar bisa "dibeli", tak ada yang bisa
dibanggakan dari produk pemilu "paling demokratis" ini. Padahal, gaji mereka
sudah dipastikan naik.

Kekhawatiran terbesar, bisa muncul bila deretan dosa DPR ini, dimanfaatkan
oleh kekuatan politik lama untuk mendiskreditkan pemerintahan Gus Dur
- --walaupun telah terdapat pemisahan kekuasaan yang jelas antara DPR sebagai
legislatif dan presiden sebagai eksekutif. Dan ini agaknya sedang terjadi.
Ketika harga-harga barang meninggi misalnya, tak sedikit warga kelas bawah
yang mengeluh, "Enak kan juga jamannya Pak Harto." Mereka tak mau tahu kalau
krisis yang sekarang terjadi adalah produk KKN puluhan tahun Orde Baru.

Mungkin, menunggu mahasiswa kembali ke jalan. (*)

- ---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 03:40:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke