---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- ANTARA, 17 MARET 2000/A PEMIMPIN PAPUA DI AMBANG PERPECAHAN Oleh Bob Pattipawae Jayapura, 16/3 (ANTARA) Perjuangan "Papua Merdeka" lepas dari Indonesia memasuki tahap rawan akibat pertikaian di antara elit politiknya, yang menamakan dirinya pemimpin bangsa Papua. Perbedaan pendapat mulai muncul ketika Don Flasy mengumumkan rencana pembentukan pemerintahan peralihan pada 1 Mei 2000 untuk mengambil alih pemerintahan di Papua dari tangan pemerintah Indonesia. Kemudian, pada 1 Desember 2000, kemerdekaan Papua diproklamasikan, bendera Merah Putih diturunkan dan bendera Papua "Bintang Kejora" dikibarkan di seluruh Irian Jaya. Pernyataan ini mengejutkan masyarakat dan petugas keamanan, karena terbukti bahwa pembentukan pemerintahan bukan isu politik, tapi rencana yang sudah ditetapkan pemimpin Papua. Kapolda Papua dan Pangdam Trikora, yang selama ini terkesan diam, akhirnya menyatakan akan menumpas semua kegiatan yang bertujuan memisahkan Papua dari Indonesia. Dua tokoh tertinggi pemimpin presidium "Papua Barat", Theys Eluay dan Thom Beanal, juga mengecam Don. Menurut mereka, rencana pembentukan pemerintahan peralihan itu bukan hasil musyawarah besar Papua, tapi pernyataan pribadi, yang harus dipertanggung jawabkan oleh Don sendiri. Pemimpin Gereja Kristen Indonesia (GKI) Papua, yang merupakan gereja dengan jemaat paling besar di bumi Cenderawasih, juga mengecam Don Flasy. Ketua Synode GKI Herman Saut kepada pers menyatakan rencana pembentukan pemerintahan peralihan adalah makar dan merupakan tindakan bunuh diri. Korban akan berjatuhan di antara rakyat kecil, sehingga jemaat GKI diimbau menolak ajakan pemisahan diri itu. Setelah mengecam Don Flasy, Theys dan Thom terlibat pertikaian, karena Thom tanpa sepengetahuan Theys berangkat diam-diam ke Jakarta dan menghadap Presiden Abdurrahman Wahid tanggal 3 Maret 2000 untuk meminta Kepala Negara membuka Kongres Bangsa Papua. Setiba kembali di Irian Jaya, Thom memberikan penjelasan kepada wartawan. Sementara pertemuan pers berlangsung, Theys--yang waktu di Jakarta--menelepon semua redaktur media setempat minta minta keterangan pers Thom "ditahan". Menurut Theys, pertemuan antara Thom dengan Presiden itu selain tidak sah, karena tanpa ijin Presidium Papua Barat juga direkayasa untuk mencari pupularitas. "Waktu saya memimpin upacara pengibaran bendera "Bintang Kejora", 1 Desember 1999, Thom tidak ada. Baru setelah perjuangan aspirasi merdeka makin mencuat, Thom muncul," katanya. Dia (Thom) adalah pemimpin "karbitan", kata Theys dengan nada tinggi. Untuk mengantisipasi perpecahan, musyawarah besar Papua di Jayapura akhir Pebruari 2000 memutuskan tidak memilih pemimpin tertinggi bangsa Papua, tapi hanya membentuk Presidium Papua Barat, yang dipimpin secara bersama oleh Theys dan Thom. Tapi, karena sudah ada bibit permusuhan, perebutan kekuasaan dan perbedaan kepentingan antara Theys dan Thom makin mencuat ke permukaan. Pepera Theys Eluay (67) sehari-hari menjabat Ondolofo (kepala suku besar) Sentani, Kabupaten Jayapura dan Ketua Lembaga Musyawarah Adat Papua. Sewaktu menjabat anggota DPRD Papua selama empat masa jabatan berturut-turut, Eluay--yang berjasa mengembalikan Papua ke pangkuan Indonesia melalui penentuan pendapat rakyat (Pepera) tahun 1969--adalah warga terhormat. Karena kecewa tidak terpilih kembali menjadi anggota DPRD dalam Pemilu 1992, Eluay diduga kemudian memilih melawan pemerintah untuk menuntut kemerdekaan Papua melalui diplomasi. Keberaniannya menghadapi petugas keamanan dan tidak takut ancaman dihukum atau dibunuh menyebabkan Eluay didewakan pengikutnya dan diangkat menjadi pemimpin bangsa Papua. Ia kini tergolong sosok yang sulit dijamah hukum, sehingga bebas memimpin berbagai unjuk rasa pemisahan diri di depan petugas hukum dan keamanan negara. Sementara itu, Tom Beanal (52), yang kemudian muncul sebagai pesaing Eluay dalam memimpin bangsa Papua membentuk negara sendiri, adalah Ketua Lembaga Adat Suku Amungme di Kabupaten Mimika, yang kini menjadi pusat penambangan tembaga dan emas oleh PT. Freeport Indonesia. Thom mulai dikenal karena menjadi tokoh pejuang pelestarian lingkungan hingga sering bentrok dengan pemerintah dan PT. Freeport Indonesia. Ia pernah mengajukan PT. Freeport ke pengadilan di New Orleans, Amerika Serikat, dengan tuduhan merusak lingkungan, tapi pengadilan Amerika Serikat memenangkan PT. Freeport. Thom kemudian dirangkul PT. Freeport dan diangkat menjadi komisaris dengan gaji antara Rp 40 juta hingga Rp 50 juta sebulan ditambah berbagai kemudahan lain. Setelah menjadi pegawai Freeport, Thom bungkam. Ambisi menjadi pemimpin tertinggi bangsa Papua menjadikan Thom harus bersaing dengan Theys, sehingga mereka kini berada di persimpangan jalan. Pertikaian kepentingan antara Theys dan Thom meresahkan pengikutnya, karena tentu saja akan memicu perpecahan yang merugikan perjuangan "Papua Barat". Karena dipompa provokasi, sebagian besar penduduk Papua--yang menanti kemerdekaan Papua--tidak sadar bahwa apapun yang akan terjadi, Pemerintah Indonesia tak akan melepaskan Papua dari pangkuan Ibu Pertiwi. Theys, Thom, Flasi dan tokoh lain Papua tampak mengetahui hal itu, tapi terus memperjuangkan hal yang mustahil terjadi itu. Untuk mengatasinya, peemrintah diharapkan membuat kebijakan yang lebih mengangkat harkat manusia Papua. (U.JP/JPR02/JPRO01/RK2/16/03/0 03:09/tb01) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 09:43:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
