---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Media Indonesia, 17 Maret 2000 Yasril Usul Tembak Pesawat Gelap Itu *Pesawat Australia Melanggar Wilayah RI JAKARTA (Media): Ketua Komisi I DPR-RI Yasril Ananta Baharuddin meminta pemerintah bersikap lebih tegas terhadap para pelanggar wilayah udara Indonesia. Karena pelanggaran tersebut sudah berkali-kali dilakukan, tak ada salahnya pihak TNI-AU menembak pesawat tersebut, demi menjaga kedaulatan bangsa dan negara Indonesia. "Tembak saja, kita sudah terlalu sabar selama ini. Biar saja mata dunia internasional yang menilai siapa yang salah," kata aktivis Partai Golkar ini ketika dihubungi di rumahnya, kemarin malam. Sebelumnya, Kepala Staf TNI AU Marsekal Hanafie Asnan menegaskan TNI AU melalui Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) telah mengidentifikasi pesawat-pesawat yang melanggar wilayah Indonesia. Pelanggaran wilayah udara Indonesia itu, umumnya terjadi di Indonesia Timur, di antaranya Maluku. Ketika diminta memperjelas asal pesawat gelap tersebut, Hanafie Asnan tak menolak, meski tak juga mengiyakan saat pers menyebut Australia. "Dugaannya bisa dari situ (Australia--red)," katanya seusai acara Sertijab (serah terima jabatan) Wa-KSAU dari Marsekal Madya I Gede Sudana kepada Marsekal Muda Mudjiono, Rabu lalu. Tetapi, dalam kesempatan yang sama, seperti dikutip Antara, Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama Bachrum Rasir mempertegas, kebanyakan asal pesawat gelap itu dari Australia. Berita tentang pesawat Australia secara ilegal melintasi wilayah Indonesia, menurut Yasril Ananta Baharuddin bukan barang baru. Dalam pertemuan dengan Panglima TNI Laksamana Widodo AS, dan terakhir dengan Menteri Pertahanan Prof Juwono Sudarsono, 8 Maret lalu, sudah disebutkan adanya indikasi awal tentang pelanggaran itu. Bahkan pihak Deplu sudah menyoal masalah tersebut ke pihak Australia, tetapi tak ada respons memadai. Malah, kata Yasril, yang muncul adalah arogansi Australia. Itu juga terjadi saat Yasril meminta klarifikasi dari Menlu Alexander Downer ketika mengunjungi Ketua DPR Akbar Tandjung beberapa waktu lalu di Jakarta. "Yang ada hanya arogansi dan kebohongan Australia. Mereka menyangkal sembari ngeledek keterbatasan tehnologi kita," kata Yasril. Waktu itu Menlu Downer menyangkal, sambil meminta bukti berupa foto udara yang menggambarkan pelanggaran tersebut. Itulah yang disebut Yasril sebagai ledekan Australia terhadap keterbatasan tehnologi TNI-AU. Soalnya, seperti diakui KSAU Hanafie Asnan, meski cukup banyak pesawat gelap yang bisa teridentifikasi, tetapi hanya secara elektronik. Karena untuk memantau dengan visual, masih sulit, berkaitan dengan minimnya kemampuan anggaran dan peralatan yang dimiliki TNI-AU dan Kohanudnas. "Kita tidak bisa mendeteksinya secara visual, karena kawasan timur masih terbuka. Namun bukan berarti pengamatan di wilayah itu diabaikan. Secara visual memang sulit, dan belum disertakan pesawat tempur untuk menyergap atau memaksanya mendarat," kata KSAU. Menurut KSAU, pesawat gelap itu berbagai jenis, termasuk di antaranya pesawat angkut. Arahnya dari selatan dan utara memasuki wilayah Indonesia. Seusai jajak pendapat Timor Timur, intensitas pelanggaran tersebut terus meningkat. Atas bukti-bukti tersebut, pihak TNI-AU sudah melaporkannya ke Panglima TNI dan Menteri Pertahanan, untuk selanjutnya disampaikan kepada Menteri Luar Negeri. Dari situ diharapkan RI melalui Menlu Alwi Shihab menyampaikan nota protes diplomatik. Tetapi, dari sikap kurang bersahabat yang ditunjukkan Australia selama ini, khususnya PM dan Menlunya, Yasril berkesimpulan, sudah saatnya Indonesia bersikap lebih tegas. Ia mengusulkan agar pelanggaran berikutnya ditangani dengan langsung menembaknya, walaupun ada prosedur: pesawat kita mendekat dan meminta pesawat ilegal itu turun. Yasril bilang Indonesia tak perlu khawatir dengan akibat dari tindakan tegas tersebut. Menurut dia, dunia internasional juga bisa menilai persoalan secara bijaksana. Lagi pula, dalam pandangan Yasril, memburuknya hubungan Indonesia dengan Australia saat ini, lebih karena sikap arogan pemerintah Australia, khususnya PM Howard-Menlu Downer. "Ini semata arogansi Howard dan Downer, budak dan kaki tangan Amerika, bukan persoalan dengan bangsa Australia secara umum," katanya. Panglima Komando Operasi II (Pangkoops II) TNI-AU Marsda Alimunsiri Rappe mengatakan, Komando Operasi II TNI-AU belum pernah mendapatkan perintah menyergap pesawat-pesawat gelap yang memasuki wilayah Indonesia Timur. Menurut dia, jika diperintahkan, pihaknya siap. (NA/P-2) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 09:44:05 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
